BAB I
PENDAHULUAN
Allah SWT telah menciptakan
berbagai macam makhluk diantaranya malaikat, iblis, manusia, hewan, tumbuhan
dan sebagainya. Manusia merupakan makhluk yang terakhir dibuat oleh Allah SWT.
Akantetapi, manusialah makhluk yang derajatnya paling tinggi dimana Allah
menyuruh makhluk lain untuk bersujud kepada Nabi Adam (manusia pertama).
Namun, jika manusia tidak mempergunakan semua karunia itu dengan benar,
maka derajat manusia akan turun, bahkan menjadi serendah-rendahnya makhluk.
Setiap manusia haruslah
mengetahui siapa dirinya, kenapa dia dilahirkan, dan apa tujuan dan tugas-tugas
hidupnya, dan kemana dia pergi setelah meninggalkan dunia ini? Kalau
manusia tidak bias menjawab dengan benar, maka hidupnya seperti manusia yang
hidup di hutan-hutan yang menutup auratnya dengan daun-daunan. Mereka tidak
berilmu. Mereka tidak tahu tujuan dan tugas hidupnya. Mereka menjalankan hidup
seperti binatang saja yaitu kawin, beranak, dan kalau sudah dewasa anak di
kawinkan lagi demikian seterusnya dan terakhir meninggal dunia.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Manusia Dalam Pandangan
Islam
Manusia
dalam pandangan kebendaan (materialis) hanyalah merupakan sekepal tanah di
bumi. Manusia dalam pandangan kaum materialism, tidak lebih dari kumpulan
daging, darah, urat, tulang, urat-urat darah dan alat pencernaan. Akal dan pikiran dianggapnya barang benda, yang
dihasilkan oleh otak. Pandangan ini menimbulkan kesan
seolah-olah manusia ini makhluk yang rendah dan hina, sama dengan hewan yang
hidupnya hanya untuk memenuhi keperluan dan kepuasan semata.[1]
Dalam
pandangan Islam, manusia itu makhluk yang mulia dan terhormat di sisi-Nya, yang
diciptakan Allah dalam bentuk yang amat baik. Manusia diberi akal dan hati,
sehingga dapat memahami ilmu yang diturunkan Allah, berupa Al-Qur’an menurut
sunah rasul. Dengan ilmu manusia mampu berbudaya. Allah menciptakan manusia
dalam keadaan sebaik-baiknya (at-Tiin : 95:4). Namun demikian, manusia akan
tetap bermartabat mulia kalau mereka sebagai khalifah (makhluk alternatif)
tetap hidup dengan ajaran Allah (QS. Al-An’am : 165). Karena ilmunya itulah
manusia dilebihkan (bisa dibedakan) dengan makhluk lainnya, dan Allah
menciptakan manusia untuk berkhidmat kepada-Nya, sebagaimana firman Allah dalam
surat Adz-Dzariyat (51) : 56.
$tBur àMø)n=yz £`Ågø:$# }§RM}$#ur wÎ) Èbrßç7÷èuÏ9 ÇÎÏÈ
Dan
aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi
kepada-Ku.
B. Hakikat
Manusia
Manusia adalah makhluk
ciptaan Allah yang paling mulia diantara makhluk ciptaan-Nya. Oleh sebab itu
manusia diharuskan mengenal siapa yang menciptakan dirinya sebelum mengenal
lainnya.
Hakekat manusia adalah sebagai berikut :
- Makhluk yang memiliki tenaga dalam yang dapat
menggerakkan hidupnya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya.
- Makhluk yang dalam proses menjadi berkembang dan terus
berkembang tidak pernah selesai (tuntas) selama hidupnya.
- Individu yang dalam hidupnya selalu melibatkan
dirinya dalam usaha untuk mewujudkan dirinya sendiri, membantu orang lain
dan membuat dunia lebih baik untuk ditempati.
- Makhluk Tuhan yang berarti ia adalah makhluk yang
mengandung kemungkinan baik dan jahat.
- Individu yang sangat dipengaruhi oleh lingkungan
terutama lingkungan sosial, bahkan ia tidak bisa berkembang sesuai dengan
martabat kemanusiaannya tanpa hidup di dalam lingkungan sosial.[2]
C.
Manusia dalam
Pandangan Antropologi
Pada awalnya di dunia
ini hanya ada satu sel yang kemudian berkembang dan mengalami
percabangan-percabangan. Percabangan ini mengakibatkan adanya variasi mahluk
hidup di dunia ini. Menurut Charles Darwin dalam teori Evolusinya, manusia
merupakan hasil evolusi dari kera yang mengalami perubahan secara bertahap
dalam waktu yang sangat lama. Dalam perjalanan waktu yang sangat lama tersebut
terjadi seleksi alam. Semua mahluk hidup yang ada saat ini merupakan
organisme-organisme yang berhasil lolos dari seleksi alam dan berhasil
mempertahankan dirinya. Dalam teorinya ia mengatakan : “Suatu benda
(bahan) mengalami perubahan dari yang tidak sempurna menuju kepada
kesempurnaan”. Kemudian ia memperluas teorinya ini hingga sampai
kepada asal-usul manusia.
Dapat disimpulkan
bahwa manusia dalam pandangan Antropologi terbentuk dari satu sel sederhana
yang mengalami perubahan secara bertahap dengan waktu yang sangat lama
(evolusi). Berdasarkan teori ini, manusia dan semua mahluk hidup di dunia ini
berasal dari satu moyang yang sama. Nenek moyang manusia adalah kera. Teori
Evolusi yang dikenalkan oleh Charles Darwin ini akhirnya meluas dan terus dipakai
dalam antropologi.
Teori ini mempunyai
kelemahan karena ada beberapa jenis tumbuhan dan hewan yang tidak mengalami
evolusi dan tetap dalam keadaan seperti semula. Misalnya sejenis biawak/komodo
yang telah ada sejak berjuta-juta tahun yang lalu dan hingga kini tetap ada.
Jadi dapat kita katakan bahwa teori yang dianggap ilmiah itu ternyata tidak
mutlak karena antara teori dengan kenyataan tidak dapat dibuktikan.[3]
D.
Manusia dalam
Pandangan Agama Islam
Dalam Agama Islam,
segala sesuatunya telah diatur dengan baik dan digambarkan dalam kitab suci
Al-Quran. Tidak luput olehNya, bagaimana proses pembentukkan manusia yang
juga digambarkan sejelas-jelasnya. Dalam Al-Qur’an jika dipadukan dengan hasil
penelitian ilmiah menemukan titik temu mengenai asal usul manusia ini.
Terwujudnya alam
semesta ini berikut segala isinya diciptakan oleh Allah dalam waktu enam masa.
Keenam masa itu adalah Azoikum, Ercheozoikum, Protovozoikum,
Palaeozoikum, Mesozoikum, dan Cenozoikum. Dari penelitian para ahli,
setiap periode menunjukkan perubahan dan perkembangan yang bertahap menurut
susunan organisme yang sesuai dengan ukuran dan kadarnya masing-masing (tidak
berevolusi).[4]
Manusia dikaruniakan
oleh Allah akal untuk berfikir. Dengan akal, manusia mampu membedakan antara
yang haq (benar) dengan yang bathil (salah). Dengan akal pula, manusia mampu
merenungkan dan mengamalkan sesuatu yang benar tersebut. Dengan karunia akal,
manusia diharapkan dapat memilah dan memilih nilai-nilai kebenaran, kebaikan
dan keindahan.
Disamping memiliki
akal, manusia selalu terlahir dengan 3 naluri yang pasti ada dalam dirinya,
yaitu :
- Naluri untuk mensucikan sesuatu : naluri untuk beragama
dan menyebah sesuatu yang lebih dari pada dirinya.
- Naluri untuk mempertahankan eksistensi diri : manunia
punya kecenderungan marah, sedih, senang dll.
- Naluri untuk melestarikan dirinya : naluri kasih
sayang.
a.
Tujuan manusia
Tujuan utama
penciptaan manusia adalah agar manusia itu mengabdi kepada Allah artinya
sebagai hamba Allah agar menuruti apa saja yang diperintahkan oleh Allah swt.
Hidup menurut konsep islam bukan hanya kehidupan duniawi semata, tetapi
berkelanjutan sampai pada kehidupan ukhrowi (alam akherta). Dan apa yang
kita lakukan selama di dunia, maka itulah yang akan kita petik di akherat nanti.
Hidup di dunia ini
merupakan terminal dari perjalanan kehidupan manusia yang panjang, mulai dari
alam arwah, alam arham, alam dunia,
alam barzakh dan berakhir di alam akherat. Dan
untuk bisa berakhir dengan happy ending salah satunya adalah
dengan mendapat ridho dari Allah SWT. Dan inilah yang menjadi tujuan hidup
manusia yaitu mencari ridho Allah SWT. yang direalisasikan dalam bentuk
perjuangan menjalankan tugas dan fungsi gandanya tersebut.
b.
Fungsi manusia
Sedangkan fungsi dari penciptaan manusia ini
secara global kami menyebutkan tiga kalsifikasi, yaitu:
1. Manusia
sebagai Khalifah Allah di muka bumi
Khalifah disini
maksudnya menjadi penguasa untuk mengatur dan mengendalikan segala isinya. Sebagai pedoman
hidup manusia dalam melaksanakan tugas itu, Allah menurunkan
agama-Nya. Agama menjelaskan dua jalan yaitu jalan yang bahagia dan
jalan yang akan membahayakannya.
Perbedaan tingkat yang akan diadakan oleh
Allah di dalam masyarakat manusia,bukanlah suatu kesempatan bagi si
kuat untuk menganiaya si lemah atau si kaya tidak memperdulikan si miskin, melainkan
suatu penyusunan masyarakat ke arah kebaikan hidup bersama melalui tolong
menolong.
øÎ)ur tA$s% /u Ïps3Í´¯»n=yJù=Ï9 ÎoTÎ) ×@Ïã%y` Îû ÇÚöF{$# ZpxÿÎ=yz ( (#þqä9$s% ã@yèøgrBr& $pkÏù `tB ßÅ¡øÿã $pkÏù à7Ïÿó¡our uä!$tBÏe$!$# ß`øtwUur ßxÎm7|¡çR x8ÏôJpt¿2 â¨Ïds)çRur y7s9 ( tA$s% þÎoTÎ) ãNn=ôãr& $tB w tbqßJn=÷ès? ÇÌÉÈ
“Ingatlah
ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak
menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa
Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat
kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih
dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman:
"Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."
2. Manusia
sebagai Warosatul Anbiya’
Kehadiran Nabi
Muhammad saw. di muka bumi ini mengemban misi sebagai ‘Rahmatal lil ‘Alamiin’
yakni suatu misi yang membawa dan mengajak manusia dan seluruh alam untuk
tunduk dan taat pada syari’at-syari’at dan hukum-hukum Allah swt. guna
kesejahteraan perdamaian, dan keselamatan dunia akhirat.
Misi tersebut berpijak pada trilogy hubungan
manusia, yaitu:
- Hubungan manusia dengan Tuhan, karena manusia sebagai
makhluk ciptaan-Nya.
- Hubungan manusia dengan masyarakat, karena manusia
sebagai anggota masyarakat.
- Hubungan manusia dengan alam sekitarnya, karena manusia
selaku pengelola, pengatur, serta pemanfaatan kegunaan alam.
3. Manusia sebagai ‘Abd
(Pengabdi Allah)
Fungsi ini mengacu
pada tugas-tugas individual manusia sebagai hamba Allah swt. Tugas ini
diwujudkan dalam bentuk pengabdian ritual kepada Allah swt. dengan penuh
keikhlasan. Secara luas konsep ‘abd ini meliputi seluruh aktivitas manusia
dalam kehidupannya. Semua yang dilakukan oleh manusia dalam kehidupannya dapat
dinilai sebagai ibadah jika semua yang dilakukan (perbuatan manusia) tersebut
semata-mata hanya untuk mencari ridha Allah swt.[5]
BAB III
KESIMPULAN
Setelah kita
menjabarkan mulai dari pengertian dari manusia sampai dengan fungsi manuisa
maka dapatlah kita simpulkan bahwa Pengertian manusia menurut pandangan
Islam, manusia itu makhluk yang mulia dan terhormat di sisi-Nya, yang
diciptakan Allah dalam bentuk yang amat baik. Manusia diberi akal dan
hati, sehingga dapat memahami ilmu yang diturunkan Allah, berupa al-Quran
menurut sunah rasul. Dengan ilmu manusia mampu berbudaya. Allah menciptakan
manusia dalam keadaan sebaik-baiknya (at-Tiin : 95:4)..Manusia adalah makhluk
yang sadar diri. Ini berarti bahwa ia adalah satu-satunya makhluk hidup yang
mempunyai pengetahuan atas kehadirannya sendiri. Ia mampu mempelajari,
manganalisis, mengetahui dan menilai dirinya.
Selayaknya
ilmu perakitan komputer, maka Allah telah merakit manusia dengan sistem
hardware dan software, lengkap, berkualitas tinggi dan multifungsi. Kesemua
perangkat ini bekerja secara sinergis dan dinamis agar manusia bisa menjalankan
fungsinya sebagai khalifah Allah di bumi. Tujuan utama penciptaan manusia adalah agar
manusia menyembah dan mengabdi kepada Allah swt. Sedangkan fungsi penciptaan
manusia ke dunia, diklasifikasikan ke dalam tiga (3) pokok, yaitu:
- Manusia sebagai Khalifah Allah di muka bumi
- Manusia sebagai Warosatul Anbiya’
- Manusia sebagai ‘Abd (Pengabdi Allah)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
terimakasih atas kunjungannya jangan lupa komen