BAB I
PENDAHULUAN
Dan upaya untuk mengatasi masalah tersebut masih terus dilakukan
dengan berbagai upaya. Tetapi upaya yang demikian itu tampaknya perlu dilacak
pada akar permasalahannya yang bertumpu pada pemikiran filosofis. Kita ketahui
bahwa secara umum filsafat berupaya menjelaskan inti dari segala yang ada, dan
karena itu filsafat dikenal sebagai induk segala ilmu.
Filsafat pendidikan Islam secara umum akan mengkaji berbagai
masalah yang terdapat dalam dunia pendidikan. Misalnya berkaitan dengan masalah
metode pendidikan seperti yang akan kita bahas dalam makalah ini. Untuk itu
perlu untuk kita ketahui apa yang dimaksud dengan metode pendidikan Islam dan
fungsinya serta metode-metode apa saja yang terdapat dalam dunia pendidikan.
Tujuan dari makalah ini agar kita dapat mengetahui dan memikirkan
bagaimana menggunakan metode filsafat pendidikan Islam dalam masyarakat. Baik
secara langsung maupun tidak langsung. Karena dengan mengetahuinya kita
setidaknya sudah bisa mengantisipasi segala problem yang akan kita hadapi saat
berada dalam masyarakat khususnya dalam hal pendidikan.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
PENGERTIAN METODE PENDIDIKAN ISLAM
Dalam
dunia islam, filsafat menimbulkan pada garis besarnya dua system filsafat (
mazhab dalam filsafat ), yaitu (1) mazhab tradisional, yang dalam sistem
filsafatnya, ijtihadnya, berpegang teguh pada nash-nash Al-Qur’an dan Sunnah
Rasul. Mereka disebut juga sebagai ahlu al-sunnah, ahlu al-naql. Mereka
menggunakan akal hanya terhadap hal-hal yang tidak ada penegasan ( nash ) nya
dalam Al-Qur’an maupun Al-Sunnah. (2) mazhab rasional, yang banyak menggunakan
akal dalam filsafatnya, ijtihadnya. Mereka disebut juga sebagai ahlu al-ra’yi
atau ahlu al-aql. Namun demikian tidak berarti bahwa mereka meninggalkan
Al-Qur’an dan Hadis Nabi, hanya kalau terjadi pertentangan antara akal dengan
nash, mereka mencari jalan keluarnya dengan ta’wil ( mencari pengertian
rasional dari nash tersebut).
Kedua
mazhab filsafat dalam islam tersebut, telah mengembangkan cara atau metode
ijtihadnya sendiri-sendiri, yang menunjukkan variasi dan keragaman yang
menghiasi system filsafat islam. Metode-metode ijtihad seperti Ijma’, Qiyas,
Istihsan, dll, semuanya adalah berdasarkan penggunaan akal. Cara penafsiran
Al-Qur’an dan ta’wil, adalah merupakan dasar dari analisa bahasa ( linguistic
analysis ) dalam system filsafat modern. Penggunaan hadis dan atsar sahabat
sebagai sumber hukum secara rasional, tidak lain kecuali analisa historis (
historical analysis ) dalam filsafat khusus masa kini. Metode analisa kritis,
metode ilmiah rasional, empris, sampai kepada yang bersifat eksperimental pun
sudah dikenal oleh filsafat islam dalam sejarahnya.[1]
Secara literal metode berasal dari
bahasa Greek yang terdiri dari dua kosa kata, yaitu meta yang berarti
melalui. Dan hodos yang berarti jalan. Jadi metode berarti jalan yang
dilalui. Runes, sebagaimana dikutip oleh Mohammad Norr syam, secara teknis
menerangkan bahwa metode adalah:
- Sesuatu prosedur yang dipakai untuk mencapai suatu
tujuan
- Sesuatu teknik untuk mengetahui yang dipakai dalam
proses mencari ilmu pengetahuan dari suatu materi tertentu
- Sesuatu ilmu yang merumuskan aturan-aturan dari
sesuatu prosedur.
Sedangkan filsafat pendidikan Islam
merupakan studi tentang pandangan filosofis dari sistem dan aliran filsafat
dalam Islam terhadap masalah-masalah kependidikan dan bagaimana pengaruhnya
terhadap pertumbuhan dan perkembangan manusia muslim dan umat Islam.
Jadi, metode
filsafat pendidikan Islam dapat diartikan sebagai jalan atau cara untuk dapat
memecahkan problematika pendidikan
umat Islam dan selanjutnya memberikan arah dan tujuan yang jelas terhadap
pelaksanaan pendidikan umat islam.[2]
1.
METODE
FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM
Filsafat
pendidikan Islam sebagai bagian dari pengetahuan manusia, haruslah mempunyai
cara untuk memperolehnya. Cara itu bisa disebut dengan metode. Metode atau
method dalam bahasa inggris berasal dari bahasa yunani methodos yang berarti
sesuatu prosedur yang dipakai untuk mencapai sesuatu tujuan, atau suatu teknik
mengetahui yang dipakai dalam proses mencari ilmu pengetahuan dari materi
tertentu, atau juga berarti suatu ilmu yang merumuskan aturan-aturan dari suatu
prosedur.
Pada
dasarnya metode yang digunakan untuk mencapai pengetahuan filsafat termasuk
filsafat pendidikan Islam adalah dengan berpikir rasional-logis.[3]
Seperti
telah dikemukakan, bahwa filsafat pendidikan islam ada yang bercorak
tradisional dan dapat pula bercorak filsafat kritis. Pada filsafat pendidikan
islam yang bercorak tradisional, tentunya tidak bisa dipisahkan dengan aliran
mazhab filsafat yang pernah berkembang dalam dunia islam. Dalam hal ini,
filsafat pendidikan islam berusaha menganalisa pandangan aliran-aliran yang ada
terhadap masalah-masalah kependidikan yang dihadapi pada masanya dan bagaimana
implikasinya dalam proses pendidikan. Sedangkan pada filsafat pendidikan yang
bercorak kritis, maka dalam hal ini di samping menggunakan metode-metode
filsafat pendidikan islam sebagaimana yang telah berkembang dalam dunia islam,
juga menggunakan metode filsafat pendidikan yang berkembang dalam dunia
filsafat pada umumnya.[4]
Filsafat
Islam dalam memecahkan problema pendidikan islam ( problema pendidikan yang
dihadapi umat islam ) dapat menggunakan metode-metode antara lain :
1.
Metode Spekulatif dan Kontemplatif
Metode
ini merupakan metode utama dalam setiap
cabang filsafat. Spekulatif[5]
dan kontemplatif bisa berarti merenung atau dalam bahasa arab disebut tafakkur.
Merenung itu bukan berarti memikirkan sesuatu tanpa ada keharusan kontak
langsung dengan obyeknya. Baik kontemplatif
maupun tafakkur, adalah berpikir secara mendalam dan dalam situasi yang
tenang, sunyi, untuk mendapatkan kebenaran tentang hakikat sesuatu yang
dipikirkan.[6]
Metode ini dapat dipakai untuk memikirkan sesuatu yang abstrak, misalnya
hakikat hidup menurut islam, sifat Tuhan, dll. Metode ini sangat penting dalam
filsafat pendidikan islam, sebab dalam analisisnya sering berhadapan dengan
sesuatu yang abstrak dan sulit didekati, kecuali dengan merenung. Dengan metode
ini dapat merenungkan sesungguhnya pendidikan Islam dengan segala komponenya
apa hakikatnya atau esensinya.
2.
Metode Normatif.
Norma
artinya nilai, juga berarti aturan atau hukum-hukum. Metode normatif suatu
system. Nilai juga menunjukkan baik buruk, berguna tidak dimaksudkan sebuah
metode yang digunakan untuk mencari dan menetapkan nilai, aturan, atau hukum
tertentu. Dalam filsafat pendidikan Islam metode ini dipakai untuk mencari
nilai,aturan, atau hukum yang berkaitan dengan pendidikan Islam, sehingga
tujuan, proses, bahan, dan semua yang terlibat dalam pendidikan Islan tersebut
sesuai dengan nilai, aturan, dan hukum Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan
sunnah. Dalam prosesnya metode ini dapat
dilakukan dengan ijtihad. Ijtihad yang dimaksud adalah memahami Al-Qur’an atau
Sunnah kaitanya dengan pendidikan Islam secara maksimal.[7]
Menurut filsafat islam, sumber nilai adalah
Tuhan dan semua bentuk norma akan mengarahkan manusia kepada islam. Pendekatan
normatif di maksudkan adalah mencari dan menetapkan aturan-aturan dalam
kehidupan nyata, dalam filsafat islam bisa disebut sebagai pendekatan
syar’iyah, yaitu mencari ketentuan dan menetapkan ketentuan tentang apa yang
boleh dan yang tidak boleh menurut syari’at islam. Obyeknya adalah berkaitan
dengan tingkah laku dan amal perbuatan metode ijtihad dalam fiqh seperti istihsan, maslahah
mursalah, al-‘aqadah muhakkamah, adalah merupakan contoh-contoh metode normatif
ini dalam system filsafat islam.[8]
3.
Metode Analisis Konsep
Analisis
konsep berarti menguraikan sesuatu pengertian yang bersifat tertentu. Dalam
menganalisis suatu konsep itu, digunakan alat komunikasi yang biasa disebut
dengan bahasa. Dari uraian atau analisi bahasa inilah dapat dipahami suatu
konsep yang berkaitan dengan problematika pendidikan Islam. Konsep, berarti
tangkapan atau pengertian seseorang terhadap sesuatu obyek. Pengertian
seseorang selalu berkaitan dengan bahasa, sebagai alat untuk mengungkapkan
pengertian tersebut. Pengertian tentang sesuatu obyek dirumuskan dalam bentuk
definisi yang menggunakan bahasa atau kalimat tertentu. Dalam system filsafat
islam, menafsirkan dan juga menta’wilkan ayat-ayat Al-Qur’an, merupakan praktek
kongret dari pendekatan analisa konsep atau analisa bahasa. Ajaran islam penuh
dengan konsep-konsep filosofis tentang hidup dan kehidupan manusia, seperti
iman, islam, ihsan, dll. Semuanya adalah menjadi problema pendidikan islam.[9]
4.
Metode historis
Metode
historis atau sejarah adalah cara mempelajari filsafat berdasarkan urutan waktu
perkembangan pemikiran filsafat yang telah terjadi, sejak kelahiranya sampai
sekarang. Metode historis ini berarti juga menggunakan sejarah sebagai cara
untuk mengambil pelajaran peristiwa yang sudah terjadi untuk diproyeksikan ke
masa depan. Dalam filsafat pendidikan Islam penggunaan metode ini amat penting,
karena untuk membangun suatu pendidikan Islam harus belajar dari sejarah masa
lampau yang bisa dijadikan ibrah ( percontohan ).
Suatu
kejadian atau peristiwa dalam pandangan kesejarahan terjadi karena hubungan
sebab akibat, dan terjadi dalam suatu setting situasi kondisi dan waktunya
sendiri-sendiri. Peristiwa sejarah berguna untuk memberikan petunjuk dalam
membina masa depan.[10]
Dengan demikian peristiwa-peristiwa sejarah banyak manfaatnya untuk pendidikan.
Dalam filsafat islam, penggunaan Sunnah Nabi SAW sebagai sumber hokum,
penelitian-penelitian akan hadis-hadis yang menghasilkan pemisahan antara
hadist palsu dan hadis sahih, pada hakikatnya merupakan contoh praktis dari
penggunaan analisa historis dalam filsafat pendidikan islam.
5.
Metode Deduktif
Metode
deduktif berarti penalaran dari suatu kebenaran umum ke suatu hal yang khusus.
Metode ini digunakan dalam filsafat, karena pada dasarnya filsafat itu bersifat
rasional-logis dan lebih banyak dari kebenaran-kebenaran yang bersifat umum.
Metode ini tepat untuk dijadikan alat mencari kebenaran yang abstrak-logis.
Filsafat pendidikan Islam juga tepat memakai metode deduktif sebagai metode
pokok pemikiran filosofinya.[11]
Pada hakikatnya merupakan pengembangan dan penyempurnaan dari pola berpikir
rasional, empiris[12],
dan eksperimental yang telah berkembang pada masa jayanya filsafat dalam islam.
Pendekatan ini tidak lain adalah merupakan realisasi dari ayat Al-Qur’an yang
menyatakan bahwa
Ayat
ini menerangkan bahwa Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, sehingga
mereka mengubah nasib mereka sendiri. Maksudnya adalah, ketika seseorang ingin
mengubah nasibnya, maka dia harus berusaha sendiri untuk mengubahnya.Usaha
mengubah keadaan atau nasib, tidak mungkin bisa terlaksana kalau seseorang
tidak memahami permasalahan actual yang dihadapinya. Pendidikan pada hakikatnya
adalah usaha untuk mengubah dan mengarahkan keadaan atau nasib tersebut. Dan
ini adalah merupakan problema pokok filsafat pendidikan islam masa sekarang.
6. Metode
Terpadu
Metode
terpadu maksudnya memadukan unsur rasional- empiris dengan unsur intuisi[13].
Dalam kaitan ini. Ketika menyelesaikan persoalan pendidikan islam, tidak hanya
mengandalkan unsur rasional-empiris, tetapi juga mengakui keberadaan intuisi
dan menggunakanya sebagai metode pencarian kebenaran. Dalam system filsafat
islam, pernah pula berkembang pendekatan yang sifatnya komprehensif[14]
dan terpadu, antara sumber-sumber naqli, akli dan imani, sebagaimana yang
Nampak dikembangkan oleh Al-Gazali, kebenaran yang sebenarnya, yaitu kebenaran
yang diyakininya betul-betul merupakan kebenaran. Kebenaran yang mendatangkan
keamanan dalam jiwa, bukan kebenaran yang mendatangkan keragu-raguan. Untuk
mencapai kebenaran yang benar-benar diyakini, harus melalui pengalaman dan
merasakan. Pendekatan ini, lebih mendekati pola berpikir yang empiris dan
intuitif[15].
Demikianlah
beberapa metode yang biasa digunakan dalam menganalisis masalah-masalah
filosofis yang berkaitan dengan problematika pendidikan Islam yang pada
dasarnya tetap konsisten dengan metode pendekatan filsafat pada umumnya. Pada
dasarnya metode dalam filsafat adalah metode rasional dengan langkah-langkah
sebagaimana yang ditegaskan oleh Rene Descrates berikut.
a. Tidak
boleh menerima begitu saja hal-hal yang belum diyakini kebenaranya, akan tetapi
harus secara hati-hati mengkaji hal-hal tersebut sehingga menjadi jelas, dan
pada akhirnya membawa kepada sikap yang pasti dan tidak ragu-ragu.
b. Menganalisis
dan mengklasifikasikan setiap permasalahan melalui pengkajian yang teliti ke
dalam sebanyak mungkin bagian yang diperlukan bagi pemecahan yang adequate (
memadai ).
c. Menggunakan
pikiran dengan cara menganalisis sasaran-sasaran yang paling sederhana dan
paling mudah untuk di ungkapkan. Setelah itu sedikit demi sedikit meningkat ke
arah pengetahuan mengenai sasaran-sasaran yang lebih kompleks.
d. Dalam
setiap permasalahan dibuat uraian yang sempurna serta dilakukan peninjauan
kembali secara umum, sehingga benar-benar yakin bahwa tidak ada satu pun
permasalahan yang tertinggal.
Keempat
langkah yang disarankan oleh Rene Descrates tersebut di atas merupakan
langkah-langkah yang harus dipadukan dengan keenam metode dalam filsafat
pendidikan Islam di atas, sehingga dalam mendekati masalah-masalah filosofis
yang berkaitan dengan kependidikan Islam yang sangat kompleks dan selalu
berkembang, seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi,
diharapkan dapat memberikan kontribusi pemikiran dan solusi bagi
masalah-masalah secara akurat ( tepat ).
2. PERANAN FILSAFAT
PENDIDIKAN ISLAM
Filsafat
Pendidikan Islam sebagai bagian atau komponen dari suatu sistem, ia memegang
peranan. Peranan Filsafat Pendidikan Islam adalah mengembangkan filsafat islam
dan dan memperkaya filsafat islam dengan konsep – konsep dan pandangan –
pandangan filosofis dalam bidang kependidikan dan ilmu pendidikan pun akan
dilengkapi dengan teori-teori kependidikan yang bersifat filosofis islami.[16]
Filsafat
pendidikan islam sebagai bagian atau komponen dari suatu system, ia memegang
dan mempunyai peranan tertentu pada system di mana ia merupakan bagianya.
Sebagai cabang ilmu pengetahuan, maka ia berperan dalam pengembangan ilmu
pengetahuan yang menjadi induknya. Filsafat pendidikan islam, sebagai bagian
dari filsafat islam sekaligus juga sebagai bagian dari ilmu pendidikan. Dengan
demikian, filsafat pendidikan islam berperan dalam mengembangkan filsafat
islam, dan memperkaya filsafat islam dengan konsep-konsep dan
pandangan-pandangan filosofis dalam bidang kependidikan. Dan Ilmu Pendidikan
pun akan dilengkapi dengan teori-teori kependidikan yang bersifat filosofis
islami.
Secara
praktis ( dalam prakteknya ), filsafat pendidikan islam banyak berperan dalam
memberikan alternatif-alternatif pemecahan berbagai macam problem yang dihadapi
oleh pendidikan islam, dan memberikan pengarahan terhadap perkembangan
pendidikan islam.
a. Pertama-tama
filsafat pendidikan islam, menunjukkan problema yang dihadapi oleh pendidikan
islam, sebagai hasil dari pemikiran yang mendalam, dan berusaha untuk memahami
masalahnya. Dengan analisa filsafat, maka filsafat pendidikan islam bisa
menunjukkan alternatif-alternatif pemecahan masalah tersebut. Setelah melalui
proses seleksi terhadap alternatif-alternatif tersebut, yang mana yang paling
efektif, maka dilaksanakan alternatif tersebut dalam praktek kependidikan.
b. Filsafat
pendidikan islam, memberikan pandangan tertentu tentang manusia ( manurut Islam
). Pandangan tentang hakikat manusia tersebut berkaitan dengan tujuan hidup
manusia dan sekaligus juga merupakan tujuan pendidikan menurut islam. Filsafat
pendidikan Islam berperan untuk menjabarkan tujuan umum pendidikan islam
tersebut dalam bentuk-bentuk tujuan khusus yang operasional. Dan tujuan yang
operasional ini berperan untuk mengarahkan secara nyata gerak dan aktivitas
pelaksanaan pendidikan.[17]
c. Filsafat
pendidikan Islam dengan analisanya terhadap hakikat hidup dalam kehidupan
manusia, berkesimpulan bahwa manusia mempunyai potensi pembawaan yang harus
ditumbuhkan dan dikembangkan. Fisafat Pendidikan Islam menunjukkan bahwa
potensi pembawaan manusia tidak lain adalah sifat-sifat Tuhan, atau Al asma’ul
husna, dan dalam mengembangkan sifat-sifat Tuhan tersebut dalam kehidupan
kongret, tidak boleh mengarah kepada menodai dan merendahkan nama dan sifat
Tuhan tersebut. Hal ini akan memberikan petunjuk pembinaan kurikulum yang
sesuai dan pengaturan lingkungan yang diperlukan.
d. Filsafat
pendidikan Islam, dalam analisanya terhadap masalah pendidikan islam masa kini
yang dihadapinya, akan dapat memberikan informasi apakah proses pendidikan
islam yang berjalan selama ini mampu mencapai tujuan pendidikan Islam yang
ideal, atau tidak. Dapat merumuskan di mana letak kelemahanya, dan dengan
demikian bisa memberikan alternative-alternatif perbaikan dan pengembanganya.
Dengan
demikian peranan filsafat pendidikan Islam, menuju kedua arah, yaitu ke arah
pengembangan konsep-konsep filosofis dari pendidikan islam, yang secara
otomatis akan menghasilkan teori-teori baru dalam ilmu pendidikan Islam, dan
kedua ke arah perbaikan dan pembaharuan praktek dan pelaksanaan pendidikan
Islam.
3. PERANAN FILSAFAT
PENDIDIKAN ISLAM TERHADAP PENDIDIKAN
Peranan
filsafat pendidikan Islam dalam kehidupan, dapat diketahui dengan baik,
terlebih dahulu harus melihat nilai manfaat dari filsafat pendidikan itu sendiri,
sebab dengan melihat peranan dan manfaat filsafat pendidikan, akan dapat
dijadikan perbandingan untuk melihat peranan dan manfaat filsafat pendidikan
islam.[18]
Ali
Syaifullah merumuskan tentang nilai manfaat mempelajari filsafat pendidikan
sebagai berikut.
1. Memberi
kesempatan kepada setiap pendidik untuk membiasakan diri mengadakan perenungan
yang mendalam.
2. Memberikan
pengertian yang mendalam akan problem esensial dan dasar-dasar pertimbangan
mana yang harus digunakan dalam menyelesaikan problematika pendidikan.
3. Membiasakan
para pendidik agar mengutamakan berpikir kritis dan reflektif dalam
menyelesaikan problem kehidupan.
4. Memberikan
kesempatan kepada para pendidik muslim untuk selalu berusaha meninjau kembali
pandangan dasar filsafat pendidikan yang selama ini diyakini kebenaranya.
Sementara itu, menurut
al-Syaibani, kegunaan filsafat pendidikan Islam sebagai berikut.
1. Membantu
perencanaan dan pelaksanaan pendidikan islam dalam rangka membentuk pemikiran
yang sehat tentang proses pendidikan islam. Tujuan dan fungsinya, serta
meningkatkan kualitas perencanaan dan pelaksanaan pendidikan Islam.
2. Membantu
merumuskan asas bagi penentuan pandangan tentang kajian yang umum dan khusus,
baik yang berkaitan dengan kurikulum pendidikan Islam, kaidah-kaidah, dan cara-cara
serta alat-alat pengajaran yang bermacam-macam secara mendalam.
3. Membantu
memberikan dasar evaluasi pendidikan secara keseluruhan.
4. Membantu
memberikan sandaran intelektual kepada pendidik guna membela tindakan-tindakan
pendidikan mereka.
5. Membantu
memberikan corak dan pribadi yang khas dan istimewa bagi bangsa tertentu sesuai
dengan prinsip-prinsip dan nilai-nilai agama, kebudayaan, ekonomi, social, dan
politik serta tuntutan-tuntutan pada masa dan ruang tertentu, di mana dan kapan
bangsa yang memerlukan pendidikan itu hidup.[19]
4.
Fungsi Metode Filsaafat Pendidikan Islam
Tentang fungsi metode secara umum dapat dikemukakan sebagai pemberi
jalan atau cara yang sebaiknya mungkin bagi pelaksanaan operasional dari ilmu
pendidikan tersebut. Sedangkan dalam konteks lain metode dapat merupakan sarana
untuk menemukan, menguji, dan menyusun data yang diperlukan bagi pengembangan
disiplin suatu ilmu.[20]
Filsafat pendidikan islam sebagai bagian atau komponen dari suatu
sistem, ia memegang dan mempunyai peranan tertentu pada sistem di mana ia
merupakan bagiannya. Sebagai cabang ilmu pengetahuan, maka ia berperan dalam
pengembangan ilmu pengetahuan yang menjadi induknya. Filsafat pendidikan islam,
sebagai bagian dari filsafat islam sekaligus juga sebagai bagian dari ilmu pendidikan.
Dengan demikian, filsafat pendidikan islam berperan dalam mengembangkan
filsafat islam, memperkaya filsafat islam dengan konsep-konsep dan
pandangan–pandangan filosofis dalam bidang kependidikan . Dan ilmu pendidikan
pun akan dilengkapi dengan teori- teori kependidikan yang bersifat filosofis
islami.
BAB III
KESIMPULAN
Dari pemaparan makalah di atas dapat disimpulkan bahwa metode
filsafat pendidikan Islam merupakan jalan atau cara untuk dapat memecahkan
problemaatika pendidikan umat Islam dan selanjutnya memberikan arah dan tujuan
yang jelas terhadap pelaksanaan pendidikan umat islam.
Adapun tujuan dari metode filsafat pendidikan islam, yaitu
Pertama – tama filsafat pendidikan islam, menunjukkan problema yang
dihadapi oleh pendidikan islam, sebagai hasil dari pemikiran yang mendalam, dan
berusaha untuk memehami duduk masalahnya
Filsafat pendidikan islam memberikan pandangan tertentu tentang
manusia ( menurut islam ).
Filsafat pendidikan islam dengan analisanya terhadap hakikat hidup
dan kehidupan manusia, berkesimpulan bahwa manusia mempunyai potensi pembawaan
yang harus ditumbuhkan dan diperkembangkan.
Filsafat pendidikan isalm, dalam analisanya terhadap masalah –
masalah pendidikan islam masa kini yang dihadapinya, akan dapat memberikan informasi
apakah proses pendidikan islam yang berjalan selama ini mampu mencapai tujuan
pendidikan islam yang ideal atau tidak.
Sedangkan metode-metode dari Filsafat Pendidikan Islam, yaitu:
Metode Kontemplasi dan Spekulasi
Pendekatan Normatif
Pendekatan Analisa Konsep dan Analisa Bahasa
Historical Philosophy Approach (Metode Pendekatan History)
Pendekatan Ilmiah
Pendekatan Komprehensif
DAFTAR PUSTAKA
Haris ,Abd, Filsafat Pendidikan Islam, ( Jakarta :
Amzah), cetakan pertama Mei 2012
Marimba ,Ahmad ,Pengantar
Filsafat Pendidikan Islam,Cet.VIII,(Bandung:Al-Ma’arif,1989)
Nata ,Abudin, Filsafat Pendidikan Islam, ( Ciputat: Logos Wacana
Ilmu, 1997),
Zuhairini, dkk, Filsafat
Pendidikan Islam, PT Bumi Aksara, Jakarta, hal.
faizkendal.blogspot.com/2011/09/metodefilsafat-pendidikan-islam
oktanovia-berwandi.blogspot.com/2013/10/hakikat-objek-metode-filsafat.
http://www.subliyanto.id/2010/06/ruang-lingkup-tujuan-kegunaan-dan.html
faizkendal.blogspot.com/2011/09/metodefilsafat-pendidikan-islam
https://nugrahawisnuputra.wordpress.com/.../makalah-peranan-dan-ruang-lingkup
[1] Zuhairini, dkk, Filsafat
Pendidikan Islam, PT Bumi Aksara, Jakarta, hal. 130-131
[2] faizkendal.blogspot.com/2011/09/metodefilsafat-pendidikan-islam, di akses pada 5 Okt 2016 20.25 Wib
[3] Abd Haris, Filsafat
Pendidikan Islam, ( Jakarta : Amzah), cetakan pertama Mei 2012, hal.34
[4] Zuhairini, dkk, Filsafat
Pendidikan Islam, PT Bumi Aksara, Jakarta, hal.131
[5] Berasal dari bahasa inggris speculative yang berarti pemikiran
atau peninjauan, sedangkan bahasa arabnya fikry.
[6] oktanovia-berwandi.blogspot.com/2013/10/hakikat-objek-metode-filsafat,
di akses pada 5 Okt 2016 20.25 Wib
[7] Abd Haris, Filsafat
Pendidikan Islam, ( Jakarta : Amzah), cetakan pertama Mei 2012, hal 36
[8] http://www.subliyanto.id/2010/06/ruang-lingkup-tujuan-kegunaan-dan.html, di akses pada 5 Okt 2016
20.25 Wib
[9] Zuhairini, dkk, Filsafat Pendidikan Islam, PT Bumi
Aksara, Jakarta, hal. 132
[10] faizkendal.blogspot.com/2011/09/metodefilsafat-pendidikan-islam, di akses pada 5 Okt 2016 20.25 Wib
[11]Abd Haris, Filsafat
Pendidikan Islam, ( Jakarta : Amzah), cetakan pertama Mei 2012, hal. 37
[12] Berdasarkan pengalaman ( terutama yang diperoleh dari penemuan,
percobaan, pengamatan yang telah dilakukan )
[13] Daya atau kemampuan mengetahui atau memahami sesuatu tanpa
dipikirkan atau dipelajari, bisikan hati, gerak hati.
[14] Bersifat mampu menangkap ( menerima ) dengan baik.
[15] Bersifat ( secara ) intuisi, berdasar bisikan ( gerak ) hati.
[16] Ahmad Marimba,Pengantar
Filsafat Pendidikan Islam,Cet.VIII,(Bandung:Al-Ma’arif,1989),hlm.10
[17] https://nugrahawisnuputra.wordpress.com/.../makalah-peranan-dan-ruang-lingkup, di akses pada 5 Okt 2016 20.25 Wib
[18] Abd Haris, Filsafat
Pendidikan Islam, ( Jakarta : Amzah), cetakan pertama Mei 2012, hal.41
[19] Abd Haris, Filsafat
Pendidikan Islam, ( Jakarta : Amzah), cetakan pertama Mei 2012, hal.43
[20] Abudin Nata, Filsafat Pendidikan Islam, ( Ciputat: Logos Wacana
Ilmu, 1997), hlm.93-94
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
terimakasih atas kunjungannya jangan lupa komen