BAB I
PENDAHULUAN
Dalam pembicaraan pembahasan ini penulis mengambil materi tentang
validitas dalam evaluasi pendidikan, evaluasi adalah salah satu cirri yang
menandai tes hasil belajar yang baik. Untuk dapat menentukan apakah suatu tes
hasil belajar telah memiliki validitas atau daya ketepatan mengukur, dapat di
lakukan dari dua segi , yaitu : dari segi tes itu sendiri sebagai suatu
totalitas , dan dari segi itemnya, sebagai bagian tak terpisahkan dari tes
tersebut.
Untuk mengukur kesesuaian , efesiensi, dan kemantapan suatu alat
penilaian atau suatu tes di pergunakanbermacam-macam kualitas seperti validitas,
keandalan, objektivitas, dan kepraktisan.
Validitas adalah kualitas yang menunjukkan hubungan antara suatu
pengukuran dengan arti atau tujuan kreteria belajar atau tingkah laku. Beberapa
dapat di pilih untuk memperlihatkan keefektifan terhadap peramalan perpomance
yang akan dating ( yang akan terjadi ) kreteria yang lain untuk menununnjukkan
status yang muncul, kreteria yang lain lagi untuk menimbulkan sifat-sifat yang
representative dari luasnya isi atau tingkah laku, dan kreteria yang lain lagi
untuk ( melengkapi ) penyedian data untuk menunjang atau menolak beberapa teori
psikologis.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Validitas
Validitas[1]
merupakan syarat yang terpenting dalam suatu alat evaluasi . suatu teknik
evaluasi dikatakan mempunyai validitas yang tinggi ( disebut valid ) jika tekni
evaluasi atau tes itu dapat mengukur apa yang sebenarnya akan diukur, menurut
cronbach validitas bukanlah suatu cirri atau sifat yang mutlak dari suatu
teknik evaluasi. Ia merupakan suatu cirri yang relatif terhadap tujuan yang
hendak dicapai oleh yang pembuat tes. [2]
Ada beberapa pendapat mengenai validitas itu sendiri.
Menurut Azwar (1986) Validitas berasal
dari kata validity yang mempunyai arti sejauh mana ketepatan dan kecermatan
suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya.
Suatu skala atau instrumen pengukur
dapat dikatakan mempunyai validitas yang tinggi apabila instrumen tersebut
menjalankan fungsi ukurnya, atau memberikan hasil ukur yang sesuai dengan
maksud dilakukannya pengukuran tersebut. Sedangkan tes yang memiliki validitas
rendah akan menghasilkan data yang tidak relevan dengan tujuan pengukuran.
Terkandung di sini pengertian bahwa
ketepatan validitas pada suatu alat ukur tergantung pada kemampuan alat ukur
tersebut mencapai tujuan pengukuran yang dikehendaki dengan tepat. Suatu tes
yang dimaksudkan untuk mengukur variabel A dan kemudian memberikan hasil
pengukuran mengenai variabel A, dikatakan sebagai alat ukur yang memiliki
validitas tinggi. Suatu tes yang dimaksudkan mengukur variabel A akan tetapi
menghasilkan data mengenai variabel A’ atau bahkan B, dikatakan sebagai alat
ukur yang memiliki validitas rendah untuk mengukur variabel A dan tinggi
validitasnya untuk mengukur variabel A’ atau B (Azwar 1986).
Sisi lain dari pengertian validitas
adalah aspek kecermatan pengukuran. Suatu alat ukur yang valid tidak hanya
mampu menghasilkan data yang tepat akan tetapi juga harus memberikan gambaran
yang cermat mengenai data tersebut.
Cermat berarti bahwa pengukuran itu
dapat memberikan gambaran mengenai perbedaan yang sekecil-kecilnya mengenai
perbedaan yang satu dengan yang lain. Sebagai contoh, dalam bidang pengukuran
aspek fisik, bila kita hendak mengetahui berat sebuah cincin emas maka kita
harus menggunakan alat penimbang berat emas agar hasil penimbangannya valid,
yaitu tepat dan cermat. Sebuah alat penimbang badan memang mengukur berat, akan
tetapi tidaklah cukup cermat guna menimbang berat cincin emas karena perbedaan
berat yang sangat kecil pada berat emas itu tidak akan terlihat pada alat ukur
berat badan.
Pengertian validitas menurut Walizer
(1987) adalah tingkat kesesuaian antara suatu batasan konseptual yang diberikan
dengan bantuan operasional yang telah dikembangkan.
Menurut Masri Singarimbun, validitas
menunjukkan sejauh mana suatu alat pengukur itu mengukur apa yang ingin diukur.
Bila seseorang ingin mengukur berat suatu benda, maka dia harus menggunakan
timbangan. Timbangan adalah alat pengukur yang valid bila dipakai untuk
mengukur berat, karena timbangan memang mengukur berat. Bila panjang sesuatu
benda yang ingin diukur, maka dia harus menggunakan meteran. Meteran adalah
alat pengukur yang valid bila digunakan untuk mengukur panjang, karena memang
meteran mengukur panjang. Tetapi timbangan bukanlah alat pengukur yang valid
bilamana digunakan untuk mengukur panjang.
Menurut Soetarlinah Sukadji, validitas
adalah derajat yang menyatakan suatu tes mengukur apa yang seharusnya diukur.
Validitas suatu tes tidak begitu saja melekat pada tes itu sendiri, tapi
tergantung penggunaan dan subyeknya.
Dapat kami simpulkan pengertian
validitas oleh para ahli di atas, bahwasannya validitas adalah suatu alat ukur
yang mengukur benar atau tidak nya suatu penelitian terhadap sesuatu yang kita
teliti, dengan demikian maka akan menghasilkan suatu penelitian yang valid yang
dapat di pertanggung jawabkan kebenarannya.[3]
B. Teknik pengujian validitas tes hasil
belajar
Penganalisisan terhadap tes hasil belajar
sebagai suatu totalitas dapat dilakukan
dengan dua cara. Pertama, penganalisisasn yang dilakukan dengan jalan
berfikir secara rasional atau penganalisisan dengan menggunakan logika (logical
analysis). Kedua, penganalisisan yang dilakukan dengan mendasarkan
diri kepada kenyataan empiris, dimana penganalisisan dilaksanakan dengan
menggunakan empirical analysis.
1.
Pengujian
Validitas Tes Secara Rasional
Validitas rasional adalah validitas yang
diperoleh atas dasar hasil pemikiran, validitas yang di peroleh dengan berpikir
secara logis. Dengan demikian maka suatu tes hasil hasil belajar dapat
dikatakan telah memiliki validitas rasional, apabila setelah dilakukan
penganalisisan secara rasional ternyata bahwa tes hasil belajar itu memang (
secara rasional) dengan tepat telah dapat mengukur apa yang seharusnya di ukur.
Untuk dapat menentukan apakah tes
hasil belajar sudah memiliki validitas rasional ataukah belum, dapat dilakukan
penelusuran dari 2 segi, yaitu dari segi isinya ( content ) dan dari
segi susunan atau kontruksinya ( contstruct ).[4]
a, Validitas Isi ( Content
Validity )
Validitas isi dari suatu tes hasil
belajar adalah validitas yang di peroleh setelah di lakukan penganalisisan,
penelusuran atau pengujian terhadap isi yang terkandung dalam dalam tes hasil
belajar tersebut. Validitas isi adalah validitas yang di tulis dari segi isi
tes itu sendiri sebagai alat pengukur hasil belajar yaitu : sejauh mana tes
hasil belajar sebagai alat pengukur hasil belajar peserta didik , isinya telah
dapat di mewakili secara representative terhadap keseluruhan materi atau bahan
pelajaran yang seharusnya diteskan ( diujikan )[5]
Suatu tes dikatakan memiliki content
validity jika scope dan isi tes itu sesuai dengan scope dan isi kurikulum yang
sudah di ajarkan. Isi tes sesuai dengan atau mewakili sampel hasil-hasil
belajar yang seharusnya di capai menurut
tujuan kurikulum. [6]
b. Validitas Konstruksi ( construct
validity )
Secara etimologis kata konstruksi
mengandung arti susunan, kerangka dan rekaan. Seperti kalimat “ Gedung yang
bertingkat itu menggunakan konstruksi beto bertulang “ misalnya, mengandung
arti bahwa batang tubuh dari bangunan berupa gedung bertingkat itu “ tersusun “
dari bahan-bahan beton bertulang, atau kerangka utamanya adalah beton
bertulang. Dengan demikian, validitas konstruksi dapat diartika sebagai
validitas yang di tilik dari segi susunan, kerangka atau rekaannya.
Adapaun secara terminologis, suatu
tes hasil belajar dapat dinyatakan sebagai tes yang telah memiliki validitas
konstruksi , apabila tes hasil belajar tersebut di tinjau dari segi susunan,
kerangka atau rekaannya telah dapat dengan secara tepat mencerminkan suatu
konstruksi dalam teori psikologis ini perlu di jelaskan , bahwa para ahli
dibidang psikologis mengemukakan teori yang menyatakan bahwa jiwa dari
seseorang peserta didik itu dapat di rinci kedalam beberapa aspek atau ranah
tertentu.
Untuk menentukan adanya construct
validity suatu tes di korelasikan dengan suatu konsepsi atau teori . items
dalam tes itu harus sesuai dengan
cirri-ciri yang disebutkan dalam konsepsi tadi, yaitu konsepsi objek yang akan
di tes. Dengan kata lain, hasil-hasil tes itu disesuaikan dengan tujuan atau
ciri-ciri tingkah laku yang hendak di ukur.[7]
2.
Pengujian
Validitas tes secara Emperik
Validitas emperik adalah ketepatan
mengukur yang didasarkan pada hasil analisis yang bersifat emperik. Dengan kata
lain, validitas emperik adalah validitas yang bersumber pada waktu di peroleh
atas dasar pengamatan di lapangan.
Bertitik dari itu, maka tes hasil
belajar dapat dikatakan telah memiliki validitas emperik apabila berdasarkan
hasil analisisyang dilakukan terhadap data hasil pengamatan dilapangan, terbukti
bahwa tes hasil belajar itu dengan secara tepat telah dapat mengukur hasil
belajar yang seharusnya di ungkap atau diukur lewat tes hasil belajar tersebut.
Untuk dapat menentukan apakah tes
hasil belajar sudah memiliki validitas emperik ataukah belum , dapat dilakukan
penelusuran dari dua segi, dari segi daya ketepatan meramalnya ( predictive
validity ) dan daya ketepatan bandingannya ( concurrent validity )
a.
Validitas
Ramalan ( predictive validity )
Setiap kali menyebutkan istilah “
Ramalan “ maka didalamnya akan terkandung pengertian mengenai “ sesuatu yang
bakal terjadi di masa mendatang “ atau “ sesuatu yang pada saat sekarang ini
belum terjadi , dan baru akan tejadi pada waktu-waktu yang akan dating “. Apabila isitilah ramalan
dikaitkan dengan validitas ramalan dari suatu tes , maka yang di maksud dengan
validitas ramalan dari suatu tes adalah suatu kondisi yang menunjukkan beberapa
jauhkah sebuah tes telah dapat dengan secara tepat menunjukkan kemampuannya
untuk meramalkan apa yang bakal terjadi pada masa mendatang.
Suatu tes dikatakan memiliki predictive
validity jika hasil korelasi tes itu
dapat meramalkan dengan tepat keberhasilan seseorang pada masa mendatang di
dalam lapangan tertentu. Tepat tidaknya ramalan tersebut dapat di lihat dari
korelasi koefesien antara hasil tes itu dengan hasil alat ukur lain pada masa
mendatang.
b.
Validitas
bandingan ( concurrent validity )
Tes sebagai alat pengukur dapat di
katakana telah memiliki validitas bandingan apabila tes tersebut dalam kurun
waktu yang sama dengan secara tepat telah mampu menunjukkan adanya hubungan
yang searah, antara tes pertama dengan tes berikutnya. Validitas bandingan juga
sering dikenal dengan istilah “ validitas sama saat, validitas pengalaman atau
validitas ada sekarang, dikatakan sama saat sebab validitas tes itu di tentukan
atas dasar data hasil tes yang pelaksanaannya dilakukan pada kurun waktu yang
sama (= jangka pendek ), dikatakan validitas pengalaman sebab validitas tes
tersebut di tentukan atas dasar pengalaman yang telah di peroleh. Adapun yang
dinamakan validitas ada sekarang adalah sebab setiap kali kita menyebut istilah
pengalaman, maka istilah itu akan selalu kita kaitkan dengan hal-hal yang telah
ada atau hal-hal yang telah terjadi pada waktu yang lalu, sehingga data yang
mengenai pengalaman masa lalu itu pada saat sekarang ini sudah ada di tangan.[8]
Jika hasil suatu tes mempunyai
korelasi yang tinggi dengan hasil suatu alat ukur lainnya terhadap bidang yang
sama pada waktu yang sama pula, maka di katakana tes itu memiliki concurrent
validity ( concurrent = bersamaan waktu ).
Validitas suatu tes dinyatakan
dengan angka korelasi koefesien ( r ). Kreteria korelasi koefesien adalah
sebagai berikut.
0,00
– 0, 20 sangat rendah ( hamper tidak ada korelasi )
0,20
- 0,40 korelasi rendah
0,40
– 0,70 korelasi cukup
0,70
– 0, 90 korelasi tinggi
0,90
– 1,00 korelasi sangat tinggi ( sempurna )
Cara menghitung
validitas suatu test dapat dilakukan antara lain sebagai berikut :[9]
a) Dengan Product Moment Correlation (Metode
Pearson)
Rumusnya :
r
= ∑ x’y’
( ∑ x’2 ) (∑ y’2 )
Dengan Rank Method
Of Correlation (Metode Spearman)
Rumusnya :
Rho = p = 1 - 6 ∑ D2
N ( N2 – 1 )
C. Teknik pengujian validitas item tes
hasil belajar
a. Pengertian validitas item
Validitas item dari suatu tes adalah
ketepatan mengukur yang dimiliki oleh sebutir item ( yang merupakan bagian tak
terpisahkan dari tes sebagai suatu totalitas ) dalam mengukur apa yang
seharusnya diukur lewat butir item tersebut.
Eratnya hubungan antara butir item
dengan tes hasil belajar sebagai suatu totalitas itu kiranya dapat dipahami
dari kenyataan, bahwa semakin banyak butir-butir item yang dapat di jawab
dengan betul oleh teste, maka skor-skor total hasil tes tersebut akan semakin
tinggi. Sebaliknya, semakin sedikit butir-butir item yang dapat dijawab dengan
betul oleh testee , maka skor-skor total hasil tes itu akan semakin rendah atau
semakin menurun.
b. Teknik pengujian validitas hasil belajar
Dari penjelasan di atas , cukup jelas
bahwa sebutir item dapat dikatakan telah memiliki validitas yang tinggi atau
dapat dinyatakan valid, jika skor-skor pada butir item yang bersangkutan
memiliki kesesuaian atau kesejajaran arah dengan skor totalnya, atau dengan
bahasa statistic : ada korelasi positif yang signifikan antara skor item dengan
skor totalnya. [10]
Faktor-faktor yang
mempengaruhi validitas hasil evaluasi :
Ø Faktor instrument
evaluasi itu sendiri.
Ø Faktor administrasi
evaluasi dan penskoran.
Ø Faktor dalam
respons-renspons siswa.
Keandalan
Keandalan
adalah ketetapan atau ketelitian suatu alat evaluasi. Suatu tes atau alat
evaluasi dikatakan andal jika ia dapat dipercaya, konsisten atau stabil dan
produktif. Jadi yang dipentingkan di sini ialah ketelitiannya, sejauh mana tes
atau alat tersebut dapat dipercaya kebenarannya. Keandalan suatu tes dinyatakan
dengan coeficient of reliability (r), yaitu dengan jalan mencari
korelasi. Misalnya :
1. Dengan metode dua tes
2. Dengan metode satu tes
3. Metode “split-half”
4. Metode Kuder – Richardson
Objektivitas
Objektivitas suatu
tes ditentukan oleh tingkat atau kualitas kesamaan skor-skor yang diperoleh
dengan tes tersebut meskipun hasil tes itu dinilai oleh beberapa orang penilai.
Untuk itu diperlukan kunci jawaban tes (scoring key)
Kualitas
objektivitas suatu tes dibedakan menjadi tiga tingkatan, yaitu :
a) Objektivitas tinggi ialah jika
hasil-hasil tes itu menunjukkan tingkat kesamaan yang tinggi.
b) Objektivitas sedang ialah seperti tes
yang sudah di standarisasi, tetapi pandangan subjektif skor masih mungkin
muncul dalam penilaian dan interpretasinya.
c) Objektivitas fleksibel ialah seperti
beberapa jenis tes yang digunakan oleh LBP untuk keperluan konseling.
Ada beberapa faktor
yang mempengaruhi subjektivitas daru suatu tes , yaitu meliputi :
- Bentuk tes
- Penilai
Pedoman penilai
dalam melakukan penilaian sebagai berikut :
a) Evaluasi / penilaian harus dilakukan
secara continue (terus menerus)
b) Evaluasi / penilaian harus dilakukan secara
komprehensif (menyeluruh)
Kepraktisan
Kepraktisan
suatu tes penting juga diperhatikann. Suatu tes dikatakan mempunyai kepraktisan
yang baik jika kemungkinan untuk menggunakan tes itu besar, kriteria untuk
mengukur praktis tidaknya suatu tes dapat dilihat dari :
a) Biaya yang diperlukan untuk
menyelenggarakan tes itu.
b) Waktu yang diperlukan untuk menyusun
tes itu.
c) Sukar mudahnya menilai tes itu.
d) Sulit tidaknya menginterpretasikan
hasil tes itu.
e) Lamanya waktu yang diperlukan untuk
melaksanakan tes itu.
Tentu
saja menentukan ukuran yang tepat untuk kriteria tersebut diatas itu sukar
karena penentuan mahal murah, lama dan tidak, sukar dan mudah itu relatif,
bergantung pada dan dipengaruhi oleh berbagai faktor.
Faktor-faktor
yang mempengaruhi kepraktisan antara lain.
a) Kemudahan mengadministrasi.
b) Waktu yang disediakan untuk
melancarkan evaluasi
c) Kemudahan menskor
d) Kemudahan interpretasi dan aplikasi.
e) Tersedianya bentuk instrument
evaluasi yang ekuivalen atau sebanding.
BAB III
KESIMPULAN
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa sebuah evaluasi/
penilaian dapat dikatakan baik jika evaluasi tersebut memenuhi
kriteria-kriteria seperti yang disebutkan diatas yaitu meliputi validitas,
keandalan, objektivitas dan kepraktisan. Jika keempat komponen tersebut tidak
terpenuhi maka penilaian tersebut perlu ditinjau kembali baik dari sistem
pelaksanaannya, instrumennya atau hal-hal yang mungkin berpengaruh terhadap
keabsahan penilaian/ evaluasi tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Purwanto M. Ngalim, prinsip-prinsip dan teknik
dalam evaluasi pengajaran, Jakarta, remaja rosdakarya, 2000
Anas Sudijono, pengantar
evaluasi pendidikan, Jogjakarta : gajagrafindo persada, 2013
http://amir.blogspoot.com- pengertian
validitas..dalam evaluasi pendidikan.
[1] va·li·di·tas n sifat benar menurut bahan bukti yg
ada, logika berpikir, atau kekuatan hukum; sifat valid; kesahihan: menentukan
-- suatu tes dng tepat memang sukar; ( kbbi )
[2] M. Ngalim Purwanto, prinsip-prinsip dan teknik dalam evaluasi
pengajaran, Jakarta, remaja rosdakarya, 2000 : hlm. 137
eva·lu·a·si /évaluasi/ n penilaian: hasil -- itu hingga
saat ini belum diperoleh;
-- penggamakan Min upaya penilaian secara teknis dan ekonomis thd suatu cebakan bahan galian untuk kemungkinan pelaksanaan penambangannya;
meng·e·va·lu·a·si v memberikan penilaian; menilai: guru hendaknya terus-menerus ~ pelaksanaan kurikulum
-- penggamakan Min upaya penilaian secara teknis dan ekonomis thd suatu cebakan bahan galian untuk kemungkinan pelaksanaan penambangannya;
meng·e·va·lu·a·si v memberikan penilaian; menilai: guru hendaknya terus-menerus ~ pelaksanaan kurikulum
[3] http://amir.blogspoot.com-
pengertian validitas..dalam evaluasi pendidikan.
[5] Ibid, pengantar evaluasi pendidikan.
[6] Opcit. Prinsip-prinsip dan teknik evaluasi pengajaran. Hlm.
138
[7] Ngalim Purwanto, prinsip-prinsip dan teknik evaluasi pengajaran,
[8] Anas Sudijono, pengantar
evaluasi pendidikan , hlm, 177
[10] Anas sudijono, pengantar evaluasi pendidikan, hlm. 184
terimakasih sangat membantu sekali. untuk tambahan bahan bacaan
BalasHapus