Senin, 23 Oktober 2017

NABI ADAM AS DAN RINTISAN PERADABAN MANUSIA PERTAMA

ADAM AS DAN RINTISAN PERADABAN MANUSIA PERTAMA

Oleh: Ahmad Mulyono

A. Pendahuluan

Perkembangan peradaban manusia dari masa ke masa telah banyak mewarnai berbagai aspek kehidupan sosial masyarakat di berbagai belahan dunia. Negeri-negeri yang berada di semenanjung Arab, benua Afrika, Eropa sampai ke Indonesia telah menciptakan peradabannya masing-masing. Perkembangan peradaban manusia di bidang pemikiran dan filsafat, bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, bidang pemerintahan dan politik telah memberikan sumbangan yang sangat besar bagi perkembangan masyarakat di zaman modern.

Huntington memberikan penjelasan mengenai peradaban bahwa menurutnya peradaban dimulai sejak manusia mulai belajar mempraktekan pertanian, bertempat tinggal bersama secara menetap, memiliki lembaga pemerintahan, dan tahu menulis huruf. Ditunjukkannya bahwa peradaban selain suatu proses juga merupakan suatu kondisi. Sebagai proses, peradaban itu mempunyai tahap awalnya, akan tetapi bagaimana tahap akhirnya tidaklah diketahui.2


Menurut penulis membahas sejarah peradaban manusia tidak terlepas dari pembahasan mengenai asal-usul manusia, proses penciptaan manusia pertama dan tujuan penciptaannya. Karena dengan mengetahui beberapa hal tersebut kita akan mendapatkan gambaran jelas tentang hakikat dari eksistensi penciptaan manusia itu sendiri.

Makalah ini ditulis dalam rangka menjelaskan bagaimana sejarah manusia pertama diciptakan yakni Adam AS, apa tujuan utama diciptakannya manusia dan apa saja capaian peradaban yang sudah dihasilkan oleh manusia di masa-masa awal penciptaannya.

B.  Adam AS dan Sejarah Penciptaan Manusia Pertama

Dalam membahas sejarah penciptaan manusia terdapat beberapa teori yang menjelaskannya. Diantaranya adalah teori yang diungkapkan oleh Darwin mengenai teori evolusi dan teori yang dijelaskan oleh Al-Qur’an dan Hadits.

1.    Asal Usul Manusia Menurut Teori Evolusi

Terkait dengan asal-usul manusia, seorang ilmuwan Inggris yakni Charles Robert Darwin mengemukakan teori evolusi dengan mengajukan seleksi alam sebagai mekanismenya.

1 Makalah ini disampaikan pada kegiatan BiRohis Sekolah Tinggi Perikanan Jakarta tanggal 12 oktober 2016

2  Nathanael Daljoeni, Geografi Kesejarahan I: Peradaban Dunia, Bandung: Alumni 1987, hal. 32



Diantara hasil penemuannya ini adalah sebuah teori yang tidak mendasar tentang manusia yang berevolusi dari kera. Menurut teori ini manusia dan kera modern berasal dari nenek moyang yang sama. Teori ini sangat bertentangan dengan firman Allah ta’ala dalam surat at Tiin ayat 4,

Artinya:sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-

baiknya.” (QS At-Tiin: 4)

Bagaimana mungkin manusia tercipta dari makhluk yang fisik dan akal yang rendah. Menurut Harun Yahya, “semua temuan paleontology, anatomi dan biologi menunjukkan bahwa pernyataan evolusi ini fiktif dan tidak sahih seperti semua pernyataan evolusi lainnya. Tidak ada bukti-bukti kuat dan nyata untuk menunjukkan kekerabatan antara manusia dan kera. Yang ada hanyalah pemalsuan, penyimpangan, gambar-gambar serta komentar-komentas yang menyesatkan.”3

2.      Penjelasan bahwa Adam AS Adalah Manusia Pertama Berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits

Penjelasan mengenai penciptaan manusia pertama dimulai dari dialog antara Allah dan para malaikat. Sebagaimana tertera pada firman Allah ta’ala dalam surat al Baqarah ayat 30,




Artinya:Dan Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui".” (QS. Al Baqarah: 30)
Ayat ini menggambarkan keinginan Allah menciptakan suatu makhluk yang nantinya diamanahi sebagai khalifah yang berarti pemimpin di bumi.

3 Harun Yahya, Keruntuhan Teori Evolusi, Bandung: Penerbit Dzikra, 2004, hlm 65-66.


Menurut Ibnu Katsir yang dimaksud ةفيلخ ضرلأا يف لعاج ينإ adalah Allah Ta'ala hendak menciptakan Adam dan keturunannya yang datang silih berganti, sebagaimana yang tertera dalam firman Allah ta'ala:4Artinya: Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi. (QS. Al An'am:

165)

Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah, dia berkata, Rasulullah SAW menggenggam tanganku dan bersabda, “Allah Azza wa Jalla menciptakan tanah (bumi) pada hari sabtu, menciptakan gunung-gunung di atasnya pada hari ahad, menciptakan pepohonan pada hari senin, menciptakan sesuatu untuk kemaslahatan hamba-hamba-Nya pada hari selasa, menciptakan cahaya pada hari rabu, menyebarkan hewan-hewan ternak pada hari kamis, menciptakan Adam Alaihis Salam pada hari jum’at setelah ashar, merupakan ciptaan Allah yang terakhir, yang diciptakan di akhir-akhir waktu pada hari jum’at antara ashar menjelang malam.”5

Hadits di atas memberikan penjelasan tentang permulaan penciptaan dunia dan penciptaan Adam AS.

Pada mulanya Adam AS diciptakan oleh Allah di langit, namun karena sebuah kesalahan yang dilakukan Adam AS dan tentunya takdir yang telah Allah tetapkan akhirnya Adam AS diturunkan ke bumi. Penjelasan mengenai hal tersebut yakni sebagai berikut.

a.    Penciptaan Adam AS di langit

As Sa'di menyebutkan dari Abu Malik dan Abu Shalih dari Ibnu Abbas dari Murrah dari Ibnu Mas'ud dari sejumlah sahabat Rasulullah SAW, mereka berkata: "Maka Allah SWT mengutus Jibril untuk mendatangi bumi guna mengambil tanah darinya. Maka bumi berkata: "Aku berlindung kepada Allah dari tindakanmu mengurangiku atau menyakitiku." Maka Jibril kembali dan tidak jadi mengambilnya seraya berkata: "Wahai Rabbku, sesungguhnya bumi telah berlindung kepadaMu, maka akupun melindunginya." Kemudian Allah SWT mengutus Mikail, namun bumi berlindung darinya. Maka iapun melindunginya lantas kembali dan berkata sebagaimana yang dikatakan Jibril. Lalu Allah mengutus malaikat maut. Bumi pun
4 Ibnu Katsir, Kisah Para Nabi (Jakarta: Pustaka As Sunnah, 2007), hal. 19

5  Imam Nawawi, Syarah Shahih Muslim (Jakarta: Darus Sunnah Press: 2014), Jilid 12, cetakan kedua, hal. 229-230

3


berlindung darinya. Maka malaikat maut berkata: "Aku berlindung kepada Allah dari kembali kepada-Nya tanpa melaksanakan perintah-Nya. Lantas ia mengambil tanah dari permukaan bumi dan mencampurnya. Ia tidak mengambil dari satu tempat. Namun ia mengambil dari tanah yang berwarna putih, merah dan hitam. Oleh karenanya, anak keturunan Adam terlahir dalam kondisi yang berbeda-beda (warna kulitnya). Lalu malaikat maut membawanya naik dan membasahi tanah tersebut sehingga menjadi thiinan laazib (tanah liat). Makna laazib adalah tanah yang lengket. Kemudian Allah Ta'ala berfirman kepada malaikat yang artinya: (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat "Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah." Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan ruh (ciptaan) Ku, maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya." (QS. Saad: 71-72).6

Keterangan di atas menggambarkan bagaimana awal mula Adam AS diciptakan oleh Allah dari tanah yang berasal dari bumi yang dibawa oleh malaikat maut. Kemudian selanjutnya Allah meniupkan ruh kepadanya sehingga jadilah Adam AS makhluk yang sempurna. Selain itu kita juga dapat mengetahui bahwa perbedaan warna kulit yang ada pada manusia saat ini adalah sudah ketetapan Allah di awal penciptaan manusia.

Setelah menciptakan Adam AS, Allah SWT menciptakan Hawa yang dalam penciptaanya diambil dari tulang rusuk Adam AS dari sisi tubuh sebelah kiri dan membalut tempat itu dengan sepotong daging. Selanjutnya Allah menyempurnakannya menjadi seorang wanita agar Adam merasa tenang bersamanya.7

Setelah Adam AS dan Hawa diciptakan Allah menyuruh keduanya untuk tinggal di surga.

Hal ini sebagaimana dijelaskan di dalam firman Allah SWT di surat Al Baqarah ayat 35.

Artinya: “Dan Kami berfirman: "Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini. yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim.” (QS Al Baqarah: 35)

6 Ibnu Katsir, Kisah Para Nabi, hal. 57

7  Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir (Bogor: Pustaka Imam asy Syafi’I , 2004), Jilid 1, cetakan ke 4, hal. 111



Kemudian setelah Adam AS dan Hawa mendiami surga, mereka makan apa yang ada di dalam surga sesuai dengan selera mereka dengan penuh kebahagiaan. Hingga pada akhirnya disebabkan bujuk rayu syaithan menyebabkan Adam AS dan Hawa melakukan kesalahan yakni memakan buah dari sebuah pohon yang telah dilarang untuk mereka memakannya. Sebagaimana dijelaskan pada ayat selanjutnya yakni Surat Al Baqarah ayat 36




Artinya: “Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman: "Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan." (QS Al Baqarah: 36)
b.   Diturunkannya Adam AS ke Bumi

Akibat dari kesalahan yang dibuat oleh Adam AS dan Hawa ketika di surge, akhirnya Allah menyuruh mereka untuk turun dari surga. Allah menurunkan mereka yakni Adam AS, Hawa dan Iblis ke bumi.

Para ulama berbeda pendapat berkaitan dengan seberapa lama mereka berdua tinggal di dalam surga. Ada yang mengatakan bahwa mereka berada di surga hanya beberapa hari dari hitungan hari-hari di dunia.8

Ulama juga berbeda pendapat tentang dimana tempat pertama kali Adam AS diturunkan ke Bumi. Dari Ibnu Abbas, ia berkata: Adam AS diturunkan ke bumi di daerah yang namanya "Dahna" yang terletak antara Makkah dan Thaif. Diriwayatkan oleh Ibu Abi Hatim

Diriwayat yang lain, as Suddiy berkata: Adam diturunkan di India, Adam turun bersama-sama Hajar Aswad dengan membawa segenggam daun surga. Ia menyebarnya di India sehingga tumbuhlah pohon obat-obatan di sana. Dari Ibnu Umar ia berkata: Adam diturunkan di Shafa, sedangkan Hawa diturunkan di Marwa. Diriwayatkan oleh ibnu Abi Hatim.9

Ibnu Katsir mengomentari masalah ini dengan mengatakan bahwa seandainya pada penentuan tempat tersebut terdapat manfaat bagi para mukallaf (orang-orang dewasa atau yang

8 Ibnu Katsir, Kisah Para Nabi, hal. 71

9  Ibnu Katsir, Kisah Para Nabi, hal. 43


mendapat tugas dan kewajiban) dalam masalah agama dan dunia mereka, niscaya Allah pasti telah menyebutkannya dalam al-Qur'an atau disampaikan oleh Rasul-Nya.10

Kehidupan Adam AS dan Hawa di bumi adalah fase baru dari kehidupan mereka. Mereka juga berkembang biak melahirkan keturunan-keturunan penerus mereka. Ada yang mengatakan bahwa Hawa mengandung sebanyak seratus dua puluh kali, dan setiap mengandung melahirkan anak laki-laki dan perempuan. Anak yang pertama bernama Qabil dan saudaranya, Qalima. Sedangkan anaknya yang terakhir bernama Abdul Mughits dan saudaranya Ummul Mughits. Setelah itu manusia mulai tersebar luas dan berkembang biak. Mereka tersebar di seluruh permukaan bumi dan terus berkembang. Hal ini sebagaimana yang ditegaskan oleh Allah Ta'ala dalam firman-Nya yang artinya: “Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (QS An Nisaa: 1).11



Adapun  proses  penciptaan  manusia  setelah  Adam  dan  Hawa  adalah  seperti  yang
digambarkan oleh Allah dalam firman-Nya:


































َ

Artinya: “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.” (QS Al Mukminun: 12-14).


10Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir (Bogor: Pustaka Imam asy Syafi’I , 2004), Jilid 3,cetakan ke 4, hal. 363

11 Ibnu Katsir, Kisah Para Nabi, hal. 82-83


Mujahid mengemukakan: "Min Sulalatin" berarti dari air mani anak cucu Adam.12 Lalu berkembanglah dari air mani itu menjadi nutfah dan seterusnya sesuai ayat di atas.

c.    Wafatnya Adam AS

Ibnu Dhamurah As-Sa'di berkata, "Aku melihat seorang Syaikh di Madinah sedang berbicara. Lalu aku bertanya tentangnya." Mereka menjawab, "Itu adalah Ubay bin Kaab." Ubay berkata, "Ketika maut datang menjemput Adam, dia berkata kepada anak-anaknya, 'Wahai anak-anakku, aku ingin makan buah Surga." Lalu anak-anaknya pergi mencari untuknya. Mereka disambut oleh para Malaikat yang telah membawa kafan Adam dan wewangiannya. Mereka juga membawa kapak, sekop, dan cangkul. Para Malaikat bertanya, "Wahai anak-anak Adam, apa yang kalian cari? Atau apa yang kalian mau? Dan ke mana kalian pergi?" Mereka menjawab, "Bapak kami sakit, dia ingin makan buah dari Surga." Para Malaikat menjawab, "Pulanglah, karena ketetapan untuk bapak kalian telah tiba." Lalu para Malaikat datang. Hawa melihat dan mengenali mereka, maka dia berlindung kepada Adam. Adam berkata kepada Hawa, "Menjauhlah dariku. Aku pernah melakukan kesalahan karenamu. Biarkan aku dengan Malaikat Tuhanku Tabaraka wa Taala." Lalu para Malaikat mencabut nyawanya, memandikannya, mengkafaninya, memberinya wewangian, menyiapkan kuburnya dengan membuat liang lahat di kuburnya, menshalatinya. Mereka masuk ke kuburnya dan meletakkan Adam di dalamnya, lalu mereka meletakkan bata di atasnya. Kemudian mereka keluar dari kubur, mereka menimbunnya dengan batu. Lalu mereka berkata, "Wahai Bani Adam, ini adalah sunnah kalian."13

Di atas penjelasan kisah kematian Adam AS. Terjadi silang pendapat berkaitan dengan tempat penguburan Adam AS. Pendapat yang masyhur, bahwa Adam dikubur di bukit tempat ia diturunkan (dari surga) di India. Ada yang mengatakan bahwa ia dikuburkan di bukit Abu Qabais di Makkah.14

C. Tugas Utama Manusia Sebagai Khalifah

Beradasarkan firman Allah di dalam surat Al Baqarah ayat 30 di atas dapat diketahui bahwa maksud dari penciptaan manusia yakni sebagai khalifah. Makna khalifah sendiri terjadi perbedaan pendapat ada yang menyebut pengganti dan ada menyebut pemimpin. Terkait pendapat yang menyebut khalifah adalah pengganti juga terdapat perbedaan, ada penafsir


12Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir (Bogor: Pustaka Imam asy Syafi’I , 2004), Jilid, cetakan ke 4, hal. 574

13 Ibnu Katsir, Kisah Para Nabi, hal. 87-88

14 Ibnu Katsir, Kisah Para Nabi, hal. 88-89



mengatakan pengganti dari jenis makhluk yang telah musnah, sebangsa manusia juga, sebelum

Adam. Itulah yang akan digantikan:

Ada setengah penafsiran mengatakan Khalifah dari Allah sendiri. Pengganti Allah sendiri. Sampai di sini niscaya dapat dipahamkan bahwa mentang-mentang manusia dijadikan KhalifahNya oleh Allah, bukanlah berarti, bahwa dia telah berkuasa pula sebagai Allah dan sama kedudukan dengan Allah; bukan ! Sebagaimana juga Abu Bakar sama kedudukan Abu bakar dengan Rasulullah.

Maka jika manusia menjadi Khalifah Allah, bukan berati manusia menjadi sama kedudukan dengan Allah! Maka pengertian pengganti di sini harus diberi arti manusia diangkat oleh Allah menjadi KhalifahNya. Dengan perintah-perintah tertentu. Dan untuk menghilangkan kemusykilan dalam hati, kalau hendak dituruti tafsir yang kedua, bahwa manusia adalah Khalifah Allah di muka burni, janganlah dia dibahasa Indonesiakan, tetap sajalah dalam bahasa aslinya : Khalifah Allah !

Kepada tafsiran yang manapun kita akan cenderung, baik jika ditafsirkan bahwa Adam dan keturunannya diangkat jadi Khalifah dari makhluk yang telah musnah, ataupun sebagai Khalifah daripada Allah sendiri, namun isi ayat sebagai lanjutan daripada ayat sebelumnya telah menyingkapkan lagi tabir pemikiran yang lebih luas bagi manusia, agar janganlah mereka kafir terhadap Allah, ingatlah bahwa kedudukannya dalam hidup bukanlah sembarang kedudukan. Janganlah disia-siakan waktu pendek yang dipakai selama hidup di dunia ini.

Demikian besar sanjungan yang diberikan Allah, sangatlah tidak layak kalau manusia menjatuhkan dirinya ke dalam kehinaan, di sini disebutkan bahwa dia adalah khalifah. Di waktu yang lain Tuhan katakan bahwa manusia telah dijadikan sebaik-baiknya bentuk (Surat at-Tin 95, ayat 4). Dan dikala yang lain Dia Allah, sanjung dia tinggi-tinggi.


Artinya: "Dan sesungguhnya telah Kami muliakan Bani Adam, dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami beri rezeki mereka dengan yang baik-baik, dan sungguh-sungguh Kami lebihkan mereka daripada kebanyakan (makhluk) yang telah Kami jadikan, sebenar-benar dilebihkan. " (al-Isra: 70).


Demikianlah kemulian yang telah dilimpahkan Tuhan kepada manusia, adakah patut kalau manusia tiada juga sadar akan dirinya dari hubungannya dengan Tuhannya.15

Nurcholis Madjid di dalam bukunya Islam Agama Peradaban memberikan penjelasan tentang masalah khalifah sebagai berikut.16

Masalah kekhalifahan Adam, dan dalam hal ini juga kekhalifahan manusia, adalah masalah yang sangat penting dalam ajaran Al-Qur'an dan banyak dibahas. Dari pendekatan bahasa, perkataan Arab khalifah berarti orang yang datang kemudian atau di belakang, karena itu digunakan makna "pengganti" atau "wakil" (dalam bahasa Inggris perkataan itu diterjemahkan dengan "vicegerent"). Jadi makna penunjukan manusia, dimulai dengan Adam, sebagai khalifah di bumi ialah bahwa manusia harus "meneruskan" ciptaan Allah di planet ini, dengan mengurusnya dan mengembangkannya sesuai dengan "mandat" yang diberikan Allah. Tentu saja manusia tidak dibenarkan melanggar atau melalaikan mandat itu, baik bentuk lahir maupun semangatnya. Dan semua yang ada di bumi ini, bahkan apa yang ada dalam seluruh langit, diciptakan untuk manusia sebagai rahmat dari Dia (Allah), yang harus selalu dipikirkan tanda-tandanya oleh manusia sendiri.

Sementara Sayyid Quthb menjelaskan17 bahwa Sesungguhnya, isyarat paling menonjol dalam kisah Adam AS adalah nilai agung yang diberikan oleh tashawwur Islam tentang manusia dan perannya di muka bumi. Nilai agung yang diberikan oleh persepsi Islam tentang manusia tersebut nampak jelas dalam pemberitahuan Allah yang Maha Mulia di hadapan para malaikat mulia, bahwa dia (manusia) diciptakan untuk menjadi khalifah di muka bumi.

Dari pandangan tentang manusia ini lahir sejumlah prinsip yang sangat besar nilainya baik dalam tataran persepsi ataupun dalam tataran realitas. Prinsip pertama diantara sejumlah prinsip tersebut ialah bahwa manusia adalah tuan di muka bumi ini. Untuk manusia segala sesuatu di muka bumi ini diciptakan. Jadi dia lebih mulia dan lebih berharga ketimbang segala benda dan semua nilai material di muka bumi ini. Prinsip kedua ialah bahwa peran manusia di bumi adalah peran utama. Manusialah yang mengubah dan mengganti berbagai kondisi dan hubungan bumi ini.


15  Lihat Tafsir Al-Azhar ayat 30-33, http://kongaji.tripod.com/myfile/al-baqoroh_ayat_30-33.htm diakses pada 30 september 2016

16 Nurcholis Madjid, Islam Agama Peradaban: Membangun Makna dan Relevansi Doktrin Islam dalam Sejarah (Jakarta: Paramadina, 1995) cet 1, hal. 179

17Sayyid Quthb, Tafsir Fi Zhilalil Qur’an (Jakarta: Rabbani Press, 2005), Jilid 1, Hal.149-150


Pandangan Qur’ani menjadikan manusia dengan khilafahnya ini sebagai factor sangat penting dalam sistem alam semesta, dan tampak nyata dalam system ini. karena khilafahnya di muka bumi memiliki beragam kaitan dengan segenap langit, angin, hujan dan galaksi. Semuanya tampak nyata dalam konstruksi dan arsitektur bumi yang memungkinkan berlangsungnya kehidupan manusia di muka bumi, dan memungkinkan manusia melaksanakan tugas khilafahnya.

Demikian pula, dari pandangan Islam yang sangat luhur tentag hakikat manusia dan tugasnya, lahir sikap menjunjung tinggi nilai akhlaq yang mulia dan mengagungkan nilai-nilai keimanan, kesalehan dan keikhlasan dalam kehiduapnnya. Itulah nilai-nilai yang menjadi landasan pelaksanaan janji khilafahnya.

Al Raghib sebagaimana dinukil oleh Yusuf Qardhawi dalam bukunya Sunnah, Ilmu Pengetahuan dan Peradaban menjelaskan bahwa tugas “khilafatullah” merupakan satu posisi di atas “’ubudiyah lillah”. Bahwa ia (tugas khilafah) tidak sah kecuali dengan kesucian jiwa, seperti halnya ibadah termulia (shalat) tidak sah tanpa suci badan.18

Terkait pendapat al Raghib ini Qardhawi memberikan komentar bahwa yang benar adalah khilafah dan ubudiyah berada dalam satu tingkat. Serang insan mukmin adalah khalifah Allah, dan pada saat yang sama juga sebagai hamba-Nya. Seperti kata Allah kepada Daud: “Hai Daud, sesungguhnya kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) diantara manusia dengan adil.” (QS Shaad: 26). Pada saat yang sama Ia menyeru rasul-Nya: “dan ingatlah hamba Kami Daud yang mempunyai kekuatan; sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhan).” (QS Shaad: 17). Daud adalah seorang khalifah Allah dan seorang hamba, dan tidak ada pertentangan antara keduanya.19

Dari beberapa penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan Allah menciptakan manusia adalah sebagai khalifah dalam arti pengganti, pemimpin, pemakmur yang mengurusi bumi sesuai dengan aturan-aturan yang telah Allah tetapkan. Selain itu, penulis ingin menyampaikan satu pernyataan yang diungkapkan oleh Qardhawi tentang tiga tugas manusia, yang menurut penulis tugas-tugas tersebut sudah mencakup seluruh tugas manusia yang sudah diamanahi oleh Allah sebagai tujuan penciptaannya. Tiga tugas tersebut, yaitu20:



18Yusuf Qardhawi, Sunnah Ilmu Pengetahuan dan Peradaban (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2001), cet 1, hal. 352

19 Yusuf Qardhawi, Sunnah Ilmu Pengetahuan dan Peradaban, hal. 352-353

20 Yusuf Qardhawi, Sunnah Ilmu Pengetahuan dan Peradaban, hal. 360



Pertama, adalah memakmurkan bumi seperti disebutkan di dalam firman Allah: “dan menjadikan kamu pemakmurnya (bumi).” (QS Hud: 61). Tugas ini merupakan perpaduan untuk meraih kehidupan dunia antara dirinya dengan orang lain.

Kedua, adalah beribadah kepada Allah, sebagaimana dalam firman Allah: “Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka menyembah (beribadah) kepadaKu).” (QS Al Dzariyat: 56).

Ketiga, adalah tugas khalifah, seperti disebutkan dalam firman Allah: “dan menjadikanmu khalifah di bumi-Nya, maka Allah akan melihat perbuatanmu.” QS Al A’raf: 129). Tugas khalifah inidilakukan dengan meneladani sifat-sifat Sang Pencipta sesuai dengan kemampuan manusia dalam kehidupannya.

D. Capaian Peradaban Manusia Saat Itu

Dalam membahas peradaban manusia yang sudah dihasilkan pada saat-saat awal penciptannya, harus dijelaskan terlebih dahulu tentang makna peradaban. Qardhawi menjelaskan makna umum bagi peradaban yang dapat dipahami dari kata “peradaban” itu sendiri, yaitu akumulasi fenomena kemajuan materi, keilmuan, seni, sastra dan social, pada suatu kelompok masyarakat, atau pada beberapa masyarakat yang mempunyai kesamaan.21

Berdasarkan makna di atas dengan melihat sejarah manusia di masa awal penciptaannya telah menghasilkan sesuatu yang menurut penulis itu adalah termasuk dalam makna peradaban. Beberapa capaian peradaban tersebut diantaranya adalah sebagai berikut.

1.   Bahasa

Capaian peradaban yang pertama kali dicapai oleh manusia adalah Bahasa. Hal ini tergambar dari bahwa terjadi komunikasi antara Adam dengan Allah SWT dan penghuni surga saat itu. Namun yang masih menjadi misteri sampai saat ini adalah belum ada kepastian tentang bahasa yang dipakai saat itu. Adapun saat ini kita mengetahui bahwa Al Qur’an yang berbahasa Arab telah menceritakan peristiwa Adam AS, hal tersebut tidak pasti menunjukkan bahwa bahasa yang dipakai saat itu adalah Bahasa Arab

2.   Ilmu

Capaian berikutnya yang dicapai manusia, yang diawali oleh Adam AS adalah Ilmu. Ini merupakan konsekuensi dari capaian peradaban yang pertama, bahwa Bahasa


21Yusuf Qardhawi, Sunnah Ilmu Pengetahuan dan Peradaban, hal.292

11


memudahkan terjadinya proses transfer ilmu. Lebih jelas bisa kita lihat dalam firman Allah


berikut


Artinya: “Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!" (Al Baqarah: 31)

Dari ayat di atas dapat dipahami bahwa Allah mengajarkan ilmu kepada Adam AS berupa pengajaran nama-nama benda dari yang telah Allah ciptakan.

Ibnu Katisr menjelaskan ayat ini bahwa Allah mengajari Adam nama segala macam benda, baik dzat, sifat, maupun af'al (perbuatannya).

Inilah maqam (situasi) dimana Allah menyebutkan kemuliaan Adam atas para malaikat karena Dia telah mengkhususkannya dengan mengajarkan nama-nama segala sesuatu yang tidak diajarkan kepada para malaikat.22

3.   Taubat

Diantara karakteristik prilaku peradaban yang dijelaskan oleh Qardhawi adalah manusia hendaknya menghiasi diri dengan akhlak yang mulia nan luhur dan menjauhkan diri dari akhlak hina yang rendah.23

Berdasarkan penjelasan di atas, penulis membuat kesimpulan bahwa salah satu capaian peradaban yang tinggi yang dilakukan oleh manusia pada saat itu, terutama Adam AS dan Hawa,yang sangat berguna bagi manusia setelahnya ialah Taubat.

Taubat adalah sikap mulia nan luhur yang ditampilkan oleh Adam AS dan juga Hawa. Ketika mereka melakukan kesalahan, mereka langsung menyadari kesalahan tersebut dan bertaubat memohon ampun kepada Sang Pencipta, Allah Azza wa Jalla. Penjelasan taubat Adam AS dan Hawa ini dijelaskan dengan sangat menarik di dalam firman Allah surat Al A’raf ayat 22-23

22Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, Jilid 1, hal. 104-105

23 Yusuf Qardhawi, Sunnah Ilmu Pengetahuan dan Peradaban, hal. 384


Artinya: “Maka syaitan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu

-        daya. Tatkala keduanya telah merasai buah kayu itu, nampaklah bagi keduanya aurat auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian Tuhan mereka menyeru mereka: "Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu: "Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?". Keduanya berkata: "Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami,
niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” (QS Al A’raf : 22-23)

Ini merupakan bentuk pengakuan, taubat, merendahkan diri, tunduk patuh, dan rasa sangat membutuhkan Allah Ta'ala di saat-saat genting. Apabila rahasia ini dilakukan oleh salah satu anak keturunan Adam, niscaya ia akan mendapatkan kebaikan baik di dunia 
Capaian keempat dari peradaban manusia saat itu adalah tata cara kubur. Tata cara kubur yang dilakukan pada saat itu memberikan pengajaran kepada anak cucu Adam AS

sesudahnya , tentang bagaimana cara menangani orang mati.

Tata cara kubur yang dilakukan pada saat itu, yang merupakan pengajaran dari malaikat ketika Adam mengalami saat sakaratul maut. Para Malaikat memandikannya, memberinya wangi-wangian, mengkafaninya, menggali kuburnya, menshalatkannya, menguburkannya dan menimbunnya dengan tanah. Sebagaimana yang telah disebutkan dalam penjelasan
wafatnya Adam AS.



24 Ibnu Katsir, Kisah Para Nabi, hal. 4113

Artinya: “Kemudian syaithan membisikkan pikiran jahat kepada mereka agar menampakkan aurat mereka (yang selama ini) tertutup.”

Dilihat dari redaksi ayat di atas bahwa tujuan syaithan awalnya adalah menyingkap aurat Adam dan Hawa. Dari sini dapat diketahui bahwa ketika Adam dan Hawa berada di surga mereka tertutup auratnya oleh pakaian. Namun pakaian apakah yang dipakai ketika itu tidak bisa dipastikan jenisnya. Syaikh Nawawi di dalam tafsirnya menyebutkan bahwa yang dimaksud adalah agar terlihat apa yang menututpi keduanya yaitu berupa pakaian cahaya atau pakaian surga. Dan tujuan iblis membisikkan keduanya bukanlah agar terlihat auratnya tapi tujuannya adalah agar keduanya berbuat maksiat.25

Khatib al-Bahgdadi di dalam Tarikhul Anbiya mengemukakan bahwa, malaikat Jibril mengajarkan nabi Adam tenun dan mengajarkan Hawa cara memintal benang. Setelah itu Adam AS menenun dan membuat berupa jubah buat dirinya sendiri dan baju kurung, penutup kepala atau mukena untuk Hawa.

6.   Pena

Capaian ketiga dari peradaban manusia saat itu adalah apa yang telah dilakukan oleh Nabi Idris AS. Ibnu Ishaq menyebutkan bahwa dia adalah orang yang pertama kali menulis dengan menggunakan pena. Sebagian orang mengatakan bahwa ia adalah orang yang dimaksud dalam hadits Mu'awiyah bin al Hakam as Sulami, ketika Rasulullah SAW ditanya tentang tulisan di atas pasir, maka beliau bersabda: "Dahulu ada seorang Nabi yang menulis dengannya (maksudnya menulis di atas pasir). Barangsiapa yang sejalan dengan tulisannya, maka demikian itulah (tulisannya)."26

25Muhammad Nawawi, Murah Labib Tafsir An Nawawi: At Tafsir Al Munir Lima’alim at Tanzil

(Beirut: Dar al Fikr, 2007), Juz 1, hal. 302
26Ibnu Katsir, Kisah Para Nabi, hal. 91-92

DAFTAR PUSTAKA



Al-Quran al-Karim.

Daljoeni, Nathanael, Geografi Kesejarahan I: Peradaban Dunia, Bandung: Alumni 1987.

Ibnu Katsir, Kisah Para Nabi, dalam edisi terjemahan oleh: Abu Hudzaifah, Jakarta: Pustaka As Sunnah, 2007.

Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, dalam edisi terjemahan oleh: M Abd Ghofar EM, Bogor:

Pustaka Imam asy Syafi’I , 2004, Jilid 1, cetakan ke 4.

Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, Jilid 3.

Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, Jilid 5.

Imam Nawawi, Syarah Shahih Muslim, dalam edisi terjemahan oleh: Darwis dan Muhtadi,

Jakarta: Darus Sunnah Press: 2014, Jilid 12, cetakan 2.

Madjid, Nurcholis, Islam Agama Peradaban: Membangun Makna dan Relevansi Doktrin

Islam dalam Sejarah (Jakarta: Paramadina, 1995) cet 1.

Nawawi, Muhammad, Murah Labib Tafsir An Nawawi: At Tafsir Al Munir Lima’alim at Tanzil

(Beirut: Dar al Fikr, 2007), Juz 1.

Quthb, Sayyid, Tafsir Fi Zhilalil Qur’an, dalam edisi terjemahan oleh: Aunur Rofiq Shaleh

Tamhid, Jakarta: Rabbani Press, 2005, Jilid 1.

Qardhawi, Yusuf, Sunnah Ilmu Pengetahuan dan Peradaban, dalam edisi terjemahan oleh:

Abad Badruzzaman, Yogyakarta: Tiara Wacana, 2001, cet 1.

Yahya, Harun, Keruntuhan Teori Evolusi, Bandung: Penerbit Dzikra, 2004.

Tafsir Al-Azhar ayat 30-33, http://kongaji.tripod.com/myfile/al-baqoroh_ayat_30-33.htm diakses pada 30 september 2016.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

terimakasih atas kunjungannya jangan lupa komen

iklan otomatis