KONVERGENSI ASPEK KECERDASAN DAN PENDIDIKAN AGAMA DALAM PAUD
Oleh: Muhammad Syaman
A.
Pendahuluan
Menurut ayat suci yang termaktub dalam Al-Qur’an dijelaskan bahwa
anak lahir seperti kertas putih, anak tersebut akan menjadi anak Majusi atau
Yahudi, tergantung oleh pendidikan yang diperoleh. Pendidikan untuk anak usia
dini juga sangat penting dalam pembentukan karakter pada anak. Menurut Islam
pendidikan anak dimulai sejak anak dalam kandungan. Contohnya seorang ibu
disarankan banyak membaca ayat suci, Al-Qur’an, dan dinasehatkan banyak
berbuat kebajikan. Pada waktu ibu mengandung dianjurkan bayi yang masih dalam
kandungan didengarkan lagu-lagu yang Islami, hal itu akan mempengaruhi karakter
anak jika kelak ia dewasa nanti itu merupakan bukti, bayi dalam kandungan
terdidik dengan baik.
Pada saat lahir, oleh ayahnya dikumandangkan suara adzan
suara ini adalah suara pertama kali yang dia dengar dan diharapkan
kelak dia dewasa anak tergerak jika mendengar adzan dan melaksanakan sholat.
Pada usia dini merupakan masa-masa golden age, pada masa golden
age berumur 0-6 tahun pada masa ini otak anak berkembang 80%. Pada masa ini
pula anak-anak mudah dibentuk. oleh karena itu, anak perlu dibimbing dengan
cara yang baik dan sesuai dengan usianya, agar nantinya dia menjadi anak
yang unggul dalam agama maupun intelektualnya. Oleh Karena itu peran
pendidik dan orang tua dalam mendidik anak sangat penting. Orang tua dan
pendidik harus melihat potensi anak yang dimilikinya dan orang tua maupun
pendidik harus membantu mengembangkan potensi yang dia miliki, dan jangan
sampai orang tua memaksa kehendak pada anaknya.
Selain itu, pendidikan harus
mempunyai landasan yang jelas dan terarah. Landasan tersebut sebagai acuan atau
pedoman dalam proses penyelenggaraan pendidikan, baik dalam institusi
pendidikan formal, non formal maupun informal. Yang dimaksud landasan yang
jelas dan terarah adalah bahwa pendidikan harus berprinsip pada pengokohan
moral agama anak didik di samping aspek-aspek lainnya. Hal ini sangat
diperlukan sebagai upaya untuk mengantarkan anak didik agar dapat berpikir,
bersikap, dan berperilaku secara terpuji (akhlak al-karimah). Upaya
tersebut bisa dilakukan oleh para pendidik (guru dan orang tua) pada program
PAUD. Pertumbuhan dan perkembangan merupakan proses alami yang terjadi dalam
kehidupan manusia, dimulai sejak dalam kandungan sampai akhir hayat.
Pertumbuhan lebih menitikberatkan pada perubahan fisik yang bersifat
kuantitatif, sedangkan perkembangan yang bersifat kualitatif berarti
serangkaian perubahan progesif sebagai akibat dari proses kematangan dan
pengalaman.Manusia tidak pernah statis, semenjak pembuahan hingga ajal selalu
terjadi perubahan, baik fisik maupun kemampuan psikologis.[1]Kecerdasan
merupakan salah satu faktor utama yang menentukan sukses gagalnya peserta didik
belajar di sekolah. Peserta didik yang mempunyai taraf kecerdasan rendah atau
di bawah normal sukar diharapkan berprestasi tinggi. Tetapi tidak ada jaminan
bahwa dengan taraf kecerdasan tinggi seseorang secara otomatis akan sukses
belajar di sekolah.[2]
Bagaimana aspek pertumbuhan pada manusia saat usia dini? Apa saja
aspek kecerdasan manusia menurut para pakar? Bagaimana cara memberikan
pendidikan agama kepada anak usia dini menurut tafsir Al-Qur’an?. Mungkin pertanyaan ini sempat terlintas di benak kita. Oleh karena itu
pertanyaan-pertanyaan inilah yang akan pemakalah coba jawab di dalam makalah
ini.
B.
Aspek Pertumbuhan Pada Manusia Saat Usia Dini
Mansur mengungkapkan dalam bukunya pendidikan anak usia
dini dalam Islam dijelaskan bahwa pertumbuhan dan perkembangan merupakan proses
alami yang terjadi dalam kehidupan manusia, dimulai sejak dalam kandungan
sampai akhir hayat. Pertumbuhan lebih menitik beratkan pada perubahan fisik yang
bersifat kuantitatif, sedangkan perubahan progresif sebagai akibat dari proses
kematangan dan pengalaman.[3]Pertumbuhan
adalah perubahan ukuran dan bentuk tubuh atau anggota tubuh misalnya bertambah
berat badan. Sedangkan perkembangan adalah perubahan mental yang berlangsung
secara bertahap dan dalam waktu tertentu, dari kemampuan yang sederhana menjadi
kemampuan yang lebih sulit, misalnya kecerdasan, sikap, tingkahlaku dan
sebagainya.[4]Untuk
mengembangkan berbagai kemampuan atau potensi anak , maka dikembangkan
aspek-aspek pengembangan, yakni: pengembangan moral dan nilai-nilai agama,
pengembangan fisik, pengembangan bahasa, pengembangan kognitif, pengembangan
sosio-emosional, pengembangan seni dan kreatifitas.
Sesuai dengan tujuan pendidikan anak usia dini, yaitu menyiapkan
anak untuk berkembang secara komprehensif, sudah barang tentu orientasi
pendidikan pada anak usia dini tidak hanya terbatas pada aspek pengembangan
kecerdasan semata, tetapi juga mencakup aspek perkembangan yang lebih luas.
Aspek-aspek perkembangan yang terjadi pada anak usia dini meliputi: aspek fisik
dan motorik, aspek kognitif, aspek bahasa, aspek moral dan nilai-nilai agama,
aspek sosio-emosional, aspek seni dan kreativitas.[5]
1.
Perkembangan
Fisik dan Motorik
Menurut Elizabeth, perkembangan fisik sangat pentingdipelajari,
karena baik secara langsung maupun tidak langsung akan mempengaruhi perilaku
anak sehari-hari. Secara langsung, perkembangan fisik anak akan menentukan keterampilan
anak dalam bergerak. Secara tidak langsung, pertumbuhan dan perkembangan fisik
akan mempengaruhi bagaimana anak itu memandang dirinya sendiri dan bagaimana ia
memandang orang lain.
Perkembangan motorik kasar diperlukan untuk keterampilan
menggerakkan dan menyeimbangkan tubuh. Pada usia dini anak masih mnyukai
gerakan sederhana seperti melompat dan berlari. Perkembangan motorik halus
meliputi perkembangan otot halus meliputi perkembangan otot halus dan
fungsinya. Otot ini berfungsi untuk melakukan gerakan-gerakan bagian tubuh yang
lebih spesifik: seperti menulis, melipat, merangkai, mengancing baju dan lain
sebagainya. Adapun perkembangan motorik pada anak mengikuti delapan pola umum,
yaitu:
a.
Continuity
Dimulai dari sederhana ke yang lebih kompleks sejalan dengan
bertambahnya usia anak
b.
Unifrom
sequence (memiliki harapan yang sama)
Memiliki pola tahapan yang sama untuk semua anak. Meskipun
perkembangan kecakapan anak berbeda-beda.
c.
Meturity (kematangan)
Dipengaruhi oleh perkembangan sel saraf dari
gerakan yang bersifat umum ke khusus.
d.
Chepalo-coudal
direction
Bagian yang mendekati kepala berkembang lebih dahulu dari bagian
mendekati ekor.
e.
Bersifat proximu-distal
Bahwa bagian yang mendekati sumbu tubuh berkembang lebih dulu dari
yang lebih jauh.
f.
Koordinasi
bilateral menuju crosslateral
Bahwa koordinasi organ yang sama berkembang lebih dahulu sebelum
melakukan koordinasi organ bersilangan.
Dapat dikatakan bahwa kompetensi dan hasil beajar yang ingin
dicapai dalam aspek pengembangan fisik adalah kemampuan mengelola dan keterampilan
tubuh termasuk gerakan-gerakan yang mengontrol gerakan tubuh, gerakan halus,
gerakan kasar, serta menerima rangsangan dari panca indra.[6]
Ada beberapa hal tentang tahap awal pendidikan pada usia 0-1 tahun,
yaitu:
a.
Telungkup,
tahap awal yang dilakukan bayi ketika rata-rata berusia 6-9 bulan.
b.
Duduk,
tahap selanjutnya untuk melangkah proses pendidikan selanjutnya.
c.
Merangkak
dan merayap.
d.
Berdiri
dan belajar, yang merupakan tonggak awal untuk melatihkecerdasan fisik yang
berkaitan dengan pendidikan gerakan.
Sebagai pendidik anak usia dini harus memiliki sebuah acuan
didalam penilaian perkembangan ataupun yang harus di perhatikan sesuai
perkembangan yang harus dicapai, pada hal ini aspek-aspek yang harus
diperhatikan pada perkembangan fisik motorik:
a.
Motorik
kasar antara lain meliputi : Memenjat tali, tangga, panjatan, berlari, dan
sebagainya.
b.
Motorik
halus, meliputi: Menarik resleting, mengancing baju, menggunting pola, mengikat
tali sepatu, mewarnai pola, dan sebagainya.
c.
Organ
sensor, meliputi:Mendengarkan perintah guru dari jauh, melihat tulisan atau
bagan di papan tulis dari jauh, mengenali berbagai benda dalam kotak tanpa
melihat, dan sebagainya.
d.
Kesehatan
badan antara lain meliputi:Seimbang antara tinggi dan berat badan, aktif dan
lincah, catatan kehadiran baik, dan sebagainya.[7]
2.
Perkembangan
Kognitif
Perkembangan kognitif pada umumnya sangat berhubungan dengan masa
perkembangan motorik. Perkembangan kognitif menggambarkan bagaimana pikiran
anak berkembang dan berfungsi, sehingga dapat berfikir.[8]Perkembangan
kognitif adalah proses dimana individu dapat meningkatkan kemampuan dalam
menggunakan pengetahuannya. Kognisi adalah fungsi mental yang meliputi
persepsi, pikiran, simbol, penalaran, dan pemecahan masalah.[9]Istilah
kognisi (cognition) dimaknai sebagai setrategi untuk mereduksi
kompleksitas dunia. kognisi juga dimaknai sebagai cara bagaimana manusia
menggambarkan pengalaman mengenai dunia dan bagaimana mengorganisasi pengalaman
mereka.[10]
Aspek
yang dipantau dari Perkembangan aspek Kognitif yaitu:
a.
Informasi
atau pengetahuanfigurative meliputi: Mengenal nama-nama warna, mengenal
nama berbagai benda yang ada dirumah dan fungsinya, mengenal nama bagian-bagian
tubuh, dan sebagainya.
b.
Pengetahuan
prosedur atau operatif antara lain, meliputi: Menjelaskan
bagaimana cara pergi dan pulang sekolah, menjelaskan cara
menggunakan berbagai peralatan dirumah atau disekolah, mampu membandingkan dua
objek atau lebih, dan sebagainya.
c.
Pengetahuan temporal
dan spesial meliputi: Mengetahui nama hari dan tanggal, mengetahui waktu
(siang, sore, malam, kemarin, besok), musim, dan cuaca, mengenal lokasi
(diatas, dibawah, disamping, kanan, kiri, tinggi, rendah) dan sebagainya.
d.
Pengetahuan
dan pengingat memori meliputi:Mengingat alfabet, mengingat nama-nama teman, mengingat nama hari dan sebagainya.[11]
3.
Perkembangan
bahasa
Perkembangan bahasa mengikuti suatu urutan yang dapat diamalkan
secara umum sekalipun terdapat vareasi diantara anak satu dengan lainnya,
dengan tujuan untuk mengembangkan kemampuan anak berkomunikasi. Kebanyakan anak
memulai perkembangan bahasanya dari menangis untuk mengekspresikan responnya
terhadap bermacam-macam stimulan. Setelah itu anak mulai memeram yaitu
melafalkan bunyi yang tidak ada artinya secara berulang. Setelah itu anak mulai
belajar kalimat dengan satu kata, seperti “maem” yang artinya minta makan. Anak
pada umumnya belajar nama-nama benda sebelum kata-kata yang lain. Brewer
mengklasifikasikan bahasa anak sebagai referensial dan ekspresif. Kata-kata
benda pada umumnya digolongkan dalam referensial, sedangkan kata-kata sosial digolongkan
sebagai ekspresif. Perkembangan bahasa belum sempurnasampai akhir masa bayi,
dan akan terus berkembang sepanjang kehidupan seseorang. Anak terus membuat
perolehan kosa kata baru, dan anak usia 3-4 tahun mulai belajar menyusun
kalimat Tanya dan kalimat negative.[12]
Perkembangan bahasa bertujuan untuk mengembangkan kemampuan anak
atau seseorang untuk berkomunikasi. Pada anakberusia 3-4 tahun mulai belajar
menyusun kalimat tanya dan kalimat negatif. Pada usia 5 tahun mereka telah
menghimpun kuranglebih 8.000 kosa kata, disamping itu telah menguasai hampir
semua bentuk dasar tata bahasa.[13]
Adapun aspek yang perlu dipantau dari perkembangan bahasa,
yaitu:
1.
Mampu
berkomunikasi dengan orang dewasa dan orang lain.
2.
Mampu
mengkomunikasikan ide melalui drama, bermain, atau tulisan.
3.
Mengenal
huruf, memiliki kosa kata cukup, dan menunjukkan perkembangan membaca.[14]
4.
Perkembangan
moral dan nilai-nilai agama
Moral merupakan suatu nilai yang dijadikan pedoman dalam bertingkah
laku. Perkembangan moral yang terjadi pada anak usia dini sifatnya masih
relative terbatas. Seorang anak belum mampu menguasai nilai-nilai yang abstrak
berkaitan dengan benar-salah dan baik buruk. Menurut Piaget, pada awal
pengenalan nilai dan pola tingkatan itu asih bersifat paksaan, dan anak belum
mengetahui maknanya. Akan tetapi, sejalan dengan perkembangan inteleknya, anak
berangsur-angsur mulai mengikuti berbagai ketentuan yang berlaku didalam
keluarga. Semakin lama semakin luas, sehingga ketentuan yang berlaku didalam
masyarakat dan negaranya.[15]
Semua manusia dilahirkan dalam keadaan lemah, baik fisik maupun
psikis. Walaupun dalam keadaan lemah, namun ia telah memiliki kemampuan bawaan
yang bersifat laten. Potensi bawaan ini memerlukan pengembangan melalui
bimbingan dan pemeliharaan yang mantap, lebih-lebih pada usia dini. Ada
pendapat yang mengatakan bahwa anak dilahirkan bukanlah sebagai makhluk yang
religius, bayi sebagaimanusia dipandang dari segi bentuk dan bukan kejiwaan.
Ada pula pendapat yang mengatakan bahwa anak sejak lahir telah membawa fitrah
keagamaan, fitrah itu baru berfungsi dikemudian hari melalui proses bimbingan
dan latihan setelah berada pada tahap kematangan.[16]
a.
Perkembangan
agama pada anak
1.
The
fairty tale stage (tingkat
dongeng)
Pada tingkatan ini dimulai pada anak berusia 3-6 tahun.pada anak
dalam tingkatan ini konsep mengenai Tuhan lebih banyak dipengaruhi
oleh fantasi dan emosi.
2.
The
realistic stage (tingkat
kenyataan)
Tingkat ini dimulai sejak anak masuk sekolah dasar hingga sampai ke
usia (masa usia) adolesense. Pada masa ini ide ketuhanan anak sudah
mencerminkan konsep-konsep yang berdasarkan kepada kenyataan.
3.
The individual stage
Anak pada masa ini memiliki kepekaan emosi yang paling tinggi
sejalan dengan perkembangan usia mereka. Ada beberapa alasan mengenalkan
nilai-nilai agama kepada anak usia dini, yaitu anak mulai punya minat, semua
perilaku anak membentuk suatu pola perilaku, mengasah potensi positif diri,
sebagai individu, makhluk sosial dan hamba Allah.[17]
b.
Sifat-sifat
agama pada anak
1.
Unreflective (tidak mendalam)
Mereka menerima ajaran agama dengan tanpa kritik. Kebenaran yang
mereka terima tidak begitu mendalam sehingga cukup sekedarnya saja dan mereka
sudah cukup puas.
2.
Egosentris
Anak memiliki kesadaran akan diri sendiri sejak tahun pertama usia
perkembangannya dan akan berkembang sejalan dengan pertambahan pengalaman.
3.
Antropomorphis
Konsep ketuhanan pada diri anak menggambarkan aspek-aspek
kemanusiaan. Melalui konsep yang terbentuk dalam pikiran mereka bahwa
perikeadaan Tuhan itu sama dengan manusia.
4.
Verbalis
dan Retualis
Kehidupan agama pada anak sebagaimana besar tumbuh mula-mula secara
verbal (ucapan). Mereka menghafal secara verbal kalimat-kalimat keagamaan dan
selain itu pula dari amaliah yang mereka laksanakan berdasarkan pengalaman
menurut tuntunan yang diajarkan kepada mereka. Latihan-latihan bersifat
verbalis dan upacara keagamaan yang bersifat ritualis (praktek) mereka hal yang
berarti dan merupakan salah satu ciri dari tingkat perkembangan agama pada
anak-anak.
5.
Imitatif
Tindak keagamaan yang dilakukan oleh anak-anak pada dasarnya
diperoleh dari meniru, misalnya berdoa dan shalat.
6.
Rasa
Heran
Rasa heran dan kagum merupakan tanda dan sifat keagamaan yang
terakhir pada anak. Rasa kagum yang ada pada anak sangat berbeda pada rasa
kagum pada orang dewasa. Rasa kagum pada anak ini belum bersifat kritis dan
kreatif, sehingga mereka hanya kagum terhadap keindahan lahiriyah.[18]
Aspek perkembangan yang perlu dipantau dari
perkembanganmoral yaitu:
1.
Mengenal
aturan sekolah
2.
Mengenal
sopan santun
3.
Mengenal
otoritas[19]
5.
Perkembangan
sosio-emosional
Perkembangan sosial anak dimulai dari sifat egosentrik, individual,
kearah interaktif komunal. Pada mulanya anak bersifat egosentrik, hanya dapat
memandang dari satu sisi, yaitu dirinya sendiri. Ia tidak mengerti bahwa orang
lain bisa berpandangan berbeda dengan dirinya, maka pada usia 2-3
tahun anak masih suka bermain sendiri. Selanjutnya anak mulai
berinteraksi dengan anak lain, mulai bermain bersama dan tumbuh sifat sosial.
Perkembangan sosial meliputi dua aspek penting, yaitu kompetensi sosial dan
tanggung jawab sosial.[20]
Sejumlah studi tentang emosi anak akan menyingkapkan bahwa
perkembangan emosi mereka bergantung sekaligus pada faktor pematangan (maturation)
dan faktor belajar, dan tidak semata-mata bergantung pada salah satunya. Reaksi
emosional yang tidak muncul pada awal masa kehidupan tidak berarti tidak ada,
reaksi emosional itu mungkin akan muncul dikemudian hari, adanya pematangan dan
sistem endoktrin.[21]
Emosi merupakan perasaan yang melibatkan perpaduan antara gejolak
fisiologi dan perilaku yang terlihat. Adanya sifat egosentrisme yang tinggi
pada anak disebabkan anak belum dapat memahami perbedaan perspektif pikiran
orang lain. Ada beberapa aspek perkembangan sosio-emosional yang perlu
dikembangkan pada anak usia dini. Belajar bersosialisasi diri, yaitu usaha
untuk mengembangkan rasa percaya diri dan rasa kepuasan bahwa dirinya diterima
dikelompoknya. Belajar berekspresi diri, yaitu belajar mengekspresikan bakat,
pikiran dan kemampuannya tanpa harus dipengaruhi oleh keberadaan orang dewasa.
Belajar mandiri dan berdiri sendiri lepas dari pengawasan orang tua atau
pengasuh. Belajar masyarakat, menyesuaikan diri dengan kelompok, bekerja sama,
saling membagi, bergiliran, dan bersedia menerima aturan-aturan dalam kelompok.
Belajar mengembangkan daya kepemimpinan anak. Maka keluarga berperan penting
untuk mendidik anak tersebut.[22]
Beberapa trend yang berhubungan dengan pengaturan emosi selama masa
kanak-kanak adalah:
a.
berasal
dari sumber daya eksternal ke internal. Bayi sepenuhnya tergatung dari sumber
daya eksternal orangtua untuk pengaturan emosinya. Ketika anak bertambah usia,
mereka mulai melakukan pengaturan mandiri terhadap emosi mereka.
b.
Strategi
kognitif. Untuk pengaturan emosi” seperti berfikir positif tentang suatu
situasi, penghindaran kognitif dan pengalihan atau pemfokusan atensi, yang
berkembang seiring dengan pertambahan usia.
c.
Rangsangan
emosi. Seiring dengan kedewasaan, seorang anak akan dapat mengontrol rangsangan
emosinya.
d.
Memilih
dan mengatur konteks dan hubungan. Seiring dengan bertambahnya usia, anak akan
dapat memilih dan mengatur situasi dan hubungan sosial, sehigga mengurangi
emosi negative.
e.
Coping
terhadap stress. Dengan bertambahnya usia anak-anak akan lebih mampu untuk
mengembangkan strategi, coping stress yang lebih baik.[23]
Meskipun demikian dalam pengaturan emosi, setiap anak sangat
beragam didalam menyalurkan emosinya. Bahkan yang paling menonjol yang dimiliki
oleh anak yaitu kesulitan anak dalam mengontrol emosi, bukan hanya anak-anak
saja, melainkan remaja awal sampai dewasa bahkan usia lanjut juga sering
mengalami kesulitan didalam mengontrol emosi.
Kemampuan sosio emosional yang harus dikuasai anak usia 3-4 tahun
adalah anak dapat mengekspresikan wajah saat sedih, marah, takut, dan
sebagainya, bisa menjadi pendengar dan pembicara yang baik, membereskan mainan
setelah selesai bermain, sabar menunggu giliran dan terbiasa antri, mengenal
aturan dan mengikuti peraturan, mengerti akibat jika melakukan kesalahan,
memiliki kebiasaan yang teratur.[24] Kemampuan
yang ingin dicapai dalam aspek pengembangan sosio-emosional adalah kemampuan
mengenal lingkungan alam, lingkungan sosial, peranan masyarakat, menghargai
keragaman sosial dan budaya, serta mampu mengembangkan konsep diri, sikap
positif terhadap belajar, kontrol diri, dan rasa memiliki.
Aspek perkembangan sosial yang perlu dipantau, yaitu:
a.
Interpersonal
meliputi:Mampu bermain bersama teman, mau bergantian dan antri, mengikuti
perintah dan petunjuk guru, mampu berteman, berkomunikasi, dan membantu teman.
b.
Personal,
meliputi: Mau merespon dan menjawab pertanyaan guru, mampu mengekspresikan
diri dikelas, percaya diri untuk bertanya, mengemukakan ide, dan tampil, dan
sebagainya.[25]
c.
Aspek
perkembangan emosi yang perlu dipantau, yaitu:Menunjukkan rasa sayang pada
teman, orang tua, guru, menunjukkan rasa empati dan menolong teman, mengontrol
emosi dan agraris, tidak melukai atau menyakiti teman.[26]
6.
Perkembangan
seni dan kreatifitas
Munandar mengungkapkan tentang beberapa pengertian kreativitas.
Kreativitas adalah kemampuan untuk membuat kombinasi baru berdasarkan data,
informasi, atau unsur-unsur yang ada. Kreativiras (berfikir kreatif atau
berfikir devergent) adalah kemampuan yang berdasarkan data atau informasi yang
menemukan banyak kemungkinan jawaban terhadap suatu masalah, dimana penekanannya
adalah pada kuantitas, kegunaan dan keragaman jawaban.[27] Perilaku
yang mencerminkan kreativitas alamiah pada anak usia dini dapat diidentifikasi
dari beberapa ciri yang ada. Senang menjajaki lingkungan, mengamati dan
memegang segala sesuatu, eksplorasi secara ekspansif dan eksesif. Rasa ingin
tahunya besar, suka mengajukan pertanyaan dengan takhenti-hentinya. Bersifat
spontan menyatakan pikiran dan perasaannya. Suka berpetualang, selalu ingin
mendapatkan pengalaman-pengalaman baru. Suka melakukan eksperimen, membongkar
dan mencoba-cobaberbagai hal. Jarang merasa bosan, dan ada-ada saja yang ingin
dilakukan.[28]
Aspek perkembangan Seni, yang perlu dipantau yaitu:
1.
Mampu
mengekspresikan ide melalui gambar.
2.
Mampu
mengeksspresikan diri melalui drama.
3.
Mampu
mengikuti lagu dan senang bernyanyi.[29]
C.
Aspek Kecerdasan Manusia Menurut Para Pakar
Intelligere adalah asal kata
intelegensi yang biasa kita kenal, yang mengandung arti menghubungkan atau
menyatukan satu sama lain.[30] Novelis
Inggris abad ke-20 Aldous Huxley mengatakan bahwa anak-anak itu hebat dalam hal
rasa ingin tahu dan intelegensinya. Apa yang dimaksud Huxley ketika ia
menggunakan kata intelegensi (intelligence)? Intelegensi adalah salah
satu milik kita yang paling berharga, tetapi bahkan orang yang paling cerdas
sekalipun tidak sepakat tentang apa intelegensi itu.
Para ahli mempunyai pengertian yang beragam tentang intelegensi yaitu :
Anita E. Woolfolk mengemukakan bahwa menurut teori-teori lama, intelegensi
itu meliputi tiga pengertian, yaitu (1) kemampuan untuk belajar; (2)
keseluruhan pengetahuan yang diperoleh; (3) kemampuan untuk beradaptasi secara
berhasil dengan situasi baru atau lingkungan pada umumnya. Selanjutnya Woolfolk
mengemukakan bahwa intelegensi itu merupakan satu atau beberapa kemampuan untuk
memperoleh dan menggunakan pengetahuan dalam rangka memecahkan masalah dan
beradaptasi dengan lingkungan.[31]
Alfred Binet, seorang tokoh utama perintis pengukuran intelegensi bersama
Theodore simon mendefinisikan intelegensi atas tiga komponen yaitu (a)
kemampuan untuk mengarahkan fikiran atau mengarahkan tindakan; (b) kemampuan
untuk mengubah arah tindakan bila tindakan tersebut telah dilaksanakan dan (c)
kemampuan untuk mengkritik diri sendiri atau melakukan autocriticism.
David Wechsler pencipta skala-skala intelegensi yang populer sampai saat
ini, mendefinisikan intelegensi sebagai kumpulan atau totalitas kemampuan
seseorang untuk bertindak dalam tujuan tertentu, berfikir secara rasional,
serta mengahadapi lingkungannya dengan efektif.
Beberapa pakar mendeskripsikan intelegensi sebagai keahlian untuk
memecahkan masalah (problem-solving). Yang lainnya mendeskripsikannya sebagai kemampuan
untuk beradaptasi dan belajar dari pengalaman hidup sehari-hari. Dengan
mengkombinasikan ide-ide ini kita dapat menyusun definisi inteligensi yang
cukup fair, keahlian memecahkan masalah dan kemampuan untuk beradaptasi pada,
dan belajar dari, pengalaman hidup sehari-hari. Tetapi, bahkan definisi yang
luas ini tidak memuaskan semua orang. Seperi yang akan anda lihat sebentar
lagi, beberapa ahli teori mengatakan bahwa keahlian bermusik harus dianggap
sebagai bagian dari intelegensi. Juga, sebuah definisi intelegensi yang
didasarkan pada teori seperti teori Vygotsky harus juga memasukkan faktor
kemampuan seseorang untuk menggunakan alat kebudayaan dengan bantuan individu
yang lebih ahli. Karena intelegensi adalah konsep yang abstrak dan luas, maka
tidak mengherankan jika ada banyak definisi. Jadi menurut Santrock (2008)
intelegensi (kecerdasan) adalah keterampilan menyelesaikan masalah dan
kemampuan untuk beradaptasi dan belajar dari pengalaman hidup sehari-hari.[32]
Wilhelm Stern melihat, titik berat definisi intelegensi terletak pada
kemampuan penyesuaian diri (adjustment) seseorang terhadap masalah yang
dihadapi.[33] Artinya,
orang yang intelegensinya tinggi (cerdas), akan memiliki kemampuan untuk
menyesuaikan diri dan memiliki kecakapan dalam menghadapi masalah baru.
Sejalan dengan pendapat Stern, Amsal Amri juga mengemukakan bahwa
intelegensi adalah kemampuan untuk melakukan abstraksi, serta berpikir
logis dan cepat sehingga dapat bergerak dan menyesuaikan diri terhadap situasi
baru.[34] Di
sini Amsal melihat ada beberapa aspek kemampuan yang dimaksud, yakni 1)
kemampuan kognitif, 2) kemampuan psikomotorik, dan 3) kemampuan afektif. Ketiga
hal ini disebut dengan kecerdasan (intelegensi).[35]
Sedangkan Slavin menjelaskan kecerdasan adalah salah satu diantara kata-kata
yang diyakini setiap orang bahwa mereka memahaminya hingga anda meminta mereka
mendefinisikannya. Pada satu tahap, kecerdasan dapat didefinisikan sebagai
bakat umum untuk belajar atau kemampuan untuk mempelajari dan menggunakan
pengetahuan atau keterampilan.[36]
Sedangkan Howard Gardner (dalam Sunaryo Kartadinata, 2007: 6)[37],
mendefinisikan kecerdasan sebagai:
1.
Kemampuan memecahkan
masalah yang muncul dalam kehidupan nyata.
2.
Kemampuan melahirkan
masalah baru untuk dipecahkan.
3.
Kemampuan menyiapkan
atau menawarkan suatu layanan yang bermakna dalam kehidupan kultur tertentu.
Lebih lanjut Gardner mendefinisikan Intelegensi sebagai kemampuan untuk
memecahkan persoalan dan menghasilkan produk dalam suatu setting yang
bermacam-macam dan dalam situasi yang nyata (1983;1993).[38] Gardner
menganggap, intelegensi bukan hanya kemampuan dalam memecahkan persoalan yang
sifatnya test (teori), yang dilakukan dalam ruang tertutup dan
jauh dari realitas persoalan yang dhadapi oleh lingkungannya. Namun intelegensi
adalah kemampuan menyelesaikan persoalan yang nyata (real),
yang sungguh-sungguh terjadi. Karena menurut Gardner, orang baru dikatakan
berintelegensi kalau mampu memecahkan persoalan lingkungan yang benar-benar dia
hadapi. Bahkan, Gardner menganggap, tingkat produktifitas (kreatifitas) juga
menjadi ukuran intelegensi seseorang.
Mengenai teori-teori kecerdasan, Spearman berpendapat bahwa setiap individu
memiliki General Ability (General Factor/G) dan Specific
Ability (Specific Faktor/S).[39] Kedua
hal tersebut adalah faktor yang terkandung dalam intelegensi, walaupun dalam
setiap individu faktor-faktor tersebut karakternya berbeda. Sejalan dengan
Super dan Cites, yang menganggap intelegensi adalah kemampuan menyesuaikan diri
dengan lingkungan atau belajar dari pengalaman.[40]
Minat terhadap intelegensi seringkali difokuskan pada perbedaan individual
dan penilaian individual (Kaufman & Lictenberger, 2002; Lubinski, 2000;
Molfse & Martin, 2001). Perbedaan individual adalah cara dimana orang
berbeda satu sama lain secara konsisten dan tetap. Kita bisa berbicara tentang
perbedaan individual dalam hal kepribadiannya (personalitas) dan dalam
bidang-bidang lain, namun intelegensilah yang paling banyak diberi perhatian
dan paling banyak dipakai untuk menarik kesimpulan tentang perbedaan kemampuan
murid.[41]
Jika disederhanakan, Prof. Dr. H. Djaali dalam bukunya Psikologi
Pendidikan[42] mengatakan
bahwa teori intelegensi menurut para ahli adalah sebagai berikut:
1. Teori Faktor
Charles Spearman
mendeskripsikan struktur intelegensi yang terdiri dari General Ability (G)
dan Specific Ability (S).
2. Teori Struktur Intelegensi
Teori ini disampaikan
oleh Guilford. Menurut Guilford, struktur kemampuan intelektual seseorang
memiliki 150 kemampuan dan memiliki tiga paramater, yaitu operasi, produk, dan
konten.
3. Teori Uni Faktor
Wilhelm Stern
beranggapan intelegensi adalah kapasitas atau kemampuan umum. Kapasitas umum
tersebut tumbuh akibat pertumbuhan fisiologis ataupun akibat belajar.
4. Teori Multi Faktor
E.L. Thorndike
berpendapat, bahwa intelegensi adalah bentuk hubungan neural antara stimulus
dengan respons. Hubungan inilah yang mengarahkan tingkah laku individu.
5. Theory Primary Ability
Thurstone membagi
intelegensi menjadi kemampuan primer yang terdiri atas kemampuan numerical/matematis,
verbal atau bahasa, abstraksi, berupa visualisasi atau berpikir, membuat
keputusan, induktif maupun deduktif, mengenal atau mengamati, dan mengingat.
6. Teori Sampling
Menurut teori ini,
intelegensia merupakan berbagai kemampuan sampel. Hal ini dikarenakan pandangan
Godfrey H. Thomson yang memandang dunia sebagai kumpulan-kumpulan pengalaman.
7. Entity Theory
Intelegensi dianggap
sebagai suatu kesatuan yang tetap dan tidak berubah-ubah.
8. Incremental Theory
Teori ini menganggap,
setiap individu mempunyai potensi untuk cerdas, dan kecerdasan tersebut bisa
ditingkatkan melalui proses belajar.
9. Teori Multiple Intelegensi
Teori multiple
intelegensi ini disampaikan oleh Gardner. Menurut Gardner intelegensi
manusia memiliki tujuh dimensi yang semiotonom, yaitu linguistik, musik, matematik
logis, visual spesial, kinestatik fisika, sosial interpersonal, dan
intrapersonal. Setiap dimensi tersebut memiliki kompetensi yang eksistensinya
berdiri sendiri dalam sistem neuron.Artinya tidak terbatas pada
yang bersifat intelektual.
Berdasarkan pemaparan
di atas maka dapat ditarik kesimpulan, bahwa intelegensi (kecerdasan) adalah
kemampuan-kemampuan yang dimiliki oleh setiap individu dalam merespon dan
menyesuaikan diri dengan lingkungannya, serta tingkat produktifitas dan
kreatifitas dalam memecahkan persoalan yang dihadapi.
Selanjutnya, penulis
akan memaparkan teori multiple intelegensi yang digagas oleh
Gardner. Karena teori multiple intelegensi lebih banyak
bersentuhan dengan aspek-aspek yang terdapat dalam diri manusia.
Berdasarkan uraian di
atas, maka dapat dipahami bahwa kecerdasan adalah
kemampuan-kemampuan yang dimiliki oleh individu dalam menghadapi masalah
yang ada di lingkungannya. Setiap individu dengan individu lainnya
memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Gardner berpendapat, bahwa kemampuan itu
sendiri memiliki banyak jenis dan dimensi. Keanekaragaman jenis
kemampuan-kemampuan inilah yang disebut dengan kecerdasan majemuk (multiple intelegensi).
Realita inilah yang mendorong Gardner menelurkan gagasannya tentang multilpe
intelegensi (kecerdasan majemuk).
Menurut teori ini,
setiap anak yang terlahir di dunia tidak ada yang bodoh. Semuanya memiliki
kesempatan dan hak untuk disebut sebagai orang yang cerdas.[43] Pendapat
Gardner ini membuka wawasan kita tentang hakikat dari kecerdasan. Selama ini
penilaian tentang kecerdasan hanya terbatas pada sesuatu yang sempit dan
statis. Namun Gardner dan para ahli lainnyamemaknai kecerdasan sebagai
kemampuan seseorang dalam beradaptasi, lebih jauh Gardner menambahkan
penekanannya pada aspek atau dimensi psikologis manusia yang membentuk
jenis-jenis kemampuan tersebut.
Pada tahun-tahun
belakangan ini, banyak perdebatan tentang kecerdasan terfokus untuk memutuskan
apakah terdapat banyak jenis kecerdasan yang berbeda-beda dan untuk menjelaskan
masing-masing. Misalnya, Sternberg (2002, 2003) menjelaskan tiga jenis
kemampuan intelektual: analitis, praktis dan kreatif.
Delapan kerangka
pikiran Gardner, kerangka ini di deskripsikan bersama dengan contoh pekerjaan
yang merefleksikan kekuatan masing-masing kerangka (Campbell, Campbell &
Dickinson, 1999):
1. Keahlian verbal
Kemampuan untuk
berfikir dengan kata dan menggunakan bahasa untuk mengekspresikan makna
(penulis, wartawan, pembicara).
2. Keahlian matematika/logika
Kemampuan untuk
menyelesaikan operasi matematika ( ilmuwan, insinyur, akuntan).
3. Keahlian spasial
Kemampuan untuk
berfikir tiga dimensi (arsitek, perupa, pelaut)
4. Keahlian tubuh-kinestetik
Kemampuan untuk
memanipulasi objek dan cerdas dalam hal-hal fisik ( ahli bedah, pengrajin,
penari, atlet)
5. Keahlian music
Sensitive terhadap
nada, melodi, irama, dan suara (composer, musisi, dan pendengar yang sensitive)
6. Keahlian intrapersonal
Kemampuan untuk
memahami diri sendiri dan menata kehidupan dirinya secara efektif (teolog,
psikolog).
7. Keahlian interpersonal
Kemampuan untuk
memahami dan berinteraksi secara efektif dengan orang lain ( guru teladan,
professional kesehatan mental).
8. Keahlian naturalis
Kemampuan untuk
mengamati pola-pola di alam dan memahami sistem alam dan sistem buatan manusia (petani,
ahli botani, ahli ekologi, ahli tanah).
Terkait macam-macam intelegensi yang dipaparkan oleh Gardner, Prof. Dr. H.
Djaali memetakan ada tujuh jenis seperti yang sudah kami sebutkan di atas.
Namun dalam beberapa referensi lainnya, seperti yang dipaparkan oleh Sunardi, multiple
intelegensi yang dipaparkan oleh Gardner ada 10 macam
intelegensi.[44]
Sunardi dan kawan-kawan, sesuai dengan teori multiple
intelegensi yang disampaikan oleh Gardner, membagi kecerdasan dengan
10 bidang (aspek) dalam psikologi manusia. Berdasarkan
pendekatan tersebut, kecerdasan atau intelegensi ada 10 macam, yaitu:
1. Kecerdasanlinguistic (linguistik intelligence)
Adalah kemampuan untuk
berfikir dalam bentuk kata-kata dan menggunakan bahasa untuk mengekpresikan dan
menghargai makna yang komplek, yang meliputi kemampuan membaca, mendengar,
menulis, dan berbicara.
2. Intelegensi logis-matematis (logical matematich)
Adalah kemampuan dalam
menghitung, mengukur dan mempertimbangkan proposisi dan hipotesis serta
menyelesaikan operasi-operasi matematika.
3. Intelegensi musik (musical intelegence)
Intelegensi musik
adalah kecerdasan seseorang yang berhubungan dengan sensitivitas pada pola
titik nada, melodi, ritme, dan nada. Musik adalah bahasa pendengaran yang
menggunakan tiga komponen dasar yaitu intonasi suara, irama dan warna nada yang
memakai sistem simbol yang unik.
4. Intelegensi Kinestetik
Kinestetik adalah
belajar melalui tindakan dan pengalaman melalui panca indera. Intelegensi
kinestetik adalah kemampuan untuk menyatukan tubuh atau pikiran untuk
menyempurnakan pementasan fisik. Dalam kehidupan sehari-hari dapat diamati pada
aktor, atlet atau penari, penemu, tukang emas, mekanik.
5. Intelegensi Visual-spasial
Intelegensi
visual-spasial merupakan kemampuan yang memungkinkan memvisualisasikan
informasi dan mensintesis data-data dan konsep-konsep ke dalam metavor visual.
6. Intelegensi Interpersonal
Intelegensi
interpersonal adalah kemampuan untuk memahami dan berkomunikasi dengan orang
lain dilihat dari perbedaan, temperamen, motivasi, dan kemampuan.
7. Intelegensi Intrapersonal
Adalah kemampuan
seseorang untuk memahami diri sendiri dari keinginan, tujuan dan sistem
emosional yang muncul secara nyata pada pekerjaannya.
8. Intelegensi Naturalis
Adalah kemampuan untuk
mengenal flora dan fauna melakukan pemilahan-pemilahan utuh dalam dunia
kealaman dan menggunakan kemampuan ini secara produktif, misalnya untuk
berburu, bertani, atau melakukan penelitian biologi.
9. Intelegensi Emosional
Adalah yang dapat
membuat orang bisa mengingat, memperhatikan, belajar dan membuat keputusan yang
jernih tanpa keterlibatan emosi. Jadi intelegensi emosional disini berkaitan
dengan sikap motivasi, kegigihan, dan harga diri yang akan mempengaruhi
keberhasilan dan kegagalan siswa.
10. Intelegensi Spiritual
Adalah kemampuan yang
berhubungan dengan pengakuan adanya Tuhan sebagai pencipta alam semesta
beserta isinya.[45]
D. Cara Memberikan Pendidikan Agama Kepada Anak Usia Dini
Menurut Tafsir Qur’an
Dalam pandangan Islam, segala sesuatu yang dilaksanakan, tentulah memiliki
dasar hukum baik itu yang berasal dari dasar naqliyah maupun
dasar aqliyah. Begitu juga halnya dengan pelaksanaan pendidikan
pada anak usia dini. Berkaitan dengan pelaksanaan pendidikan anak usia dini,
dapat dibaca firman Allah berikut ini:
ª!$#urNä3y_t÷zr&.`ÏiBÈbqäÜç/öNä3ÏF»yg¨Bé&wcqßJn=÷ès?$\«øx©@yèy_urãNä3s9yìôJ¡¡9$#t»|Áö/F{$#urnoyÏ«øùF{$#ur öNä3ª=yès9crãä3ô±s?ÇÐÑÈ
“Dan
Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam Keadaan tidak mengetahui
sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu
bersyukur. (Qs. An-Nahl: 78)
Berdasarkan ayat tersebut di atas, dipahami bahwa anak lahir dalam keadaan lemah tak berdaya dan tidak mengetahui (tidak
memiliki pengetahuan) apapun. Akan tetapi Allah membekali anak yang baru
lahir tersebut dengan pendengaran, penglihatan dan hati nurani (yakni akal yang menurut pendapat yang sahih pusatnya berada di hati). Menurut
pendapat yang lain adalah otak. Dengan itu manusia dapat membedakan di antara
segala sesuatu, mana yang bermanfaat dan mana yang berbahaya.Kemampuan dan
indera ini diperoleh seseorang secara bertahap, yakni sedikit demi sedikit.
Semakin besar seseorang maka bertambah pula kemampuan pendengaran, penglihatan,
dan akalnya hingga sampailah ia pada usia matang dan dewasanya.[46] Dengan
bekal pendengaran, penglihatan dan hati nurani (akal) itu, anak pada
perkembangan selanjutnya akan memperoleh pengaruh sekaligus berbagai didikan
dari lingkungan sekitarnya. Hal ini pula yang sejalan dengan sabda Rasul
berikut ini:
حَدَّثَنَا
عَبْدُ الْأَعْلَى عَنْ مَعْمَرٍ عَنِ الزُّهْرِيِّ عَنْ سَعِيدِ بْنِ
الْمُسَيَّبِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ
يُهَوِّدَانِهِ وَيُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ
Artinya: “Setiap anak
dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikan
anak tersebut beragama Yahudi, Nasrani ataupun Majusi”.(HR. Bukhari, Abu Daud,
Ahmad)[47]
Meskipun anak lahir dalam keadaan lemah tak berdaya serta tidak mengetahui
apa-apa, tetapi ia lahir dalam keadaan fitrah, yakni suci dan bersih dari
segala macam keburukan. Karenanya untuk memelihara sekaligus mengembangkan
fitrah yang ada pada anak, orang tua berkewajiban memberikan didikan positif
kepada anak sejak usia dini atau bahkan sejak lahir yang diawali dengan
mengazankannya. Hal ini dikarenakan pada prinsipnya fitrah manusia menuntut
pembebasan dari kemusyrikan dan akibat-akibatnya yang dapat menyeret manusia
kepada penyimpangan watak dan penyelewengan serta kesesatan di dalam berfikir,
berencana dan beraktivitas.Bagi manusia kepala merupakan pusat penyimpanan
informasi alat indera yang mengatur semua eksistensi dirinya, baik psikologis
maupun biologis.Indera pendengaran, penglihatan, penciuman dan indera perasaan
diatur oleh kepala.Tatkala azan berikut kalimah yang dikandungnya, yaitu
kalimah Takbir dan kalimah Tauhid, meyentuh pendengaran si bayi, maka kalimah
azan tersebut ibarat tetesan air jernih yang berkilauan ke dalam telinganya,
sesuai dengan fitrah dirinya.Pada waktu itu si bayi belum dapat merasakan
apa-apa, hanya kesadarannya dapat merekam nada-nada dan bunyi-bunyi kalimah
azan yang diperdengarkan kepadanya.Kalimah terebut dapat mencegah jiwanya dari
kecenderungan kemusyrikan serta dapat memelihara dirinya dari kemusyrikan.
Demikian pula kalimah azan seolah-olah melatih pendengaran manusia (dalam hal
ini anak bayi atau usia dini) agar terbiasa mendegarkan panggilan nama yang baik, sehingga hal
ini menuntut para orang tua untuk memberi (menamai) anaknya dengan nama yang
baik serta memiliki makna yang baik pula. Hal ini sejalan dengan sabda Rasul:
حَدَّثَنَا
عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ الْأَسْوَدِ أَبُو عَمْرٍو الْوَرَّاقُ الْبَصْرِيُّ
حَدَّثَنَا مُعَمَّرُ بْنُ سُلَيْمَانَ الرَّقِّيُّ عَنْ عَلِيِّ بْنِ صَالِحٍ
الْمَكِّيِّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُثْمَانَ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ “أَحَبُّ
الْأَسْمَاءِ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ عَبْدُ اللَّهِ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ” قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ
مِنْ هَذَا الْوَجْهِ
Nama yang indah sesungguhnya tidak hanya sekedar
nama atau panggilan, tetapi sesungguhnya merupakan cerminan tentang adanya
pujian atau do'a, harapan atau gambaran semangat dan dambaan indah kepada
anak-anaknya.
Dalam mendukung perkembangan anak pada usia-usia selanjutnya, termasuk pada
usia dini, yang menjadi kewajiban orang tua adalah memberikan didikan positif
terhadap anak-anaknya, sehingga anak-anaknya tersebut tidak menjadi/mengikut
ajaran Yahudi, Nasrani atau Majusi, melainkan menjadi muslim yang sejati. Mendidik anak dalam pandangan Islam, merupakan pekerjaan
mulia yang harus dilaksanakan oleh setiap orang tua, hal ini sejalan dengan
sabda Rasul:
حَدَّثَنَا
قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَعْلَى عَنْ نَاصِحٍ عَنْ سِمَاكِ بْنِ
حَرْبٍ عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَأَنْ يُؤَدِّبَ الرَّجُلُ وَلَدَهُ خَيْرٌ مِنْ أَنْ
يَتَصَدَّقَ بِصَاعٍ
"Seseorang yang mendidik anaknya adalah lebih baik daripada ia
bersedekah dengan satu sha'(HR. Tirmidzi)[49]
Dalam pandangan Islam anak merupakan amanah di
tangan kedua orang tuanya.Hatinya yang bersih merupakan permata yang berharga,
lugu dan bebas dari segala macam ukiran dan gambaran. Ukiran berupa didikan
yang baik akan tumbuh subur pada diri anak, sehingga ia akan berkembang dengan
baik dan sesuai ajaran Islam, dan pada akhirnya akan meraih kebahagiaan di
dunia dan di akhirat. Jika anak sejak dini dibiasakan dan dididik dengan hal-hal yang baik dan diajarkan kebaikan
kepadanya, ia akan tumbuh dan berkembang dengan baik dan akan memperoleh
kebahagiaan serta terhindar dari kesengsaraan atau siksa baik di dunia maupun di akhirat kelak. Hal
ini senada dengan firman Allah:
$pkr'¯»ttûïÏ%©!$#(#qãZtB#uä(#þqè%ö/ä3|¡àÿRr&ö/ä3Î=÷dr&ur#Y$tR$ydßqè%urâ¨$¨Z9$#äou$yfÏtø:$#ur$pkön=tæîps3Í´¯»n=tBÔâxÏî×#yÏ©wtbqÝÁ÷èt©!$#!$tBöNèdttBr&tbqè=yèøÿtur$tBtbrâsD÷sãÇÏÈ
"Hai orang-orang
yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan
bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang
keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada
mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.(Qs. At Tahrim: 6)
Terhadap ayat ini Ibnu Kasir dalam tafsirnya menjelaskan, bahwa ayat ini
menganjurkan kepada setiap individu muslim bertakwa kepada Allah dan
perintahkanlah kepada keluargamu untuk bertakwa kepada Allah. Ibnu Kasir
menjelaskan bahwa Qatada mengatakan bahwa engkau perintahkan mereka untuk taat
kepada Allah dan engkau cegah mereka dari perbuatan durhaka terhadapNya, dan
hendaklah engkau tegakkan terhadap mereka perintah Allah dan engkau anjurkan
mereka untuk mengerjakannya serta engkau bantu mereka untuk mengamalkannya.
Jika engkau melihat di kalangan keluargamu suatu perbuatan maksiat kepada
Allah, maka engkau harus cegah mereka darinya dan engkau larang mereka
melakukannya. Hal yang sama juga dikemukakan Ad-Dahlak dan Muqatil, bahwa sudah
merupakan suatu kewajiban bagi seorang muslim mengajarkan kepada keluarganya,
baik dari kalangan kerabatnya ataupun budak-budaknya, hal-hal yang difardukan
oleh Allah dan mengajarkan kepada mereka hal-hal yang dilarang oleh Allah yang
harus mereka jauhi.[50]
Berdasarkan ayat tersebut, dipahami bahwa orang
tua memiliki kewajiban untuk memelihara diri dan keluarga (anak-anaknya) dari
siksaan api neraka. Cara yang dapat dilakukan oleh orang tua ialah mendidiknya,
membimbingnya dan mengajari akhlak-akhlak yang baik. Kemudian orang tua harus
menjaganya dari pergaulan yang buruk, dan jangan membiasakannya berfoya-foya,
jangan pula orang tua menanamkan rasa senang bersolek dan hidup dengan
sarana-sarana kemewahan pada diri anak, sebab kelak anak akan menyia-nyiakan
umurnya hanya untuk mencari kemewahan jika ia tumbuh menjadi dewasa, sehingga
ia akan binasa untuk selamanya. Akan tetapi seharusnya orang tua sejak dini
mulai mengawasi pertumbuhannya dengan cermat dan bijaksana sesuai dengan
tuntutan pendidikan Islam.[51]
Dari uraian di atas kiranya dapat disebutkan bahwa tujuan pendidikan anak
usia dini dalam pandangan Islam adalah memelihara, membantu pertumbuhan dan
perkembangan fitrah manusia yang dimiliki anak, sehingga jiwa anak yang lahir
dalam kondisi fitrah tidak terkotori oleh kehidupan duniawi yang dapat
menjadikan anak sebagai Yahudi, Nasrani atau Majusi. Atau dengan kata lain
bahwa pendidikan anak usia dini dalam pendidikan Islam bertujuan untuk
menanamkan nilai-nilai keislaman kepada anak sejak dini, sehinga dalam
perkembangan selanjutnya anak menjadi manusia muslim yang kāffah,
yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT. Hidupnya terhindar dari kemaksiatan, dan dihiasi
dengan ketaatan dan kepatuhan serta oleh amal soleh yang tiada hentinya.
Kondisi seperti inilah yang dikehendaki oleh pendidikan Islam, sehingga kelak
akan mengantarkan peserta didik pada kehidupan yang bahagia di dunia maupun di
akhirat.
Untuk merealisasikan pelaksanaan kegiatan
pendidikan pada anak usia dini serta guna mencapai hasil yang menggembirakan,
para pendidik hendaklah senantiasa mencari berbagai metode yang efektif, serta
mencari kaidah-kaidah pendidikan yang berpengaruh dalam mempersiapkan dan
membantu pertumbuhan anak usia dini, baik secara mental dan moral, spiritual
dan etos sosial, sehingga anak dapat mencapai kematangan yang sempurna guna
menghadapi kehidupan dan pertumbuhan selanjutnya. Dengan bersumberkan kepada Al-Qur’an dan hadis, ada beberapa metode pendidikan Islam yang dapat dan layak
diterapkan pada kegiatan pendidikan terhadap anak usia dini. Metode dimaksud
adalah:
1. Metode dengan Keteladanan
Keteladanan dalam pendidikan Islam, merupakan
metode yang berpengaruh dan terbukti berhasil dalam mempersiapkan dan membentuk
aspek moral, spiritual, dan etos sosial anak sejak usia dini. Hal ini karena
pendidik adalah figure terbaik dalam pandangan anak didik yang tindak tanduknya
dan sopan santunnya, disadari atau tidak akan menjadi perhatian anak-anak
sekaligus ditirunya. Keteladanan menjadi faktor penting dalam menentukan baik
buruknya pertumbuhan dan perkembangan anak usia dini. Jika pendidik dan orang
tua jujur, dapat dipercaya, berakhlak mulia, berani, dan menjauhkan diri dari
perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan agama, maka si anak akan tumbuh
dalam kejujuran, terbentuk dengan akhlak mulia, berani dan menjauhkan diri dari
perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan agama. Anak usia dini,
bagaimanapun besarnya usaha yang dipersiapkan untuk kebaikannya, bagaimanapun
sucinya fitrah, tidak akan mampu memenuhi prinsip-prinsip kebaikan dan
pokok-pokok pendidikan utama, selama ia (anak usia dini) tidak melihat pendidik
dan orang tua sebagai teladan dari nilai-nilai moral yang tinggi. Kiranya
sangat mudah bagi pendidik untuk mengajari anak dengan berbagai materi
pendidikan, tetapi teramat sulit bagi anak untuk melaksanakannya jika ia
melihat orang yang memberikan pengajaran tidak mengamalkan-nya.
Allah SWT., juga telah mengajarkan bahwa rasul yang diutus
untuk menyampaikan risalah samawi kepada umat manusia, adalah seorang yang
mempunyai sifat-sifat luhur, baik spiritual, moral maupun intelektual. Sehingga
umat manusia meneladaninya, belajar darinya, memenuhi panggilannya, menggunakan
metodenya dalam hal kemuliaan, keutamaan dan akhlak yang terpuji.Allah mengutus
Nabi Muhammad SAW.Sebagai teladan yang baik bagi umat Islam sepanjang jaman, dan bagi umat
manusia di setiap saat dan tempat, sebagai pelita yang menerangi dan purnama
yang memberi petunjuk. Allah SWT. berfirman dalam surah Al-Ahzab ayat 21:
ôs)©9tb%x.öNä3s9ÎûÉAqßu«!$#îouqóé&×puZ|¡ym`yJÏj9tb%x.(#qã_öt©!$#tPöquø9$#urtÅzFy$#tx.sur©!$##ZÏVx.ÇËÊÈ
Artinya:
"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik
bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari
kiamat dan dia banyak menyebut Allah."(QS. Al-Ahzab: 21)
Ayat tersebut ditafsirkan oleh Baidhawi,
bahwa uswatun hasanah yang dimaksud adalah perbuatan baik yang
dapat dicontoh.[52]Dalam
ringkasan tafsir Ibnu Kasir disebutkan bahwa ayat ini merupakan prinsip utama
dalam meneladani Rasulullah SAW, baik dalam ucapan, perbuatan maupun sikap dan
perilakunya.[53] Islam
telah menyajikan pribadi Rasul sebagai suri teladan yang terus-menerus bagi
seluruh pendidik, suri teladan yang selalu baru bagi generasi demi generasi,
dan selalu aktual dalam kehidupan manusia, setiap kali kita membaca riwayat
kehidupannya bertambah pula kecintaan kita kepadanya dan tergugah pula
keinginan untuk meneladaninya. Islam tidak menyajikan keteladanan ini sekedar
untuk dikagumi atau sekedar untuk direnungkan dalam lautan hayal yang serba
abstrak. Islam menyajikan riwayat keteladanan itu semata-mata untuk diterapkan
dalam diri setiap individu muslim baik itu anak-anak maupun orang dewasa.
Dalam memberikan pendidikan kepada anak usia
dini, pendidikan dengan memberi teladan secara baik dari para pendidik dan
orang tua, teman bermain, pengajar, atau kakak, akan merupakan faktor yang sangat
memberikan bekas dalam membina pertumbuhan anak, memberi petunjuk, dan
persiapannya untuk menjadi melanjutkan kehidupannya di fase-fase perkembangan
selanjutnya. Dengan demikian perlu dipahami oleh para pendidik dan orang tua
bahwa mendidik dengan cara memberi teladan yang baik, terutama pada masa anak
usia dini sesungguhnya penopang utama dan dasar dalam meningkatkan anak usia
dini pada keutamaan, kemuliaan dan etika sosial yang terpuji.[54]
Manusia telah diberi fitrah untuk mencari suri teladan agar menjadi pedoman
bagi mereka, yang menerangi jalan kebenaran dan menjadi contoh hidup yang
menjelaskan kepada mereka bagaimana seharusnya melaksanakan syarai'at Allah. Karenanya,
untuk merealisasikan risalah-Nya di muka bumi, Allah mengutus para rasul-Nya
yang menjelaskan kepada manusia syari'at yang diturunkan Allah kepada mereka. Anak usia dini merupakan tingkat usia yang dalam
pertumbuhannya memiliki keterkaitan besar terhadap keteladanan dari pihak luar
dirinya. Di dalam kehidupan berkeluarga misalnya, anak usia dini membutuhkan
suri teladan, khususnya dari kedua orang tuanya, agar sejak dini (masa
kanak-kanak) ia menyerap dasar tabiat perilaku Islami dan berpijak pada
landasannya yang luhur. Keteladanan yang baik memberikan pengaruh besar
terhadap jiwa anak, sebab anak banyak meniru kedua orang tuanya. Anak-anak akan
selalu memperhatikan dan mengawasi perilaku orang tuanya atau orang dewasa
lainnya, dan mereka akan mencontohnya, jika anak mendapati orang tuanya berlaku
jujur, mereka akan tumbuh dengan kejujuran. Kedua orang tua dituntut
mengimplementasikan perintah-perintah Allah dan sunnah Rasul sebagai perilaku
dan amalan serta terus menambah amalan-amalan sunnah tersebut semampunya,
karena anak-anak akan terus mengawasi dan meniru mereka setiap waktu. Kemampuan
anak dalam menerima teladan dari orang dewasa secara sadar atau tidak sadar
sangatlah tinggi, meskipun anak-anak sering dianggap sebagai makhluk kecil yang
belum mengerti dan paham ajaran Islam, tetapi dengan melihat teladan yang
diberi orang dewasa hal itu akan memberi bekasan pada diri anak.[55] Di
sekolah, anak-anak juga membutuhkan suri teladan yang dilihatnya langsung dari
setiap guru yang mendidiknya, sehingga dia merasa pasti dengan apa yang
dipelajarinya. Pada perilaku dan tindakan guru-gurunya, hendaknya anak dapat
melihat langsung bahwa tingkah laku utama yang diharapkan mereka melakukannya
adalah hal yang tidak mustahil dan memang dalam batas kewajaran untuk
direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari.[56]
2. Pendidikan dengan Latihan dan Pengamalan
Islam merupakan agama yang menuntut para
pemeluknya mampu merealisasikan berbagai ajaran Islam dalam bentuk amal nyata
yaitu berupa amal şaleh yang diridhai Allah SWT. Islam menuntut umatnya
agar mengarahkan segala tingkah laku, naluri, aktivitas dan hidupnya untuk
merealisasikan adab-adab dan perundang-undangan yang berasal dari Allah secara
nyata.
Dalam hal pendidikan melalui latihan pengamalan,
Rasulullah SAW. sebagai pendidik Islam yang pertama dan utama sesungguhnya telah menerapkan
metode ini dan ternyata memberikan hasil yang menggembirakan bagi perkembangan
Islam di kalangan sahabat. Dalam banyak hal, Rasul senantiasa mengajarkannya
dengan disertai latihan pengamalannya, di antaranya; tatacara bersuci,
berwudhu, melaksanakan şalat, berhaji dan berpuasa.
Atas dasar ini, maka dalam pelaksanaan
pendidikan Islam baik kepada orang dewasa, apalagi terhadap anak-anak usia dini
pendidikan melalui latihan dan pengamalan merupakan satu metode yang dianggap
penting untuk diterapkan. Metode belajar learning by doing atau
dengan jalan mengaplikasikan teori dan praktik, akan lebih memberi kesan dalam
jiwa, mengokohkan ilmu di dalam kalbu dan menguatkan dalam ingatan. Di antara
yang dapat dilatihkan sebagai amalan bagi anak-anak usia dini antaranya ialah;
cara menggosok gigi, latihan mencuci tangan yang benar, cara beristinja,
latihan berwudhu', mengucapkan salam ketika masuk rumah, serta beberapa do'a
yang harus diamalkan sebagai mengawali berbagai aktivitas sehari-hari, seperti
do'a hendak dan sesudah makan, do'a hendak dan bangun tidur, do'a masuk kamar
mandi, dan do'a lain yang mudah diamalkan oleh anak-anak usia dini.
Orang tua wajib
membiasakan atau melatih anak-anak mereka pergi ke masjid, juga
melaksanakan şalat di rumah maupun di sekolah. Hal ini dapat dibaca pada hadis berikut ini:
حَدَّثَنَا
قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ وَأَبُو كَامِلٍ الْجَحْدَرِيُّ وَاللَّفْظُ لِقُتَيْبَةَ
قَالَا حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنْ أَبِي يَعْفُورٍ عَنْ مُصْعَبِ بْنِ
سَعْدٍ قَالَ صَلَّيْتُ إِلَى جَنْبِ أَبِي قَالَ وَجَعَلْتُ يَدَيَّ بَيْنَ
رُكْبَتَيَّ فَقَالَ لِي أَبِي اضْرِبْ بِكَفَّيْكَ عَلَى رُكْبَتَيْكَ قَالَ
ثُمَّ فَعَلْتُ ذَلِكَ مَرَّةً أُخْرَى فَضَرَبَ يَدَيَّ وَقَالَ إِنَّا نُهِينَا
عَنْ هَذَا وَأُمِرْنَا أَنْ نَضْرِبَ بِالْأَكُفِّ عَلَى الرُّكَبِ
Artinya: Hadis Saad bin Abi Waqqas r.a: Diriwayatkan daripada Mus'ab bin
Saad r.a katanya: Aku pernah sembahyang di sisi ayahku. Aku rapatkan tangan
antara kedua lututku. Lalu ayahku berkata kepadaku: Letakkan kedua telapak
tanganmu pada lututmu. Kemudian aku melakukan hal itu sekali lagi. Lalu ayah
memukul tanganku sambil mengatakan: Sesungguhnya kita dilarang dari melakukan
ini yaitu meletakkan tangan di antara dua lutut dan kita diperintahkan supaya
meletakkan tangan di atas lutut. (HR. Muslim)[57]
Nilai pendidikan yang terdapat
dalam hadis di atas adalah tentang praktik melatih anak dalam melaksanakan
şalat. Praktik pendidikan şalat seperti inilah yang seharusnya diterapkan oleh
para orang tua dalam memberi pendidikan sholat kepada anak-anaknya, sehingga
anak tidak hanya memiliki pengetahuan teoritis tentang şalat, tetapi juga
memiliki pengetahuan dan pemahaman yang sifatnya praktis tentang şalat, dan
dengan demikian maka anak akan mampu melaksanakan şalat dengan benar sesuai
dengan yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.
Dalam hadis lain
ditemukan juga bagaimana Rasulullah memberi pendidikanşalat kepada anak-anak,
seperti sabda beliau yang diriwayatkan dari Anas:
حَدَّثَنَا
أَبُو حَاتِمٍ مُسْلِمُ بْنُ حَاتِمٍ الْبَصْرِيُّ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ
عَبْدِ اللَّهِ الْأَنْصَارِيُّ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَلِيِّ بْنِ زَيْدٍ عَنْ
سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيِّبِ قَالَ قَالَ أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ قَالَ لِي رَسُولُ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا بُنَيَّ إِيَّاكَ وَالِالْتِفَاتَ
فِي الصَّلَاةِ فَإِنَّ الِالْتِفَاتَ فِي الصَّلَاةِ هَلَكَةٌ فَإِنْ كَانَ لَا
بُدَّ فَفِي التَّطَوُّعِ لَا فِي الْفَرِيضَةِ
Artinya: Berkata Anas bin Malik telah berkata Rasulullah SAW; “Hai anakku,
janganlah engkau menoleh ke sana ke mari dalam şalat, karena akan merusak
şalat, jika engkau terpaksa melakukan hal itu, maka boleh dilakukan hanya dalam
şalat sunnah, dan bukan dalam şalat fardhu”.(HR. at-Tirmiżi)[58]
Hadis ini dikeluarkan
oleh Rasulullah dalam rangka memberi peringatan kepada anak-anak agar tidak
menoleh ke kanan dan ke kiri ketika sedang melaksanakan şalat, dan ini
sesungguhnya merupakan bukti perhatian Rasul dalam mengajarkan kepada anak-anak
tentang tatacara şalat.[59] Para
sahabat juga menempuh cara yang sama dalam memberi pendidikan şalat kepada
anak-anaknya dengan cara memberi contoh kepada anak-anaknya tentang berbagai
tata cara şalat sesuai dengan yang diajarkan Rasul SAW. Cara ini juga
pantas jika dipraktikkan oleh para orang tua muslim dalam memberi pendidikan
şalat kepada anak-anaknya, terutama tentang ketertiban dalam şalat (larangan menoleh
ke kanan atau ke kiri pada waktu şalat).
Orang tua juga
berkewajiban melatih mereka melaksanakan puasa dan infaq,
bersedekah serta berbuat baik kepada tetangga dan orang-orang fakir, juga
menolong orang-orang yang lemah.Disamping itu juga harus dilatih menghormati
orang yang lebih tua dan telah berumur, dilatih/dibiasakan melakukan berbagai
kegiatan dengan niat kerena keridhaan Allah semata, mencintai karena Allah dan
membenci karena Allah.Mengorbankan harta serta diri mereka di jalan Allah, melaksanakan
kewajiban agama, menegakkan moral Islam, khususnya mengenakan jilbab bagi anak
perempuan.[60]
3. Mendidik melalui permainan, nyanyian, dan cerita
Sesuai dengan pertumbuhannya, anak usia dini memang lagi gemar-gemarnya
melakukan berbagai permainan yang menarik bagi dirinya. Berkaitan dengan ini,
maka pendidikan melalui permainan merupakan satu metode yang menarik diterapkan
dalam pendidikan anak usia dini. Tentu saja permainan yang positif dan dapat
mengembangkan intelektual dan kreativitas anak-anak. Bagi anak-anak usia
balita, bermain dengan ibu tentu lebih banyak dampak positifnya karena lebih
memperlancar komunikasi antara keduanya, adalah teman terbaik bagi mereka.[61] Hal
ini dapat dibaca pada hadis Rasul yang menjelaskan tentang cara memberi pendidikan puasa kepada anak-anak berikut ini:
و
حَدَّثَنِي أَبُو بَكْرِ بْنُ نَافِعٍ الْعَبْدِيُّ حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ
الْمُفَضَّلِ بْنِ لَاحِقٍ حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ ذَكْوَانَ عَنْ الرُّبَيِّعِ
بِنْتِ مُعَوِّذِ بْنِ عَفْرَاءَ قَالَتْ أَرْسَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَدَاةَ عَاشُورَاءَ إِلَى قُرَى الْأَنْصَارِ الَّتِي حَوْلَ
الْمَدِينَةِ مَنْ كَانَ أَصْبَحَ صَائِمًا فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ وَمَنْ كَانَ
أَصْبَحَ مُفْطِرًا فَلْيُتِمَّ بَقِيَّةَ يَوْمِهِ فَكُنَّا بَعْدَ ذَلِكَ
نَصُومُهُ وَنُصَوِّمُ صِبْيَانَنَا الصِّغَارَ مِنْهُمْ إِنْ شَاءَ اللَّهُ
وَنَذْهَبُ إِلَى الْمَسْجِدِ فَنَجْعَلُ لَهُمْ اللُّعْبَةَ مِنْ الْعِهْنِ
فَإِذَا بَكَى أَحَدُهُمْ عَلَى الطَّعَامِ أَعْطَيْنَاهَا إِيَّاهُ عِنْدَ
الْإِفْطَارِ
Diriwayatkan daripada Ar-Rubaiyyi' binti Muawwiz bin Afra' r.a katanya:
Pada hari Asyura, Rasulullah s.a.w telah mengirimkan surat ke
perkampungan-perkampungan Ansar di sekitar Madinah yang berbunyi: Siapa yang
berpuasa pada pagi ini hendaklah menyempurnakan puasanya dan siapa yang telah
berbuka yaitu makan pada pagi ini hendaklah dia juga menyempurnakannya yaitu
berpuasa pada pagi harinya. Selepas itu kami pun berpuasa serta menyuruh
anak-anak kami yang masih kanak-kanak supaya ikut berpuasa, jika diizinkan
Allah. Ketika kami berangkat menuju ke masjid, kami buatkan suatu permainan
untuk anak-anak kami yang diperbuat dari bulu biri-biri. Jika ada di antara
mereka yang menangis meminta makanan, kami akan berikan mainan tersebut
sehingga tiba waktu berbuka. (HR.Muslim)[62]
Dengan membaca hadis di
atas, dapat diketahui bahwa pendidikan puasa kepada anak dapat dilakukan dengan
cara melatih mereka berpuasa dan jika mereka menangis meminta makanan dapat
dialihkan keinginan mereka dengan cara memberi mainan kepada mereka, sehingga anak-anak
lupa akan rasa laparnya dan asik dengan permainannya, selain itu anak juga
merasa terhibur oleh permainan dan tidak merasakan panjangnya hari yang mereka
lalui dengan puasa. Ibnu Hajar seperti dikutip Suwaid, menjelaskan bahwa hadis
ini menjadi dalil mengenai disyariatkannya melatih anak-anak untuk berpuasa,
sebab usia yang disebutkan dalam hadis tersebut belum sampai pada masa
mukallaf, akan tetapi hal itu dilakukan sebagai bentuk latihan.[63]Namun
perlu diingat pula bahwa yang paling perlu orang tua usahakan pertama kali
sebelum mengenalkan dan melatih bepuasa adalah mengkondisikan anak dengan
lingkungan yang Islami. Kenalkan suasana puasa di lingkungan keluarga, karena
suasana itu bagi anak merupakan bekal dalam mempersiapkan dirinya, sehingga
anak terbiasa dengan suasana berpuasa. Anak tidak melihat ibu, bapak, dan
anggota keluarganya makan di siang hari, tetapi makan ketika terbenam matahari.
Perlu juga diingat adalah jangan sekali-sekali memaksa mereka melakukan puasa
secara terus menerus sejak dari terbit fajar hingga terbenam matahari, namun
latih mereka untuk melakukan puasa secara bertahap, mulai dari hitungan jam
sampai akhirnya mereka dapat terus berpuasa dari terbit fajar hingga berbuka
pada magribnya. Setelah anak mampu berpuasa selama satu hari penuh, kenalkan
mereka dengan hal-hal yang membatalkan puasa.[64]
Muhammad Suwaid
menjelaskan bahwa hadis yang menceritakan bahwa Nabi merestui Aisyah yang
sedang bermain dengan boneka, menunjukkan kepada kita bahwa anak kecil memang
butuh mainan. Demikian juga hadis tentang burung nughar kecilnya Abu Umair
yang dibuat mainan olehnya dan hal itu juga disaksikan oleh Nabi menjadi bukti
lain akan adanya kebutuhan mainan bagi anak agar ia bisa riang gembira. Dalam
hal ini kedua orang tuanyalah yang mesti memberikan mainan untuk anaknya yang
sesuai dengan usia dan kemampuannya, dan kemudian menyerahkannya secara langsung,
hal itu dimaksudkan agar akal dan panca inderanya beraktivitas dan bisa tumbuh
sedikit demi sedikit.
Agar mainan yang
diberikan oleh orang tua kepada anak-anak mereka benar-benar bisa bermanfaat,
maka kedua orang tua perlu mempertimbangkan; apakah mainan itu termasuk mainan
yang akan membangkitkan aktivitas jasmani dan kesehatan yang berguna bagi anak.
Apakah mainan tersebut memberikan kesempatan bagi anak untuk menyusunnya, dan
apakah mainan tesebut bisa mendorong anak untuk meniru perilaku orang-orang
dewasa dan cara berpikir mereka. Jika jawaban atas semua pertanyaan tersebut
adalah “ya”, maka mainan tersebut berarti sesuai untuknya dan memberikan
manfaat edukatif.[65] Selain
memberi permainan kepada anak, bermain dengan anak dan bertingkah seperti
mereka dalam bergaul dengan mereka akan menumbuhkan semangat di dalam jiwanya
dan juga akan membantunya menampilkan serta mengembangkan potensi-potensi yang
dimilikinya.[66] Dalam
al-Ishabah dikatakan bahwa Rasulullah saw pernah bermain-main dengan Hasan dan
Husin ra. Rasulullah SAW. Merangkak di atas kedua tangan dan lututnya,
dan kedua cucunya tersebut bergelantungan dari kedua sisinya, dan merangkak
bersama keduanya.[67]
Bernyanyi juga satu cara yang baik diterapkan dalam pembelajaran pada anak
usia dini. Bernyanyi di sini bukan hanya mengajari anak menyanyikan berbagai
lagu, tetapi dapat dilakukan untuk mengajarkan anak membaca huruf hijaiyah
dengan cara membacanya secara berirama sehingga anak merasa senang dan rilek
dalam mengikuti pembelajaran yang diberikan oleh guru-gurunya. Selain itu,
belajar sambil bernyanyi juga akan memberi keceriaan dan kebahagiaan kepada
anak dalam belajar. Keceriaan dan kebahagiaan memainkan peran penting dalam jiwa
anak secara menakjubkan, serta memberikan pengaruh kuat. Anak-anak usia dini
tentu saja ingin selalu riang gembira, selanjutnya keceriaan dan kegembiraan
anak itu akan melahirkan rasa optimisme dan percaya diri serta akan selalu siap
untuk menerima perintah, peringatan atau petunjuk dari orang tua atau orang
dewasa lainnya. Adalah Rasulullah senantiasa menanamkan jiwa periang dan
kegembiraan di dalam jiwa anak dan hal itu beliau lakukan dengan bebagai macam
cara. Di antaranya adalah dengan menyambut mereka dengan sambutan yang hangat
ketika bertemu dengan mereka, mengajak mereka bercanda, menggendong mereka dan
meletakkan mereka di pangkuan beliau, mendahulukan mereka dengan memberi
makanan yang baik, dan dengan cara makan bersama-sama dengan mereka.[68]
Juga tidak kalah pentingnya adalah pembelajaran dengan cara memberikan atau
menyajikan kisah-kisah Islami yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadis Rasul. Dalam pendidikan Islam,
kisah mempunyai fungsi edukatif yang tidak dapat diganti dengan bentuk
penyampaian lain. Hal ini karena kisah Al-Qur’an dan nabawi memiliki beberapa keistimewaan
yang membuatnya mempunyai dampak psikologis dan edukatif yang sempurna,
rapi, dan jangkauan yang luas. Di samping itu kisah eduktif dapat melahirkan
kehangatan perasaan dan vitalitas serta aktvitas di dalam jiwa, yang
selanjutnya memotivasi anak didik untuk mengubah perilakunya dan memperbarui
tekadnya sesuai dengan tuntunan, pengarahan dan ide-ide yang terkandung dalam
kisah tersebut.[69]
Kisah Al-Qur’an
bukanlah karya seni yang tanpa tujuan, melainkan merupakan satu di antara
sekian banyak metode Al-Qur’an untuk menuntun dan mewujudkan tujuan keagamaan
dan ketuhanan serta satu cara untuk menyampaikan ajaran Islam terutama bagi
anak-anak usia dini. Tentu saja kemasan kisah Al-Qur’an yang dapat diterapkan dalam memberikan
pendidikan kepada anak usia dini, merupakan kisah yang dikemas secara indah dan
menarik bagi anak-anak usia dini. Misal kisah-kisah yang dapat diberikan kepada
anak usia dini antara lain adalah kisah para Nabi dan Rasul-rasul Allah, kisah anak durhaka, kisah-kisah anak soleh dan kisah-kisah
orang pemberani dalam kebenaran, serta kisah-kisah lain mengandung nilai
pendidikan dan mendukung bagi pertumbuhan dan perkembangan yang dialami anak usia
dini.
yxä.urÈà)¯Ry7øn=tãô`ÏBÏä!$t6/Rr&È@ß9$#$tBàMÎm7sVçR¾ÏmÎ/x8y#xsèù4x8uä!%y`urÎûÍnÉ»yd,ysø9$#×psàÏãöqtBur3tø.ÏurtûüÏYÏB÷sßJù=Ï9ÇÊËÉÈ
Artinya "Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu,
ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan
dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan
peringatan bagi orang-orang yang beriman". (QS. Huud: 120)
Dijelaskan oleh Ibnu
Kasir bahwa dalam ayat ini Allah menyebutkan bahwa semua kisah para rasul
terdahulu bersama umatnya masing-masing sebelum Muhammad, Kami ceritakan
kepadamu perihal mereka. Semua itu diceritakan untuk meneguhkan hatimu, hai Muhammad, dan agar
engkau mempunyai suri teladan dari kalangan saudara-saudaramu para rasul yang
terdahulu.[70]
..... ÄÈÝÁø%$$sù}È|Ás)ø9$#öNßg¯=yès9tbrã©3xÿtFtÇÊÐÏÈ
"... Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka
berfikir".(Al-A'râf: 176)
Ayat 176 ini diturunkan
menceritakan kisah Bal’aam, untuk mengingatkan manusia bahwa meskipun seorang
itu sudah mencapai ilmu yang sangat tinggi sebagaimana yang dicapai oleh para
Nabi tetapi lalu ia maksiat dan condong kepada dunia, maka akhirnya bernasib
sebagaimana Bal’aam yang disebut oleh Allah:Famasaluhu kamasalail kalbi in
tahmil alaihi yalhas au tatrukhu yalhas. Orang itu contohnya bagaikan
anjing yang selalu menjilat-jilat dan tidak berguna baginya segala peringatan,
ancaman dan nasihat, tidak berguna baginya iman dan pengetahuannya.Karena
itulah ayat ditutup dengan kalimat “Maka ceritakanlah (kepada mereka)
kisah-kisah itu agar mereka berfikir" Ikutilah kisah ini supaya mereka
berpikir dan memperhatikan, dan dapat mawas diri dan berhati-hati jangan sampai
terjadi seperti itu.[71]
Kisah bisa memainkan peran penting dalam menarik perhatian, kesadaran
pikiran dan akal anak. Nabi biasa membawakan kisah di hadapan sahabat, yang
muda maupun yang tua, mereka mendengarkan dengan penuh perhatian terhadap apa
yang dikisahkan beliau, berupa berbagai peristiwa yang pernah terjadi di masa
lalu, agar bisa diambil pelajarannya oleh orang-orang sekarang dan yang akan
datang hingga hari kiamat. Yang penting dicatat adalah bahwa kisah-kisah yang
disampaikan oleh Nabi bersandar pada fakta riil yang pernah terjadi di masa
lalu, jauh dari khurafat dan mitos.Kisah-kisah tersebut bisa membangkitkan
keyakinan sejarah pada diri anak, di samping juga menambahkan spirit pada anak
untuk bangkit serta membangkitkan rasa keislaman yang bergelora dan
mendalam.Kisah-kisah para ulama, ‘amilin dan orang-orang mulia yang
shalih merupakan sebaik-baik sarana yang akan menanamkan berbagai keutamaan
dalam jiwa anak serta mendorongnya untuk siap mengemban berbagai kesulitan
dalam rangka meraih tujuan yang mulia dan luhur. Di samping itu juga akan
membangkitkan untuk mengambil teladan orang-orang yang penuh pengorbanan
sehingga ia akan terus naik menuju derajat yang tinggi dan terhormat.[72]
4. Mendidik dengan Targhib dan Tarhib
Targhib adalah janji yang
disertai dengan bujukan dan membuat senangterhadap sesuatumaslahat,kenikmatan,
atau kesenangan akhirat.Sedangkan tarhib adalah ancaman dengan
siksaan sebagai akibat melakukan dosa atau kesalahan yang dilarang oleh Allah,
atau akibat lengah dalam menjalankan kewajiban yang diperintahkan Allah.[73] Ini merupakan
metode pendidikan Islam yang didasarkan atas fitrah yang diberikan Allah kepada
manusia, seperti keinginan terhadap kekuatan, kenikmatan, kesenangan, dan
kehidupan abadi yang baik serta ketakutan akan kepedihan, kesengsaraan dan
kesudahan yang buruk. Ditinjau dari segi paedagogis, hal ini
mengandung anjuran, hendaknya pendidik dan atau orang tua menanamkan keimanan
dan aqidah yang benar di dalam jiwa anak-anak, agar pendidik dapat menjanjikan(targhib) surga
kepada mereka dan mengancam (tarhib) mereka dengan azab Allah,
sehingga hal ini diharapkan akan mengundang anak didik untuk merealisasikan
dalam bentuk amal dan perbuatan yang dianjurkan oleh ajaran Islam. Dalam
memberikan pendidikan melalui targhib dan tarhib,
pendidik hendaknya lebih mengutamakan pemberian gambaran yang indah tentang
kenikmatan di surga dan berbagai kenikmatan lain yang diperoleh sebagai balasan
bagi amal sholeh yang dikerjakan, sekaligus juga diberikan sedikit gambaran
tentang dahsyatnya azab Allah yang diberikan sebagai ganjaran pelanggaran yang
dilakukan.[74] Pendidikan dengan
menerapkan metode ini merupakan upaya untuk menggugah, mendidik dan
mengembangkan perasaan Rabbaniyah pada anak sejak usia dini,
perasaan-perasaan yang diharapkan dapat dikembangkan melalui metode ini antara
lain; khauf kepada Allah, perasaan khusyu',
perasaan cinta kepada Allah, dan perasaan raja' (berharap)
kepada Allah.
Targhib dan tarhib merupakan
bagian dari metode kejiwaan yang sangat menentukan dalam meluruskan anak, ia
merupakan cara yang jelas dan gamblang dalam pendidikan ala Rasul, beliau
sering menggunakannya dalam menyelesaikan masalah anak di segala kesempatan,
terutama dalam masalah berbakti kepada orang tua. Beliau mendorong anak agar berbakti kepada kedua orang tuanya serta
menakut-nakutinya dari berbuat durhaka kepada keduanya. Hal itu tidak lain
bertujuan agar anak itu menyambut hal ini dan mendapatkan pengaruh sehingga ia
bisa memperbaiki diri dan perilakunya.[75]
5. Pujian dan Sanjungan
Tidak diragukan lagi, pujian terhadap anak mempunyai pengaruh yang sangat
dominan terhadap dirinya, sehingga hal itu akan menggerakkan perasaan dan
inderanya. Dengan demikian, seorang anak akan bergegas meluruskan perilaku dan
perbuatannya. Jiwanya akan menjadi riang dan juga senang dengan pujian ini
untuk kemudian semakin aktif. Rasulullah sebagai manusia yang mengerti tentang
kejiwaan manusia telah mengingatkan akan pujian yang memberikan dampak positif
terhadap jiwa anak, jiwanya akan tergerak untuk menyambut dan melaksanakan
tugas yang diberikan kepadanya.[76]
Anak kecil yang masih
berada dalam umur tiga tahun pertama bukannya tidak mempunyai perasaan
kehormatan serta harga diri, ia menyadari bahwasanya dirinya adalah anak kecil,
akan tetapi dalam lubuk hatinya ia tidak menerima jika dianggap remeh dalam
bentuk dan sikap yang bagaimanapun. Selama ia masih tumbuh berkembang maka perasaan dihargai dan dihormati ikut
tumbuh kembang dalam dirinya. Perasaan harga diri dan dihormati merupakan
pembawaan manusia secara fitrah, baik sebagai anak kecil maupun sebagai manusia
dewasa, sebab sesungguhnya manusia merupakan makhluk yang dihormati lagi
dimuliakan.Mengenai bentuk dan ragam pemberian pujian atau penghargaan cukup
banyak, yang terpenting adalah anak sejak dini dipandang sebagai manusia
sekaligus diperlakukan secara manusiawi.[77]
Secara lebih lanjut,
pujian dan sanjungan dapat diberikan dalam bentuk hadiah.Namun orang tua
hendaklah berhati-hati dalam memilih hadiah, agar tidak menimbulkan
ketagihan.Hindarilah memberi hadiah uang, karena selain benda ini sangat
menggiurkan, orang tua pun harus bekerja dua kali untuk membimbing anak agar
mampu membelanjakan uangnya dengan baik.Pilihlah hadiah yang bersifat edukatif,
sehingga tak jadi persoalan jika anak-anak kemudian ketagihan. Buku cerita, alat-alat sekolah serta
perlengkapan kegemaran anak akan cukup menyenangkan mereka. Pilih barang yang
saat itu sedang mereka butuhkan, sehingga orang tua tidak perlu membelikannya
lagi, misalnya jika sepatunya sudah mulai nampak berlubang, mengapa tidak
menjadikannya saja sebagai hadiah, sebab kalaupun tidak sebagai hadia toh
akhirnya orang tua harus membelikannya juga.Orang tua harus sejak awal dan
terus-menerus menanamkan pengertian bahwa hadiah yang diberikan kepada anak
bukan semata untuk menghargai prestasi akhir mereka, namun lebih
dititikberatkan pada usaha anak untuk mengubah dirinya.[78]
6. Menanamkan Kebiasaan yang Baik
Dalam usaha memberikan pendidikan dan membantu perkembangan anak usia dini,
selain pengembangan kecerdasan dan keterampilan, perlu juga sejak dini
ditanamkan kebiasaan-kebiasaan yang positif. Pendidikan dengan mengajarkan dan
pembiasaan adalah pilar terkuat untuk pendidikan anak usia dini, dan metode
paling efektif dalam membentuk iman anak dan meluruskan akhlaknya, sebab metode
ini berlandasakan pada pengikutsertaan. Tidak diragukan lagi, mendidik dengan
cara pembiasaan anak sejak dini adalah paling menjamin untuk mendatangkan hasil
positif, sedangkan mendidik dan melatih setelah dewasa sangat sukar untuk
mencapai kesempurnaan.[79]
Ada beberapa hal yang dapat dianggap positif untuk dibiasakan terhadap
anak usia dini, di antaranya adalah:
a.
Anak harus dibiasakan menjaga kebersihan, sebab Islam sangat mementingkan
kebersihan, sebagaimana dapat dibaca pada firman Allah berikut ini:
ª!$#ur=ÏtäúïÌÎdg©ÜßJø9$#ÇÊÉÑÈ
“... Dan Allah menyukai orang-orang yang bersih”. (QS. At-Taubah: 108)
Ayat di atas menjelaskan tentang kecintaan Allah terhadap orang yang
bersih, yaitu orang menyucikan dirinya dari segala macam najis dan kotoran sekaligus
membersihan jiwanya dari segala macam dosa.[80]Ayat ini sejalan dengan sabda Rasul:
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا أَبُو
عَامِرٍ الْعَقَدِيُّ حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ إِلْيَاسَ عَنْ صَالِحِ بْنِ أَبِي
حَسَّانَ قَال سَمِعْتُ سَعِيدَ بْنَ الْمُسَيَّبِ يَقُولُ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ
يُحِبُّ الطَّيِّبَ نَظِيفٌ يُحِبُّ النَّظَافَةَ.
“... Sesungguhnya Allah itu baik dan menyukai kebaikan, bersih dan menyukai kebersihan”.(HR. At-Tirmiżi)[81]
Dalam rangka
membiasakan hidup bersih dan hidup sehat, pada anak usia dini, hendaklah anak
dibiasakan untuk; berdoa sebelum tidur dan ketika bangun, mandi secara teratur,
menggosok gigi setiap bangun dan menjelang tidur, mencuci tangan sebelum dan
sesudah makan, serta membuang sampah pada tempatnya.
b.
Anak dilatih dan
dibiasakan hidup teratur, misalnya dengan membiasakan anak makan secara teratur
dan tidak berlebihan, sebagaimana difirmankan Allah SWT.:
*ûÓÍ_t6»ttPy#uä(#räè{ö/ä3tGt^ÎyZÏãÈe@ä.7Éfó¡tB(#qè=à2ur(#qç/uõ°$#urwur(#þqèùÎô£è@4¼çm¯RÎ)w=ÏtätûüÏùÎô£ßJø9$#ÇÌÊÈ
Artinya: “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki)
mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah
tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan”.(Al-A’râf ayat 31)
Makna yang terdapat
pada ayat ini adalah makanlah sesukamu dan berpakaianlah sesukamu selagi engkau
hindari dua pekerti, yaitu berlebih-lebihan dan sombong. Allah menghalalkan
makan dan minum selagi dilakukan dengan tidak berlebih-lebihan dan tidak untuk
kesombongan.[82]
Dalam hadis Rasul kita
temukan tentang aturan makan dan minum, yaitu seperti yang tersebut dalam hadis
berikut ini:
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ
وَمُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ وَزُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ وَابْنُ
أَبِي عُمَرَ وَاللَّفْظُ لِابْنِ نُمَيْرٍ قَالُوا حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ
الزُّهْرِيِّ عَنْ أَبِي بَكْرِ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ
عُمَرَ عَنْ جَدِّهِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَأْكُلْ بِيَمِينِهِ وَإِذَا شَرِبَ
فَلْيَشْرَبْ بِيَمِينِهِ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَأْكُلُ بِشِمَالِهِ وَيَشْرَبُ
بِشِمَالِهِ
Artinya: Dari Jaddah ibn Umar Rasulullah berkata: “Jika makan salah seorang
diantara kamu, maka makanlah dengan tangan kanan, dan jika minum, maka minumlah
dengan tangan kanan, karena sesungguhnya syaitan makan dan minum dengan tangan
kiri”(HR. At-Tirmizi)[83]
c. Anak sejak dini hendaknya dibiasakan hidup sederhana dan hemat. Untuk itu
sebaiknya anak tidak dibiasakan jajan, sebab jajan di samping merupakan
kebiasaan yang tidak baik, juga makananan yang ia beli belum terjamin
kebersihannya hingga bisa membahayakan kesehatannya.[84]
Itulah beberapa metode
pendidikan yang menurut hemat penulis layak untuk diterapkan pada pelaksanaan
pendidikan anak usia dini. Dengan metode-metode tersebut secara teoritis akan memberikan hasil positif
terhadap pembinaan dan pendidikan anak usia dini, baik itu yang dilaksanakan
orang tua di rumah, maupun oleh para guru di sekolah/lembaga pendidikan anak
usia dini.
E. Penutup
Kesimpulan
Menurut Gardner,
kecerdasan seseorang meliputi unsur-unsur kecerdasan matematika logika,
kecerdasan bahasa, kecerdasan musikal, kecerdasan visual spasial, kecerdasan
kinestetik, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, dan kecerdasan
naturalis.
Dengan pembelajaran
berbasis kecerdasan majemuk, siswa yang dengan beragam dominasi kecerdasan
dapat terfasilitasi pada saat belajar sehingga hasil belajar siswa dari
segi kognitif ( prestasi belajar) dan afektif (minat) meningkat.
Maka guru dalam proses
pembelajaran juga harus memandang siswa sebagai makhluk yang memiliki
banyak unsur dari dirinya. Dengan demikian maka semua potensi yang
dimiliki oleh siswa dapat berkembang dengan optimal.
Pendidikan merupakan salah
satu bimbingan yang harus kita tegakan bagi generasi penerus masa depan,
Sebagai amanat Allah yang dititipkan kepada kedua orang tua anak pada dasarnya
harus memperoleh perawatan, perlindungan serta perhatian yang cukup dari kedua
orang tua, karena kepribadiannya ketika dewasa atau keshaleh dan keshalehahannya akan
sangat bergantung kepada pendidikan masa kecilnya terutama yang diperoleh dari
kedua orang tua dan keluarganya.
Unsur-unsur pendidikan
anak itu harus diajarkan yag paling utama itu agama yaitu tentang ketauhidan,
mengajarkan pendidikan akhlak tentang prilaku dan sikap yang baik, pendidikan
jasmani yang harus dijaga selain jasmani rohaninya pun harus dijaga karena
Kesehatan adalah mahkota yang tidak mengetahui kecuali yang sakit. Kesehatan
merupakan anugerah terbesar Allah yang diberikan manusia, akan tetapi mereka
sering melupakannya. Dan yang terakir itu pendidikan Akal , karena akal
merupakan anugerah Allah yang tidak diberikan kepada selain makhluk-Nya bernama
manusia. Ia merupakan srana untuk mendapatka ilmu pengetahuan.
DAFTAR PUSTAKA
Ibnu Kasir Ad-Dimasyqi, Al Imam Abul Fida Ismail. 2003. Tafsir Al
Qur’an al-‘Ażīm. terj. Bahrum Abu Bakar,Bandung: Sinar Baru
Algesindo.
Al-Bukhari, Abu Abdullah ibn Muhammad Isma’il. Shahih Bukhri Juz I. Riyadh: Idaratul
Bahtsi Ilmiah,tt.
At-Tirmiżi, Imam al-Hafidz Abi ‘Abbas Muhammad ibn ‘Isa ibn Saurah. Sunan
at-Tirmiżi al-Jami’us Şahih, juz 4. Semarang: Toha Putra, tt.
Ali Quthb, Muhammad. 1988. Auladuna fi Dlau-it Tarbiyyatil
Islamiyyah, terj. Bahrum abu Bakar Ihsan. Bandung: Diponegoro.
Al Abrasy, M. Athiyah. 1969. at-Tarbiyah al-Islāmiyah wa Falasatuhā. TTp:
’Isa al-Bābi al-Jalabī wa syirkāhu.
Abdul Halim, M. Nipan. 2001. Anak Saleh Dambaan Keluarga. Jakarta:
Mitra Pustaka.
Depdiknas. 2002. Acuan Menu Pembelajaran pada Pendidikan Usia
Dini(Pembelajaran Generik). Jakarta: Depdiknas.
Abd Al Mun’im Ibrahim, Abu A’isy. 2007. Tarbiyah Al-Banati fi Al- Islam, terj.Herwibowo, Pendidikan Islam bagi Remaja Putri.Jakarta: Najla Press.
M.Thalib. 1992. 40 Tanggung Jawab Orang Tua Terhadap
Anak.Yogyakarta: Pustaka Al Kautsar.
Suwaid, Muhammad. 2003. Manhaj at-Tarbiyyah an-Nabawiyyah lit-Tifl, terj.Salafuddin Abu Sayyid. Mendidik Anak Bersama Nabi. Solo: Pustaka Arafah.
Aghla, Ummi. 2004. Mengakrabkan Anak pada Ibadah. Jakarta: Almahira.
Nashih Ulwan, Abdullah. 1981. Tarbiyatu ‘l-Aulad fi-‘l-Islam, terj.
Saifullah Kamalie, Pedoman Pendidikan Anak dalam Islam. Semarang:
Asy Syfa’.
Al-Quzwaini, Abi ‘Abdillah Muhammad ibn Yazid. Sunan Ibnu Mājah,
juz 1. Bairut: Dār al-Fikr, tt.
Al-Sijistani, Abu Daud Sulaiman ibn al-Asy’ats.1401 H. Sunan Abu
Daud, Bairut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah.
Ar-Rifa’i, M. Nasib. 1999. Ringkasan Tafsir Ibnu Kasir, jilid 3. Jakarta: Gema Insani.
Nashih Ulwan, Abdullah. 1995. Tarbiyat al- Aulad Fi al- Islam, terj. Jamaluddin Miri, Pendidikan Anak
dalam Islam. Jakarta: Pustaka Amani.
An-Nahlawi, Abdurrahman. 1989. Prinsip-Prinsip dan Metode Pendidikan
Islam dalam Keluarga di Sekolah dan di Masyarakat.Semarang: Diponegoro.
Zuhaili, Muhammad. 2002. Al Islam Wa Asy Syabab, terj. Arum Titisari,Pentingnya Pendidikan Islam Sejak Dini. Jakarta: AH. Ba’adillah Press.
Istadi, Irawati. 2006. Mendidik Dengan Cinta. Bekasi: Pustaka Inti.
An-Naisaburi, Abu al-Husain Muslim ibn al-Hajjaj al-Qusyairi. Şahih
Muslim Juz 1. Bandung: Al Ma’arif, tt.
Bahreisy, Salim. 1986. Terjemah Singkat Tafsir Ibnu Katsier,
jilid III. Surabaya: Bina Ilmu.
Panitia Muzakarah Ulama. 1987. Memelihara Kelangsungan Hidup Anak
Menurut Ajaran Islam. Jakarta: Kerjasama Departemen Agama, MUI dan UNICEF.
Hurlock, Elizabeth. 1996. Perkembangan Anak. Jakarta: Erlangga.
http://nuritaputranti.wordpress.com/2007/11/27/kecerdasan-majemuk-multiple-intelligences/ senin,28mei2012,10.46wib
Mansur. 2011. Pendidikan Anak Usia Dini Dalam Islam.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Suyanto, Slamet. 2008. Dasar-Dasar Pendidikan Anak Anak Usia
Dini. Yogyakarta: Hikayat Publishing.
Abrurrahman, Mulyono. 2003. Pendidikan Bagi Anak
Berkesulitan belajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Fadlillah, Muhammad. 2012. Desain Pembelajaran PAUD.
Yogyakarta: Ar-Ruzz.
B. Hurloc, Elizabeth. 1978. Perkembangan Anak. Jakarta:
Erlangga.
Santrock, John W. 2007. Perkembangan Anak. Jakarta: Erlangga
Djaali. 2007. Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Woolfolk, Anita. 2009. Educational Psychology Active Learning Edition ,
edisi bahasa Indonesia. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Robert E , Slavin. 2011. Psikologi Pendidikan Teori dan praktek.
Jakarta: PT. Indeks.
Kartadinata, Sunaryo . 2007. Rambu-rambu Penyelenggaraan
Bimbingan dan Koseling.Jakarta: Rineka
Cipta.
Macam-macamIntelegensi. 0308,2010.http://sekolah-dasar. blogspot. Com / 2010 / 03 / 08 / macam-macam - intelegensi
(accessed 01 20, 2012).
Teori Multi Intelegensi. 07 08, 2008. http://kangmassoma. blogspot. Com / 2008 / 07 / teori-multi-intelegensi (accessed 01 20,
2012).
Sunardi, S.Pd. Kecerdasan Majemuk. 04 21, 2009. http://nardisungailin. blogspot. com/2009/04/kecerdasan-majemuk.html (accessed 01 20, 2012).
[2]http://nuritaputranti.wordpress.com/2007/11/27/kecerdasan-majemuk-multiple-intelligences/ senin,28mei2012,10.46wib
[3] Mansur, Pendidikan Anak Usia Dini Dalam Islam,
(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2011), h.17
[4] Imas
Kurniasih, Pendidikan Anak Usia Dini,( Edukasi, 2011), h. 13
[5] Mansur, Pendidikan Anak Usia Dini, h. 22
[6] Mansur, Pendidikan Anak Usia Dini, h. 24
[7] Slamet
Suyanto, Dasar-Dasar Pendidikan Anak Anak Usia Dini (Yogyakarta:
Hikayat Publishing) h.192.
[8] Slamet
Suyanto, Dasar-Dasar Pendidikan Anak Anak Usia Dini, h. 33
[9] Mulyono
Abrurrahman, Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan belajar,
(Jakarta: Rineka Cipta,2003), h.170.
[10]
Mansur, Pendidikan Anak Usia Dini, h. 34.
[11] Slamet Suyanto, Dasar-Dasar Pendidikan Anak
Anak Usia Dini (Yogyakarta: Hikayat Publishing), h.194.
[12] Mansur, Pendidikan
Anak Usia Dini, h. 35.
[13] Mansur, Pendidikan
Anak Usia Dini, h. 36.
[14] Slamet
Suyanto, Dasar-Dasar Pendidikan Anak Anak, h. 197.
[15] Muhammad
Fadlillah, Desain Pembelajaran PAUD, (Yogyakarta, Ar-Ruzz, 2012),
h. 47.
[16] Mansur, Pendidikan
Anak Usia Dini, h. 46.
[17] Mansur, Pendidikan
Anak Usia Dini, h. 45.
[18] Mansur, Pendidikan
Anak Usia Dini, h. 52-55
[19] Slamet
Suyanto, Dasar-Dasar Pendidikan Anak Anak, h.195.
[20] Mansur, Pendidikan Anak Usia Dini, h. 56
[21] Elizabeth B.
Hurloc, Perkembangan Anak, (Jakarta, Erlangga: 1978), h. 213.
[22] Mansur, Pendidikan
Anak Usia Dini, h. 58.
[23] John w
Santrock, Perkembangan Anak, (Jakarta, Erlangga: 2007), h. 9
[24] Mansur, Pendidikan
Anak Usia Dini, h. 58.
[25] Slamet
Suyanto, Dasar-Dasar Pendidikan Anak Anak, h. 195.
[26] Slamet
Suyanto, Dasar-Dasar Pendidikan Anak Anak, h. 196.
[27] Mansur, Pendidikan
Anak Usia Dini,h. 60.
[28] Mansur, Pendidikan
Anak Usia Dini,h. 60.
[29] Slamet
Suyanto, Dasar-Dasar Pendidikan Anak Anak, h. 197.
[31]Anita Woolfolk, Educational
Psychology Active Learning Edition , edisi bahasa Indonesia. (
Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2009), h.168.
[37]Sunaryo Kartadinata, Rambu-rambu
Penyelenggaraan Bimbingan dan Koseling. (Jakarta: Rineka
Cipta , 2007), h. 6.
[38]Macam-macamIntelegensi. 0308,2010.http://sekolah-dasar. blogspot. Com / 2010 / 03 / 08 / macam-macam -
intelegensi (accessed 01 20, 2012).
[43]Teori Multi
Intelegensi. 07 08, 2008. http://kangmassoma. blogspot. Com / 2008
/ 07 / teori-multi-intelegensi (accessed 01 20, 2012).
[44]Sunardi, S.Pd. Kecerdasan
Majemuk. 04 21, 2009. http://nardisungailin. blogspot.
com/2009/04/kecerdasan-majemuk.html (accessed 01 20, 2012).
[45]Sunardi, S.Pd. Kecerdasan
Majemuk. 04 21, 2009. http://nardisungailin. blogspot. com/2009/04/kecerdasan-majemuk.html
(accessed 01 20, 2012).
[46]Al-Imam Abul Fida
Ismail Ibnu Kasir Ad-Dimasyqi, Tafsir Al Qur’an al-‘Ażīm,
terjemahan Bahrum Abu Bakar, Tafsir Ibnu Kaśīr juz 14, (Bandung:
Sinar Baru Algesindo,2003), h. 216.
[47]Abu Abdullah ibn
Muhammad Isma’il al-Bukhari, Shahih Bukhri Juz I, (Riyadh: Idaratul
Bahtsi Ilmiah,tt), h. 25.
[48]Imam al-Hafidz Abi
‘Abbas Muhammad ibn ‘Isa ibn Saurah at-Tirmiżi, Sunan at-Tirmiżi
al-Jami’us Şahih, juz 4, (Semarang: Toha Putra,tt,), h. 216.
[49] Imam al-Hafidz Abi
‘Abbas Muhammad ibn ‘Isa ibn Saurah at-Tirmiżi, Sunan at-Tirmiżi
al-Jami’us Şahih, juz 3, (Semarang: Toha Putra,tt,), h 227.
[51]Muhammad Ali Quthb, Auladuna fi Dlau-it Tarbiyyatil Islamiyyah,
terj. Bahrum Abu Bakar Ihsan, (Bandung: Diponegoro,1988), h.
59.
[52]Al-Baidhawi, Tafsir Baidhawi, (http://www.Altafsir.com) Juz 5 h. 9, baca An-Naisaburi, Tafsir An-Naisaburi, juz 1, h. 81.
[54]Abdullah Nashih Ulwan, Tarbiyat al- Aulad Fi al- Islam, terj.
Jamaluddin Miri, Pendidikan Anak dalam Islam, (Jakarta: Pustaka
Amani, 1995), h.37
[55]Muhammad Suwaid, Manhaj at-Tarbiyyah
an-Nabawiyyah lit-Tifl, terj. Salafuddin Abu Sayyid, Mendidik Anak
Bersama Nabi, (Solo: Pustaka Arafah,2003), h. 458.
[56]Abdurrahman An-Nahlawi, Prinsip-Prinsip dan Metode Pendidikan Islam
dalam Keluarga di Sekolah dan di Masyarakat, (Semarang: Diponegoro,1989),
h. 366.
[57]Abu al-Husain Muslim
ibn al-Hajjaj al-Qusyairi an-Naisaburi, Şahih Muslim Juz 1,
(Bandung: Al Ma’arif,tt), h. 217.
[58]Imam al-Hafidz Abi
‘Abbas Muhammad ibn ‘Isa ibn Saurah at-Tirmiżi,Sunan at-Tirmiżi
al-Jami’us Şahih, juz 1, (Semarang: Toha Putra,tt,) h. 260.
[60]Muhammad Zuhaili, Al Islam Wa Asy Syabab,
terjemahan Arum Titisari,Pentingnya Pendidikan Islam Sejak Dini, (Jakarta:
AH. Ba’adillah Press, 2002), h. 70.
[62]Abu al-Husain Muslim
ibn al-Hajjaj al-Qusyairi an-Naisaburi, Şahih Muslim Juz 1,
(Bandung: Al Ma’arif,tt), h 460.
[64]Ummi Aghla, Mengakrabkan
Anak pada Ibadah, (Jakarta: Almahira, 2004), h. 98.
[67]Abdullah Nashih Ulwan,Tarbiyatu
‘l-Aulad fi-‘l-Islam, terjemahan Saifullah Kamalie, Pedoman
Pendidikan Anak dalam Islam, (Semarang: Asy Syfa’,1981). h. 33.
[69]Abdurrahman An-Nahlawi, Prinsip-Prinsip dan Metode Pendidikan Islam
dalam Keluarga di Sekolah dan di Masyarakat,h. 332.
[70]Al-Imam Abul Fida
Ismail Ibnu Kasir Ad-Dimasyqi, Tafsir Al Qur’an al-‘Ażīm, terj.
Bahrum Abu Bakar, Tafsir Ibnu Kaśīr juz 12, (Bandung: Sinar Baru
Algesindo,2003), h. 184.
[71]Salim Bahreisy dan Said Bahreisy, Terjemah Singkat Tafsir Ibnu
Katsier, jilid III, (Surabaya: Bina Ilmu, 1986), h. 509.
[73]Abdurrahman An-Nahlawi, Prinsip-Prinsip dan Metode Pendidikan Islam
dalam Keluarga di Sekolah dan di Masyarakat,h. 412.
[74]Abdurrahman An-Nahlawi, Prinsip-Prinsip dan Metode Pendidikan Islam
dalam Keluarga di Sekolah dan di Masyarakat,h. 414.
[79]AbdullahNashihUlwan, Tarbiyat al-Aulad Fial-Islam,terj.Jamaluddin
Miri, Pendidikan Anak dalam Islam, h. 64.
[80]Al-Imam abul Fida
Ismail Ibnu Kasir Ad-Dimasyqi, Tafsir Al Qur’an al-‘Ażīm,
terjemahan Bahrum Abu Bakar, Tafsir Ibnu Kaśīr juz 11, (Bandung:
Sinar Baru Algesindo,2003), h. 48.
[81]Imam al-Hafidz Abi
‘Abbas Muhammad ibn ‘Isa ibn Saurah at-Tirmiżi,Sunan at-Tirmiżi
al-Jami’us Şahih, juz 4, (Semarang: Toha Putra,tt,) h. 198.
[82]Al-Imam Abul Fida
Ismail Ibnu Kasir Ad-Dimasyqi, Tafsir Al Qur’an al-‘Ażīm, terj.
Bahrum Abu Bakar, Tafsir Ibnu Kaśīr juz 8, (Bandung: Sinar Baru
Algesindo,2003), h. 289.
[83]Imam al-Hafidz Abi
‘Abbas Muhammad ibn ‘Isa ibn Saurah at-Tirmiżi, Sunan at-Tirmiżi
al-Jami’us Şahih, juz 3, (Semarang: Toha Putra,tt,) h. 166.
[84]Panitia Muzakarah
Ulama, Memelihara Kelangsungan Hidup Anak Menurut Ajaran Islam,
(Jakarta: Kerjasama Departemen Agama, MUI dan UNICEF, 1987/1988), h. 58-59.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
terimakasih atas kunjungannya jangan lupa komen