Selasa, 25 April 2017

pengertian Validitas

BAB I
PENDAHULUAN
Dalam pembicaraan pembahasan ini penulis mengambil materi tentang validitas dalam evaluasi pendidikan, evaluasi adalah salah satu cirri yang menandai tes hasil belajar yang baik. Untuk dapat menentukan apakah suatu tes hasil belajar telah memiliki validitas atau daya ketepatan mengukur, dapat di lakukan dari dua segi , yaitu : dari segi tes itu sendiri sebagai suatu totalitas , dan dari segi itemnya, sebagai bagian tak terpisahkan dari tes tersebut.
Untuk mengukur kesesuaian , efesiensi, dan kemantapan suatu alat penilaian atau suatu tes di pergunakanbermacam-macam kualitas seperti validitas, keandalan, objektivitas, dan kepraktisan.
Validitas adalah kualitas yang menunjukkan hubungan antara suatu pengukuran dengan arti atau tujuan kreteria belajar atau tingkah laku. Beberapa dapat di pilih untuk memperlihatkan keefektifan terhadap peramalan perpomance yang akan dating ( yang akan terjadi ) kreteria yang lain untuk menununnjukkan status yang muncul, kreteria yang lain lagi untuk menimbulkan sifat-sifat yang representative dari luasnya isi atau tingkah laku, dan kreteria yang lain lagi untuk ( melengkapi ) penyedian data untuk menunjang atau menolak beberapa teori psikologis.











BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Validitas
Validitas[1] merupakan syarat yang terpenting dalam suatu alat evaluasi . suatu teknik evaluasi dikatakan mempunyai validitas yang tinggi ( disebut valid ) jika tekni evaluasi atau tes itu dapat mengukur apa yang sebenarnya akan diukur, menurut cronbach validitas bukanlah suatu cirri atau sifat yang mutlak dari suatu teknik evaluasi. Ia merupakan suatu cirri yang relatif terhadap tujuan yang hendak dicapai oleh yang pembuat tes.  [2]
Ada beberapa pendapat mengenai validitas itu sendiri.
Menurut Azwar (1986) Validitas berasal dari kata validity yang mempunyai arti sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya.
Suatu skala atau instrumen pengukur dapat dikatakan mempunyai validitas yang tinggi apabila instrumen tersebut menjalankan fungsi ukurnya, atau memberikan hasil ukur yang sesuai dengan maksud dilakukannya pengukuran tersebut. Sedangkan tes yang memiliki validitas rendah akan menghasilkan data yang tidak relevan dengan tujuan pengukuran.
Terkandung di sini pengertian bahwa ketepatan validitas pada suatu alat ukur tergantung pada kemampuan alat ukur tersebut mencapai tujuan pengukuran yang dikehendaki dengan tepat. Suatu tes yang dimaksudkan untuk mengukur variabel A dan kemudian memberikan hasil pengukuran mengenai variabel A, dikatakan sebagai alat ukur yang memiliki validitas tinggi. Suatu tes yang dimaksudkan mengukur variabel A akan tetapi menghasilkan data mengenai variabel A’ atau bahkan B, dikatakan sebagai alat ukur yang memiliki validitas rendah untuk mengukur variabel A dan tinggi validitasnya untuk mengukur variabel A’ atau B (Azwar 1986).
Sisi lain dari pengertian validitas adalah aspek kecermatan pengukuran. Suatu alat ukur yang valid tidak hanya mampu menghasilkan data yang tepat akan tetapi juga harus memberikan gambaran yang cermat mengenai data tersebut.
Cermat berarti bahwa pengukuran itu dapat memberikan gambaran mengenai perbedaan yang sekecil-kecilnya mengenai perbedaan yang satu dengan yang lain. Sebagai contoh, dalam bidang pengukuran aspek fisik, bila kita hendak mengetahui berat sebuah cincin emas maka kita harus menggunakan alat penimbang berat emas agar hasil penimbangannya valid, yaitu tepat dan cermat. Sebuah alat penimbang badan memang mengukur berat, akan tetapi tidaklah cukup cermat guna menimbang berat cincin emas karena perbedaan berat yang sangat kecil pada berat emas itu tidak akan terlihat pada alat ukur berat badan.
Pengertian validitas menurut Walizer (1987) adalah tingkat kesesuaian antara suatu batasan konseptual yang diberikan dengan bantuan operasional yang telah dikembangkan.
Menurut Masri Singarimbun, validitas menunjukkan sejauh mana suatu alat pengukur itu mengukur apa yang ingin diukur. Bila seseorang ingin mengukur berat suatu benda, maka dia harus menggunakan timbangan. Timbangan adalah alat pengukur yang valid bila dipakai untuk mengukur berat, karena timbangan memang mengukur berat. Bila panjang sesuatu benda yang ingin diukur, maka dia harus menggunakan meteran. Meteran adalah alat pengukur yang valid bila digunakan untuk mengukur panjang, karena memang meteran mengukur panjang. Tetapi timbangan bukanlah alat pengukur yang valid bilamana digunakan untuk mengukur panjang.
Menurut Soetarlinah Sukadji, validitas adalah derajat yang menyatakan suatu tes mengukur apa yang seharusnya diukur. Validitas suatu tes tidak begitu saja melekat pada tes itu sendiri, tapi tergantung penggunaan dan subyeknya.
Dapat kami simpulkan pengertian validitas oleh para ahli di atas, bahwasannya validitas adalah suatu alat ukur yang mengukur benar atau tidak nya suatu penelitian terhadap sesuatu yang kita teliti, dengan demikian maka akan menghasilkan suatu penelitian yang valid yang dapat di pertanggung jawabkan kebenarannya.[3]

B.     Teknik pengujian validitas tes hasil belajar
Penganalisisan terhadap tes hasil belajar sebagai suatu  totalitas dapat dilakukan dengan dua cara. Pertama, penganalisisasn yang dilakukan dengan jalan berfikir secara rasional atau penganalisisan dengan menggunakan logika (logical analysis). Kedua,  penganalisisan yang dilakukan dengan mendasarkan diri kepada kenyataan empiris, dimana penganalisisan dilaksanakan dengan menggunakan empirical analysis.
1.      Pengujian Validitas Tes Secara Rasional
Validitas rasional adalah validitas yang diperoleh atas dasar hasil pemikiran, validitas yang di peroleh dengan berpikir secara logis. Dengan demikian maka suatu tes hasil hasil belajar dapat dikatakan telah memiliki validitas rasional, apabila setelah dilakukan penganalisisan secara rasional ternyata bahwa tes hasil belajar itu memang ( secara rasional) dengan tepat telah dapat mengukur apa yang seharusnya di ukur.
            Untuk dapat menentukan apakah tes hasil belajar sudah memiliki validitas rasional ataukah belum, dapat dilakukan penelusuran dari 2 segi, yaitu dari segi isinya ( content ) dan dari segi susunan atau kontruksinya ( contstruct ).[4]
            a, Validitas Isi ( Content Validity )
            Validitas isi dari suatu tes hasil belajar adalah validitas yang di peroleh setelah di lakukan penganalisisan, penelusuran atau pengujian terhadap isi yang terkandung dalam dalam tes hasil belajar tersebut. Validitas isi adalah validitas yang di tulis dari segi isi tes itu sendiri sebagai alat pengukur hasil belajar yaitu : sejauh mana tes hasil belajar sebagai alat pengukur hasil belajar peserta didik , isinya telah dapat di mewakili secara representative terhadap keseluruhan materi atau bahan pelajaran yang seharusnya diteskan ( diujikan )[5]
            Suatu tes dikatakan memiliki content validity jika scope dan isi tes itu sesuai dengan scope dan isi kurikulum yang sudah di ajarkan. Isi tes sesuai dengan atau mewakili sampel hasil-hasil belajar yang seharusnya di capai menurut  tujuan kurikulum. [6]


            b. Validitas Konstruksi ( construct validity )
            Secara etimologis kata konstruksi mengandung arti susunan, kerangka dan rekaan. Seperti kalimat “ Gedung yang bertingkat itu menggunakan konstruksi beto bertulang “ misalnya, mengandung arti bahwa batang tubuh dari bangunan berupa gedung bertingkat itu “ tersusun “ dari bahan-bahan beton bertulang, atau kerangka utamanya adalah beton bertulang. Dengan demikian, validitas konstruksi dapat diartika sebagai validitas yang di tilik dari segi susunan, kerangka atau rekaannya.
            Adapaun secara terminologis, suatu tes hasil belajar dapat dinyatakan sebagai tes yang telah memiliki validitas konstruksi , apabila tes hasil belajar tersebut di tinjau dari segi susunan, kerangka atau rekaannya telah dapat dengan secara tepat mencerminkan suatu konstruksi dalam teori psikologis ini perlu di jelaskan , bahwa para ahli dibidang psikologis mengemukakan teori yang menyatakan bahwa jiwa dari seseorang peserta didik itu dapat di rinci kedalam beberapa aspek atau ranah tertentu.
            Untuk menentukan adanya construct validity suatu tes di korelasikan dengan suatu konsepsi atau teori . items  dalam tes itu harus sesuai dengan cirri-ciri yang disebutkan dalam konsepsi tadi, yaitu konsepsi objek yang akan di tes. Dengan kata lain, hasil-hasil tes itu disesuaikan dengan tujuan atau ciri-ciri tingkah laku yang hendak di ukur.[7]
2.      Pengujian Validitas tes secara Emperik
Validitas emperik adalah ketepatan mengukur yang didasarkan pada hasil analisis yang bersifat emperik. Dengan kata lain, validitas emperik adalah validitas yang bersumber pada waktu di peroleh atas dasar pengamatan di lapangan.
            Bertitik dari itu, maka tes hasil belajar dapat dikatakan telah memiliki validitas emperik apabila berdasarkan hasil analisisyang dilakukan terhadap data hasil pengamatan dilapangan, terbukti bahwa tes hasil belajar itu dengan secara tepat telah dapat mengukur hasil belajar yang seharusnya di ungkap atau diukur lewat tes hasil belajar tersebut.
            Untuk dapat menentukan apakah tes hasil belajar sudah memiliki validitas emperik ataukah belum , dapat dilakukan penelusuran dari dua segi, dari segi daya ketepatan meramalnya ( predictive validity ) dan daya ketepatan bandingannya ( concurrent validity )
a.       Validitas Ramalan ( predictive validity )
Setiap kali menyebutkan istilah “ Ramalan “ maka didalamnya akan terkandung pengertian mengenai “ sesuatu yang bakal terjadi di masa mendatang “ atau “ sesuatu yang pada saat sekarang ini belum terjadi , dan baru akan tejadi pada waktu-waktu  yang akan dating “. Apabila isitilah ramalan dikaitkan dengan validitas ramalan dari suatu tes , maka yang di maksud dengan validitas ramalan dari suatu tes adalah suatu kondisi yang menunjukkan beberapa jauhkah sebuah tes telah dapat dengan secara tepat menunjukkan kemampuannya untuk meramalkan apa yang bakal terjadi pada masa mendatang.
            Suatu tes dikatakan memiliki predictive validity  jika hasil korelasi tes itu dapat meramalkan dengan tepat keberhasilan seseorang pada masa mendatang di dalam lapangan tertentu. Tepat tidaknya ramalan tersebut dapat di lihat dari korelasi koefesien antara hasil tes itu dengan hasil alat ukur lain pada masa mendatang.
b.      Validitas bandingan ( concurrent validity )
Tes sebagai alat pengukur dapat di katakana telah memiliki validitas bandingan apabila tes tersebut dalam kurun waktu yang sama dengan secara tepat telah mampu menunjukkan adanya hubungan yang searah, antara tes pertama dengan tes berikutnya. Validitas bandingan juga sering dikenal dengan istilah “ validitas sama saat, validitas pengalaman atau validitas ada sekarang, dikatakan sama saat sebab validitas tes itu di tentukan atas dasar data hasil tes yang pelaksanaannya dilakukan pada kurun waktu yang sama (= jangka pendek ), dikatakan validitas pengalaman sebab validitas tes tersebut di tentukan atas dasar pengalaman yang telah di peroleh. Adapun yang dinamakan validitas ada sekarang adalah sebab setiap kali kita menyebut istilah pengalaman, maka istilah itu akan selalu kita kaitkan dengan hal-hal yang telah ada atau hal-hal yang telah terjadi pada waktu yang lalu, sehingga data yang mengenai pengalaman masa lalu itu pada saat sekarang ini sudah ada di tangan.[8]




            Jika hasil suatu tes mempunyai korelasi yang tinggi dengan hasil suatu alat ukur lainnya terhadap bidang yang sama pada waktu yang sama pula, maka di katakana tes itu memiliki concurrent validity ( concurrent = bersamaan waktu ).
            Validitas suatu tes dinyatakan dengan angka korelasi koefesien ( r ). Kreteria korelasi koefesien adalah sebagai berikut.
0,00 – 0, 20 sangat rendah ( hamper tidak ada korelasi )
0,20 - 0,40   korelasi rendah
0,40 – 0,70 korelasi cukup
0,70 – 0, 90 korelasi tinggi
0,90 – 1,00 korelasi sangat tinggi ( sempurna )
Cara menghitung validitas suatu test dapat dilakukan antara lain sebagai berikut :[9]
a)      Dengan Product Moment Correlation (Metode Pearson)
Rumusnya :
 r  =  ∑ x’y’
 ( ∑ x’2 ) (∑ y’2 )
Dengan Rank Method Of Correlation (Metode Spearman)
Rumusnya :
Rho = p = 1 -       6 ∑ D2
                                 N ( N2 – 1 )
C.     Teknik pengujian validitas item tes hasil belajar
a.       Pengertian validitas item
Validitas item dari suatu tes adalah ketepatan mengukur yang dimiliki oleh sebutir item ( yang merupakan bagian tak terpisahkan dari tes sebagai suatu totalitas ) dalam mengukur apa yang seharusnya diukur lewat butir item tersebut.
Eratnya hubungan antara butir item dengan tes hasil belajar sebagai suatu totalitas itu kiranya dapat dipahami dari kenyataan, bahwa semakin banyak butir-butir item yang dapat di jawab dengan betul oleh teste, maka skor-skor total hasil tes tersebut akan semakin tinggi. Sebaliknya, semakin sedikit butir-butir item yang dapat dijawab dengan betul oleh testee , maka skor-skor total hasil tes itu akan semakin rendah atau semakin menurun.
b.      Teknik pengujian validitas hasil belajar
Dari penjelasan di atas , cukup jelas bahwa sebutir item dapat dikatakan telah memiliki validitas yang tinggi atau dapat dinyatakan valid, jika skor-skor pada butir item yang bersangkutan memiliki kesesuaian atau kesejajaran arah dengan skor totalnya, atau dengan bahasa statistic : ada korelasi positif yang signifikan antara skor item dengan skor totalnya. [10]
Faktor-faktor yang mempengaruhi validitas hasil evaluasi :
Ø  Faktor instrument evaluasi itu sendiri.
Ø  Faktor administrasi evaluasi dan penskoran.
Ø  Faktor dalam respons-renspons siswa.
Keandalan
Keandalan adalah ketetapan atau ketelitian suatu alat evaluasi. Suatu tes atau alat evaluasi dikatakan andal jika ia dapat dipercaya, konsisten atau stabil dan produktif. Jadi yang dipentingkan di sini ialah ketelitiannya, sejauh mana tes atau alat tersebut dapat dipercaya kebenarannya. Keandalan suatu tes dinyatakan dengan coeficient of reliability (r), yaitu dengan jalan mencari korelasi. Misalnya :
1.      Dengan metode dua tes
2.      Dengan metode satu tes
3.      Metode “split-half
4.      Metode Kuder – Richardson
Objektivitas
Objektivitas suatu tes ditentukan oleh tingkat atau kualitas kesamaan skor-skor yang diperoleh dengan tes tersebut meskipun hasil tes itu dinilai oleh beberapa orang penilai. Untuk itu diperlukan kunci jawaban tes (scoring key)
Kualitas objektivitas suatu tes dibedakan menjadi tiga tingkatan, yaitu :
a)      Objektivitas tinggi ialah jika hasil-hasil tes itu menunjukkan tingkat kesamaan yang tinggi.
b)      Objektivitas sedang ialah seperti tes yang sudah di standarisasi, tetapi pandangan subjektif skor masih mungkin muncul dalam penilaian dan interpretasinya.
c)      Objektivitas fleksibel ialah seperti beberapa jenis tes yang digunakan oleh LBP untuk keperluan konseling.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi subjektivitas daru suatu tes , yaitu meliputi :
-          Bentuk tes
-          Penilai
Pedoman penilai dalam melakukan penilaian sebagai berikut :
a)      Evaluasi / penilaian harus dilakukan secara continue (terus menerus)
b)      Evaluasi / penilaian harus dilakukan secara komprehensif (menyeluruh)
Kepraktisan
Kepraktisan suatu tes penting juga diperhatikann. Suatu tes dikatakan mempunyai kepraktisan yang baik jika kemungkinan untuk menggunakan tes itu besar, kriteria untuk mengukur praktis tidaknya suatu tes dapat dilihat dari :
a)      Biaya yang diperlukan untuk menyelenggarakan tes itu.
b)      Waktu yang diperlukan untuk menyusun tes itu.
c)      Sukar mudahnya menilai tes itu.
d)     Sulit tidaknya menginterpretasikan hasil tes itu.
e)      Lamanya waktu yang diperlukan untuk melaksanakan tes itu.
Tentu saja menentukan ukuran yang tepat untuk kriteria tersebut diatas itu sukar karena penentuan mahal murah, lama dan tidak, sukar dan mudah itu relatif, bergantung pada dan dipengaruhi oleh berbagai faktor.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kepraktisan antara lain.
a)      Kemudahan mengadministrasi.
b)      Waktu yang disediakan untuk melancarkan evaluasi
c)      Kemudahan menskor
d)     Kemudahan interpretasi dan aplikasi.
e)      Tersedianya bentuk instrument evaluasi yang ekuivalen atau sebanding.


BAB III
KESIMPULAN
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa sebuah evaluasi/ penilaian dapat dikatakan baik jika evaluasi tersebut memenuhi kriteria-kriteria seperti yang disebutkan diatas yaitu meliputi validitas, keandalan, objektivitas dan kepraktisan. Jika keempat komponen tersebut tidak terpenuhi maka penilaian tersebut perlu ditinjau kembali baik dari sistem pelaksanaannya, instrumennya atau hal-hal yang mungkin berpengaruh terhadap keabsahan penilaian/ evaluasi tersebut.



















DAFTAR PUSTAKA

Purwanto  M. Ngalim, prinsip-prinsip dan teknik dalam evaluasi pengajaran, Jakarta, remaja rosdakarya, 2000
Anas Sudijono, pengantar evaluasi pendidikan, Jogjakarta : gajagrafindo persada, 2013
http://amir.blogspoot.com- pengertian validitas..dalam evaluasi pendidikan.



[1] va·li·di·tas n sifat benar menurut bahan bukti yg ada, logika berpikir, atau kekuatan hukum; sifat valid; kesahihan: menentukan -- suatu tes dng tepat memang sukar; ( kbbi )
[2] M. Ngalim Purwanto, prinsip-prinsip dan teknik dalam evaluasi pengajaran, Jakarta, remaja rosdakarya, 2000 : hlm. 137
eva·lu·a·si /évaluasi/ n penilaian: hasil -- itu hingga saat ini belum diperoleh;
-- penggamakan Min upaya penilaian secara teknis dan ekonomis thd suatu cebakan bahan galian untuk kemungkinan pelaksanaan penambangannya;
meng·e·va·lu·a·si v memberikan penilaian; menilai: guru hendaknya terus-menerus ~ pelaksanaan kurikulum

[3] http://amir.blogspoot.com- pengertian validitas..dalam evaluasi pendidikan.
[4] Anas Sudijono, pengantar evaluasi pendidikan, Jogjakarta : gajagrafindo persada , 2013 : hlm164
[5] Ibid, pengantar evaluasi pendidikan.
[6] Opcit. Prinsip-prinsip dan teknik evaluasi pengajaran. Hlm. 138
[7] Ngalim Purwanto, prinsip-prinsip dan teknik evaluasi pengajaran,
[8] Anas Sudijono,  pengantar evaluasi pendidikan , hlm, 177
[10] Anas sudijono, pengantar evaluasi pendidikan, hlm. 184

1 komentar:

  1. terimakasih sangat membantu sekali. untuk tambahan bahan bacaan

    BalasHapus

terimakasih atas kunjungannya jangan lupa komen

iklan otomatis