BAB I
PENDAHULUAN
Untuk
memahami terjadinya pemahaman yang berbeda, maka dalam uraian ini kami akan
menjelaskan terlebih dahulu tentang pengertian kebudayaan dalam pembahasan
berikut. Kebudayaan yang merupakan cetak biru bagi kehidupan atau pedoman kehidupan
bagi masyarakat, adalah perangkat-perangkat acuan yang berlaku umum dan
menyeluruh dalam menghadapi lingkungan untuk pemenuhan kebutuhan-kebutuhan
warga masyarakat pendukung kebudayaan tersebut.
Dalam
kebudayaan terdapat perangkat-perangkat dan keyakinan-keyakinan yang dimiliki
oleh pendukung kebudayaan tersebut. Perangkat-perangkat pengetahuan itu sendiri
membentuk sebuah sistem yang terdiri atas satuan-satuan yang berbeda-beda
secara bertingkat-tingkat yang fungsional hubungannya satu sama lainnya secara
keseluruhan (Pasurdi Suparlan,1995,4).
Disini
terlihat bahwa kebudayaan dalam suatu masyarakat merupakan sistem nilai
tertentu yang dijadikan pedoman hidup oleh warga yang mendukung kebudayaan
tersebut. Karena dijadikan kerangka acuan dalam bertindak dan bertingkah laku
maka kebudayaan cenderung menjadi tradisi dalam suatu masyarakat. Tradisi
adalah suatu yang sulit berubah, karena sudah menyatu dalam kehidupan
masyarakat pendukungnya.
Menurut
Prof.Dr.Kasmiran Wuryo, tradisi masyarakat merupakan bentuk norma yang
terbentuk dari bawah sehingga sulit untuk diketahui sumbernya. Oleh karena itu
tanpaknya tradisi sudah terbentuk sebagai norma yang dibakukan dalam kehidupan
masyarakat.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
PENGERTIAN
KEBUDAYAAN
Budaya atau kebudayaan berasal
dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah,
yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal)
diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata LatinColere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai
mengolah tanah atau bertani. Kataculture juga kadang diterjemahkan
sebagai "kultur" dalam bahasa Indonesia.
Budaya merupakan salah satu unsur dasar dalam kehidupan social. Budaya
mempunyai peranan penting dalam membentuk pola berpikir dan pola pergaulan
dalam masyarakat, yang berarti juga membentuk kepribadian dan pola piker
masyarakat tertentu. Budaya mencakup perbuatan atau aktivitas sehari-hari yang
dilakukan oleh suatu individu maupun masyarakat, pola berpikir mereka,
kepercayaan, dan ideology yang mereka anut.
Menurut Edward
Burnett Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di
dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat
istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota
masyarakat.
Menurut Selo
Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan
adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.[1]
Menurut para ahli :
·
Andreas Eppink kebudayaan mengandung
keseluruhan pengertian nilai, norma, ilmu pengetahuan, serta keseluruhan
struktur-struktur sosial, religius dan lain-lain.
·
Sementara itu Corel R.E dan Melvin E. (seorang
ahli antropologi– budaya) memberikan konsep kebudayaan umumnya mencakup cara
berpikir dan cara berlaku yang selah merupakan ciri khas suatu bangsa atau
masyarakat tertentu (yang meliputi) hal – hal seperti bahasa, ilmu pengetahuan,
hukum-hukum, kepercayaan, agama, kegemaran makanan tertentu, musik, kebiasaan,
pekerjaan, larangan-larangan dan sebagainya.Parsudi Suparlan, merupakan unsur
sosial budaya yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat dan sulit berubah.
·
Prof.Dr.Kasmira Mulyo, tradisi masyarakat merupakan bentuk norma yang
terbentuk dari bawah, sehingga sulit untuk diketahui sumber asalnya
(Wuryo,1982:38). Oleh karena itu, tampaknya tradisi sudah terbentuk sebagai
norma yang dibakukka dalam kehidupan masyarakat.[2]
Dari berbagai
definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan adalah
sesuatu yang akan mempengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau
gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan
sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan
adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya,
berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola
perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan
lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan
kehidupan bermasyarakat.
B.
TRADISI
KEAGAMAAN DAN KEBUDAYAAN
Tradisi
keagamaan dan sikap keagamaan saling mempengaruhi, sikap keagamaan mendukung
terbentuknya tradisi keagamaan, sedangkan tradisi keagamaan sebagai lingkungan
kehidupan turut memberi nilai-nilai, norma-norma pola tingkah laku keagamaan
kepada seseorang. Dengan demikian, tradisi keagamaan memberi pengaruh dalam
membentuk pengalaman dan kesadaran agama sehingga terbentuk dalam sikap
keagamaan pada diri seseorang yang hidup dalam lingkungan tradisi keagamaan
tertentu.[3]
Herskouits
memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke
generasi yang lain. Sementara, menurut Andreas Eppink kebudayaan mengandung
keseluruhan pengertian nilai, norma, ilmu pengetahuan, serta keseluruhan
struktur-struktur sosial, religius dan lain-lain.[4]
Dengan
demikian, kebudayaan adalah hasil daya cipta manusia dengan menggunakan dan
mengerahkan segenap potensi batin yang dimilikinya. Di dalam kebudayaan
tersebut terdapat pengetahuan, keyakinan, seni, moral, adat istiadat sebaga
aspek – aspek dar kebudayaan itu sendiri yang kesemuanya ditujukan untuk
membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat. Dengan demikian,
kebudayaan dalam suatu masyarakat merupakan sistem nilai tertentu yang
dijadikan pedoman hidup oleh warga yang mendukung kebudayaan tersebut. Karena
dijadikan kerangka acuan dalam bertindak dan bertingkah laku, maka kebudayaan
cenderung menjadi tradisi dalam suatu masyarakat.[5]
Tradisi
menurut Parsudi Suparlan, Ph.D, merupakan unsur sosial budaya yang telah
mengakar dalam kehidupan masyarakat dan sulit berubah. Meredith McGuire melihat
bahwa dalam masyarakat pedesaan umumnya tradisi erat kaitannya dengan mitos dan
agama.
Secara
garis besarnya tradisi sebagai kerangka acuan norma dalam masyarakat disebut
pranata, pranata ini ada yang bercorak rasional, terbuka dan umum, kompetetif
dan konflik yang menekankan legalitas, seperti pranata politik, pranata
pemerintahan, ekonomi dan pasar, berbagai pranata hukum dan keterkaitan sosial
dalam masyarakat yang bersangkutan. Para ahli psikolog menyebutkan sebagai
pranata sekunder. Pranata ini dapat dengan dapat dirubah struktur dan peranan
hubungan antar peranannya maupun norma-norma yang berkaitan dengan itu, dengan
perhitungan rasional yang menguntungkan yang dihadapi sehari-hari. Pranata
skunder tampaknya bersifat fleksibel, mudah berubah sesuai dengan situasi yang
diinginkan oleh pendukungnya.
Sebaliknya,
menurut Parsudi Suparlan, para psikolog mengidentifikasikan adanya pranata
primer. Pranata primer ini merupakan kerangka acuan norma yang mendasar dan
hakiki dalam kehidupan manusia itu sendiri. Pranata primer berhubungan dengan
kehormatan dan harga diri, jati diri serta kelestarian masyarakatnya. Karena
itu, pranata ini tidak dengan mudah dapat berubah begitu saja.
Secara garis besarnya tradisi sebagai kerangka acuan norma dalam masyarakat
disebut pranata. Pranata terdapat dua macam yaitu :
1. Pranata Primer
Pranata ini merupakan kerangka acuan norma yang mendasar dan hakiki dalam
kehidupan manusia itu sendiri. Pranata ini berhubungan dengan kehormatan dan
harga diri, jati diri serta kelestarian masyarakat. Sehingga pranata ini tidak
mudah dapat berubah.
2. Pranata Sekunder
Pranata ini bercorak rasional, terbuka dan umum, kompetitif dan konflik
yang menekankan legalitas, seperti pranata politik, pranata pemerintahan,
ekonomi dan pasar, berbagai pranata hukum dan keterkaitan sosial dalam
masyarakat yang bersangkutan. Pranata ini dapat dengan mudah diubah struktur
dan peranan hubungan antar peranannya maupun norma-norma ang berkaitan dengan
hal itu. Pranata ini bersifat fleksibel, mudah berubah sesuai dengan situasi
yang diinginkan oleh pendukkungnya.
Melihat dari peranan dan struktur serta fungsinya, peranan primer lebih
mengakar pada kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, pranata primer bercorak
menekankan pada pentingnya keyakinan dan kebersamaanserta bersifat tertutup
atau pribadi, seperti pranata- pranata keluarga, kekerabatan, keagamaan,
pertemanan atau persahabatan. (Parsudi Suparlan, 1995:5-6)
Mengacu
pada penjelasan di atas, tradisi keagamaan termasuk ke dalam pranata primer,
karena tradisi keagamaan ini mengadung unsur-unsur yang berkaitan dengan
ketuhanan atau keyakinan, tindakan keagamaan, perasaan – perasaan yang bersifat
mistik, penyembahan kepada yang suci, dan keyakinan terhadap nilai – nilai yang
hakiki. Dengan demikian, tradisi keagamaan sulit berubah, karena selain
didukung oleh masyarakat juga memuat sejumlah unsur – unsur yang memiliki nilai
– nilai luhur yang berkaitan dengan keyakinan masyarakat. Tradisi keagamaan
mengadung nilai-nilai yang sangat penting yang berkaitan erat dengan agama yang
dianut masyarakat, atau pribadi – pribadi pemeluk agama tersebut.[6]
C.
TRADISI
KEAGAMAAN DAN SIKAP KEAGAMAAN
Tardisi keagamaan pada
dasarnyamerupakan pranata keagamaan yang sudah dianggap baku oleh masyarakat
pendukungnya. Dengan demikian, tradisi merupakan kerangka acuan norma dalam
kehidupan dan perilaku masyarakat. Dan tradisi keagamaan sebagai pranata primer
dari kebudayaan memang sulit untuk berubah, karena keberadaannya didukung oleh
kesadaran bahwa pranata tersebut menyangkut kehormatan, harga diri, dan jati
diri masyarakat pendukungnya.
Para ahli antropologi
membagi kebudayaan dalam bentuk dan isi. Menurut bentuknya kenudayaan terdiri
atas tiga, yaitu (Koentjaraningrat,1986:80-90)
1.
Sistem kebudayaan (cultural system)
Sistem kebudayaan berwujud gagasan, pikiran,
konsep, nilai-nilai budaya, norma- norma, pandangan-pandangan yang bentuknya
abstrak serta berada dalam pikiran para pemangku kebudayaan yang bersangkutan.
2.
Sistem sosial ( social system )
sistem sosial berwujud aktivitas, tingkah
laku berpola, prilaku, upacara-upacara serta ritus-ritus yang wujudnya lebih
kongkret. Sistem sosial adalah bentuk kebudayaan dalam wujud yang lebih
kongkret dan dapat diamati.
3.
Benda – benda budaya
Benda-benda budaya disebut juga sebagai
kebudayaan fisik atau kebudayaan materil. Benda budaya merupakan hasil tingkah
laku dan karya pemangku dan kebudayaan yang bersangkutan.
Dalam konteks pendidikan, tradisi keagamaan
merupakan isi pendidikan yang bakal diwariskan generasi tua ke generasi muda. Sebab,
pendidikan menurut Hasan Langgulung dapat dilihat dari 2 sudut pandang, yaitu
sudut pandang individu dan masyarakat. Dari sudut pandang individu, maka
pendidikan diartikan sebagai upaya untuk mengembangkan potensi individu.
Sedangkan dari sudut masyarakat, pendidikan merupakan pewarisan nilai-nilai
budaya oleh generasi tua ke generasi berikutnya.[7]
D. KEBUDAYAAN DALAM ERA GLOBAL DAN
PENGARUHNYA TERHADAP JIWA KEAGAMAAN
Era global ditandai oleh proses
kehidupan mendunia, kamajuan IPTEK terutama dalam bidang transportasi dan
komunikasi serta terjadinya lintas budaya. Kondisi ini mendukung terciptanya
berbagai kemudahan dalam hidup manusia, menjadikan dunia semakin transparan.
Pengaruh ini ikut melahirkan pandangan yang serba boleh (permissiveness). Apa
yang sebelumnya dianggap sebagai tabu, selanjutnya dapat diterima dan dianggap
biasa. Sementara itu, nilai-nilai tradisional mengalami proses perubahan sistem
nilai. Bahkan mulai kehilangan pegangan hidup yang bersumber dari tradisi
masyarakatnya. Termasuk ke dalamnya sistem nilai yang bersumber dari ajaran
agama.
Dalam kaitannya dengan jiwa
keagamaan, barang kali dampak globalisasi itu dapat dilihat melalui hubungannya
dengan perubahan sikap. Menurut teori yang dikemukakan oleh Osgood dan
Tannenbaum, perubahan sikap akan terjadi jika terjadi persamaan persepsi pada
diri seseorang atau masyarakat terhadap sesuatu. Hal ini berarti bahwa
apabila pengaruh globalisasi dengan segala muatannya di nilai baik oleh
individu maupun masyarakat, maka mereka akan menerimanya.[8]
Era globalisasi umumnya
digambarkan sebagai kehidupan masyarakat dunia yang menyatu. Era globalisasi
ditopang oleh kemajuan dan kecanggihan teknologi menjadikan manusia seakan
hidup dalam satu kota, kota dunia. Kehidupan manusia di era globalisasi saling
pengaruh- mempengaruhi.
Tetapi menurut Dafid C. Korten ada tiga krisis yang bakal dihadapi
manusia secara global, yaitu : kemiskinan, penanganan lingkungan yang salah,
serta kekerasan sosial. Gejala yang serupa juga akan dihadapai oleh masyarakat
sekitar. Kemajuan teknologi menimbulkan beberapa kekhawatiran, meskipun juga
menampilkan nilai-nilai positif.
Dalam kaitannya dengan jiwa
keagamaan, dampak global itu dapat dilihat melalui hubungannya dengan perubahan
sikap. Perubahan sikap ini menurut pendekatan psikologi adalah berupa
kecenderungan yang besar untuk menyenangi sesuatu. Pada dasarnya, proses
perubahan sikap tersebut dapat digambarkan melalui dua jalur, yaitu proses
rasional dan proses emosional.
Proses rasional diawali
dengan adanya perhatian, pemahaman, penerimaan, dan berakhir pada keyakinan.
sedangkan proses emosional berawal dari perhatian, simpati, menerima, dan
berakhir pada minat (Mar’at, 1981 : 36). Mengacu pada kepada kedua proses
bagaimana seseorang atau masyarakat mengubah sikap dari tidak menerimas menjadi
menerima sesuatu berawal dari tingkat perhatian.
Dalam hal tersebutlah
terlihat terdapat hubungan antara pengaruh kebudayaan era globalisasi terhadap
penbentukan jiwa keagamaan.gejala- gejala tersebut lebih mudah terjadi di
kalangan generasi muda. Contohnya saja nilai – nilai kebudayaan yang bersumber
kepada suatu ajaran agama beralih menjadi nlai- nilai sosial, yaitu tahun baru
pada tanggal 1 januari. Selain dari pada itu nilai–nilai tradisional mengalami
penurunan.[9]
Secara fenomina, kebudayaan
dalam era global mengarah kepada nilai-nilai sekuler yang besar pengaruhnya
terhadap perkembangan jiwa keagamaan. Meskipun dalam sisi-sisi tertentu
kehidupan tradisi keagamaan tampak meningkat dalam kesemarakannya. Namun dalam
kehidupan masyarakat global yang cenderung sekuler barangkali akan ada pengaruhnya
terhadap pertumbungan jiwa keagamaannya.
Dalam situasi seperti itu,
bisa saja terjadi berbagai kemungkinan. Pertama, mereka yang tidak ikut larut
dalam pengaguman yang berlebihan terhadap rekayasa teknologi dan tetap
berpegang teguh pada nilai – nilai keagamaan, kemungkinan akan lebih meyakini
kebenaran agama. Kedua, golongan yang longgar dari nilai-nilai ajaran agama
akan mengalami kekosongan jiwa, golongan ini sulit menentukan pilihan guna
menentramkan gejolak dalam jiwanya.
BAB III
KESIMPULAN
Kebudayaan adalah hasil
daya cipta manusia yang di dalamnya terdapat pengetahuan, keyakinan, seni,
moral, adat istiadat sebagai aspek dari kebudayaan itu sendiri. Kebudayaan
cenderung menjadi tradisi dalam suatu masyarakat karena kebudayaan merupakan
sistem nilai tertentu yang dijadikan pedoman hidup oleh masyarakat.
Tradisi keagamaan
memberi pengaruh dalam membentuk pengalaman dan kesadaran agama sehingga
terbentuk dalam sikap keagamaan pada diri seseorang yang hidup dalam lingkungan
tradisi keagamaan tertentu.
Secara fenomina,
kebudayaan dalam era global mengarah kepada nilai-nilai sekuler yang besar
pengaruhnya terhadap perkembangan jiwa keagamaan. Dalam kaitannya dengan jiwa
keagamaan dampak globalisasi dapat dilihat melalui hubungan dengan perubahan
sikap, seperti hilangnya pegangan hidup yang bersumber dari tradisi masyarakat
dan bersumber dari ajaran agama.
DAFTAR PUSTAKA
Jalaluddin, 2012,Psikologi Agama,
(Jakarta : Raja wali pers,
Jalaluddin, 2005, Psikologi
Agama, Jakarta : PT. Raja
Grafindo Persada
[1] http://blo-miftahul.blogspot.com/2013/05/makalah-psikologi-agama.html
[2] http://imtaq.com/pengertin-adat-dalam-islam/
[3] http://pipingchupu.wordpress.com/2014/06/14/pengaruh-kebudayaan-terhadap-jiwa-keagamaan/
[4] Http://amgy.wodpress.com/2008/02/09/budaya-dan-spiritualitas-keagamaan
[5] http://hadirukiyah.blogspot.com/2009/06/pengaruh-kebudayaan-terhadap-jiwa.html
[6] Jalaluddin,
Psikologi Agama, (Jakarta : Raja wali pers, 2012), hlm., 224
[7]
Ibid, Hlm, 230
[8] Http://amgy.wodpress.com/2008/02/09/budaya-dan-spiritualitas-keagamaan
[9]
Opcit, Jalaluddin, Hlm, 236
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
terimakasih atas kunjungannya jangan lupa komen