Rabu, 12 April 2017

Makalah Metode Pendidikan Islam

BAB I
PENDAHULUAN
Dan upaya untuk mengatasi masalah tersebut masih terus dilakukan dengan berbagai upaya. Tetapi upaya yang demikian itu tampaknya perlu dilacak pada akar permasalahannya yang bertumpu pada pemikiran filosofis. Kita ketahui bahwa secara umum filsafat berupaya menjelaskan inti dari segala yang ada, dan karena itu filsafat dikenal sebagai induk segala ilmu.
Filsafat pendidikan Islam secara umum akan mengkaji berbagai masalah yang terdapat dalam dunia pendidikan. Misalnya berkaitan dengan masalah metode pendidikan seperti yang akan kita bahas dalam makalah ini. Untuk itu perlu untuk kita ketahui apa yang dimaksud dengan metode pendidikan Islam dan fungsinya serta metode-metode apa saja yang terdapat dalam dunia pendidikan.
Tujuan dari makalah ini agar kita dapat mengetahui dan memikirkan bagaimana menggunakan metode filsafat pendidikan Islam dalam masyarakat. Baik secara langsung maupun tidak langsung. Karena dengan mengetahuinya kita setidaknya sudah bisa mengantisipasi segala problem yang akan kita hadapi saat berada dalam masyarakat khususnya dalam hal pendidikan.








BAB II
PEMBAHASAN
A.    PENGERTIAN METODE PENDIDIKAN ISLAM
Dalam dunia islam, filsafat menimbulkan pada garis besarnya dua system filsafat ( mazhab dalam filsafat ), yaitu (1) mazhab tradisional, yang dalam sistem filsafatnya, ijtihadnya, berpegang teguh pada nash-nash Al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Mereka disebut juga sebagai ahlu al-sunnah, ahlu al-naql. Mereka menggunakan akal hanya terhadap hal-hal yang tidak ada penegasan ( nash ) nya dalam Al-Qur’an maupun Al-Sunnah. (2) mazhab rasional, yang banyak menggunakan akal dalam filsafatnya, ijtihadnya. Mereka disebut juga sebagai ahlu al-ra’yi atau ahlu al-aql. Namun demikian tidak berarti bahwa mereka meninggalkan Al-Qur’an dan Hadis Nabi, hanya kalau terjadi pertentangan antara akal dengan nash, mereka mencari jalan keluarnya dengan ta’wil ( mencari pengertian rasional dari nash tersebut).
Kedua mazhab filsafat dalam islam tersebut, telah mengembangkan cara atau metode ijtihadnya sendiri-sendiri, yang menunjukkan variasi dan keragaman yang menghiasi system filsafat islam. Metode-metode ijtihad seperti Ijma’, Qiyas, Istihsan, dll, semuanya adalah berdasarkan penggunaan akal. Cara penafsiran Al-Qur’an dan ta’wil, adalah merupakan dasar dari analisa bahasa ( linguistic analysis ) dalam system filsafat modern. Penggunaan hadis dan atsar sahabat sebagai sumber hukum secara rasional, tidak lain kecuali analisa historis ( historical analysis ) dalam filsafat khusus masa kini. Metode analisa kritis, metode ilmiah rasional, empris, sampai kepada yang bersifat eksperimental pun sudah dikenal oleh filsafat islam dalam sejarahnya.[1]
Secara literal metode berasal dari bahasa Greek yang terdiri dari dua kosa kata, yaitu meta yang berarti melalui. Dan hodos yang berarti jalan. Jadi metode berarti jalan yang dilalui. Runes, sebagaimana dikutip oleh Mohammad Norr syam, secara teknis menerangkan bahwa metode adalah:
  1. Sesuatu prosedur yang dipakai untuk mencapai suatu tujuan
  2. Sesuatu teknik untuk mengetahui yang dipakai dalam proses mencari ilmu pengetahuan dari suatu materi tertentu
  3. Sesuatu ilmu yang merumuskan aturan-aturan dari sesuatu prosedur.
Sedangkan filsafat pendidikan Islam merupakan studi tentang pandangan filosofis dari sistem dan aliran filsafat dalam Islam terhadap masalah-masalah kependidikan dan bagaimana pengaruhnya terhadap pertumbuhan dan perkembangan manusia muslim dan umat Islam.
Jadi, metode filsafat pendidikan Islam dapat diartikan sebagai jalan atau cara untuk dapat memecahkan problematika pendidikan umat Islam dan selanjutnya memberikan arah dan tujuan yang jelas terhadap pelaksanaan pendidikan umat islam.[2]
1.      METODE FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM
Filsafat pendidikan Islam sebagai bagian dari pengetahuan manusia, haruslah mempunyai cara untuk memperolehnya. Cara itu bisa disebut dengan metode. Metode atau method dalam bahasa inggris berasal dari bahasa yunani methodos yang berarti sesuatu prosedur yang dipakai untuk mencapai sesuatu tujuan, atau suatu teknik mengetahui yang dipakai dalam proses mencari ilmu pengetahuan dari materi tertentu, atau juga berarti suatu ilmu yang merumuskan aturan-aturan dari suatu prosedur.
Pada dasarnya metode yang digunakan untuk mencapai pengetahuan filsafat termasuk filsafat pendidikan Islam adalah dengan berpikir rasional-logis.[3]
Seperti telah dikemukakan, bahwa filsafat pendidikan islam ada yang bercorak tradisional dan dapat pula bercorak filsafat kritis. Pada filsafat pendidikan islam yang bercorak tradisional, tentunya tidak bisa dipisahkan dengan aliran mazhab filsafat yang pernah berkembang dalam dunia islam. Dalam hal ini, filsafat pendidikan islam berusaha menganalisa pandangan aliran-aliran yang ada terhadap masalah-masalah kependidikan yang dihadapi pada masanya dan bagaimana implikasinya dalam proses pendidikan. Sedangkan pada filsafat pendidikan yang bercorak kritis, maka dalam hal ini di samping menggunakan metode-metode filsafat pendidikan islam sebagaimana yang telah berkembang dalam dunia islam, juga menggunakan metode filsafat pendidikan yang berkembang dalam dunia filsafat pada umumnya.[4]
Filsafat Islam dalam memecahkan problema pendidikan islam ( problema pendidikan yang dihadapi umat islam ) dapat menggunakan metode-metode antara lain :
1. Metode Spekulatif dan Kontemplatif
Metode ini  merupakan metode utama dalam setiap cabang filsafat. Spekulatif[5] dan kontemplatif bisa berarti merenung atau dalam bahasa arab disebut tafakkur. Merenung itu bukan berarti memikirkan sesuatu tanpa ada keharusan kontak langsung dengan obyeknya. Baik kontemplatif  maupun tafakkur, adalah berpikir secara mendalam dan dalam situasi yang tenang, sunyi, untuk mendapatkan kebenaran tentang hakikat sesuatu yang dipikirkan.[6] Metode ini dapat dipakai untuk memikirkan sesuatu yang abstrak, misalnya hakikat hidup menurut islam, sifat Tuhan, dll. Metode ini sangat penting dalam filsafat pendidikan islam, sebab dalam analisisnya sering berhadapan dengan sesuatu yang abstrak dan sulit didekati, kecuali dengan merenung. Dengan metode ini dapat merenungkan sesungguhnya pendidikan Islam dengan segala komponenya apa hakikatnya atau esensinya.
2.      Metode Normatif.
Norma artinya nilai, juga berarti aturan atau hukum-hukum. Metode normatif suatu system. Nilai juga menunjukkan baik buruk, berguna tidak dimaksudkan sebuah metode yang digunakan untuk mencari dan menetapkan nilai, aturan, atau hukum tertentu. Dalam filsafat pendidikan Islam metode ini dipakai untuk mencari nilai,aturan, atau hukum yang berkaitan dengan pendidikan Islam, sehingga tujuan, proses, bahan, dan semua yang terlibat dalam pendidikan Islan tersebut sesuai dengan nilai, aturan, dan hukum Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan sunnah. Dalam prosesnya  metode ini dapat dilakukan dengan ijtihad. Ijtihad yang dimaksud adalah memahami Al-Qur’an atau Sunnah kaitanya dengan pendidikan Islam secara maksimal.[7]
 Menurut filsafat islam, sumber nilai adalah Tuhan dan semua bentuk norma akan mengarahkan manusia kepada islam. Pendekatan normatif di maksudkan adalah mencari dan menetapkan aturan-aturan dalam kehidupan nyata, dalam filsafat islam bisa disebut sebagai pendekatan syar’iyah, yaitu mencari ketentuan dan menetapkan ketentuan tentang apa yang boleh dan yang tidak boleh menurut syari’at islam. Obyeknya adalah berkaitan dengan tingkah laku dan amal perbuatan metode ijtihad  dalam fiqh seperti istihsan, maslahah mursalah, al-‘aqadah muhakkamah, adalah merupakan contoh-contoh metode normatif ini dalam system filsafat islam.[8]
3.      Metode Analisis Konsep
Analisis konsep berarti menguraikan sesuatu pengertian yang bersifat tertentu. Dalam menganalisis suatu konsep itu, digunakan alat komunikasi yang biasa disebut dengan bahasa. Dari uraian atau analisi bahasa inilah dapat dipahami suatu konsep yang berkaitan dengan problematika pendidikan Islam. Konsep, berarti tangkapan atau pengertian seseorang terhadap sesuatu obyek. Pengertian seseorang selalu berkaitan dengan bahasa, sebagai alat untuk mengungkapkan pengertian tersebut. Pengertian tentang sesuatu obyek dirumuskan dalam bentuk definisi yang menggunakan bahasa atau kalimat tertentu. Dalam system filsafat islam, menafsirkan dan juga menta’wilkan ayat-ayat Al-Qur’an, merupakan praktek kongret dari pendekatan analisa konsep atau analisa bahasa. Ajaran islam penuh dengan konsep-konsep filosofis tentang hidup dan kehidupan manusia, seperti iman, islam, ihsan, dll. Semuanya adalah menjadi problema pendidikan islam.[9]
4.      Metode historis
Metode historis atau sejarah adalah cara mempelajari filsafat berdasarkan urutan waktu perkembangan pemikiran filsafat yang telah terjadi, sejak kelahiranya sampai sekarang. Metode historis ini berarti juga menggunakan sejarah sebagai cara untuk mengambil pelajaran peristiwa yang sudah terjadi untuk diproyeksikan ke masa depan. Dalam filsafat pendidikan Islam penggunaan metode ini amat penting, karena untuk membangun suatu pendidikan Islam harus belajar dari sejarah masa lampau yang bisa dijadikan ibrah ( percontohan ).
Suatu kejadian atau peristiwa dalam pandangan kesejarahan terjadi karena hubungan sebab akibat, dan terjadi dalam suatu setting situasi kondisi dan waktunya sendiri-sendiri. Peristiwa sejarah berguna untuk memberikan petunjuk dalam membina masa depan.[10] Dengan demikian peristiwa-peristiwa sejarah banyak manfaatnya untuk pendidikan. Dalam filsafat islam, penggunaan Sunnah Nabi SAW sebagai sumber hokum, penelitian-penelitian akan hadis-hadis yang menghasilkan pemisahan antara hadist palsu dan hadis sahih, pada hakikatnya merupakan contoh praktis dari penggunaan analisa historis dalam filsafat pendidikan islam.
5.      Metode Deduktif
Metode deduktif berarti penalaran dari suatu kebenaran umum ke suatu hal yang khusus. Metode ini digunakan dalam filsafat, karena pada dasarnya filsafat itu bersifat rasional-logis dan lebih banyak dari kebenaran-kebenaran yang bersifat umum. Metode ini tepat untuk dijadikan alat mencari kebenaran yang abstrak-logis. Filsafat pendidikan Islam juga tepat memakai metode deduktif sebagai metode pokok pemikiran filosofinya.[11] Pada hakikatnya merupakan pengembangan dan penyempurnaan dari pola berpikir rasional, empiris[12], dan eksperimental yang telah berkembang pada masa jayanya filsafat dalam islam. Pendekatan ini tidak lain adalah merupakan realisasi dari ayat Al-Qur’an yang menyatakan bahwa
Ayat ini menerangkan bahwa Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, sehingga mereka mengubah nasib mereka sendiri. Maksudnya adalah, ketika seseorang ingin mengubah nasibnya, maka dia harus berusaha sendiri untuk mengubahnya.Usaha mengubah keadaan atau nasib, tidak mungkin bisa terlaksana kalau seseorang tidak memahami permasalahan actual yang dihadapinya. Pendidikan pada hakikatnya adalah usaha untuk mengubah dan mengarahkan keadaan atau nasib tersebut. Dan ini adalah merupakan problema pokok filsafat pendidikan islam masa sekarang.
6.      Metode Terpadu
Metode terpadu maksudnya memadukan unsur rasional- empiris dengan unsur intuisi[13]. Dalam kaitan ini. Ketika menyelesaikan persoalan pendidikan islam, tidak hanya mengandalkan unsur rasional-empiris, tetapi juga mengakui keberadaan intuisi dan menggunakanya sebagai metode pencarian kebenaran. Dalam system filsafat islam, pernah pula berkembang pendekatan yang sifatnya komprehensif[14] dan terpadu, antara sumber-sumber naqli, akli dan imani, sebagaimana yang Nampak dikembangkan oleh Al-Gazali, kebenaran yang sebenarnya, yaitu kebenaran yang diyakininya betul-betul merupakan kebenaran. Kebenaran yang mendatangkan keamanan dalam jiwa, bukan kebenaran yang mendatangkan keragu-raguan. Untuk mencapai kebenaran yang benar-benar diyakini, harus melalui pengalaman dan merasakan. Pendekatan ini, lebih mendekati pola berpikir yang empiris dan intuitif[15].
Demikianlah beberapa metode yang biasa digunakan dalam menganalisis masalah-masalah filosofis yang berkaitan dengan problematika pendidikan Islam yang pada dasarnya tetap konsisten dengan metode pendekatan filsafat pada umumnya. Pada dasarnya metode dalam filsafat adalah metode rasional dengan langkah-langkah sebagaimana yang ditegaskan oleh Rene Descrates berikut.
a.       Tidak boleh menerima begitu saja hal-hal yang belum diyakini kebenaranya, akan tetapi harus secara hati-hati mengkaji hal-hal tersebut sehingga menjadi jelas, dan pada akhirnya membawa kepada sikap yang pasti dan tidak ragu-ragu.
b.      Menganalisis dan mengklasifikasikan setiap permasalahan melalui pengkajian yang teliti ke dalam sebanyak mungkin bagian yang diperlukan bagi pemecahan yang adequate ( memadai ).
c.       Menggunakan pikiran dengan cara menganalisis sasaran-sasaran yang paling sederhana dan paling mudah untuk di ungkapkan. Setelah itu sedikit demi sedikit meningkat ke arah pengetahuan mengenai sasaran-sasaran yang lebih kompleks.
d.      Dalam setiap permasalahan dibuat uraian yang sempurna serta dilakukan peninjauan kembali secara umum, sehingga benar-benar yakin bahwa tidak ada satu pun permasalahan yang tertinggal.
Keempat langkah yang disarankan oleh Rene Descrates tersebut di atas merupakan langkah-langkah yang harus dipadukan dengan keenam metode dalam filsafat pendidikan Islam di atas, sehingga dalam mendekati masalah-masalah filosofis yang berkaitan dengan kependidikan Islam yang sangat kompleks dan selalu berkembang, seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, diharapkan dapat memberikan kontribusi pemikiran dan solusi bagi masalah-masalah secara akurat ( tepat ).
2.      PERANAN FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM
Filsafat Pendidikan Islam sebagai bagian atau komponen dari suatu sistem, ia memegang peranan. Peranan Filsafat Pendidikan Islam adalah mengembangkan filsafat islam dan dan memperkaya filsafat islam dengan konsep – konsep dan pandangan – pandangan filosofis dalam bidang kependidikan dan ilmu pendidikan pun akan dilengkapi dengan teori-teori kependidikan yang bersifat filosofis islami.[16]
Filsafat pendidikan islam sebagai bagian atau komponen dari suatu system, ia memegang dan mempunyai peranan tertentu pada system di mana ia merupakan bagianya. Sebagai cabang ilmu pengetahuan, maka ia berperan dalam pengembangan ilmu pengetahuan yang menjadi induknya. Filsafat pendidikan islam, sebagai bagian dari filsafat islam sekaligus juga sebagai bagian dari ilmu pendidikan. Dengan demikian, filsafat pendidikan islam berperan dalam mengembangkan filsafat islam, dan memperkaya filsafat islam dengan konsep-konsep dan pandangan-pandangan filosofis dalam bidang kependidikan. Dan Ilmu Pendidikan pun akan dilengkapi dengan teori-teori kependidikan yang bersifat filosofis islami.
Secara praktis ( dalam prakteknya ), filsafat pendidikan islam banyak berperan dalam memberikan alternatif-alternatif pemecahan berbagai macam problem yang dihadapi oleh pendidikan islam, dan memberikan pengarahan terhadap perkembangan pendidikan islam.
a.       Pertama-tama filsafat pendidikan islam, menunjukkan problema yang dihadapi oleh pendidikan islam, sebagai hasil dari pemikiran yang mendalam, dan berusaha untuk memahami masalahnya. Dengan analisa filsafat, maka filsafat pendidikan islam bisa menunjukkan alternatif-alternatif pemecahan masalah tersebut. Setelah melalui proses seleksi terhadap alternatif-alternatif tersebut, yang mana yang paling efektif, maka dilaksanakan alternatif tersebut dalam praktek kependidikan.
b.      Filsafat pendidikan islam, memberikan pandangan tertentu tentang manusia ( manurut Islam ). Pandangan tentang hakikat manusia tersebut berkaitan dengan tujuan hidup manusia dan sekaligus juga merupakan tujuan pendidikan menurut islam. Filsafat pendidikan Islam berperan untuk menjabarkan tujuan umum pendidikan islam tersebut dalam bentuk-bentuk tujuan khusus yang operasional. Dan tujuan yang operasional ini berperan untuk mengarahkan secara nyata gerak dan aktivitas pelaksanaan pendidikan.[17]
c.       Filsafat pendidikan Islam dengan analisanya terhadap hakikat hidup dalam kehidupan manusia, berkesimpulan bahwa manusia mempunyai potensi pembawaan yang harus ditumbuhkan dan dikembangkan. Fisafat Pendidikan Islam menunjukkan bahwa potensi pembawaan manusia tidak lain adalah sifat-sifat Tuhan, atau Al asma’ul husna, dan dalam mengembangkan sifat-sifat Tuhan tersebut dalam kehidupan kongret, tidak boleh mengarah kepada menodai dan merendahkan nama dan sifat Tuhan tersebut. Hal ini akan memberikan petunjuk pembinaan kurikulum yang sesuai dan pengaturan lingkungan yang diperlukan.
d.      Filsafat pendidikan Islam, dalam analisanya terhadap masalah pendidikan islam masa kini yang dihadapinya, akan dapat memberikan informasi apakah proses pendidikan islam yang berjalan selama ini mampu mencapai tujuan pendidikan Islam yang ideal, atau tidak. Dapat merumuskan di mana letak kelemahanya, dan dengan demikian bisa memberikan alternative-alternatif perbaikan dan pengembanganya.
Dengan demikian peranan filsafat pendidikan Islam, menuju kedua arah, yaitu ke arah pengembangan konsep-konsep filosofis dari pendidikan islam, yang secara otomatis akan menghasilkan teori-teori baru dalam ilmu pendidikan Islam, dan kedua ke arah perbaikan dan pembaharuan praktek dan pelaksanaan pendidikan Islam.
3.      PERANAN FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM TERHADAP PENDIDIKAN
Peranan filsafat pendidikan Islam dalam kehidupan, dapat diketahui dengan baik, terlebih dahulu harus melihat nilai manfaat dari filsafat pendidikan itu sendiri, sebab dengan melihat peranan dan manfaat filsafat pendidikan, akan dapat dijadikan perbandingan untuk melihat peranan dan manfaat filsafat pendidikan islam.[18]
Ali Syaifullah merumuskan tentang nilai manfaat mempelajari filsafat pendidikan sebagai berikut.
1.      Memberi kesempatan kepada setiap pendidik untuk membiasakan diri mengadakan perenungan yang mendalam.
2.      Memberikan pengertian yang mendalam akan problem esensial dan dasar-dasar pertimbangan mana yang harus digunakan dalam menyelesaikan problematika pendidikan.
3.      Membiasakan para pendidik agar mengutamakan berpikir kritis dan reflektif dalam menyelesaikan problem kehidupan.
4.      Memberikan kesempatan kepada para pendidik muslim untuk selalu berusaha meninjau kembali pandangan dasar filsafat pendidikan yang selama ini diyakini kebenaranya.
Sementara itu, menurut al-Syaibani, kegunaan filsafat pendidikan Islam sebagai berikut.
1.      Membantu perencanaan dan pelaksanaan pendidikan islam dalam rangka membentuk pemikiran yang sehat tentang proses pendidikan islam. Tujuan dan fungsinya, serta meningkatkan kualitas perencanaan dan pelaksanaan pendidikan Islam.
2.      Membantu merumuskan asas bagi penentuan pandangan tentang kajian yang umum dan khusus, baik yang berkaitan dengan kurikulum pendidikan Islam, kaidah-kaidah, dan cara-cara serta alat-alat pengajaran yang bermacam-macam secara mendalam.
3.      Membantu memberikan dasar evaluasi pendidikan secara keseluruhan.
4.      Membantu memberikan sandaran intelektual kepada pendidik guna membela tindakan-tindakan pendidikan mereka.
5.      Membantu memberikan corak dan pribadi yang khas dan istimewa bagi bangsa tertentu sesuai dengan prinsip-prinsip dan nilai-nilai agama, kebudayaan, ekonomi, social, dan politik serta tuntutan-tuntutan pada masa dan ruang tertentu, di mana dan kapan bangsa yang memerlukan pendidikan itu hidup.[19]
4.      Fungsi Metode Filsaafat Pendidikan Islam
Tentang fungsi metode secara umum dapat dikemukakan sebagai pemberi jalan atau cara yang sebaiknya mungkin bagi pelaksanaan operasional dari ilmu pendidikan tersebut. Sedangkan dalam konteks lain metode dapat merupakan sarana untuk menemukan, menguji, dan menyusun data yang diperlukan bagi pengembangan disiplin suatu ilmu.[20]
Filsafat pendidikan islam sebagai bagian atau komponen dari suatu sistem, ia memegang dan mempunyai peranan tertentu pada sistem di mana ia merupakan bagiannya. Sebagai cabang ilmu pengetahuan, maka ia berperan dalam pengembangan ilmu pengetahuan yang menjadi induknya. Filsafat pendidikan islam, sebagai bagian dari filsafat islam sekaligus juga sebagai bagian dari ilmu pendidikan. Dengan demikian, filsafat pendidikan islam berperan dalam mengembangkan filsafat islam, memperkaya filsafat islam dengan konsep-konsep dan pandangan–pandangan filosofis dalam bidang kependidikan . Dan ilmu pendidikan pun akan dilengkapi dengan teori- teori kependidikan yang bersifat filosofis islami.








BAB III
KESIMPULAN
Dari pemaparan makalah di atas dapat disimpulkan bahwa metode filsafat pendidikan Islam merupakan jalan atau cara untuk dapat memecahkan problemaatika pendidikan umat Islam dan selanjutnya memberikan arah dan tujuan yang jelas terhadap pelaksanaan pendidikan umat islam.
Adapun tujuan dari metode filsafat pendidikan islam, yaitu
Pertama – tama filsafat pendidikan islam, menunjukkan problema yang dihadapi oleh pendidikan islam, sebagai hasil dari pemikiran yang mendalam, dan berusaha untuk memehami duduk masalahnya
Filsafat pendidikan islam memberikan pandangan tertentu tentang manusia ( menurut islam ).
Filsafat pendidikan islam dengan analisanya terhadap hakikat hidup dan kehidupan manusia, berkesimpulan bahwa manusia mempunyai potensi pembawaan yang harus ditumbuhkan dan diperkembangkan.
Filsafat pendidikan isalm, dalam analisanya terhadap masalah – masalah pendidikan islam masa kini yang dihadapinya, akan dapat memberikan informasi apakah proses pendidikan islam yang berjalan selama ini mampu mencapai tujuan pendidikan islam yang ideal atau tidak.
Sedangkan metode-metode dari Filsafat Pendidikan Islam, yaitu:
Metode Kontemplasi dan Spekulasi
Pendekatan Normatif
Pendekatan Analisa Konsep dan Analisa Bahasa
Historical Philosophy Approach (Metode Pendekatan History)
Pendekatan Ilmiah
Pendekatan Komprehensif
DAFTAR PUSTAKA
Haris ,Abd, Filsafat Pendidikan Islam, ( Jakarta : Amzah), cetakan pertama Mei 2012
Marimba ,Ahmad ,Pengantar Filsafat Pendidikan Islam,Cet.VIII,(Bandung:Al-Ma’arif,1989)
Nata ,Abudin, Filsafat Pendidikan Islam, ( Ciputat: Logos Wacana Ilmu, 1997),
Zuhairini, dkk, Filsafat Pendidikan Islam, PT Bumi Aksara, Jakarta, hal.
faizkendal.blogspot.com/2011/09/metodefilsafat-pendidikan-islam
oktanovia-berwandi.blogspot.com/2013/10/hakikat-objek-metode-filsafat.
http://www.subliyanto.id/2010/06/ruang-lingkup-tujuan-kegunaan-dan.html
faizkendal.blogspot.com/2011/09/metodefilsafat-pendidikan-islam
https://nugrahawisnuputra.wordpress.com/.../makalah-peranan-dan-ruang-lingkup



[1] Zuhairini, dkk, Filsafat Pendidikan Islam, PT Bumi Aksara, Jakarta, hal. 130-131
[2] faizkendal.blogspot.com/2011/09/metodefilsafat-pendidikan-islam, di akses pada 5 Okt 2016 20.25 Wib
[3] Abd Haris, Filsafat Pendidikan Islam, ( Jakarta : Amzah), cetakan pertama Mei 2012, hal.34
[4] Zuhairini, dkk, Filsafat Pendidikan Islam, PT Bumi Aksara, Jakarta, hal.131
[5] Berasal dari bahasa inggris speculative yang berarti pemikiran atau peninjauan, sedangkan bahasa arabnya fikry.
[6] oktanovia-berwandi.blogspot.com/2013/10/hakikat-objek-metode-filsafat, di akses pada 5 Okt 2016 20.25 Wib
[7] Abd Haris, Filsafat Pendidikan Islam, ( Jakarta : Amzah), cetakan pertama Mei 2012, hal 36
[9]  Zuhairini, dkk, Filsafat Pendidikan Islam, PT Bumi Aksara, Jakarta, hal. 132
[10] faizkendal.blogspot.com/2011/09/metodefilsafat-pendidikan-islam, di akses pada 5 Okt 2016 20.25 Wib
[11]Abd Haris, Filsafat Pendidikan Islam, ( Jakarta : Amzah), cetakan pertama Mei 2012, hal. 37
[12] Berdasarkan pengalaman ( terutama yang diperoleh dari penemuan, percobaan, pengamatan yang telah dilakukan )
[13] Daya atau kemampuan mengetahui atau memahami sesuatu tanpa dipikirkan atau dipelajari, bisikan hati, gerak hati.
[14] Bersifat mampu menangkap ( menerima ) dengan baik.
[15] Bersifat ( secara ) intuisi, berdasar bisikan ( gerak ) hati.
[16] Ahmad Marimba,Pengantar Filsafat Pendidikan Islam,Cet.VIII,(Bandung:Al-Ma’arif,1989),hlm.10
[18] Abd Haris, Filsafat Pendidikan Islam, ( Jakarta : Amzah), cetakan pertama Mei 2012, hal.41
[19] Abd Haris, Filsafat Pendidikan Islam, ( Jakarta : Amzah), cetakan pertama Mei 2012, hal.43
[20] Abudin Nata, Filsafat Pendidikan Islam, ( Ciputat: Logos Wacana Ilmu, 1997), hlm.93-94

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

terimakasih atas kunjungannya jangan lupa komen

iklan otomatis