BAB I
EVALUASI PENDIDIKAN
A, Pengertian Evaluasi Pendidikan
Secara harfiah kata evaluasi berasal
dari bahasa Inggris education; dalam bahasa Arab: At-Taqdir; dalam bahasa
Indonesia berarti penilaian. Dengan demikian secara harfiyah dapat evaluasi
pendidikan diartikan sebagai penilaian dalam bidang pendidikan atau penilaian
mengenai hal yang berkaitan dengan kegiatan pendidikan.
Adapun dari
segi istilah, sebagaimana dikemukakan oleh Edwind Wandt dan Gerald W. Brown
(1977) evaluasi adalah suatu tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai
dari sesuatu
Adapun dari segi istilah evaluasi
adalah suatu tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai dari sesuatu.
Evaluasi pendidikan adalah:
1) Proses atau
kegiatan untuk menentukan kemajuan pendidikan, dibandingkan dengan tujuan yang
telah ditentukan;
2) Usaha untuk
memperoleh informasi berupa umpan balik bagi penyempurnaan pendidikan.
B, Tujuan Evaluasi Pendidikan
1. Tujuan umum
Secara umum,
tujuan evaluasi dalam bidang pendidikan ada dua, yaitu :
a. Untuk
menghimpun bahan-bahan keterangan yang akan dijadikan sebagai bukti mengenai
taraf perkembangan atau taraf kemajuan yang di alami oleh para peserta didik,
setelah mereka mengikuti proses pembelajaran dalam jangka waktu tertentu.
dengan kata lain tujuan umum dari evaluasi dalam pendidika adalah untuk
memperoleh data pembuktian, yang akan menjadi petunjuk sampai di mana tingkat
kemampuan dan tingkat keberhasilan peserta didik dalam pencapaian tujuan-tujuan
kurikuler, setelah mereka menempuh proses pembelajaran dalam jangka waktu yang
telah ditentukan.
b. Untuk
mengetahui tingkat efektivitas dari metode-metode pembelajaran yang telah di
pergunakan dalam prses pembelajaran.tujuan kedua dari evaluasi pendidikan
adalah untuk mengukur dan menilai sampai dimanakah efektivitas mengajar dan
metode-metode mengajar yang telah diterapkan atau dilaksanakan oleh pendidik,
serta kegiatan belajar yang dilaksanakan oleh peserta didik.[1]
2. Tujuan
khusus
Tujuan khusus
dari kegiatan evaluasi dalam bidang pendidikan adalah :
a. Untu
merangsang kegiatan peserta didik dalam menempuh program pendidikan. Tanpa
adanya evaluasi maka tidak mungkin timbul kegairahan atau rangsangan pada diri
peserta didik untuk memperbaiki dan meningkatkan prestasinya masing-masing.
b. Untuk
mencari dan menemukan factor-faktor penyebab keberhasilan dan ketidakberhasilan
peserta didik dalam mengikuti program pendidikan, sehingga dapat dicari dan
ditemukan jalan keluar atau cara-cara perbaikannya.[2]
Memperoleh informasi yang akurat mengenai tingkat penguasaan
kompetensi oleh siswa .
C, Fungsi Evaluasi Pendidikan
Secara umum,
evaluasi sebagai suatu tindakan atau proses setidak-tidaknya memiliki tiga
macam fungsi pokok yaitu
a. Mengukur kemajuan
b. Menunjang
penyusunan rencana
c. Memperbaiki
atau melakukan penyempurnaan kembali
Adapun secara
khusus, fungsi evaluasi dalam dunia pendidikan dapat ditillik dari tiga segi,
yaitu:
a. Segi
psokologis
b. Segi
didaktik
c. Segi
administratif.
D. Kreteria Evaluasi Pendidikan
1, Kriteria kuantitatif
dibagi dua :
a, Kriteria kuantitatif tanpa pertimbangan
Kriteria
yang disusun hanya memperhatikan rentangan bilangan tanpa mempertimbangkan
apa-apa dilakukan dengan membagi rentangan bilangan. [3]
b, Kriteria
kuantitatif dengan pertimbangan
Adakalanya beberapa hal kurang tepat jika
kriteria kuantitaf dikategorikan dengan membagi begitu saja rentangan yang ada
menjadi rentangan yang sama rata .
2, Kriteria kualitatif
Yang
dimaksud kriteria kualitatif adalah
kriteria yang dibuat tidak menggunakan angka-angka. Hal-hal yang
dipertimbangkan dalam menentukan kriteria kualitatif adalak indikator dan
dikenai adalah komponen. Di bagi menjadi dua :
a, Kriteria kualitatif tanpa pertimbangan
Dalam
menyusun kriteria kualitatif tanpa pertimbangan, penyusun kriteria tinggal
menghitung banyaknya indikator dalam komponen, yang dapat memenuhi persyaratan
dari penjelasan dan program tersebut dapat disimpulkan bahwa:
1) Komponen adalah unsur pembentuk kriteria
program
2) Indikator adalah unsur pembentuk komponen
b, Kriteria
kualitatif dengan pertimbangan
Dalam menyusun kriteria terlebih dahulu tim
evaluator perlu merundingkan jenis kriteria mana yang akan digunakan, yaitu
memilih kriteria dengan pertimbangan maka tentukan indikator mana yang mana
diprioritaskan atau dianggap lebih penting dari yang lain.
E. Taksonomi dan Kemampuan Hasil
Belajar
1. Mengingat (remembering)
Mengingat
merupakan proses kognitif paling rendah tingkatannya. Untuk mengkondisikan agar
“mengingat” bisa menjadi bagian belajar bermakna, tugas mengingat hendaknya
selalu dikaitkan dengan aspek pengetahuan yang lebih luas dan bukan sebagai
suatu yang lepas dan terisolasi.
2, Memahami (understanding).
Pertanyaan pemahaman menuntut siswa menunjukkan
bahwa mereka telah mempunyai pengertian yang memadai untuk mengorganisasikan
dan menyusun materi-materi yang telah diketahui.
3, Menerapkan (applying).
Pertanyaan penerapan mencakup penggunaan suatu
prosedur guna menyelesaikan masalah atau mengerjakan tugas. Oleh karena itu,
mengaplikasikan berkaitan erat dengan pengetahuan procedural.
4. Menganalisis
(analyzing).
Pertanyaan analisis menguraikan suatu
permasalahan atau obyek ke unsur-unsur-unsurnya dan menentukan bagaimana saling
keterkaitan antar unsur-unsur tersebut. Kata oprasionalnya yaitu menguraikan,
membandingkan, mengorganisir, menyusun ulang, mengubah struktur,
mengkerangkakan, menyusun outline, mengintegrasikan, membedakan, menyamakan,
membandingkan, mengintegrasikan.
5, Mengevaluasi (evaluating).
Mengevaluasi membuat suatu pertimbangan
berdasarkan kriteria dan standar yang ada. Ada dua macam proses kognitif yang
tercakup dalam kategori ini adalah memeriksa dan mengkritik. Kata
operasionalnya yaitu menyusun hipotesi, mengkritik, memprediksi, menilai,
menguji, membenarkan, menyalahkan.
6, Mencipta (creating).
Membuat adalah menggabungkan beberapa unsur
menjadi suatu bentuk kesatuan. Ada tiga macam proses kognitif yang tergolong
dalam kategori ini yaitu membuat, merencanakan, dan memproduksi.
F.
Pengukuran Ranah Kognitif, Apektif dan psikomotorik.
a. Ranah Kognitif
Ranah
kognitif adalah ranah yang mencakup kegiatan mental (otak). Menurut Bloom,
segala upaya yang menyangkut aktivitas otak adalah termasuk dalam ranah
kognitif. Ranah kognitif berhubungan dengan kemampuan berfikir, termasuk
didalamnya kemampuan menghafal, memahami, mengaplikasi, menganalisis,
mensintesis, dan kemampuan mengevaluasi. Dalam ranah kognitif itu terdapat enam
aspek atau jenjang proses berfikir, mulai dari jenjang terendah sampai dengan
jenjang yang paling tinggi.
b. Ranah
Afektif
Ranah
afektif adalah ranah yang berkaitan dengan sikap dan nilai. Ranah afektif
mencakup watak perilaku seperti perasaan, minat, sikap, emosi, dan nilai.
Beberapa pakar mengatakan bahwa sikap seseorang dapat diramalkan perubahannya
bila seseorang telah memiliki kekuasaan kognitif tingkat tinggi. Ciri-ciri
hasil belajar afektif akan tampak pada peserta didik dalam berbagai tingkah
laku. Seperti: perhatiannnya terhadap mata pelajaran pendidikan agama Islam,
kedisiplinannya dalam mengikuti mata pelajaran agama disekolah, motivasinya
yang tinggi untuk tahu lebih banyak mengenai pelajaran agama Islam yang di
terimanya, penghargaan atau rasa hormatnya terhadap guru pendidikan agama Islam
dan sebagainya.
Ranah
afektif menjadi lebih rinci lagi ke dalam lima jenjang, yaitu: (1)
receiving (2) responding (3) valuing
(4) organization
(5) characterization
by evalue or calue complex
c. Ranah Psikomotorik
Ranah
psikomotor merupakan ranah yang berkaitan dengan keterampilan (skill) tau
kemampuan bertindak setelah seseorang menerima pengalaman belajar tertentu.
Ranah psikomotor adalah ranah yang berhubungan dengan aktivitas fisik, misalnya
lari, melompat, melukis, menari, memukul, dan sebagainya.
Ranah
psikomotor berhubungan dengan hasil belajar yang pencapaiannya melalui
keterampilan manipulasi yang melibatkan otot dan kekuatan fisik. Ranah
psikomotor adalah ranah yang berhubungan aktivitas fisik, misalnya; menulis,
memukul, melompat dan lain sebagainya.
G. Alat
Penilai Tes Dan Jenis-Jenis Tes
Tes
merupakan alat atau prosedur yang digunakan untuk mengetahui atau mengukur
sesuatu dalam suasana, dengan cara dan aturan-aturan yang sudah ditentukan. Tes
hasil belajar adalah sekelompok pertanyaan atau tugas-tugas yang harus dijawab
atau diselesaikan oleh siswa dengan tujuan untuk mengukur kemajuan belajar
siswa.
Jenis-Jenis
Tes
1. Dari segi
bentuk pelaksanaannya
a. Tes Tertulis ( paper and pencil test)
Tes tertulis
dalam pelaksanaannya lebih menekankan pada penggunaan kertas dan pencil sebagai
instrumen utamanya, sehingga tes mengerjakan soal atau jawaban ujian pada
kertas ujian secara tertulis, baik dengan tulisan tangan maupun menggunakan
komputer.
b. Tes Lisan ( oral test)
Tes lisan
dilakukan dengan pembicaraan atau wawancara tatap muka antara guru dan murid.
c. Tes Perbuatan (performance test)
Tes perbuatan
mengacu pada proses penampilan seseorang dalam melakukan sesuatu unit kerja.
Tes perbuatan mengutamakan pelaksanaan perbuatan peserta didik.
2. Dari segi bentuk soal dan kemungkinan
jawabannya
a. Tes Essay (uraian)
Tes Essay
adalah tes yang disusun dalam bentuk pertanyaan terstruktur dan siswa menyusun,
mengorganisasikan sendiri jawaban tiap pertanyaan itu dengan bahasa sendiri.
Tes essay ini sangat bermanfaat untuk mengembangkan kemampuan dalam menjelaskan
atau mengungkapkan suatu pendapat dalam bahasa sendiri.
b. Tes Objektif
Tes objektif
adalah tes yang disusun sedemikian rupa dan telah disediakan alternatif
jawabannya. Tes ini terdiri dariberbagai macam bentuk, antara lain ;
Tes Betul-Salah
(TrueFalse)
Tes Pilihan
Ganda (Multiple Choice)
Tes Menjodohkan
(Matching)
Tes Analisa
Hubungan (Relationship Analysis)
3. Dari segi fungsi tes di sekolah
a. Tes Formatif
Tes Formatif,
yaitu tes yang diberikan untuk memonitor kemajuan belajar selama proses
pembelajaran berlangsung. Tes ini diberikankan dalam tiap satuan unit
pembelajaran. Manfaat tes formatif bagi peserta didik adalah :
Untuk
mengetahui apakah peserta didik sudah menguasai materi dalam tiap unit
pembelajaran.
Merupakan
penguatan bagi peserta didik.
Merupakan usaha
perbaikan bagi siswa, karena dengan tes formatif peserta didik mengetahui
kelemahan-kelemahan yang dimilikinya.
Peserta didik
dapat mengetahui bagian dari bahan yang mana yang belum dikuasainya.
b. Tes Summatif
Tes sumatif
diberikan dengan maksud untuk mengetahui penguasaan atau pencapaian peserta
didik dalam bidang tertentu. Tes sumatif dilaksanakan pada tengah atau akhir
semester.
c. Tes Penempatan
Tes penempatan
adalah tes yang diberikan dalam rangka menentukan jurusan yang akan dimasuki
peserta didik atau kelompok mana yang paling baik ditempati atau dimasuki
peserta didik dalam belajar.
d. Tes Diagnostik
Tes diagnostik
adalah tes yang digunakan untuk mendiagosis penyebab kesulitan yang dihadapi
seseorang baik dari segi intelektual, emosi, fisik dan lain-lain yang
mengganggu kegiatan belajarnya.
H.
Validitas dan Reabilitas
1. Validitas
Menurut Azwar
(1986) Validitas berasal dari kata validity yang mempunyai arti sejauh mana
ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya.
Suatu skala
atau instrumen pengukur dapat dikatakan mempunyai validitas yang tinggi apabila
instrumen tersebut menjalankan fungsi ukurnya, atau memberikan hasil ukur yang
sesuai dengan maksud dilakukannya pengukuran tersebut. Sedangkan tes yang
memiliki validitas rendah akan menghasilkan data yang tidak relevan dengan tujuan
pengukuran.
A, Teknik
pengujian validitas tes hasil belajar
Penganalisisan
terhadap tes hasil belajar sebagai suatu
totalitas dapat dilakukan dengan dua cara. Pertama,
penganalisisasn yang dilakukan dengan jalan berfikir secara rasional atau
penganalisisan dengan menggunakan logika (logical analysis). Kedua, penganalisisan yang dilakukan dengan
mendasarkan diri kepada kenyataan empiris, dimana penganalisisan dilaksanakan
dengan menggunakan empirical analysis.
1.
Pengujian Validitas Tes Secara Rasional
Validitas
rasional adalah validitas yang diperoleh atas dasar hasil pemikiran, validitas
yang di peroleh dengan berpikir secara logis. Dengan demikian maka suatu tes
hasil hasil belajar dapat dikatakan telah memiliki validitas rasional, apabila
setelah dilakukan penganalisisan secara rasional ternyata bahwa tes hasil
belajar itu memang ( secara rasional) dengan tepat telah dapat mengukur apa
yang seharusnya di ukur.
2.
Pengujian Validitas tes secara Emperik
Validitas
emperik adalah ketepatan mengukur yang didasarkan pada hasil analisis yang
bersifat emperik. Dengan kata lain, validitas emperik adalah validitas yang
bersumber pada waktu di peroleh atas dasar pengamatan di lapangan.
2,Reliabilitas
Walizer (1987) menyebutkan pengertian Reliability (Reliabilitas) adalah keajegan pengukuran.
Menurut John M. Echols dan Hasan Shadily (2003: 475) reliabilitas adalah hal yang dapat dipercaya. Popham (1995: 21) menyatakan bahwa reliabilitas adalah "...the degree of which test score are free from error measurement"
Walizer (1987) menyebutkan pengertian Reliability (Reliabilitas) adalah keajegan pengukuran.
Menurut John M. Echols dan Hasan Shadily (2003: 475) reliabilitas adalah hal yang dapat dipercaya. Popham (1995: 21) menyatakan bahwa reliabilitas adalah "...the degree of which test score are free from error measurement"
Jenis-jenis
Reliabilitas
1.
Relibilitas stabilitas. Menyangkut usaha memperoleh nilai yang sama
atau serupa untuk setiap orang atau setiap unit yang diukur setiap saat anda
mengukurnya.
2.
Reliabilitas ekivalen. Menyangkut usaha memperoleh nilai relatif
yang sama dengan jenis ukuran yang berbeda pada waktu yang sama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
terimakasih atas kunjungannya jangan lupa komen