Oleh: Ahmad Mulyono
A. Pendahuluan
Perkembangan peradaban manusia dari masa ke masa
telah banyak mewarnai berbagai aspek kehidupan sosial masyarakat di berbagai
belahan dunia. Negeri-negeri yang berada di semenanjung Arab, benua Afrika,
Eropa sampai ke Indonesia telah menciptakan peradabannya masing-masing.
Perkembangan peradaban manusia di bidang pemikiran dan filsafat, bidang ilmu
pengetahuan dan teknologi, bidang pemerintahan dan politik telah memberikan
sumbangan yang sangat besar bagi perkembangan masyarakat di zaman modern.
Huntington memberikan penjelasan mengenai peradaban
bahwa menurutnya peradaban dimulai sejak manusia mulai belajar mempraktekan
pertanian, bertempat tinggal bersama secara menetap, memiliki lembaga
pemerintahan, dan tahu menulis huruf. Ditunjukkannya bahwa peradaban selain
suatu proses juga merupakan suatu kondisi. Sebagai proses, peradaban itu
mempunyai tahap awalnya, akan tetapi bagaimana tahap akhirnya tidaklah
diketahui.2
Menurut penulis membahas sejarah peradaban manusia
tidak terlepas dari pembahasan mengenai asal-usul manusia, proses penciptaan
manusia pertama dan tujuan penciptaannya. Karena dengan mengetahui beberapa hal
tersebut kita akan mendapatkan gambaran jelas tentang hakikat dari eksistensi
penciptaan manusia itu sendiri.
Makalah ini ditulis dalam rangka menjelaskan
bagaimana sejarah manusia pertama diciptakan yakni Adam AS, apa tujuan utama
diciptakannya manusia dan apa saja capaian peradaban yang sudah dihasilkan oleh
manusia di masa-masa awal penciptaannya.
B. Adam AS
dan Sejarah Penciptaan Manusia Pertama
Dalam membahas sejarah penciptaan
manusia terdapat beberapa teori yang menjelaskannya. Diantaranya adalah teori
yang diungkapkan oleh Darwin mengenai teori evolusi dan teori yang dijelaskan
oleh Al-Qur’an dan Hadits.
1. Asal Usul Manusia Menurut Teori Evolusi
Terkait dengan asal-usul manusia, seorang ilmuwan
Inggris yakni Charles Robert Darwin mengemukakan teori evolusi dengan
mengajukan seleksi alam sebagai mekanismenya.
1 Makalah ini disampaikan pada
kegiatan BiRohis Sekolah Tinggi Perikanan Jakarta tanggal 12 oktober 2016
2 Nathanael Daljoeni, Geografi Kesejarahan I: Peradaban Dunia,
Bandung: Alumni 1987, hal. 32
Diantara hasil penemuannya ini adalah sebuah teori yang tidak mendasar
tentang manusia yang berevolusi dari kera. Menurut teori ini manusia dan kera
modern berasal dari nenek moyang yang sama. Teori ini sangat bertentangan
dengan firman Allah ta’ala dalam surat at Tiin ayat 4,
Artinya:“sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam
bentuk yang sebaik-
baiknya.” (QS At-Tiin: 4)
Bagaimana mungkin manusia
tercipta dari makhluk yang fisik dan akal yang rendah. Menurut Harun Yahya, “semua
temuan paleontology, anatomi dan biologi menunjukkan bahwa pernyataan evolusi
ini fiktif dan tidak sahih seperti semua pernyataan evolusi lainnya. Tidak ada
bukti-bukti kuat dan nyata untuk menunjukkan kekerabatan antara manusia dan
kera. Yang ada hanyalah pemalsuan, penyimpangan, gambar-gambar serta
komentar-komentas yang menyesatkan.”3
2.
Penjelasan bahwa Adam AS Adalah Manusia Pertama
Berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits
Penjelasan mengenai penciptaan
manusia pertama dimulai dari dialog antara Allah dan para malaikat. Sebagaimana
tertera pada firman Allah ta’ala dalam surat al Baqarah ayat 30,
Artinya:“Dan
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku
hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata:
"Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan
membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa
bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?" Tuhan berfirman:
"Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui".” (QS. Al
Baqarah: 30)
Ayat ini menggambarkan keinginan
Allah menciptakan suatu makhluk yang nantinya diamanahi sebagai khalifah yang
berarti pemimpin di bumi.
3 Harun Yahya, Keruntuhan Teori Evolusi, Bandung: Penerbit Dzikra, 2004, hlm
65-66.
Menurut Ibnu Katsir yang dimaksud
ةفيلخ ضرلأا يف لعاج ينإ adalah Allah Ta'ala hendak menciptakan Adam dan
keturunannya yang datang silih berganti, sebagaimana yang tertera dalam firman
Allah ta'ala:4Artinya: Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi. (QS.
Al An'am:
165)
Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim
dari Abu Hurairah, dia berkata, Rasulullah SAW menggenggam tanganku dan
bersabda, “Allah Azza wa Jalla menciptakan tanah (bumi) pada hari sabtu,
menciptakan gunung-gunung di atasnya pada hari ahad, menciptakan pepohonan pada
hari senin, menciptakan sesuatu untuk kemaslahatan hamba-hamba-Nya pada hari
selasa, menciptakan cahaya pada hari rabu, menyebarkan hewan-hewan ternak pada
hari kamis, menciptakan Adam Alaihis Salam pada hari jum’at setelah ashar, merupakan
ciptaan Allah yang terakhir, yang diciptakan di akhir-akhir waktu pada hari jum’at
antara ashar menjelang malam.”5
Hadits di atas memberikan
penjelasan tentang permulaan penciptaan dunia dan penciptaan Adam AS.
Pada mulanya Adam AS diciptakan
oleh Allah di langit, namun karena sebuah kesalahan yang dilakukan Adam AS dan
tentunya takdir yang telah Allah tetapkan akhirnya Adam AS diturunkan ke bumi.
Penjelasan mengenai hal tersebut yakni sebagai berikut.
a. Penciptaan Adam AS di langit
As Sa'di menyebutkan dari Abu
Malik dan Abu Shalih dari Ibnu Abbas dari Murrah dari Ibnu Mas'ud dari sejumlah
sahabat Rasulullah SAW, mereka berkata: "Maka Allah SWT mengutus Jibril
untuk mendatangi bumi guna mengambil tanah darinya. Maka bumi berkata:
"Aku berlindung kepada Allah dari tindakanmu mengurangiku atau
menyakitiku." Maka Jibril kembali dan tidak jadi mengambilnya seraya
berkata: "Wahai Rabbku, sesungguhnya bumi telah berlindung kepadaMu, maka
akupun melindunginya." Kemudian Allah SWT mengutus Mikail, namun bumi
berlindung darinya. Maka iapun melindunginya lantas kembali dan berkata
sebagaimana yang dikatakan Jibril. Lalu Allah mengutus malaikat maut. Bumi pun
4 Ibnu Katsir, Kisah Para Nabi (Jakarta: Pustaka As Sunnah, 2007), hal. 19
5 Imam Nawawi, Syarah Shahih Muslim (Jakarta: Darus Sunnah Press: 2014), Jilid 12,
cetakan kedua, hal. 229-230
3
berlindung darinya. Maka malaikat maut berkata:
"Aku berlindung kepada Allah dari kembali kepada-Nya tanpa melaksanakan
perintah-Nya. Lantas ia mengambil tanah dari permukaan bumi dan mencampurnya.
Ia tidak mengambil dari satu tempat. Namun ia mengambil dari tanah yang
berwarna putih, merah dan hitam. Oleh karenanya, anak keturunan Adam terlahir dalam
kondisi yang berbeda-beda (warna kulitnya). Lalu malaikat maut membawanya naik
dan membasahi tanah tersebut sehingga menjadi thiinan laazib (tanah liat). Makna laazib adalah tanah yang lengket. Kemudian Allah Ta'ala berfirman
kepada malaikat yang artinya: (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para
malaikat "Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah." Maka
apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan ruh (ciptaan) Ku, maka
hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya." (QS. Saad: 71-72).6
Keterangan di atas menggambarkan
bagaimana awal mula Adam AS diciptakan oleh Allah dari tanah yang berasal dari
bumi yang dibawa oleh malaikat maut. Kemudian selanjutnya Allah meniupkan ruh
kepadanya sehingga jadilah Adam AS makhluk yang sempurna. Selain itu kita juga
dapat mengetahui bahwa perbedaan warna kulit yang ada pada manusia saat ini
adalah sudah ketetapan Allah di awal penciptaan manusia.
Setelah menciptakan Adam AS,
Allah SWT menciptakan Hawa yang dalam penciptaanya diambil dari tulang rusuk
Adam AS dari sisi tubuh sebelah kiri dan membalut tempat itu dengan sepotong
daging. Selanjutnya Allah menyempurnakannya menjadi seorang wanita agar Adam
merasa tenang bersamanya.7
Setelah
Adam AS dan Hawa diciptakan Allah menyuruh keduanya untuk tinggal di surga.
Hal ini sebagaimana dijelaskan di
dalam firman Allah SWT di surat Al Baqarah ayat 35.
Artinya: “Dan Kami berfirman:
"Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah
makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai, dan
janganlah kamu dekati pohon ini. yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang
yang zalim.” (QS Al Baqarah: 35)
6 Ibnu Katsir, Kisah Para Nabi, hal. 57
7 Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir (Bogor: Pustaka Imam asy Syafi’I , 2004), Jilid
1, cetakan ke 4, hal. 111
Kemudian setelah Adam AS dan Hawa
mendiami surga, mereka makan apa yang ada di dalam surga sesuai dengan selera
mereka dengan penuh kebahagiaan. Hingga pada akhirnya disebabkan bujuk rayu
syaithan menyebabkan Adam AS dan Hawa melakukan kesalahan yakni memakan buah
dari sebuah pohon yang telah dilarang untuk mereka memakannya. Sebagaimana
dijelaskan pada ayat selanjutnya yakni Surat Al Baqarah ayat 36
Artinya: “Lalu keduanya
digelincirkan oleh syaitan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula
dan Kami berfirman: "Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang
lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai
waktu yang ditentukan." (QS Al Baqarah: 36)
b. Diturunkannya Adam AS ke Bumi
Akibat dari kesalahan yang dibuat
oleh Adam AS dan Hawa ketika di surge, akhirnya Allah menyuruh mereka untuk
turun dari surga. Allah menurunkan mereka yakni Adam AS, Hawa dan Iblis ke
bumi.
Para ulama berbeda pendapat
berkaitan dengan seberapa lama mereka berdua tinggal di dalam surga. Ada yang
mengatakan bahwa mereka berada di surga hanya beberapa hari dari hitungan
hari-hari di dunia.8
Ulama juga berbeda pendapat
tentang dimana tempat pertama kali Adam AS diturunkan ke Bumi. Dari Ibnu Abbas,
ia berkata: Adam AS diturunkan ke bumi di daerah yang namanya "Dahna"
yang terletak antara Makkah dan Thaif. Diriwayatkan oleh Ibu Abi Hatim
Diriwayat yang lain, as Suddiy
berkata: Adam diturunkan di India, Adam turun bersama-sama Hajar Aswad dengan
membawa segenggam daun surga. Ia menyebarnya di India sehingga tumbuhlah pohon
obat-obatan di sana. Dari Ibnu Umar ia berkata: Adam diturunkan di Shafa,
sedangkan Hawa diturunkan di Marwa. Diriwayatkan oleh ibnu Abi Hatim.9
Ibnu Katsir mengomentari masalah
ini dengan mengatakan bahwa seandainya pada penentuan tempat tersebut terdapat
manfaat bagi para mukallaf (orang-orang dewasa atau yang
8 Ibnu Katsir, Kisah Para Nabi, hal. 71
9 Ibnu Katsir, Kisah Para Nabi, hal. 43
mendapat tugas dan kewajiban) dalam masalah agama
dan dunia mereka, niscaya Allah pasti telah menyebutkannya dalam al-Qur'an atau
disampaikan oleh Rasul-Nya.10
Kehidupan Adam AS dan Hawa di
bumi adalah fase baru dari kehidupan mereka. Mereka juga berkembang biak
melahirkan keturunan-keturunan penerus mereka. Ada yang mengatakan bahwa Hawa
mengandung sebanyak seratus dua puluh kali, dan setiap mengandung melahirkan
anak laki-laki dan perempuan. Anak yang pertama bernama Qabil dan saudaranya,
Qalima. Sedangkan anaknya yang terakhir bernama Abdul Mughits dan saudaranya
Ummul Mughits. Setelah itu manusia mulai tersebar luas dan berkembang biak.
Mereka tersebar di seluruh permukaan bumi dan terus berkembang. Hal ini
sebagaimana yang ditegaskan oleh Allah Ta'ala dalam firman-Nya yang artinya: “Hai
sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari
seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada
keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan
bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling
meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya
Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (QS An Nisaa: 1).11
Adapun proses
penciptaan manusia setelah
Adam dan Hawa
adalah seperti yang
|
||||||||||||||||||||||||||||||||
digambarkan
oleh Allah dalam firman-Nya:
|
||||||||||||||||||||||||||||||||
َ
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Artinya: “Dan sesungguhnya Kami
telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian
Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh
(rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah
itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang
belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami
jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta
Yang Paling Baik.” (QS Al Mukminun: 12-14).
10Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir (Bogor: Pustaka Imam asy Syafi’I , 2004), Jilid
3,cetakan ke 4, hal. 363
11 Ibnu Katsir, Kisah Para Nabi, hal. 82-83
c. Wafatnya Adam AS
Ibnu Dhamurah As-Sa'di berkata, "Aku melihat
seorang Syaikh di Madinah sedang berbicara. Lalu aku bertanya tentangnya."
Mereka menjawab, "Itu adalah Ubay bin Kaab." Ubay berkata,
"Ketika maut datang menjemput Adam, dia berkata kepada anak-anaknya,
'Wahai anak-anakku, aku ingin makan buah Surga." Lalu anak-anaknya pergi
mencari untuknya. Mereka disambut oleh para Malaikat yang telah membawa kafan
Adam dan wewangiannya. Mereka juga membawa kapak, sekop, dan cangkul. Para Malaikat
bertanya, "Wahai anak-anak Adam, apa yang kalian cari? Atau apa yang
kalian mau? Dan ke mana kalian pergi?" Mereka menjawab, "Bapak kami
sakit, dia ingin makan buah dari Surga." Para Malaikat menjawab,
"Pulanglah, karena ketetapan untuk bapak kalian telah tiba." Lalu
para Malaikat datang. Hawa melihat dan mengenali mereka, maka dia berlindung
kepada Adam. Adam berkata kepada Hawa, "Menjauhlah dariku. Aku pernah
melakukan kesalahan karenamu. Biarkan aku dengan Malaikat Tuhanku Tabaraka wa Taala."
Lalu para Malaikat mencabut nyawanya, memandikannya, mengkafaninya, memberinya
wewangian, menyiapkan kuburnya dengan membuat liang lahat di kuburnya,
menshalatinya. Mereka masuk ke kuburnya dan meletakkan Adam di dalamnya, lalu
mereka meletakkan bata di atasnya. Kemudian mereka keluar dari kubur, mereka
menimbunnya dengan batu. Lalu mereka berkata, "Wahai Bani Adam, ini adalah
sunnah kalian."13
Di atas penjelasan kisah kematian
Adam AS. Terjadi silang pendapat berkaitan dengan tempat penguburan Adam AS.
Pendapat yang masyhur, bahwa Adam dikubur di bukit tempat ia diturunkan (dari
surga) di India. Ada yang mengatakan bahwa ia dikuburkan di bukit Abu Qabais di
Makkah.14
C. Tugas Utama Manusia Sebagai Khalifah
Beradasarkan firman Allah di
dalam surat Al Baqarah ayat 30 di atas dapat diketahui bahwa maksud dari
penciptaan manusia yakni sebagai khalifah. Makna khalifah sendiri terjadi
perbedaan pendapat ada yang menyebut pengganti dan ada menyebut pemimpin.
Terkait pendapat yang menyebut khalifah adalah pengganti juga terdapat
perbedaan, ada penafsir
12Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir (Bogor: Pustaka Imam asy Syafi’I , 2004), Jilid,
cetakan ke 4, hal. 574
13 Ibnu Katsir, Kisah Para Nabi, hal. 87-88
14 Ibnu Katsir, Kisah Para Nabi, hal. 88-89
mengatakan
pengganti dari jenis makhluk yang telah musnah, sebangsa manusia juga, sebelum
Adam.
Itulah yang akan digantikan:
Ada setengah penafsiran
mengatakan Khalifah dari Allah sendiri. Pengganti Allah sendiri. Sampai di sini
niscaya dapat dipahamkan bahwa mentang-mentang manusia dijadikan KhalifahNya
oleh Allah, bukanlah berarti, bahwa dia telah berkuasa pula sebagai Allah dan
sama kedudukan dengan Allah; bukan ! Sebagaimana juga Abu Bakar sama kedudukan
Abu bakar dengan Rasulullah.
Maka jika manusia menjadi
Khalifah Allah, bukan berati manusia menjadi sama kedudukan dengan Allah! Maka
pengertian pengganti di sini harus diberi arti manusia diangkat oleh Allah
menjadi KhalifahNya. Dengan perintah-perintah tertentu. Dan untuk menghilangkan
kemusykilan dalam hati, kalau hendak dituruti tafsir yang kedua, bahwa manusia
adalah Khalifah Allah di muka burni, janganlah dia dibahasa Indonesiakan, tetap
sajalah dalam bahasa aslinya : Khalifah Allah !
Kepada tafsiran yang manapun kita
akan cenderung, baik jika ditafsirkan bahwa Adam dan keturunannya diangkat jadi
Khalifah dari makhluk yang telah musnah, ataupun sebagai Khalifah daripada
Allah sendiri, namun isi ayat sebagai lanjutan daripada ayat sebelumnya telah
menyingkapkan lagi tabir pemikiran yang lebih luas bagi manusia, agar janganlah
mereka kafir terhadap Allah, ingatlah bahwa kedudukannya dalam hidup bukanlah
sembarang kedudukan. Janganlah disia-siakan waktu pendek yang dipakai selama
hidup di dunia ini.
Demikian besar sanjungan yang
diberikan Allah, sangatlah tidak layak kalau manusia menjatuhkan dirinya ke
dalam kehinaan, di sini disebutkan bahwa dia adalah khalifah. Di waktu yang
lain Tuhan katakan bahwa manusia telah dijadikan sebaik-baiknya bentuk (Surat
at-Tin 95, ayat 4). Dan dikala yang lain Dia Allah, sanjung dia tinggi-tinggi.
Artinya: "Dan sesungguhnya
telah Kami muliakan Bani Adam, dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan
Kami beri rezeki mereka dengan yang baik-baik, dan sungguh-sungguh Kami
lebihkan mereka daripada kebanyakan (makhluk) yang telah Kami jadikan,
sebenar-benar dilebihkan. " (al-Isra: 70).
Demikianlah kemulian yang telah
dilimpahkan Tuhan kepada manusia, adakah patut kalau manusia tiada juga sadar
akan dirinya dari hubungannya dengan Tuhannya.15
Nurcholis Madjid di dalam bukunya
Islam Agama Peradaban memberikan
penjelasan tentang masalah khalifah sebagai berikut.16
Masalah kekhalifahan Adam, dan
dalam hal ini juga kekhalifahan manusia, adalah masalah yang sangat penting
dalam ajaran Al-Qur'an dan banyak dibahas. Dari pendekatan bahasa, perkataan
Arab khalifah berarti orang yang datang kemudian atau di belakang, karena itu
digunakan makna "pengganti" atau "wakil" (dalam bahasa
Inggris perkataan itu diterjemahkan dengan "vicegerent"). Jadi makna
penunjukan manusia, dimulai dengan Adam, sebagai khalifah di bumi ialah bahwa
manusia harus "meneruskan" ciptaan Allah di planet ini, dengan
mengurusnya dan mengembangkannya sesuai dengan "mandat" yang
diberikan Allah. Tentu saja manusia tidak dibenarkan melanggar atau melalaikan
mandat itu, baik bentuk lahir maupun semangatnya. Dan semua yang ada di bumi
ini, bahkan apa yang ada dalam seluruh langit, diciptakan untuk manusia sebagai
rahmat dari Dia (Allah), yang harus selalu dipikirkan tanda-tandanya oleh
manusia sendiri.
Sementara Sayyid Quthb
menjelaskan17 bahwa Sesungguhnya, isyarat paling menonjol dalam kisah Adam AS adalah
nilai agung yang diberikan oleh tashawwur Islam tentang manusia dan perannya di
muka bumi. Nilai agung yang diberikan oleh persepsi Islam tentang manusia
tersebut nampak jelas dalam pemberitahuan Allah yang Maha Mulia di hadapan para
malaikat mulia, bahwa dia (manusia) diciptakan untuk menjadi khalifah di muka
bumi.
Dari pandangan tentang manusia
ini lahir sejumlah prinsip yang sangat besar nilainya baik dalam tataran
persepsi ataupun dalam tataran realitas. Prinsip pertama diantara sejumlah
prinsip tersebut ialah bahwa manusia adalah tuan di muka bumi ini. Untuk
manusia segala sesuatu di muka bumi ini diciptakan. Jadi dia lebih mulia dan
lebih berharga ketimbang segala benda dan semua nilai material di muka bumi
ini. Prinsip kedua ialah bahwa peran manusia di bumi adalah peran utama.
Manusialah yang mengubah dan mengganti berbagai kondisi dan hubungan bumi ini.
15 Lihat Tafsir Al-Azhar ayat 30-33, http://kongaji.tripod.com/myfile/al-baqoroh_ayat_30-33.htm diakses pada 30 september 2016
16 Nurcholis Madjid, Islam Agama Peradaban: Membangun Makna dan
Relevansi Doktrin Islam dalam Sejarah
(Jakarta: Paramadina, 1995) cet 1, hal. 179
17Sayyid Quthb, Tafsir
Fi Zhilalil Qur’an (Jakarta: Rabbani Press, 2005), Jilid 1, Hal.149-150
Pandangan Qur’ani menjadikan
manusia dengan khilafahnya ini sebagai factor sangat penting dalam sistem alam
semesta, dan tampak nyata dalam system ini. karena khilafahnya di muka bumi
memiliki beragam kaitan dengan segenap langit, angin, hujan dan galaksi.
Semuanya tampak nyata dalam konstruksi dan arsitektur bumi yang memungkinkan
berlangsungnya kehidupan manusia di muka bumi, dan memungkinkan manusia
melaksanakan tugas khilafahnya.
Demikian pula, dari pandangan
Islam yang sangat luhur tentag hakikat manusia dan tugasnya, lahir sikap
menjunjung tinggi nilai akhlaq yang mulia dan mengagungkan nilai-nilai
keimanan, kesalehan dan keikhlasan dalam kehiduapnnya. Itulah nilai-nilai yang
menjadi landasan pelaksanaan janji khilafahnya.
Al Raghib sebagaimana dinukil
oleh Yusuf Qardhawi dalam bukunya Sunnah, Ilmu Pengetahuan dan Peradaban
menjelaskan bahwa tugas “khilafatullah”
merupakan satu posisi di atas “’ubudiyah
lillah”. Bahwa ia (tugas khilafah) tidak sah kecuali dengan kesucian jiwa,
seperti halnya ibadah termulia (shalat) tidak sah tanpa suci badan.18
Terkait pendapat al Raghib ini
Qardhawi memberikan komentar bahwa yang benar adalah khilafah dan ubudiyah
berada dalam satu tingkat. Serang insan mukmin adalah khalifah Allah, dan pada
saat yang sama juga sebagai hamba-Nya. Seperti kata Allah kepada Daud: “Hai
Daud, sesungguhnya kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka
berilah keputusan (perkara) diantara manusia dengan adil.” (QS Shaad: 26). Pada
saat yang sama Ia menyeru rasul-Nya: “dan ingatlah hamba Kami Daud yang
mempunyai kekuatan; sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhan).” (QS Shaad: 17).
Daud adalah seorang khalifah Allah dan seorang hamba, dan tidak ada
pertentangan antara keduanya.19
Dari beberapa penjelasan di atas
dapat disimpulkan bahwa tujuan Allah menciptakan manusia adalah sebagai
khalifah dalam arti pengganti, pemimpin, pemakmur yang mengurusi bumi sesuai
dengan aturan-aturan yang telah Allah tetapkan. Selain itu, penulis ingin menyampaikan
satu pernyataan yang diungkapkan oleh Qardhawi tentang tiga tugas manusia, yang
menurut penulis tugas-tugas tersebut sudah mencakup seluruh tugas manusia yang
sudah diamanahi oleh Allah sebagai tujuan penciptaannya. Tiga tugas tersebut,
yaitu20:
18Yusuf Qardhawi, Sunnah
Ilmu Pengetahuan dan Peradaban (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2001), cet 1,
hal. 352
19 Yusuf Qardhawi, Sunnah Ilmu Pengetahuan dan Peradaban,
hal. 352-353
20 Yusuf Qardhawi, Sunnah Ilmu Pengetahuan dan Peradaban,
hal. 360
Pertama, adalah memakmurkan bumi seperti
disebutkan di dalam firman Allah: “dan menjadikan
kamu pemakmurnya (bumi).” (QS Hud: 61). Tugas ini merupakan perpaduan untuk
meraih kehidupan dunia antara dirinya dengan orang lain.
Kedua, adalah beribadah kepada Allah, sebagaimana dalam firman Allah: “Tidaklah
Aku menciptakan jin dan manusia
kecuali agar mereka menyembah (beribadah) kepadaKu).” (QS Al Dzariyat: 56).
Ketiga, adalah tugas khalifah, seperti disebutkan dalam firman Allah: “dan
menjadikanmu khalifah di bumi-Nya,
maka Allah akan melihat perbuatanmu.” QS Al A’raf: 129). Tugas khalifah
inidilakukan dengan meneladani sifat-sifat Sang Pencipta sesuai dengan
kemampuan manusia dalam kehidupannya.
D. Capaian Peradaban Manusia Saat Itu
Dalam membahas peradaban manusia yang sudah
dihasilkan pada saat-saat awal penciptannya, harus dijelaskan terlebih dahulu
tentang makna peradaban. Qardhawi menjelaskan makna umum bagi peradaban yang
dapat dipahami dari kata “peradaban” itu sendiri, yaitu akumulasi fenomena
kemajuan materi, keilmuan, seni, sastra dan social, pada suatu kelompok
masyarakat, atau pada beberapa masyarakat yang mempunyai kesamaan.21
Berdasarkan makna di atas dengan melihat sejarah
manusia di masa awal penciptaannya telah menghasilkan sesuatu yang menurut
penulis itu adalah termasuk dalam makna peradaban. Beberapa capaian peradaban
tersebut diantaranya adalah sebagai berikut.
1. Bahasa
Capaian peradaban yang pertama
kali dicapai oleh manusia adalah Bahasa. Hal ini tergambar dari bahwa terjadi
komunikasi antara Adam dengan Allah SWT dan penghuni surga saat itu. Namun yang
masih menjadi misteri sampai saat ini adalah belum ada kepastian tentang bahasa
yang dipakai saat itu. Adapun saat ini kita mengetahui bahwa Al Qur’an yang
berbahasa Arab telah menceritakan peristiwa Adam AS, hal tersebut tidak pasti
menunjukkan bahwa bahasa yang dipakai saat itu adalah Bahasa Arab
2. Ilmu
Capaian berikutnya yang dicapai
manusia, yang diawali oleh Adam AS adalah Ilmu. Ini merupakan konsekuensi dari
capaian peradaban yang pertama, bahwa Bahasa
21Yusuf Qardhawi, Sunnah Ilmu Pengetahuan dan Peradaban,
hal.292
11
memudahkan
terjadinya proses transfer ilmu. Lebih jelas bisa kita lihat dalam firman Allah
berikut
| |||||||||||||
Artinya: “Dan Dia mengajarkan
kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada
para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu
jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!" (Al Baqarah: 31)
Dari ayat di atas dapat dipahami
bahwa Allah mengajarkan ilmu kepada Adam AS berupa pengajaran nama-nama benda
dari yang telah Allah ciptakan.
Ibnu Katisr menjelaskan ayat ini
bahwa Allah mengajari Adam nama segala macam benda, baik dzat, sifat, maupun
af'al (perbuatannya).
Inilah maqam (situasi) dimana
Allah menyebutkan kemuliaan Adam atas para malaikat karena Dia telah
mengkhususkannya dengan mengajarkan nama-nama segala sesuatu yang tidak
diajarkan kepada para malaikat.22
3. Taubat
Diantara karakteristik prilaku
peradaban yang dijelaskan oleh Qardhawi adalah manusia hendaknya menghiasi diri
dengan akhlak yang mulia nan luhur dan menjauhkan diri dari akhlak hina yang
rendah.23
Berdasarkan penjelasan di atas,
penulis membuat kesimpulan bahwa salah satu capaian peradaban yang tinggi yang
dilakukan oleh manusia pada saat itu, terutama Adam AS dan Hawa,yang sangat
berguna bagi manusia setelahnya ialah Taubat.
Taubat adalah sikap mulia nan
luhur yang ditampilkan oleh Adam AS dan juga Hawa. Ketika mereka melakukan
kesalahan, mereka langsung menyadari kesalahan tersebut dan bertaubat memohon
ampun kepada Sang Pencipta, Allah Azza wa Jalla. Penjelasan taubat Adam AS dan
Hawa ini dijelaskan dengan sangat menarik di dalam firman Allah surat Al A’raf
ayat 22-23
22Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, Jilid 1, hal. 104-105
23 Yusuf Qardhawi, Sunnah Ilmu Pengetahuan dan Peradaban,
hal. 384
Artinya: “Maka syaitan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan
tipu
-
daya. Tatkala keduanya telah merasai buah kayu itu, nampaklah bagi
keduanya aurat auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun
surga. Kemudian Tuhan mereka menyeru mereka: "Bukankah Aku telah melarang
kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu: "Sesungguhnya
syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?". Keduanya berkata:
"Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau
tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami,
niscaya
pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” (QS Al A’raf : 22-23)
Ini merupakan bentuk pengakuan, taubat, merendahkan
diri, tunduk patuh, dan rasa sangat membutuhkan Allah Ta'ala di saat-saat
genting. Apabila rahasia ini dilakukan oleh salah satu anak keturunan Adam,
niscaya ia akan mendapatkan kebaikan baik di dunia
Capaian keempat dari peradaban manusia saat itu
adalah tata cara kubur. Tata cara kubur yang dilakukan pada saat itu memberikan
pengajaran kepada anak cucu Adam AS
sesudahnya
, tentang bagaimana cara menangani orang mati.
Tata cara kubur yang dilakukan pada saat itu, yang
merupakan pengajaran dari malaikat ketika Adam mengalami saat sakaratul maut.
Para Malaikat memandikannya, memberinya wangi-wangian, mengkafaninya, menggali
kuburnya, menshalatkannya, menguburkannya dan menimbunnya dengan tanah.
Sebagaimana yang telah disebutkan dalam penjelasan
wafatnya Adam AS.
24 Ibnu Katsir, Kisah
Para Nabi, hal. 4113
Artinya: “Kemudian syaithan
membisikkan pikiran jahat kepada mereka agar menampakkan aurat mereka (yang
selama ini) tertutup.”
Dilihat dari redaksi ayat di atas
bahwa tujuan syaithan awalnya adalah menyingkap aurat Adam dan Hawa. Dari sini
dapat diketahui bahwa ketika Adam dan Hawa berada di surga mereka tertutup
auratnya oleh pakaian. Namun pakaian apakah yang dipakai ketika itu tidak bisa
dipastikan jenisnya. Syaikh Nawawi di dalam tafsirnya menyebutkan bahwa yang
dimaksud adalah agar terlihat apa yang menututpi keduanya yaitu berupa pakaian
cahaya atau pakaian surga. Dan tujuan iblis membisikkan keduanya bukanlah agar
terlihat auratnya tapi tujuannya adalah agar keduanya berbuat maksiat.25
Khatib al-Bahgdadi di dalam
Tarikhul Anbiya mengemukakan bahwa, malaikat Jibril mengajarkan nabi Adam tenun
dan mengajarkan Hawa cara memintal benang. Setelah itu Adam AS menenun dan
membuat berupa jubah buat dirinya sendiri dan baju kurung, penutup kepala atau
mukena untuk Hawa.
6. Pena
Capaian ketiga dari peradaban
manusia saat itu adalah apa yang telah dilakukan oleh Nabi Idris AS. Ibnu Ishaq
menyebutkan bahwa dia adalah orang yang pertama kali menulis dengan menggunakan
pena. Sebagian orang mengatakan bahwa ia adalah orang yang dimaksud dalam
hadits Mu'awiyah bin al Hakam as Sulami, ketika Rasulullah SAW ditanya tentang
tulisan di atas pasir, maka beliau bersabda: "Dahulu ada seorang Nabi yang
menulis dengannya (maksudnya menulis di atas pasir). Barangsiapa yang sejalan
dengan tulisannya, maka demikian itulah (tulisannya)."26
25Muhammad Nawawi, Murah Labib Tafsir An Nawawi: At Tafsir Al
Munir Lima’alim at Tanzil
(Beirut:
Dar al Fikr, 2007), Juz 1, hal. 302
26Ibnu Katsir, Kisah
Para Nabi, hal. 91-92
Al-Quran al-Karim.
Daljoeni, Nathanael, Geografi Kesejarahan I: Peradaban Dunia,
Bandung: Alumni 1987.
Ibnu Katsir, Kisah Para Nabi,
dalam edisi terjemahan oleh: Abu Hudzaifah, Jakarta: Pustaka As Sunnah, 2007.
Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, dalam edisi terjemahan oleh: M Abd Ghofar EM,
Bogor:
Pustaka
Imam asy Syafi’I , 2004, Jilid 1, cetakan ke 4.
Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, Jilid 3.
Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, Jilid 5.
Imam Nawawi, Syarah Shahih Muslim, dalam edisi terjemahan oleh: Darwis dan
Muhtadi,
Jakarta:
Darus Sunnah Press: 2014, Jilid 12, cetakan 2.
Madjid, Nurcholis, Islam Agama Peradaban: Membangun Makna dan
Relevansi Doktrin
Islam dalam Sejarah (Jakarta:
Paramadina, 1995) cet 1.
Nawawi, Muhammad, Murah Labib Tafsir An Nawawi: At Tafsir Al
Munir Lima’alim at Tanzil
(Beirut:
Dar al Fikr, 2007), Juz 1.
Quthb, Sayyid, Tafsir Fi Zhilalil Qur’an, dalam edisi
terjemahan oleh: Aunur Rofiq Shaleh
Tamhid,
Jakarta: Rabbani Press, 2005, Jilid 1.
Qardhawi, Yusuf, Sunnah Ilmu Pengetahuan dan Peradaban,
dalam edisi terjemahan oleh:
Abad
Badruzzaman, Yogyakarta: Tiara Wacana, 2001, cet 1.
Yahya, Harun, Keruntuhan Teori Evolusi, Bandung:
Penerbit Dzikra, 2004.
Tafsir
Al-Azhar ayat 30-33, http://kongaji.tripod.com/myfile/al-baqoroh_ayat_30-33.htm diakses pada 30 september 2016.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
terimakasih atas kunjungannya jangan lupa komen