Rabu, 12 April 2017

Makalah PSikologi Agama Tentang Kebudayaan

BAB I
PENDAHULUAN
Untuk memahami terjadinya pemahaman yang berbeda, maka dalam uraian ini kami akan menjelaskan terlebih dahulu tentang pengertian kebudayaan dalam pembahasan berikut. Kebudayaan yang merupakan cetak biru bagi kehidupan atau pedoman kehidupan bagi masyarakat, adalah perangkat-perangkat acuan yang berlaku umum dan menyeluruh dalam menghadapi lingkungan untuk pemenuhan kebutuhan-kebutuhan warga masyarakat pendukung kebudayaan tersebut.
Dalam kebudayaan terdapat perangkat-perangkat dan keyakinan-keyakinan yang dimiliki oleh pendukung kebudayaan tersebut. Perangkat-perangkat pengetahuan itu sendiri membentuk sebuah sistem yang terdiri atas satuan-satuan yang berbeda-beda secara bertingkat-tingkat yang fungsional hubungannya satu sama lainnya secara keseluruhan (Pasurdi Suparlan,1995,4).
Disini terlihat bahwa kebudayaan dalam suatu masyarakat merupakan sistem nilai tertentu yang dijadikan pedoman hidup oleh warga yang mendukung kebudayaan tersebut. Karena dijadikan kerangka acuan dalam bertindak dan bertingkah laku maka kebudayaan cenderung menjadi tradisi dalam suatu masyarakat. Tradisi adalah suatu yang sulit berubah, karena sudah menyatu dalam kehidupan masyarakat pendukungnya.
Menurut Prof.Dr.Kasmiran Wuryo, tradisi masyarakat merupakan bentuk norma yang terbentuk dari bawah sehingga sulit untuk diketahui sumbernya. Oleh karena itu tanpaknya tradisi sudah terbentuk sebagai norma yang dibakukan dalam kehidupan masyarakat.


BAB II
PEMBAHASAN
A.    PENGERTIAN KEBUDAYAAN
Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata LatinColere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kataculture juga kadang diterjemahkan sebagai "kultur" dalam bahasa Indonesia.
Budaya merupakan salah satu unsur dasar dalam kehidupan social. Budaya mempunyai peranan penting dalam membentuk pola berpikir dan pola pergaulan dalam masyarakat, yang berarti juga membentuk kepribadian dan pola piker masyarakat tertentu. Budaya mencakup perbuatan atau aktivitas sehari-hari yang dilakukan oleh suatu individu maupun masyarakat, pola berpikir mereka, kepercayaan, dan ideology yang mereka anut.
Menurut Edward Burnett Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat.
Menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.[1]
Menurut para ahli :
·        Andreas Eppink kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai, norma, ilmu pengetahuan, serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius dan lain-lain.
·        Sementara itu Corel R.E dan Melvin E. (seorang ahli antropologi– budaya) memberikan konsep kebudayaan umumnya mencakup cara berpikir dan cara berlaku yang selah merupakan ciri khas suatu bangsa atau masyarakat tertentu (yang meliputi) hal – hal seperti bahasa, ilmu pengetahuan, hukum-hukum, kepercayaan, agama, kegemaran makanan tertentu, musik, kebiasaan, pekerjaan, larangan-larangan dan sebagainya.Parsudi Suparlan, merupakan unsur sosial budaya yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat dan sulit berubah.
·        Prof.Dr.Kasmira Mulyo, tradisi masyarakat merupakan bentuk norma yang terbentuk dari bawah, sehingga sulit untuk diketahui sumber asalnya (Wuryo,1982:38). Oleh karena itu, tampaknya tradisi sudah terbentuk sebagai norma yang dibakukka dalam kehidupan masyarakat.[2]
Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan adalah sesuatu yang akan mempengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.



B.     TRADISI KEAGAMAAN DAN KEBUDAYAAN
Tradisi keagamaan dan sikap keagamaan saling mempengaruhi, sikap keagamaan mendukung terbentuknya tradisi keagamaan, sedangkan tradisi keagamaan sebagai lingkungan kehidupan turut memberi nilai-nilai, norma-norma pola tingkah laku keagamaan kepada seseorang. Dengan demikian, tradisi keagamaan memberi pengaruh dalam membentuk pengalaman dan kesadaran agama sehingga terbentuk dalam sikap keagamaan pada diri seseorang yang hidup dalam lingkungan tradisi keagamaan tertentu.[3]
Herskouits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain. Sementara, menurut Andreas Eppink kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai, norma, ilmu pengetahuan, serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius dan lain-lain.[4]
Dengan demikian, kebudayaan adalah hasil daya cipta manusia dengan menggunakan dan mengerahkan segenap potensi batin yang dimilikinya. Di dalam kebudayaan tersebut terdapat pengetahuan, keyakinan, seni, moral, adat istiadat sebaga aspek – aspek dar kebudayaan itu sendiri yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat. Dengan demikian, kebudayaan dalam suatu masyarakat merupakan sistem nilai tertentu yang dijadikan pedoman hidup oleh warga yang mendukung kebudayaan tersebut. Karena dijadikan kerangka acuan dalam bertindak dan bertingkah laku, maka kebudayaan cenderung menjadi tradisi dalam suatu masyarakat.[5]
Tradisi menurut Parsudi Suparlan, Ph.D, merupakan unsur sosial budaya yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat dan sulit berubah. Meredith McGuire melihat bahwa dalam masyarakat pedesaan umumnya tradisi erat kaitannya dengan mitos dan agama.
Secara garis besarnya tradisi sebagai kerangka acuan norma dalam masyarakat disebut pranata, pranata ini ada yang bercorak rasional, terbuka dan umum, kompetetif dan konflik yang menekankan legalitas, seperti pranata politik, pranata pemerintahan, ekonomi dan pasar, berbagai pranata hukum dan keterkaitan sosial dalam masyarakat yang bersangkutan. Para ahli psikolog menyebutkan sebagai pranata sekunder. Pranata ini dapat dengan dapat dirubah struktur dan peranan hubungan antar peranannya maupun norma-norma yang berkaitan dengan itu, dengan perhitungan rasional yang menguntungkan yang dihadapi sehari-hari. Pranata skunder tampaknya bersifat fleksibel, mudah berubah sesuai dengan situasi yang diinginkan oleh pendukungnya.
Sebaliknya, menurut Parsudi Suparlan, para psikolog mengidentifikasikan adanya pranata primer. Pranata primer ini merupakan kerangka acuan norma yang mendasar dan hakiki dalam kehidupan manusia itu sendiri. Pranata primer berhubungan dengan kehormatan dan harga diri, jati diri serta kelestarian masyarakatnya. Karena itu, pranata ini tidak dengan mudah dapat berubah begitu saja.
Secara garis besarnya tradisi sebagai kerangka acuan norma dalam masyarakat disebut pranata. Pranata terdapat dua macam yaitu :
1.      Pranata Primer
Pranata ini merupakan kerangka acuan norma yang mendasar dan hakiki dalam kehidupan manusia itu sendiri. Pranata ini berhubungan dengan kehormatan dan harga diri, jati diri serta kelestarian masyarakat. Sehingga pranata ini tidak mudah dapat berubah.
2.      Pranata Sekunder
Pranata ini bercorak rasional, terbuka dan umum, kompetitif dan konflik yang menekankan legalitas, seperti pranata politik, pranata pemerintahan, ekonomi dan pasar, berbagai pranata hukum dan keterkaitan sosial dalam masyarakat yang bersangkutan. Pranata ini dapat dengan mudah diubah struktur dan peranan hubungan antar peranannya maupun norma-norma ang berkaitan dengan hal itu. Pranata ini bersifat fleksibel, mudah berubah sesuai dengan situasi yang diinginkan oleh pendukkungnya.
Melihat dari peranan dan struktur serta fungsinya, peranan primer lebih mengakar pada kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, pranata primer bercorak menekankan pada pentingnya keyakinan dan kebersamaanserta bersifat tertutup atau pribadi, seperti pranata- pranata keluarga, kekerabatan, keagamaan, pertemanan atau persahabatan. (Parsudi Suparlan, 1995:5-6)
Mengacu pada penjelasan di atas, tradisi keagamaan termasuk ke dalam pranata primer, karena tradisi keagamaan ini mengadung unsur-unsur yang berkaitan dengan ketuhanan atau keyakinan, tindakan keagamaan, perasaan – perasaan yang bersifat mistik, penyembahan kepada yang suci, dan keyakinan terhadap nilai – nilai yang hakiki. Dengan demikian, tradisi keagamaan sulit berubah, karena selain didukung oleh masyarakat juga memuat sejumlah unsur – unsur yang memiliki nilai – nilai luhur yang berkaitan dengan keyakinan masyarakat. Tradisi keagamaan mengadung nilai-nilai yang sangat penting yang berkaitan erat dengan agama yang dianut masyarakat, atau pribadi – pribadi pemeluk agama tersebut.[6]
C.     TRADISI KEAGAMAAN DAN SIKAP KEAGAMAAN
Tardisi keagamaan pada dasarnyamerupakan pranata keagamaan yang sudah dianggap baku oleh masyarakat pendukungnya. Dengan demikian, tradisi merupakan kerangka acuan norma dalam kehidupan dan perilaku masyarakat. Dan tradisi keagamaan sebagai pranata primer dari kebudayaan memang sulit untuk berubah, karena keberadaannya didukung oleh kesadaran bahwa pranata tersebut menyangkut kehormatan, harga diri, dan jati diri masyarakat pendukungnya.
Para ahli antropologi membagi kebudayaan dalam bentuk dan isi. Menurut bentuknya kenudayaan terdiri atas tiga, yaitu (Koentjaraningrat,1986:80-90)
1.       Sistem kebudayaan (cultural system)
Sistem kebudayaan berwujud gagasan, pikiran, konsep, nilai-nilai budaya, norma- norma, pandangan-pandangan yang bentuknya abstrak serta berada dalam pikiran para pemangku kebudayaan yang bersangkutan.
2.       Sistem sosial ( social system )
sistem sosial berwujud aktivitas, tingkah laku berpola, prilaku, upacara-upacara serta ritus-ritus yang wujudnya lebih kongkret. Sistem sosial adalah bentuk kebudayaan dalam wujud yang lebih kongkret dan dapat diamati.
3.       Benda – benda budaya
Benda-benda budaya disebut juga sebagai kebudayaan fisik atau kebudayaan materil. Benda budaya merupakan hasil tingkah laku dan karya pemangku dan kebudayaan yang bersangkutan.
Dalam konteks pendidikan, tradisi keagamaan merupakan isi pendidikan yang bakal diwariskan generasi tua ke generasi muda. Sebab, pendidikan menurut Hasan Langgulung dapat dilihat dari 2 sudut pandang, yaitu sudut pandang individu dan masyarakat. Dari sudut pandang individu, maka pendidikan diartikan sebagai upaya untuk mengembangkan potensi individu. Sedangkan dari sudut masyarakat, pendidikan merupakan pewarisan nilai-nilai budaya oleh generasi tua ke generasi berikutnya.[7]
D.    KEBUDAYAAN DALAM ERA GLOBAL DAN PENGARUHNYA TERHADAP JIWA KEAGAMAAN
Era global ditandai oleh proses kehidupan mendunia, kamajuan IPTEK terutama dalam bidang transportasi dan komunikasi serta terjadinya lintas budaya. Kondisi ini mendukung terciptanya berbagai kemudahan dalam hidup manusia, menjadikan dunia semakin transparan. Pengaruh ini ikut melahirkan pandangan yang serba boleh (permissiveness). Apa yang sebelumnya dianggap sebagai tabu, selanjutnya dapat diterima dan dianggap biasa. Sementara itu, nilai-nilai tradisional mengalami proses perubahan sistem nilai. Bahkan mulai kehilangan pegangan hidup yang bersumber dari tradisi masyarakatnya. Termasuk ke dalamnya sistem nilai yang bersumber dari ajaran agama.
Dalam kaitannya dengan jiwa keagamaan, barang kali dampak globalisasi itu dapat dilihat melalui hubungannya dengan perubahan sikap. Menurut teori yang dikemukakan oleh Osgood dan Tannenbaum, perubahan sikap akan terjadi jika terjadi persamaan persepsi pada diri seseorang atau masyarakat terhadap sesuatu. Hal ini berarti bahwa apabila pengaruh globalisasi dengan segala muatannya di nilai baik oleh individu maupun masyarakat, maka mereka akan menerimanya.[8]
Era globalisasi umumnya digambarkan sebagai kehidupan masyarakat dunia yang menyatu. Era globalisasi ditopang oleh kemajuan dan kecanggihan teknologi menjadikan manusia seakan hidup dalam satu kota, kota dunia. Kehidupan manusia di era globalisasi saling pengaruh- mempengaruhi.
Tetapi menurut Dafid C. Korten ada tiga krisis yang bakal dihadapi manusia secara global, yaitu : kemiskinan, penanganan lingkungan yang salah, serta kekerasan sosial. Gejala yang serupa juga akan dihadapai oleh masyarakat sekitar. Kemajuan teknologi menimbulkan beberapa kekhawatiran, meskipun juga menampilkan nilai-nilai positif.
Dalam kaitannya dengan jiwa keagamaan, dampak global itu dapat dilihat melalui hubungannya dengan perubahan sikap. Perubahan sikap ini menurut pendekatan psikologi adalah berupa kecenderungan yang besar untuk menyenangi sesuatu. Pada dasarnya, proses perubahan sikap tersebut dapat digambarkan melalui dua jalur, yaitu proses rasional dan proses emosional.
Proses rasional diawali dengan adanya perhatian, pemahaman, penerimaan, dan berakhir pada keyakinan. sedangkan proses emosional berawal dari perhatian, simpati, menerima, dan berakhir pada minat (Mar’at, 1981 : 36). Mengacu pada kepada kedua proses bagaimana seseorang atau masyarakat mengubah sikap dari tidak menerimas menjadi menerima sesuatu berawal dari tingkat perhatian.
Dalam hal tersebutlah terlihat terdapat hubungan antara pengaruh kebudayaan era globalisasi terhadap penbentukan jiwa keagamaan.gejala- gejala tersebut lebih mudah terjadi di kalangan generasi muda. Contohnya saja nilai – nilai kebudayaan yang bersumber kepada suatu ajaran agama beralih menjadi nlai- nilai sosial, yaitu tahun baru pada tanggal 1 januari. Selain dari pada itu nilai–nilai tradisional mengalami penurunan.[9]
Secara fenomina, kebudayaan dalam era global mengarah kepada nilai-nilai sekuler yang besar pengaruhnya terhadap perkembangan jiwa keagamaan. Meskipun dalam sisi-sisi tertentu kehidupan tradisi keagamaan tampak meningkat dalam kesemarakannya. Namun dalam kehidupan masyarakat global yang cenderung sekuler barangkali akan ada pengaruhnya terhadap pertumbungan jiwa keagamaannya.
Dalam situasi seperti itu, bisa saja terjadi berbagai kemungkinan. Pertama, mereka yang tidak ikut larut dalam pengaguman yang berlebihan terhadap rekayasa teknologi dan tetap berpegang teguh pada nilai – nilai keagamaan, kemungkinan akan lebih meyakini kebenaran agama. Kedua, golongan yang longgar dari nilai-nilai ajaran agama akan mengalami kekosongan jiwa, golongan ini sulit menentukan pilihan guna menentramkan gejolak dalam jiwanya.














BAB III
KESIMPULAN
Kebudayaan adalah hasil daya cipta manusia yang di dalamnya terdapat pengetahuan, keyakinan, seni, moral, adat istiadat sebagai aspek dari kebudayaan itu sendiri. Kebudayaan cenderung menjadi tradisi dalam suatu masyarakat karena kebudayaan merupakan sistem nilai tertentu yang dijadikan pedoman hidup oleh masyarakat.
Tradisi keagamaan memberi pengaruh dalam membentuk pengalaman dan kesadaran agama sehingga terbentuk dalam sikap keagamaan pada diri seseorang yang hidup dalam lingkungan tradisi keagamaan tertentu.
Secara fenomina, kebudayaan dalam era global mengarah kepada nilai-nilai sekuler yang besar pengaruhnya terhadap perkembangan jiwa keagamaan. Dalam kaitannya dengan jiwa keagamaan dampak globalisasi dapat dilihat melalui hubungan dengan perubahan sikap, seperti hilangnya pegangan hidup yang bersumber dari tradisi masyarakat dan bersumber dari ajaran agama.







DAFTAR PUSTAKA
Jalaluddin, 2012,Psikologi Agama, (Jakarta : Raja wali pers,
Jalaluddin, 2005, Psikologi Agama, Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada




[1] http://blo-miftahul.blogspot.com/2013/05/makalah-psikologi-agama.html
[2] http://imtaq.com/pengertin-adat-dalam-islam/
[3] http://pipingchupu.wordpress.com/2014/06/14/pengaruh-kebudayaan-terhadap-jiwa-keagamaan/
[4] Http://amgy.wodpress.com/2008/02/09/budaya-dan-spiritualitas-keagamaan
[5] http://hadirukiyah.blogspot.com/2009/06/pengaruh-kebudayaan-terhadap-jiwa.html
[6] Jalaluddin, Psikologi Agama, (Jakarta : Raja wali pers, 2012), hlm., 224
[7] Ibid, Hlm, 230
[8] Http://amgy.wodpress.com/2008/02/09/budaya-dan-spiritualitas-keagamaan
[9] Opcit, Jalaluddin, Hlm, 236

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

terimakasih atas kunjungannya jangan lupa komen

iklan otomatis