BAB II
PEMBAHASAN
KEPRIBADIAN PERSPEKTIF ISLAM
A. Hakikat Manusia1. Manusia adalah makhluk Allah
Keberadaan manusia di dunia ini bukan kemauan sendiri, atau hasil proses evolusi alami, melainkan kehendak Allah. Dengan demikian, manusia dalam hidupnya mempunyai ketergantungan kepada-Nya. Manusia tidak bisa lepas dari ketentuan-Nya. Sebagai makhluk, manusia berada dalam posisi lemah (terbatas), dalam arti tidak bisa menolak, menentang atau merekayasa yang sudah dipastikan-Nya. Dalam Al-Qur'an, surat At-Tin, ayat 4 Allah berfirman:
"Sungguh kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sangat baik sempurna)".
Manusia adalah makhluk Allah, ciptaan Allah dan secara kodrati merupakan makhluk beragama atau pengabdi Allah, seperti tercermin dalam sabda Nabi Muhammad Saw sebagai berikut"
مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُـمَجِّسَانِهِ
“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi"" (H.R Muslim).
Sesuai dengan fitrahnya tersebut, manusia bertugas untuk mengabdi kepada Allah, seperti difirmankan Allah sebagai berikut.
"Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk mengabdi kepada-Ku " (QS Adz-Dzariyat:56).
Manusia merupakan makhluk Allah yang paling sempurna dan ciptaan yang terbaik, ia di lengkapi akal dan pikiran, dalam hal ini ibnu ‘Arabi melukiskan hakikat manusia, yang memiliki daya hidup, mengetahui, berkehendak, berbicara, melihat, mendengar, berpikir, dan memutuskan.
Di dalam Alqur’an ada tiga makna yang menunjukkan makna manusia :
1. Al-Basyar yaitu berarti kulit kepala, wajah, atau tubuh atau yang menjadi tempat tumbuhnya rambut.
2. Al-insan yaitu kesempurnaan sesuai dengan tujuan penciptaannya dan keunikan manusia sebagai makhluk Allah yang telah di tinggikannya beberapa derajat dari makhluk lainnya.
3. An-nas yaitu kata An-nas di nyatakan dalam al-qur’an untuk menujukkan bahwa sebagian besar manusia tidak memiliki ketepatan keimanan yang kuat, kadangkala ia beriman, sementara pada waktu yang lain ia munafik.
2. Manusia adalah Khalifah di Muka Bumi
Hal ini berarti, manusia berdasarkan fitrahnya adalah makhluk sosial yang bersifat altruis (mementingkan/membantu orang lain), menilik fitrahnya ini,manusia memiliki potensi atau kemampuan untuk bersosialisasi, berinterkasi sosial secara positif dan konstruktif dengan orang lain atau lingkungannya. Sebagai khalifah manusia mengemban amanah atau tanggung jawab (responsibility) untuk berinisiatif dan berpartisipasi aktif dalam menciptakan tatanan kehidupan masyarakat yang nyaman dan sejahtera dan berupaya mencegah (preventif) terjadinya pelecehan nilai-nilai kemanusiaan dan perusakan lingkungan hidup (regional global) ( Syamsu, 2007: 210). Manusia menurut konteks Islam merupakan 'Khalifah di muka bumi". Artinya manusia berfungsi sebagai pengelola alam dan memakmurkannya. Ini tersurat dan tersirat dari firman Allah sebagai berikut:
"Dia-lah yang menjadikan kamu khalifah di muka bumi (QS. Fatir:39). Selanjutnya Allah berfirman : Dan Dia menundukkkan untukmu apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi semuanya, sebagai rahmat dari-Nya. (QS. Al-Jatsiyah:3)
Al-qur’an menegaskan bahwa manusia di ciptakan Allah sebagai pengemban amanah, di antara amanah yang di bebankan kepada manusia memakmurkan kehidupan di bumi. Karena sangat mulianya manusia sebagai pengemban amanah Allah maka manusia di beri kedudukan sebagai khalifahnya di bumi :
•
30. ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."
Menurut Ahmad Mustofa Al-maraghi, kata khalifah dalam ayat ini memiliki dua makna. Pertama, Khalifah adalah pengganti, yaitu pengganti Allah SWT, untuk melaksanakan titahnya di bumi. Kedua, manusia adalah pemimpin yang kepadanya di serahi tugas untuk memimpin diri dan makhluk lainnya serta memakmurkan dan mendayagunakan alam semesta bagi kepentingan manusia secara keseluruhan ( Al-maroghi, 1 dan 2, 1985 : 131 )
Salah sati implikasi terpenting dari kekhalifahan manusia di bumi ini adalah pentingnya kemampuan untuk memahami alam semesta tempat dia hidup dan menjalankan tugasnya. Manusia memiliki kemungkinan untuk hal ini dikarenakan kepadanya di anugrahkan allah berbagai potensi.
Manusia yang di anggap sebagai khalifah allah tidak dapat memegang tanggung jawab sebagai khalifah kecuali kalau ia di perlengkapi dengan potensi-potensi yang membolehkannya berbuat demikian. Al-qur’an menyatakan ada beberapa cirri-ciri yang di milikinya. Pertama, bahwa dari segi fitrahnya manusia adalah baik semenjak dari awal. Roh, interaksi antara badan dan Roh yang menghasilkan khalifah. Inilah cirri yang membedakan khalifah itu dari makhluk lainnya. Ketiga, kebebasan kemauan, dia memiliki kebebasan dan kemauan, kemauannya yang bebaslah menyebabkan ia memilih ini atau itu yang berinteraksi dengan fitrahnya, cara fitrahnya itu yang berfungsi di pengaruhi oleh kebebasan yang dimiliki oleh manusia. Kelima, akal. Yang dapat membedakan manusia antara yang baik dengan yang salah.
3. Manusia adalah Makhluk yang Mempunyai Fitrah Beragama
Melalui fitrahnya ini manusia mempunyai kemampuan untuk menerima nilai-nilai kebenaran yang bersumber dari agama, dan sekaligus menjadikan kebenaran agama itu sebagai tolok ukur atau rujukan perilakunya.
Allah berfirman :
"...bukanlah Aku ini Tuhanmu? Mereka menjawab, ya kami bersaksi bahwa Kau adalah Tuhan kami". (QS. Al-A'rof:172).
4. Manusia Berpotensi Baik (Takwa) dan Buruk (Fujur)
Manusia dalam hidupnya mempunyai dua kecenderungan atau arah perkembangan, yaitu takwa, sifat positif (beriman dan beramal shaleh) dan yang fujur, sifat negatif (musyrik, kufur, dan berbuat maksiat/ jahat/buruk/zolim). Dua kutub kekuatan ini saling mempengaruhi. Kutub pertama mendorong individu untuk berperilaku yang normatif (merujuk nilai-nilai kebenaran), dan kutub lain mendorong individu untuk berperilaku secara impulsif dorongan naluriah, instinktif, hawa nafsu). Dengan demikian manusia dalam hidupnya senantiasa dihadapkan pada situasi konfiik antara benar-salah atau baik -buruk.
Dalam surat Asy-Syamsu: 8-10, difirman
"Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa manusia sifat fujur dan takwa. Sungguh bahagia orang-orang yang mensucikan jiwanya, dan sungguh celaka orang yang mengotori jiwanya".
5. Manusia Memiliki Kebebasan Memilih (Free Choice)
Dalam surat Ar-ra'du: l 1 Allah berfirman:
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah apa yang dimiliki (termasuk dirinya)suatu kaum, sehingga mereka sendiri mengubah (berinisiatif/merekayasa) dirinya sendiri."
Manusia diberi kebebasan untuk memilih kehidupannya, apakah mau beriman atau kufur kepada Allah. Apakah manusia akan memilih jalan hidup yang sesuai dengan ajaran agama atau memperturutkan hawa nafsunya. Dalam hal ini, manusia mempunyai kemampuan untuk berupaya menyelaraskan arah perkembangan dirinya dengan tuntutan normatif, nilai-nilai kebenaran, yang dapat memberikan kontribusi atau manfaat bagi kesejahteraan umat manusia, juga memiliki kemampuan untuk menjalani kehidupan yang berseberangan dengan nilai-nilai agama, sehingga menimbulkan suasana kehidupan (personal-sosial), yang anarki, destruktif atau tidak nyaman.
Dapat kami simpulkan bahwasannya manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang paling sempurna dan ciptaan yang terbaik. Ia di lengkapi akal dan pikiran, sehingga bisa membedakan yang mana yang hak yang di perintahkan oleh Allah dan yang batil yang di larang oleh Allah Swt.
B. Makna Kepribadian
Kata kepribadian dalam kamus bahasa Indonesia bermakna sifat hakiki yang tercermin dalam sikap seseorang atau suatu bangsa yang membedakan dirnya dari orang lain atau bangsa laian. Dalam bahasa inggris disebut personality yang diterjmahkan dalam bahasa Indonesia menjadi kepribadaian.
Dalam kamus psikologi yang ditulis oleh james P.chaplin ia menyebutkan beberapa pengertian kepribadian dari tokoh kejiwaan diantaranya:
• G. Alport mengartikan kepribadian sebagai organisasi dinamis dalam individu yang terdiri dari system psikofisik yang menentukan tinggah laku dan pikiran secara karekteristik.
• R.B. cattel mengartikan kepribadian sebagai segala sesuatu yang memungkinkan satu peranan dari apa yang akan dilakukan seseorang dalam situasi tertentu.
Sigmund Feud merumuskan sistem kepribadian menjadi tiga sistem. Ketiga sistem itu dinamainya id, ego dan super ego. Dalam diri orang yang memiliki jiwa yang sehat ketiga sistem itu bekerja dalam suatu susunan yang harmonis. Segala bentuk tujuan dan gerak geriknya selalu memenuhi keperluan dan keinginan manusia yang pokok. Sebaliknya kalau ketiga sistem itu bekerja secara bertentangan satu sama lainnya, maka orang tersebut dinamainya sebagai orang yang tak dapat menyesuaikan diri.
1. Das es (the Id), sebagai suatu sistem id mempunyai fungsi menunaikan prinsip kehidupan asli manusia berupa penyaluran dorongan naluriah.
2. Das Ich (the ego), merupakan sistem yang berfungsi menyalurkan dorongan id ke keadaan yang nyata.
3. Das veber ich (the super ego), sebagai suatu sistem yang memiliki unsur moral dan keadilan, maka sebagian besar super ego mewakili alam ideal. Tujuan super ego adalah membawa individu ke arah kesempurnaan sesuai dengan pertimbangan keadilan dan moral.
a. Dinamika Kepribadian
Allah berfirman :
"Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa manusia, fujur, (kefasikan/ kedurjanaan) dan takwa (beriman dan beramal shaleh)." (QS. Asy-syamsu: 8).
Ayat ini menunjukkan bahwa manusia dalam hidupnya senantiasa dihadapkan dengan suasana perjuangan untuk memilih antara haq (takwa-kebenaran) dengan yang batnil (fujur), antara aspek-aspek material semata (sekuler-duniawi) dengan spiritual (ilahiyah).
Manusia memang bukan malaikat, yang selamanya istikomah dalam kebenaran (At-Tahrim:6), tetapi juga bukan setan, yang selamanya dalam kebathilan, kekufuran, kemaksiatan) dan senantiasa mengajak manusia ke jalan yang dilarang Allah (Qs. Al-Baqarah: 168)
Manusia adalah makhluk yang netral, kepribadiannya itu bisa berkembang seperti malaikat, bisa juga seperti syetan. Hal ini amat bergantung kepada pilihannya tadi, apakah manusia mengisi jiwa atau kalbunya dengan ketakwaan atau dengan fujur. Apabila yang dipilihnya itu ketakawaan, maka kalbu (fungsi rohaniah sebagai perpaduan antara akal dan rasa) akan menggerakkannya untuk berperilaku yang bermakna (beramal shaleh) dan berpribadi mulia. Tetapi apabila yang dipilihnya itu "fujur", maka dia akan berpribadi mufsid (pembuat keonaran di muka bumi), biang kemaksiatan.
Berkaitan dengan hal tersebut, Allah berfirman :
"Sungguh berbahagialah orang yang mensucikan jiwanya (qolbunya) dan sungguh merugilah (celakalah) orang yang mengotorinya". (QS. Asy-syamsu:9-10)
Kata zakkaa ( mensucikan) atau dassa ( mengotori), keduanya adalah kata kerja (fi'il) yang menunjukkan keperilakuan manusia. Hal ini menunjukkan bahwa manusia telah diberi kemampuan untuk mengambil keputusan, dan melakukan keputusan itu dengan segala resikonya. Ayat ini menjelaskan, bahwa Islam menolak pendapat bahwa manusia sebagai makhluk deterministik (baik intrapsikis maupun lingkungan).
Manusia akan mengalami konflik psikis, manakala dia tidak mengambil keputusan, membiarkan jiwanya terkurung (terbelenggu) oleh keraguan antara mengambil kebenaran (komitmen kepada haq), dengan mengambil yang salah (memperturutkan hawa nafsu).
Bagi mereka yang komitmen kepada kebenaran (memaknai hidupnya dengan kebenaran), meskipun harus menempuh perjuangan hidup yang sulit, maka dia akan lahir, berkembang sebagai manusia yang berpribadi mantap. Inilah orang yang dipanggil secara khusus oleh Allah/. Allah berfirman 'Hai jiwa yang tenang (nafsul muthmainah) kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridloi-Nya. Masuklah ke dalam jama'ah hambaku dan masuklah ke dalam surga-Ku.
C. Tipe Kepribadian
Pilihan manusia terhadap dua masalah besar dalam kehidupannya, yaitu "hak" dan "bathil" akan melahirkan perilaku-perilaku tertentu, sesuai dengan karakteristik atau tuntutan yang hak atau bathil tersebut.
Perilaku-perilaku tersebut mengkristal dalam pola-pola tertentu yang satu sama lainnya sangat berbeda. Pola-pola perilaku tertentu yang dimiliki individu dan bersifat konstan atau tetap dapat dikategorikan sebagai tipe kepribadian. Tipe kepribadian dalam kontek Al-Qur'an dapat dikelompokkan menjadi tiga macam yaitu mukmin (orang yang beriman), kafir(menolak kebenaran) dan munafik (meragukan kebenaran). (Syamsu Yusuf, 2007: 215).
a. Tipe Mukmin
Tipe kepribadian mukmin mempunyai karakteristik sebagai berikut.
• Berkenaan dengan akidah, beriman kepada Allah, malaikat, rasul, kitab, hari akhir, dan qodar
• Berkenaan dengan ibadah, melaksanakan rukun islam
b. Tipe Kafir
Tipe kepribadian kafir mempunyai karakteristik sebagai berikut:
• Berkenaan dengan Akidah; tidak beriman kepada Allah dan rukun iman yang lainnya
• Berkenaan dengan ibadah: menolak beribadah kepada Allah
c. Tipe Munafik
• Berkenaan dengan akidah : bersifat ragu dalam beriman
• Berkenaan dengan ibadah : besifat riya, dan bersifat malas
D. Implikasi teori Kepribadian Islami terhadap Bimbingan Konseling
Ada lima implikasi teori kepribadian islami terhadap bimbingan dan konseling yaitu Pengertian, prinsip, tujuan,
E. Fungsi dan kegiatan bimbingan konseling
1. Funsi pemahaman, yaitu membantu indifidu agar dapat memahami jati dirinya.
2. Fungsi preventif yaitu, membantu individu menjaga dan mencegah dirinya dari faktor-faktor yang dapat menimbulkan masalah bagi dirinya
3. Fungsi kuratif atau korektif yaitu, membantu individu memecahkan masalah yang sedang di hadapi atau di alaminya.
4. Fungsi pengembangan yaitu, membantu individu agar dapat mengembangkan potensi dirinya.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad , Zainuddin, Mukhtashar Shakhikhul Bukhari, (Beirut: Darul Kutb Al-Alamiyah, t.t.),
Alwisol, Psikologi Kepribadian, (Malang: UMM Press,2005
Departemen pendidikan dan kebudayaan, kamus besar bahasa Indonesia,( balai pustaka Jakarta 1990)
Langgulung , Hasan, Manusia dan Pendidikan, Cet III, Jakarta, Al-husna Zikra. 1995.
Umar , Bukhori, Ilmu Pendidikan Islam, cet II, Jakarta, Amzah, 2011.
Yusuf , Syamsu Dkk, Teori Kepribadian, Cet I, Bandung, Rosda, 2007,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
terimakasih atas kunjungannya jangan lupa komen