Sabtu, 06 Mei 2017

Makalah tentang Aspek Kecerdasan Anak Pada masa PAUD


KONVERGENSI ASPEK KECERDASAN DAN PENDIDIKAN AGAMA DALAM PAUD
Oleh: Muhammad Syaman
A.    Pendahuluan
Menurut ayat suci yang termaktub dalam Al-Qur’an dijelaskan bahwa anak lahir seperti kertas putih, anak tersebut akan menjadi anak Majusi atau Yahudi, tergantung oleh pendidikan yang diperoleh. Pendidikan untuk anak usia dini juga sangat penting dalam pembentukan karakter pada anak. Menurut Islam pendidikan anak dimulai sejak anak dalam kandungan. Contohnya seorang ibu disarankan banyak membaca ayat suci, Al-Qur’an,  dan dinasehatkan banyak berbuat kebajikan. Pada waktu ibu mengandung dianjurkan bayi yang masih dalam kandungan didengarkan lagu-lagu yang Islami, hal itu akan mempengaruhi karakter anak jika kelak ia dewasa nanti itu merupakan bukti,  bayi dalam kandungan terdidik dengan baik.
Pada saat  lahir, oleh ayahnya dikumandangkan suara adzan suara ini adalah suara pertama  kali yang  dia dengar dan diharapkan kelak dia dewasa anak tergerak jika mendengar adzan dan melaksanakan sholat.
Pada usia dini merupakan masa-masa golden age, pada masa golden age berumur 0-6 tahun pada masa ini otak anak berkembang 80%. Pada masa ini pula anak-anak mudah dibentuk. oleh karena itu, anak perlu dibimbing dengan cara yang baik dan sesuai dengan usianya, agar  nantinya dia menjadi anak yang unggul dalam agama maupun intelektualnya.  Oleh Karena itu peran pendidik dan orang tua dalam mendidik anak sangat penting. Orang tua dan pendidik harus melihat potensi anak yang dimilikinya dan orang tua maupun pendidik harus membantu mengembangkan potensi yang dia miliki, dan jangan sampai orang tua memaksa kehendak pada anaknya.
Selain itu, pendidikan harus mempunyai landasan yang jelas dan terarah. Landasan tersebut sebagai acuan atau pedoman dalam proses penyelenggaraan pendidikan, baik dalam institusi pendidikan formal, non formal maupun informal. Yang dimaksud landasan yang jelas dan terarah adalah bahwa pendidikan harus berprinsip pada pengokohan moral agama anak didik di samping aspek-aspek lainnya. Hal ini sangat diperlukan sebagai upaya untuk mengantarkan anak didik agar dapat berpikir, bersikap, dan berperilaku secara terpuji (akhlak al-karimah). Upaya tersebut bisa dilakukan oleh para pendidik (guru dan orang tua) pada program PAUD. Pertumbuhan dan perkembangan merupakan proses alami yang terjadi dalam kehidupan manusia, dimulai sejak dalam kandungan sampai akhir hayat. Pertumbuhan lebih menitikberatkan pada perubahan fisik yang bersifat kuantitatif, sedangkan perkembangan yang bersifat kualitatif berarti serangkaian perubahan progesif sebagai akibat dari proses kematangan dan pengalaman.Manusia tidak pernah statis, semenjak pembuahan hingga ajal selalu terjadi perubahan, baik fisik maupun kemampuan psikologis.[1]Kecerdasan merupakan salah satu faktor utama yang menentukan sukses gagalnya peserta didik belajar di sekolah. Peserta didik yang mempunyai taraf kecerdasan rendah atau di bawah normal sukar diharapkan berprestasi tinggi. Tetapi tidak ada jaminan bahwa dengan taraf kecerdasan tinggi seseorang secara otomatis akan sukses belajar di sekolah.[2]
Bagaimana aspek pertumbuhan pada manusia saat usia dini? Apa saja aspek kecerdasan manusia menurut para pakar? Bagaimana cara memberikan pendidikan agama kepada anak usia dini menurut tafsir Al-Qur’an?. Mungkin pertanyaan ini sempat terlintas di benak kita. Oleh karena itu pertanyaan-pertanyaan inilah yang akan pemakalah coba jawab di dalam makalah ini.
B.     Aspek Pertumbuhan Pada Manusia Saat Usia Dini
Mansur mengungkapkan  dalam bukunya pendidikan anak usia dini dalam Islam dijelaskan bahwa pertumbuhan dan perkembangan merupakan proses alami yang terjadi dalam kehidupan manusia, dimulai sejak dalam kandungan sampai akhir hayat. Pertumbuhan lebih menitik beratkan pada perubahan fisik yang bersifat kuantitatif, sedangkan perubahan progresif sebagai akibat dari proses kematangan dan pengalaman.[3]Pertumbuhan adalah perubahan ukuran dan bentuk tubuh atau anggota tubuh misalnya bertambah berat badan. Sedangkan perkembangan adalah perubahan mental yang berlangsung secara bertahap dan dalam waktu tertentu, dari kemampuan yang sederhana menjadi kemampuan yang lebih sulit, misalnya kecerdasan, sikap, tingkahlaku dan sebagainya.[4]Untuk mengembangkan berbagai kemampuan atau potensi anak , maka dikembangkan aspek-aspek pengembangan, yakni: pengembangan moral dan nilai-nilai agama, pengembangan fisik, pengembangan bahasa, pengembangan kognitif, pengembangan sosio-emosional, pengembangan seni dan kreatifitas.
Sesuai dengan tujuan pendidikan anak usia dini, yaitu menyiapkan anak untuk berkembang secara komprehensif, sudah barang tentu orientasi pendidikan pada anak usia dini tidak hanya terbatas pada aspek pengembangan kecerdasan semata, tetapi juga mencakup aspek perkembangan yang lebih luas. Aspek-aspek perkembangan yang terjadi pada anak usia dini meliputi: aspek fisik dan motorik, aspek kognitif, aspek bahasa, aspek moral dan nilai-nilai agama, aspek sosio-emosional, aspek seni dan kreativitas.[5]
1.      Perkembangan Fisik dan Motorik
Menurut Elizabeth, perkembangan fisik sangat pentingdipelajari, karena baik secara langsung maupun tidak langsung akan mempengaruhi perilaku anak sehari-hari. Secara langsung, perkembangan fisik anak akan menentukan keterampilan anak dalam bergerak. Secara tidak langsung, pertumbuhan dan perkembangan fisik akan mempengaruhi bagaimana anak itu memandang dirinya sendiri dan bagaimana ia memandang orang lain.
Perkembangan motorik kasar diperlukan untuk keterampilan menggerakkan dan menyeimbangkan tubuh. Pada usia dini anak masih mnyukai gerakan sederhana seperti melompat dan berlari. Perkembangan motorik halus meliputi perkembangan otot halus meliputi perkembangan otot halus dan fungsinya. Otot ini berfungsi untuk melakukan gerakan-gerakan bagian tubuh yang lebih spesifik: seperti menulis, melipat, merangkai, mengancing baju dan lain sebagainya. Adapun perkembangan motorik pada anak mengikuti delapan pola umum, yaitu:
a.       Continuity
Dimulai dari sederhana ke yang lebih kompleks sejalan dengan bertambahnya usia anak
b.      Unifrom sequence (memiliki harapan yang sama)
Memiliki pola tahapan yang sama untuk semua anak. Meskipun perkembangan kecakapan anak berbeda-beda.
c.       Meturity (kematangan)
Dipengaruhi oleh perkembangan sel saraf dari gerakan  yang bersifat umum ke khusus.
d.      Chepalo-coudal direction
Bagian yang mendekati kepala berkembang lebih dahulu dari bagian mendekati ekor.
e.          Bersifat proximu-distal
Bahwa bagian yang mendekati sumbu tubuh berkembang lebih dulu dari yang lebih jauh.
f.        Koordinasi bilateral menuju crosslateral
Bahwa koordinasi organ yang sama berkembang lebih dahulu sebelum melakukan  koordinasi organ bersilangan.
Dapat dikatakan bahwa kompetensi dan hasil beajar yang ingin dicapai dalam aspek pengembangan fisik adalah kemampuan mengelola dan keterampilan tubuh termasuk gerakan-gerakan yang mengontrol gerakan tubuh, gerakan halus, gerakan kasar, serta menerima rangsangan dari panca indra.[6]
Ada beberapa hal tentang tahap awal pendidikan pada usia 0-1 tahun, yaitu:
a.       Telungkup, tahap awal yang dilakukan bayi ketika rata-rata berusia 6-9 bulan.
b.      Duduk, tahap selanjutnya untuk melangkah proses pendidikan selanjutnya.
c.       Merangkak dan merayap.
d.      Berdiri dan belajar, yang merupakan tonggak awal untuk melatihkecerdasan fisik yang berkaitan dengan pendidikan gerakan.
 Sebagai pendidik anak usia dini harus memiliki sebuah acuan didalam penilaian perkembangan ataupun yang harus di perhatikan sesuai perkembangan yang harus dicapai, pada hal ini aspek-aspek yang harus diperhatikan pada perkembangan fisik motorik:
a.       Motorik kasar antara lain meliputi : Memenjat tali, tangga, panjatan, berlari, dan sebagainya.
b.      Motorik halus, meliputi: Menarik resleting, mengancing baju, menggunting pola, mengikat tali sepatu, mewarnai pola, dan sebagainya.
c.       Organ sensor, meliputi:Mendengarkan perintah guru dari jauh, melihat tulisan atau bagan di papan tulis dari jauh, mengenali berbagai benda dalam kotak tanpa melihat, dan sebagainya.
d.      Kesehatan badan antara lain meliputi:Seimbang antara tinggi dan berat badan, aktif dan lincah, catatan kehadiran baik, dan sebagainya.[7]
2.      Perkembangan Kognitif
Perkembangan kognitif pada umumnya sangat berhubungan dengan masa perkembangan motorik. Perkembangan kognitif menggambarkan bagaimana pikiran anak berkembang dan berfungsi, sehingga dapat berfikir.[8]Perkembangan kognitif adalah proses dimana individu dapat meningkatkan kemampuan dalam menggunakan pengetahuannya. Kognisi adalah fungsi mental yang meliputi persepsi, pikiran, simbol, penalaran, dan pemecahan masalah.[9]Istilah kognisi (cognition) dimaknai sebagai setrategi untuk mereduksi kompleksitas dunia. kognisi juga dimaknai sebagai cara bagaimana manusia menggambarkan pengalaman mengenai dunia dan bagaimana mengorganisasi pengalaman mereka.[10]
Aspek yang dipantau dari Perkembangan aspek Kognitif yaitu:
a.       Informasi atau pengetahuanfigurative meliputi: Mengenal nama-nama warna, mengenal nama berbagai benda yang ada dirumah dan fungsinya, mengenal nama bagian-bagian tubuh, dan sebagainya.
b.      Pengetahuan prosedur atau operatif antara lain, meliputi: Menjelaskan bagaimana  cara pergi dan pulang sekolah, menjelaskan cara menggunakan berbagai peralatan dirumah atau disekolah, mampu membandingkan dua objek atau lebih, dan sebagainya.
c.       Pengetahuan temporal dan spesial meliputi: Mengetahui nama hari dan tanggal, mengetahui waktu (siang, sore, malam, kemarin, besok), musim, dan cuaca, mengenal lokasi (diatas, dibawah, disamping, kanan, kiri, tinggi, rendah) dan sebagainya.
d.      Pengetahuan dan pengingat memori meliputi:Mengingat alfabet, mengingat nama-nama teman, mengingat nama hari dan sebagainya.[11]
3.      Perkembangan bahasa
Perkembangan bahasa mengikuti suatu urutan yang dapat diamalkan secara umum sekalipun terdapat vareasi diantara anak satu dengan lainnya, dengan tujuan untuk mengembangkan kemampuan anak berkomunikasi. Kebanyakan anak memulai perkembangan bahasanya dari menangis untuk mengekspresikan responnya terhadap bermacam-macam stimulan. Setelah itu anak mulai memeram yaitu melafalkan bunyi yang tidak ada artinya secara berulang. Setelah itu anak mulai belajar kalimat dengan satu kata, seperti “maem” yang artinya minta makan. Anak pada umumnya belajar nama-nama benda sebelum kata-kata yang lain. Brewer mengklasifikasikan bahasa anak sebagai referensial dan ekspresif. Kata-kata benda pada umumnya digolongkan dalam referensial, sedangkan kata-kata sosial digolongkan sebagai ekspresif. Perkembangan bahasa belum sempurnasampai akhir masa bayi, dan akan terus berkembang sepanjang kehidupan seseorang. Anak terus membuat perolehan kosa kata baru, dan anak usia 3-4 tahun mulai belajar menyusun kalimat Tanya dan kalimat negative.[12]
Perkembangan bahasa bertujuan untuk mengembangkan kemampuan anak atau seseorang untuk berkomunikasi. Pada anakberusia 3-4 tahun mulai belajar menyusun kalimat tanya dan kalimat negatif. Pada usia 5 tahun mereka telah menghimpun kuranglebih 8.000 kosa kata, disamping itu telah menguasai hampir semua bentuk dasar tata bahasa.[13]
Adapun aspek yang perlu dipantau dari perkembangan bahasa, yaitu:
1.      Mampu berkomunikasi dengan orang dewasa dan orang lain.
2.      Mampu mengkomunikasikan ide melalui drama, bermain, atau tulisan.
3.      Mengenal huruf, memiliki kosa kata cukup, dan menunjukkan perkembangan membaca.[14]
4.      Perkembangan moral dan nilai-nilai agama
Moral merupakan suatu nilai yang dijadikan pedoman dalam bertingkah laku. Perkembangan moral yang terjadi pada anak usia dini sifatnya masih relative terbatas. Seorang anak belum mampu menguasai nilai-nilai yang abstrak berkaitan dengan benar-salah dan baik buruk. Menurut Piaget, pada awal pengenalan nilai dan pola tingkatan itu asih bersifat paksaan, dan anak belum mengetahui maknanya. Akan tetapi, sejalan dengan perkembangan inteleknya, anak berangsur-angsur mulai mengikuti berbagai ketentuan yang berlaku didalam keluarga. Semakin lama semakin luas, sehingga ketentuan yang berlaku didalam masyarakat dan negaranya.[15]
Semua manusia dilahirkan dalam keadaan lemah, baik fisik maupun psikis. Walaupun dalam keadaan lemah, namun ia telah memiliki kemampuan bawaan yang bersifat laten. Potensi bawaan ini memerlukan pengembangan melalui bimbingan dan pemeliharaan yang mantap, lebih-lebih pada usia dini. Ada pendapat yang mengatakan bahwa anak dilahirkan bukanlah sebagai makhluk yang religius, bayi sebagaimanusia dipandang dari segi bentuk dan bukan kejiwaan. Ada pula pendapat yang mengatakan bahwa anak sejak lahir telah membawa fitrah keagamaan, fitrah itu baru berfungsi dikemudian hari melalui proses bimbingan dan latihan setelah berada pada tahap kematangan.[16]
a.       Perkembangan agama pada anak
1.      The fairty tale stage (tingkat dongeng)
Pada tingkatan ini dimulai pada anak berusia 3-6 tahun.pada anak dalam tingkatan ini  konsep mengenai Tuhan lebih banyak dipengaruhi oleh fantasi dan emosi.
2.      The realistic stage (tingkat kenyataan)
Tingkat ini dimulai sejak anak masuk sekolah dasar hingga sampai ke usia (masa usia) adolesense. Pada masa ini ide ketuhanan anak sudah mencerminkan konsep-konsep yang berdasarkan kepada kenyataan.


3.      The individual stage
Anak pada masa ini memiliki kepekaan emosi yang paling tinggi sejalan dengan perkembangan usia mereka. Ada beberapa alasan mengenalkan nilai-nilai agama kepada anak usia dini, yaitu anak mulai punya minat, semua perilaku anak membentuk suatu pola perilaku, mengasah potensi positif diri, sebagai individu, makhluk sosial dan hamba Allah.[17]
b.      Sifat-sifat agama pada anak
1.      Unreflective (tidak mendalam)
Mereka menerima ajaran agama dengan tanpa kritik. Kebenaran yang mereka terima tidak begitu mendalam sehingga cukup sekedarnya saja dan mereka sudah cukup puas.
2.      Egosentris
Anak memiliki kesadaran akan diri sendiri sejak tahun pertama usia perkembangannya dan akan berkembang sejalan dengan pertambahan pengalaman.
3.      Antropomorphis
Konsep ketuhanan pada diri anak menggambarkan aspek-aspek kemanusiaan. Melalui konsep yang terbentuk dalam pikiran mereka bahwa perikeadaan Tuhan itu sama dengan manusia.
4.      Verbalis dan Retualis
Kehidupan agama pada anak sebagaimana besar tumbuh mula-mula secara verbal (ucapan). Mereka menghafal secara verbal kalimat-kalimat keagamaan dan selain itu pula dari amaliah yang mereka laksanakan berdasarkan pengalaman menurut tuntunan yang diajarkan kepada mereka. Latihan-latihan bersifat verbalis dan upacara keagamaan yang bersifat ritualis (praktek) mereka hal yang berarti dan merupakan salah satu ciri dari tingkat perkembangan agama pada anak-anak.
5.      Imitatif
Tindak keagamaan yang dilakukan oleh anak-anak pada dasarnya diperoleh dari meniru, misalnya berdoa dan shalat.

6.      Rasa Heran
Rasa heran dan kagum merupakan tanda dan sifat keagamaan yang terakhir pada anak. Rasa kagum yang ada pada anak sangat berbeda pada rasa kagum pada orang dewasa. Rasa kagum pada anak ini belum bersifat kritis dan kreatif, sehingga mereka hanya kagum terhadap keindahan lahiriyah.[18]
Aspek perkembangan yang perlu dipantau dari perkembanganmoral yaitu:
1.      Mengenal aturan sekolah
2.      Mengenal sopan santun
3.      Mengenal otoritas[19]
5.      Perkembangan sosio-emosional
Perkembangan sosial anak dimulai dari sifat egosentrik, individual, kearah interaktif komunal. Pada mulanya anak bersifat egosentrik, hanya dapat memandang dari satu sisi, yaitu dirinya sendiri. Ia tidak mengerti bahwa orang lain  bisa berpandangan berbeda dengan dirinya, maka pada usia 2-3 tahun anak masih suka bermain sendiri.  Selanjutnya anak mulai berinteraksi dengan anak lain, mulai bermain bersama dan tumbuh sifat sosial. Perkembangan sosial meliputi dua aspek penting, yaitu kompetensi sosial dan tanggung jawab sosial.[20]
Sejumlah studi tentang emosi anak akan menyingkapkan bahwa perkembangan emosi mereka bergantung sekaligus pada faktor pematangan (maturation) dan faktor belajar, dan tidak semata-mata bergantung pada salah satunya. Reaksi emosional yang tidak muncul pada awal masa kehidupan tidak berarti tidak ada, reaksi emosional itu mungkin akan muncul dikemudian hari, adanya pematangan dan sistem endoktrin.[21]
Emosi merupakan perasaan yang melibatkan perpaduan antara gejolak fisiologi dan perilaku yang terlihat. Adanya sifat egosentrisme yang tinggi pada anak disebabkan anak belum dapat memahami perbedaan perspektif pikiran orang lain. Ada beberapa aspek perkembangan sosio-emosional yang perlu dikembangkan pada anak usia dini. Belajar bersosialisasi diri, yaitu usaha untuk mengembangkan rasa percaya diri dan rasa kepuasan bahwa dirinya diterima dikelompoknya. Belajar berekspresi diri, yaitu belajar mengekspresikan bakat, pikiran dan kemampuannya tanpa harus dipengaruhi oleh keberadaan orang dewasa. Belajar mandiri dan berdiri sendiri lepas dari pengawasan orang tua atau pengasuh. Belajar masyarakat, menyesuaikan diri dengan kelompok, bekerja sama, saling membagi, bergiliran, dan bersedia menerima aturan-aturan dalam kelompok. Belajar mengembangkan daya kepemimpinan anak. Maka keluarga berperan penting untuk mendidik anak tersebut.[22]
Beberapa trend yang berhubungan dengan pengaturan emosi selama masa kanak-kanak adalah:
a.                 berasal dari sumber daya eksternal ke internal. Bayi sepenuhnya tergatung dari sumber daya eksternal orangtua untuk pengaturan emosinya. Ketika anak bertambah usia, mereka mulai melakukan pengaturan mandiri terhadap emosi mereka.
b.                 Strategi kognitif. Untuk pengaturan emosi” seperti berfikir positif tentang suatu situasi, penghindaran kognitif dan pengalihan atau pemfokusan atensi, yang berkembang seiring dengan pertambahan usia.
c.                 Rangsangan emosi. Seiring dengan kedewasaan, seorang anak akan dapat mengontrol rangsangan emosinya.
d.                Memilih dan mengatur konteks dan hubungan. Seiring dengan bertambahnya usia, anak akan dapat memilih dan mengatur situasi dan hubungan sosial, sehigga mengurangi emosi negative.
e.                 Coping terhadap stress. Dengan bertambahnya usia anak-anak akan lebih mampu untuk mengembangkan strategi, coping stress yang lebih baik.[23]
Meskipun demikian dalam pengaturan emosi, setiap anak sangat beragam didalam menyalurkan emosinya. Bahkan yang paling menonjol yang dimiliki oleh anak yaitu kesulitan anak dalam mengontrol emosi, bukan hanya anak-anak saja, melainkan remaja awal sampai dewasa bahkan usia lanjut juga sering mengalami kesulitan didalam mengontrol emosi.
Kemampuan sosio emosional yang harus dikuasai anak usia 3-4 tahun adalah anak dapat mengekspresikan wajah saat sedih, marah, takut, dan sebagainya, bisa menjadi pendengar dan pembicara yang baik, membereskan mainan setelah selesai bermain, sabar menunggu giliran dan terbiasa antri, mengenal aturan dan mengikuti peraturan, mengerti akibat jika melakukan kesalahan, memiliki kebiasaan yang teratur.[24] Kemampuan yang ingin dicapai dalam aspek pengembangan sosio-emosional adalah kemampuan mengenal lingkungan alam, lingkungan sosial, peranan masyarakat, menghargai keragaman sosial dan budaya, serta mampu mengembangkan konsep diri, sikap positif terhadap belajar, kontrol diri, dan rasa memiliki.
Aspek perkembangan sosial yang perlu dipantau, yaitu:
a.       Interpersonal meliputi:Mampu bermain bersama teman, mau bergantian dan antri, mengikuti perintah dan petunjuk guru, mampu berteman, berkomunikasi, dan membantu teman.
b.      Personal, meliputi: Mau merespon dan menjawab pertanyaan guru, mampu mengekspresikan diri dikelas, percaya diri untuk bertanya, mengemukakan ide, dan tampil, dan sebagainya.[25]
c.       Aspek perkembangan emosi yang perlu dipantau, yaitu:Menunjukkan rasa sayang pada teman, orang tua, guru, menunjukkan rasa empati dan menolong teman, mengontrol emosi dan agraris, tidak melukai atau menyakiti teman.[26]
6.      Perkembangan seni dan kreatifitas
Munandar mengungkapkan tentang beberapa pengertian kreativitas. Kreativitas adalah kemampuan untuk membuat kombinasi baru berdasarkan data, informasi, atau unsur-unsur yang ada. Kreativiras (berfikir kreatif atau berfikir devergent) adalah kemampuan yang berdasarkan data atau informasi yang menemukan banyak kemungkinan jawaban terhadap suatu masalah, dimana penekanannya adalah pada kuantitas, kegunaan dan keragaman jawaban.[27] Perilaku yang mencerminkan kreativitas alamiah pada anak usia dini dapat diidentifikasi dari beberapa ciri yang ada. Senang menjajaki lingkungan, mengamati dan memegang segala sesuatu, eksplorasi secara ekspansif dan eksesif. Rasa ingin tahunya besar, suka mengajukan pertanyaan dengan takhenti-hentinya. Bersifat spontan menyatakan pikiran dan perasaannya. Suka berpetualang, selalu ingin mendapatkan pengalaman-pengalaman baru. Suka melakukan eksperimen, membongkar dan mencoba-cobaberbagai hal. Jarang merasa bosan, dan ada-ada saja yang ingin dilakukan.[28]
Aspek perkembangan Seni, yang perlu dipantau yaitu:
1.      Mampu mengekspresikan ide melalui gambar.
2.      Mampu mengeksspresikan diri melalui drama.
3.      Mampu mengikuti lagu dan senang bernyanyi.[29]
C.    Aspek Kecerdasan Manusia Menurut Para Pakar
Intelligere adalah asal kata intelegensi yang biasa kita kenal, yang mengandung arti menghubungkan atau menyatukan satu sama lain.[30] Novelis Inggris abad ke-20 Aldous Huxley mengatakan bahwa anak-anak itu hebat dalam hal rasa ingin tahu dan intelegensinya. Apa yang dimaksud Huxley ketika ia menggunakan kata intelegensi (intelligence)? Intelegensi adalah salah satu milik kita yang paling berharga, tetapi bahkan orang yang paling cerdas sekalipun tidak sepakat tentang apa intelegensi itu.
Para ahli mempunyai pengertian yang beragam tentang intelegensi yaitu :
Anita E. Woolfolk mengemukakan bahwa menurut teori-teori lama, intelegensi itu meliputi tiga pengertian, yaitu (1) kemampuan untuk belajar; (2) keseluruhan pengetahuan yang diperoleh; (3) kemampuan untuk beradaptasi secara berhasil dengan situasi baru atau lingkungan pada umumnya. Selanjutnya Woolfolk mengemukakan bahwa intelegensi itu merupakan satu atau beberapa kemampuan untuk memperoleh dan menggunakan pengetahuan dalam rangka memecahkan masalah dan beradaptasi dengan lingkungan.[31]
Alfred Binet, seorang tokoh utama perintis pengukuran intelegensi bersama Theodore simon mendefinisikan intelegensi atas tiga komponen yaitu (a) kemampuan untuk mengarahkan fikiran atau mengarahkan tindakan; (b) kemampuan untuk mengubah arah tindakan bila tindakan tersebut telah dilaksanakan dan (c) kemampuan untuk mengkritik diri sendiri atau melakukan autocriticism.
David Wechsler pencipta skala-skala intelegensi yang populer sampai saat ini, mendefinisikan intelegensi sebagai kumpulan atau totalitas kemampuan seseorang untuk bertindak dalam tujuan tertentu, berfikir secara rasional, serta mengahadapi lingkungannya dengan efektif.
Beberapa pakar mendeskripsikan intelegensi sebagai keahlian untuk memecahkan masalah (problem-solving). Yang lainnya mendeskripsikannya sebagai kemampuan untuk beradaptasi dan belajar dari pengalaman hidup sehari-hari. Dengan mengkombinasikan ide-ide ini kita dapat menyusun definisi inteligensi yang cukup fair, keahlian memecahkan masalah dan kemampuan untuk beradaptasi pada, dan belajar dari, pengalaman hidup sehari-hari. Tetapi, bahkan definisi yang luas ini tidak memuaskan semua orang. Seperi yang akan anda lihat sebentar lagi, beberapa ahli teori mengatakan bahwa keahlian bermusik harus dianggap sebagai bagian dari intelegensi. Juga, sebuah definisi intelegensi yang didasarkan pada teori seperti teori Vygotsky harus juga memasukkan faktor kemampuan seseorang untuk menggunakan alat kebudayaan dengan bantuan individu yang lebih ahli. Karena intelegensi adalah konsep yang abstrak dan luas, maka tidak mengherankan jika ada banyak definisi. Jadi menurut Santrock (2008) intelegensi (kecerdasan) adalah keterampilan menyelesaikan masalah dan kemampuan untuk beradaptasi dan belajar dari pengalaman hidup sehari-hari.[32]
Wilhelm Stern melihat, titik berat definisi intelegensi terletak pada kemampuan penyesuaian diri (adjustment) seseorang terhadap masalah yang dihadapi.[33] Artinya, orang yang intelegensinya tinggi (cerdas), akan memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri dan memiliki kecakapan dalam menghadapi masalah baru.
Sejalan dengan pendapat Stern, Amsal Amri juga mengemukakan bahwa intelegensi adalah kemampuan untuk melakukan abstraksi, serta berpikir logis dan cepat sehingga dapat bergerak dan menyesuaikan diri terhadap situasi baru.[34] Di sini Amsal melihat ada beberapa aspek kemampuan yang dimaksud, yakni 1) kemampuan kognitif, 2) kemampuan psikomotorik, dan 3) kemampuan afektif. Ketiga hal ini disebut dengan kecerdasan (intelegensi).[35]
Sedangkan Slavin menjelaskan kecerdasan adalah salah satu diantara kata-kata yang diyakini setiap orang bahwa mereka memahaminya hingga anda meminta mereka mendefinisikannya. Pada satu tahap, kecerdasan dapat didefinisikan sebagai bakat umum untuk belajar atau kemampuan untuk mempelajari dan menggunakan pengetahuan atau keterampilan.[36]
Sedangkan Howard Gardner (dalam Sunaryo Kartadinata, 2007: 6)[37], mendefinisikan kecerdasan sebagai:
1.                 Kemampuan memecahkan masalah yang muncul dalam kehidupan nyata.
2.                 Kemampuan melahirkan masalah baru untuk dipecahkan.
3.                 Kemampuan menyiapkan atau menawarkan suatu layanan yang bermakna dalam kehidupan kultur tertentu.
Lebih lanjut Gardner mendefinisikan Intelegensi sebagai kemampuan untuk memecahkan persoalan dan menghasilkan produk dalam suatu setting yang bermacam-macam dan dalam situasi yang nyata (1983;1993).[38] Gardner menganggap, intelegensi bukan hanya kemampuan dalam memecahkan persoalan yang sifatnya test (teori), yang dilakukan dalam ruang tertutup dan jauh dari realitas persoalan yang dhadapi oleh lingkungannya. Namun intelegensi adalah kemampuan menyelesaikan persoalan yang nyata (real), yang sungguh-sungguh terjadi. Karena menurut Gardner, orang baru dikatakan berintelegensi kalau mampu memecahkan persoalan lingkungan yang benar-benar dia hadapi. Bahkan, Gardner menganggap, tingkat produktifitas (kreatifitas) juga menjadi ukuran intelegensi seseorang.
Mengenai teori-teori kecerdasan, Spearman berpendapat bahwa setiap individu memiliki General Ability (General Factor/G) dan Specific Ability (Specific Faktor/S).[39] Kedua hal tersebut adalah faktor yang terkandung dalam intelegensi, walaupun dalam setiap individu faktor-faktor tersebut karakternya berbeda. Sejalan dengan Super dan Cites, yang menganggap intelegensi adalah kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan atau belajar dari pengalaman.[40]
Minat terhadap intelegensi seringkali difokuskan pada perbedaan individual dan penilaian individual (Kaufman & Lictenberger, 2002; Lubinski, 2000; Molfse & Martin, 2001). Perbedaan individual adalah cara dimana orang berbeda satu sama lain secara konsisten dan tetap. Kita bisa berbicara tentang perbedaan individual dalam hal kepribadiannya (personalitas) dan dalam bidang-bidang lain, namun intelegensilah yang paling banyak diberi perhatian dan paling banyak dipakai untuk menarik kesimpulan tentang perbedaan kemampuan murid.[41]
Jika disederhanakan, Prof. Dr. H. Djaali dalam bukunya Psikologi Pendidikan[42] mengatakan bahwa teori intelegensi menurut para ahli adalah sebagai berikut:

1.      Teori Faktor
Charles Spearman mendeskripsikan struktur intelegensi yang terdiri dari General Ability (G) dan Specific Ability (S).
2.      Teori Struktur Intelegensi
Teori ini disampaikan oleh Guilford. Menurut Guilford, struktur kemampuan intelektual seseorang memiliki 150 kemampuan dan memiliki tiga paramater, yaitu operasi, produk, dan konten.
3.      Teori Uni Faktor
Wilhelm Stern beranggapan intelegensi adalah kapasitas atau kemampuan umum. Kapasitas umum tersebut tumbuh akibat pertumbuhan fisiologis ataupun akibat belajar.
4.      Teori Multi Faktor
E.L. Thorndike berpendapat, bahwa intelegensi adalah bentuk hubungan neural antara stimulus dengan respons. Hubungan inilah yang mengarahkan tingkah laku individu.
5.      Theory Primary Ability
Thurstone membagi intelegensi menjadi kemampuan primer yang terdiri atas kemampuan numerical/matematis, verbal atau bahasa, abstraksi, berupa visualisasi atau berpikir, membuat keputusan, induktif maupun deduktif, mengenal atau mengamati, dan mengingat.
6.      Teori Sampling
Menurut teori ini, intelegensia merupakan berbagai kemampuan sampel. Hal ini dikarenakan pandangan Godfrey H. Thomson yang memandang dunia sebagai kumpulan-kumpulan pengalaman.
7.      Entity Theory
Intelegensi dianggap sebagai suatu kesatuan yang tetap dan tidak berubah-ubah.
8.      Incremental Theory
Teori ini menganggap, setiap individu mempunyai potensi untuk cerdas, dan kecerdasan tersebut bisa ditingkatkan melalui proses belajar.

9.      Teori Multiple Intelegensi
Teori multiple intelegensi ini disampaikan oleh Gardner. Menurut Gardner intelegensi manusia memiliki tujuh dimensi yang semiotonom, yaitu linguistik, musik, matematik logis, visual spesial, kinestatik fisika, sosial interpersonal, dan intrapersonal. Setiap dimensi tersebut memiliki kompetensi yang eksistensinya berdiri sendiri dalam sistem neuron.Artinya tidak terbatas pada yang  bersifat intelektual.
Berdasarkan pemaparan di atas maka dapat ditarik kesimpulan, bahwa intelegensi (kecerdasan) adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki oleh setiap individu dalam merespon dan menyesuaikan diri dengan lingkungannya, serta tingkat produktifitas dan kreatifitas dalam memecahkan persoalan yang dihadapi.
Selanjutnya, penulis akan memaparkan teori multiple intelegensi yang digagas oleh Gardner. Karena teori multiple intelegensi lebih banyak bersentuhan dengan aspek-aspek yang terdapat dalam diri manusia.
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat dipahami bahwa kecerdasan adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki oleh individu dalam menghadapi masalah yang ada di lingkungannya. Setiap individu dengan individu lainnya memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Gardner berpendapat, bahwa kemampuan itu sendiri memiliki banyak jenis dan dimensi. Keanekaragaman jenis kemampuan-kemampuan inilah yang disebut dengan kecerdasan majemuk (multiple intelegensi). Realita inilah yang mendorong Gardner menelurkan gagasannya tentang multilpe intelegensi (kecerdasan majemuk).
Menurut teori ini, setiap anak yang terlahir di dunia tidak ada yang bodoh. Semuanya memiliki kesempatan dan hak untuk disebut sebagai orang yang cerdas.[43] Pendapat Gardner ini membuka wawasan kita tentang hakikat dari kecerdasan. Selama ini penilaian tentang kecerdasan hanya terbatas pada sesuatu yang sempit dan statis. Namun Gardner dan para ahli lainnyamemaknai kecerdasan sebagai kemampuan seseorang dalam beradaptasi, lebih jauh Gardner menambahkan penekanannya pada aspek atau dimensi psikologis manusia yang membentuk jenis-jenis kemampuan tersebut.
Pada tahun-tahun belakangan ini, banyak perdebatan tentang kecerdasan terfokus untuk memutuskan apakah terdapat banyak jenis kecerdasan yang berbeda-beda dan untuk menjelaskan masing-masing. Misalnya, Sternberg (2002, 2003) menjelaskan tiga jenis kemampuan intelektual: analitis, praktis dan kreatif.
Delapan kerangka pikiran Gardner, kerangka ini di deskripsikan bersama dengan contoh pekerjaan yang merefleksikan kekuatan masing-masing kerangka (Campbell, Campbell & Dickinson, 1999):
1.      Keahlian verbal
Kemampuan untuk berfikir dengan kata dan menggunakan bahasa untuk mengekspresikan makna (penulis, wartawan, pembicara).
2.      Keahlian matematika/logika
Kemampuan untuk menyelesaikan operasi matematika ( ilmuwan, insinyur, akuntan).
3.      Keahlian spasial
Kemampuan untuk berfikir tiga dimensi (arsitek, perupa, pelaut)
4.      Keahlian tubuh-kinestetik
Kemampuan untuk memanipulasi objek dan cerdas dalam hal-hal fisik ( ahli bedah, pengrajin, penari, atlet)
5.      Keahlian music
Sensitive terhadap nada, melodi, irama, dan suara (composer, musisi, dan pendengar yang sensitive)
6.      Keahlian intrapersonal
Kemampuan untuk memahami diri sendiri dan menata kehidupan dirinya secara efektif (teolog, psikolog).
7.      Keahlian interpersonal
Kemampuan untuk memahami dan berinteraksi secara efektif dengan orang lain ( guru teladan, professional kesehatan mental).


8.      Keahlian naturalis
Kemampuan untuk mengamati pola-pola di alam dan memahami sistem alam dan sistem buatan manusia (petani, ahli botani, ahli ekologi, ahli tanah).
Terkait macam-macam intelegensi yang dipaparkan oleh Gardner, Prof. Dr. H. Djaali memetakan ada tujuh jenis seperti yang sudah kami sebutkan di atas. Namun dalam beberapa referensi lainnya, seperti yang dipaparkan oleh Sunardi, multiple intelegensi  yang dipaparkan oleh Gardner ada 10 macam intelegensi.[44]
Sunardi dan kawan-kawan, sesuai dengan teori multiple intelegensi yang disampaikan oleh Gardner, membagi kecerdasan dengan 10 bidang (aspek) dalam psikologi manusia. Berdasarkan pendekatan tersebut, kecerdasan atau intelegensi ada 10 macam, yaitu:
1.      Kecerdasanlinguistic (linguistik intelligence)
Adalah kemampuan untuk berfikir dalam bentuk kata-kata dan menggunakan bahasa untuk mengekpresikan dan menghargai makna yang komplek, yang meliputi kemampuan membaca, mendengar, menulis, dan berbicara.
2.      Intelegensi logis-matematis (logical matematich)
Adalah kemampuan dalam menghitung, mengukur dan mempertimbangkan proposisi dan hipotesis serta menyelesaikan operasi-operasi matematika.
3.       Intelegensi musik (musical intelegence)
Intelegensi musik adalah kecerdasan seseorang yang berhubungan dengan sensitivitas pada pola titik nada, melodi, ritme, dan nada. Musik adalah bahasa pendengaran yang menggunakan tiga komponen dasar yaitu intonasi suara, irama dan warna nada yang memakai sistem simbol yang unik.
4.       Intelegensi Kinestetik
Kinestetik adalah belajar melalui tindakan dan pengalaman melalui panca indera. Intelegensi kinestetik adalah kemampuan untuk menyatukan tubuh atau pikiran untuk menyempurnakan pementasan fisik. Dalam kehidupan sehari-hari dapat diamati pada aktor, atlet atau penari, penemu, tukang emas, mekanik.
5.       Intelegensi Visual-spasial
Intelegensi visual-spasial merupakan kemampuan yang memungkinkan memvisualisasikan informasi dan mensintesis data-data dan konsep-konsep ke dalam metavor visual.
6.      Intelegensi Interpersonal
Intelegensi interpersonal adalah kemampuan untuk memahami dan berkomunikasi dengan orang lain dilihat dari perbedaan, temperamen, motivasi, dan kemampuan.
7.       Intelegensi Intrapersonal
Adalah kemampuan seseorang untuk memahami diri sendiri dari keinginan, tujuan dan sistem emosional yang muncul secara nyata pada pekerjaannya.
8.      Intelegensi Naturalis
Adalah kemampuan untuk mengenal flora dan fauna melakukan pemilahan-pemilahan utuh dalam dunia kealaman dan menggunakan kemampuan ini secara produktif, misalnya untuk berburu, bertani, atau melakukan penelitian biologi.
9.      Intelegensi Emosional
Adalah yang dapat membuat orang bisa mengingat, memperhatikan, belajar dan membuat keputusan yang jernih tanpa keterlibatan emosi. Jadi intelegensi emosional disini berkaitan dengan sikap motivasi, kegigihan, dan harga diri yang akan mempengaruhi keberhasilan dan kegagalan siswa.
10.  Intelegensi Spiritual
Adalah kemampuan yang berhubungan dengan pengakuan adanya Tuhan sebagai pencipta alam semesta beserta isinya.[45]
D.    Cara Memberikan Pendidikan Agama Kepada Anak Usia Dini Menurut Tafsir Qur’an
Dalam pandangan Islam, segala sesuatu yang dilaksanakan, tentulah memiliki dasar hukum baik itu yang berasal dari dasar naqliyah maupun dasar aqliyah. Begitu juga halnya dengan pelaksanaan pendidikan pada anak usia dini. Berkaitan dengan pelaksanaan pendidikan anak usia dini, dapat dibaca firman Allah berikut ini:
ª!$#urNä3y_t÷zr&.`ÏiBÈbqäÜç/öNä3ÏF»yg¨Bé&ŸwšcqßJn=÷ès?$\«øx©Ÿ@yèy_urãNä3s9yìôJ¡¡9$#t»|Áö/F{$#urnoyÏ«øùF{$#ur öNä3ª=yès9šcrãä3ô±s?ÇÐÑÈ
“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam Keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. (Qs. An-Nahl: 78)
Berdasarkan ayat tersebut di atas, dipahami bahwa anak lahir dalam keadaan lemah tak berdaya dan tidak mengetahui (tidak memiliki pengetahuan) apapun. Akan tetapi Allah membekali anak yang baru lahir  tersebut dengan pendengaran, penglihatan dan hati nurani  (yakni akal yang menurut pendapat yang sahih pusatnya berada di hati). Menurut pendapat yang lain adalah otak. Dengan itu manusia dapat membedakan di antara segala sesuatu, mana yang bermanfaat dan mana yang berbahaya.Kemampuan dan indera ini diperoleh seseorang secara bertahap, yakni sedikit demi sedikit. Semakin besar seseorang maka bertambah pula kemampuan pendengaran, penglihatan, dan akalnya hingga sampailah ia pada usia matang dan dewasanya.[46] Dengan bekal pendengaran, penglihatan dan hati nurani (akal) itu, anak pada perkembangan selanjutnya akan memperoleh pengaruh sekaligus berbagai didikan dari lingkungan sekitarnya. Hal ini pula yang sejalan dengan sabda Rasul berikut ini:
حَدَّثَنَا عَبْدُ الْأَعْلَى عَنْ مَعْمَرٍ عَنِ الزُّهْرِيِّ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ وَيُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ
Artinya: “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikan anak tersebut beragama Yahudi, Nasrani ataupun Majusi”.(HR. Bukhari, Abu Daud, Ahmad)[47]
Meskipun anak lahir dalam keadaan lemah tak berdaya serta tidak mengetahui apa-apa, tetapi ia lahir dalam keadaan fitrah, yakni suci dan bersih dari segala macam keburukan. Karenanya untuk memelihara sekaligus mengembangkan fitrah yang ada pada anak, orang tua berkewajiban memberikan didikan positif kepada anak sejak usia dini atau bahkan sejak lahir yang diawali dengan mengazankannya. Hal ini dikarenakan pada prinsipnya fitrah manusia menuntut pembebasan dari kemusyrikan dan akibat-akibatnya yang dapat menyeret manusia kepada penyimpangan watak dan penyelewengan serta kesesatan di dalam berfikir, berencana dan beraktivitas.Bagi manusia kepala merupakan pusat penyimpanan informasi alat indera yang mengatur semua eksistensi dirinya, baik psikologis maupun biologis.Indera pendengaran, penglihatan, penciuman dan indera perasaan diatur oleh kepala.Tatkala azan berikut kalimah yang dikandungnya, yaitu kalimah Takbir dan kalimah Tauhid, meyentuh pendengaran si bayi, maka kalimah azan tersebut ibarat tetesan air jernih yang berkilauan ke dalam telinganya, sesuai dengan fitrah dirinya.Pada waktu itu si bayi belum dapat merasakan apa-apa, hanya kesadarannya dapat merekam nada-nada dan bunyi-bunyi kalimah azan yang diperdengarkan kepadanya.Kalimah terebut dapat mencegah jiwanya dari kecenderungan kemusyrikan serta dapat memelihara dirinya dari kemusyrikan. Demikian pula kalimah azan seolah-olah melatih pendengaran manusia (dalam hal ini anak bayi atau usia dini) agar terbiasa mendegarkan panggilan nama yang baik, sehingga hal ini menuntut para orang tua untuk memberi (menamai) anaknya dengan nama yang baik serta memiliki makna yang baik pula. Hal ini sejalan dengan sabda Rasul:
حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ الْأَسْوَدِ أَبُو عَمْرٍو الْوَرَّاقُ الْبَصْرِيُّ حَدَّثَنَا مُعَمَّرُ بْنُ سُلَيْمَانَ الرَّقِّيُّ عَنْ عَلِيِّ بْنِ صَالِحٍ الْمَكِّيِّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُثْمَانَ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَحَبُّ الْأَسْمَاءِ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ عَبْدُ اللَّهِ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ
 ...Nama yang paling disukai Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman”.(HR. At-Tirmizi)[48]
Nama yang indah sesungguhnya tidak hanya sekedar nama atau panggilan, tetapi sesungguhnya merupakan cerminan tentang adanya pujian atau do'a, harapan atau gambaran semangat dan dambaan indah kepada anak-anaknya.
Dalam mendukung perkembangan anak pada usia-usia selanjutnya, termasuk pada usia dini, yang menjadi kewajiban orang tua adalah memberikan didikan positif terhadap anak-anaknya, sehingga anak-anaknya tersebut tidak menjadi/mengikut ajaran Yahudi, Nasrani atau Majusi, melainkan menjadi muslim yang sejati. Mendidik anak dalam pandangan Islam, merupakan pekerjaan mulia yang harus dilaksanakan oleh setiap orang tua, hal ini sejalan dengan sabda Rasul:
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَعْلَى عَنْ نَاصِحٍ عَنْ سِمَاكِ بْنِ حَرْبٍ عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَأَنْ يُؤَدِّبَ الرَّجُلُ وَلَدَهُ خَيْرٌ مِنْ أَنْ يَتَصَدَّقَ بِصَاعٍ 
"Seseorang yang mendidik anaknya adalah lebih baik daripada ia bersedekah dengan satu sha'(HR. Tirmidzi)[49]
Dalam pandangan Islam anak merupakan amanah di tangan kedua orang tuanya.Hatinya yang bersih merupakan permata yang berharga, lugu dan bebas dari segala macam ukiran dan gambaran. Ukiran berupa didikan yang baik akan tumbuh subur pada diri anak, sehingga ia akan berkembang dengan baik dan sesuai ajaran Islam, dan pada akhirnya akan meraih kebahagiaan di dunia dan di akhirat.  Jika anak sejak dini dibiasakan dan dididik dengan hal-hal yang baik dan diajarkan kebaikan kepadanya, ia akan tumbuh dan berkembang dengan baik dan akan memperoleh kebahagiaan serta terhindar dari kesengsaraan atau siksa baik di dunia maupun di akhirat kelak. Hal ini senada dengan firman Allah:
$pkšr'¯»tƒtûïÏ%©!$#(#qãZtB#uä(#þqè%ö/ä3|¡àÿRr&ö/ä3Î=÷dr&ur#Y$tR$ydߊqè%urâ¨$¨Z9$#äou$yfÏtø:$#ur$pköŽn=tæîps3Í´¯»n=tBÔâŸxÏî׊#yÏ©žwtbqÝÁ÷ètƒ©!$#!$tBöNèdttBr&tbqè=yèøÿtƒur$tBtbrâsD÷sãƒÇÏÈ
"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.(Qs. At Tahrim: 6)
Terhadap ayat ini Ibnu Kasir dalam tafsirnya menjelaskan, bahwa ayat ini menganjurkan kepada setiap individu muslim bertakwa kepada Allah dan perintahkanlah kepada keluargamu untuk bertakwa kepada Allah. Ibnu Kasir menjelaskan bahwa Qatada mengatakan bahwa engkau perintahkan mereka untuk taat kepada Allah dan engkau cegah mereka dari perbuatan durhaka terhadapNya, dan hendaklah engkau tegakkan terhadap mereka perintah Allah dan engkau anjurkan mereka untuk mengerjakannya serta engkau bantu mereka untuk mengamalkannya. Jika engkau melihat di kalangan keluargamu suatu perbuatan maksiat kepada Allah, maka engkau harus cegah mereka darinya dan engkau larang mereka melakukannya. Hal yang sama juga dikemukakan Ad-Dahlak dan Muqatil, bahwa sudah merupakan suatu kewajiban bagi seorang muslim mengajarkan kepada keluarganya, baik dari kalangan kerabatnya ataupun budak-budaknya, hal-hal yang difardukan oleh Allah dan mengajarkan kepada mereka hal-hal yang dilarang oleh Allah yang harus mereka jauhi.[50]
Berdasarkan ayat tersebut, dipahami bahwa orang tua memiliki kewajiban untuk memelihara diri dan keluarga (anak-anaknya) dari siksaan api neraka. Cara yang dapat dilakukan oleh orang tua ialah mendidiknya, membimbingnya dan mengajari akhlak-akhlak yang baik. Kemudian orang tua harus menjaganya dari pergaulan yang buruk, dan jangan membiasakannya berfoya-foya, jangan pula orang tua menanamkan rasa senang bersolek dan hidup dengan sarana-sarana kemewahan pada diri anak, sebab kelak anak akan menyia-nyiakan umurnya hanya untuk mencari kemewahan jika ia tumbuh menjadi dewasa, sehingga ia akan binasa untuk selamanya. Akan tetapi seharusnya orang tua sejak dini mulai mengawasi pertumbuhannya dengan cermat dan bijaksana sesuai dengan tuntutan pendidikan Islam.[51]
Dari uraian di atas kiranya dapat disebutkan bahwa tujuan pendidikan anak usia dini dalam pandangan Islam adalah memelihara, membantu pertumbuhan dan perkembangan fitrah manusia yang dimiliki anak, sehingga jiwa anak yang lahir dalam kondisi fitrah tidak terkotori oleh kehidupan duniawi yang dapat menjadikan anak sebagai Yahudi, Nasrani atau Majusi. Atau dengan kata lain bahwa pendidikan anak usia dini  dalam pendidikan Islam bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai keislaman kepada anak sejak dini, sehinga dalam perkembangan selanjutnya anak menjadi manusia muslim yang kāffah, yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT. Hidupnya terhindar dari kemaksiatan, dan dihiasi dengan ketaatan dan kepatuhan serta oleh amal soleh yang tiada hentinya. Kondisi seperti inilah yang dikehendaki oleh pendidikan Islam, sehingga kelak akan mengantarkan peserta didik pada kehidupan yang bahagia di dunia maupun di akhirat.
Untuk merealisasikan pelaksanaan kegiatan pendidikan pada anak usia dini serta guna mencapai hasil yang menggembirakan, para pendidik hendaklah senantiasa mencari berbagai metode yang efektif, serta mencari kaidah-kaidah pendidikan yang berpengaruh dalam mempersiapkan dan membantu pertumbuhan anak usia dini, baik secara mental dan moral, spiritual dan etos sosial, sehingga anak dapat mencapai kematangan yang sempurna guna menghadapi kehidupan dan pertumbuhan selanjutnya. Dengan bersumberkan kepada Al-Quran dan hadis, ada beberapa metode pendidikan Islam yang dapat dan layak diterapkan pada kegiatan pendidikan terhadap anak usia dini. Metode dimaksud adalah:
1.      Metode dengan Keteladanan
Keteladanan dalam pendidikan Islam, merupakan metode yang berpengaruh dan terbukti berhasil dalam mempersiapkan dan membentuk aspek moral, spiritual, dan etos sosial anak sejak usia dini. Hal ini karena pendidik adalah figure terbaik dalam pandangan anak didik yang tindak tanduknya dan sopan santunnya, disadari atau tidak akan menjadi perhatian anak-anak sekaligus ditirunya. Keteladanan menjadi faktor penting dalam menentukan baik buruknya pertumbuhan dan perkembangan anak usia dini. Jika pendidik dan orang tua jujur, dapat dipercaya, berakhlak mulia, berani, dan menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan agama, maka si anak akan tumbuh dalam kejujuran, terbentuk dengan akhlak mulia, berani dan menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan agama. Anak usia dini, bagaimanapun besarnya usaha yang dipersiapkan untuk kebaikannya, bagaimanapun sucinya fitrah, tidak akan mampu memenuhi prinsip-prinsip kebaikan dan pokok-pokok pendidikan utama, selama ia (anak usia dini) tidak melihat pendidik dan orang tua sebagai teladan dari nilai-nilai moral yang tinggi. Kiranya sangat mudah bagi pendidik untuk mengajari anak dengan berbagai materi pendidikan, tetapi teramat sulit bagi anak untuk melaksanakannya jika ia melihat orang yang memberikan pengajaran tidak mengamalkan-nya.
Allah SWT., juga telah mengajarkan bahwa rasul yang diutus untuk menyampaikan risalah samawi kepada umat manusia, adalah seorang yang mempunyai sifat-sifat luhur, baik spiritual, moral maupun intelektual. Sehingga umat manusia meneladaninya, belajar darinya, memenuhi panggilannya, menggunakan metodenya dalam hal kemuliaan, keutamaan dan akhlak yang terpuji.Allah mengutus Nabi Muhammad SAW.Sebagai teladan yang baik bagi umat Islam sepanjang jaman, dan bagi umat manusia di setiap saat dan tempat, sebagai pelita yang menerangi dan purnama yang memberi petunjuk. Allah SWT. berfirman dalam surah Al-Ahzab ayat 21:
ôs)©9tb%x.öNä3s9ÎûÉAqßu«!$#îouqóé&×puZ|¡ym`yJÏj9tb%x.(#qã_ötƒ©!$#tPöquø9$#urtÅzFy$#tx.sŒur©!$##ZŽÏVx.ÇËÊÈ
Artinya: "Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah."(QS. Al-Ahzab: 21)
Ayat tersebut ditafsirkan oleh Baidhawi, bahwa uswatun hasanah yang dimaksud adalah perbuatan baik yang dapat dicontoh.[52]Dalam ringkasan tafsir Ibnu Kasir disebutkan bahwa ayat ini merupakan prinsip utama dalam meneladani Rasulullah SAW, baik dalam ucapan, perbuatan maupun sikap dan perilakunya.[53] Islam telah menyajikan pribadi Rasul sebagai suri teladan yang terus-menerus bagi seluruh pendidik, suri teladan yang selalu baru bagi generasi demi generasi, dan selalu aktual dalam kehidupan manusia, setiap kali kita membaca riwayat kehidupannya bertambah pula kecintaan kita kepadanya dan tergugah pula keinginan untuk meneladaninya. Islam tidak menyajikan keteladanan ini sekedar untuk dikagumi atau sekedar untuk direnungkan dalam lautan hayal yang serba abstrak. Islam menyajikan riwayat keteladanan itu semata-mata untuk diterapkan dalam diri setiap individu muslim baik itu anak-anak maupun orang dewasa.
Dalam memberikan pendidikan kepada anak usia dini, pendidikan dengan memberi teladan secara baik dari para pendidik dan orang tua, teman bermain, pengajar, atau kakak, akan merupakan faktor yang sangat memberikan bekas dalam membina pertumbuhan anak, memberi petunjuk, dan persiapannya untuk menjadi melanjutkan kehidupannya di fase-fase perkembangan selanjutnya. Dengan demikian perlu dipahami oleh para pendidik dan orang tua bahwa mendidik dengan cara memberi teladan yang baik, terutama pada masa anak usia dini sesungguhnya penopang utama dan dasar dalam meningkatkan anak usia dini pada keutamaan, kemuliaan dan etika sosial yang terpuji.[54]
Manusia telah diberi fitrah untuk mencari suri teladan agar menjadi pedoman bagi mereka, yang menerangi jalan kebenaran dan menjadi contoh hidup yang menjelaskan kepada mereka bagaimana seharusnya melaksanakan syarai'at Allah. Karenanya, untuk merealisasikan risalah-Nya di muka bumi, Allah mengutus para rasul-Nya yang menjelaskan kepada manusia syari'at yang diturunkan Allah kepada mereka. Anak usia dini merupakan tingkat usia yang dalam pertumbuhannya memiliki keterkaitan besar terhadap keteladanan dari pihak luar dirinya. Di dalam kehidupan berkeluarga misalnya, anak usia dini membutuhkan suri teladan, khususnya dari kedua orang tuanya, agar sejak dini (masa kanak-kanak) ia menyerap dasar tabiat perilaku Islami dan berpijak pada landasannya yang luhur. Keteladanan yang baik memberikan pengaruh besar terhadap jiwa anak, sebab anak banyak meniru kedua orang tuanya. Anak-anak akan selalu memperhatikan dan mengawasi perilaku orang tuanya atau orang dewasa lainnya, dan mereka akan mencontohnya, jika anak mendapati orang tuanya berlaku jujur, mereka akan tumbuh dengan kejujuran. Kedua orang tua dituntut mengimplementasikan perintah-perintah Allah dan sunnah Rasul sebagai perilaku dan amalan serta terus menambah amalan-amalan sunnah tersebut semampunya, karena anak-anak akan terus mengawasi dan meniru mereka setiap waktu. Kemampuan anak dalam menerima teladan dari orang dewasa secara sadar atau tidak sadar sangatlah tinggi, meskipun anak-anak sering dianggap sebagai makhluk kecil yang belum mengerti dan paham ajaran Islam, tetapi dengan melihat teladan yang diberi orang dewasa hal itu akan memberi bekasan pada diri anak.[55]  Di sekolah, anak-anak juga membutuhkan suri teladan yang dilihatnya langsung dari setiap guru yang mendidiknya, sehingga dia merasa pasti dengan apa yang dipelajarinya. Pada perilaku dan tindakan guru-gurunya, hendaknya anak dapat melihat langsung bahwa tingkah laku utama yang diharapkan mereka melakukannya adalah hal yang tidak mustahil dan memang dalam batas kewajaran untuk direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari.[56]
2.      Pendidikan dengan Latihan dan Pengamalan
Islam merupakan agama yang menuntut para pemeluknya mampu merealisasikan berbagai ajaran Islam dalam bentuk amal nyata yaitu berupa amal şaleh yang diridhai Allah SWT.  Islam menuntut umatnya agar mengarahkan segala tingkah laku, naluri, aktivitas dan hidupnya untuk merealisasikan adab-adab dan perundang-undangan yang berasal dari Allah secara nyata.
Dalam hal pendidikan melalui latihan pengamalan, Rasulullah SAW. sebagai pendidik Islam yang pertama dan utama sesungguhnya telah menerapkan metode ini dan ternyata memberikan hasil yang menggembirakan bagi perkembangan Islam di kalangan sahabat. Dalam banyak hal, Rasul senantiasa mengajarkannya dengan disertai latihan pengamalannya, di antaranya; tatacara bersuci, berwudhu, melaksanakan şalat, berhaji dan berpuasa.
Atas dasar ini, maka dalam pelaksanaan pendidikan Islam baik kepada orang dewasa, apalagi terhadap anak-anak usia dini pendidikan melalui latihan dan pengamalan merupakan satu metode yang dianggap penting untuk diterapkan. Metode belajar learning by doing atau dengan jalan mengaplikasikan teori dan praktik, akan lebih memberi kesan dalam jiwa, mengokohkan ilmu di dalam kalbu dan menguatkan dalam ingatan. Di antara yang dapat dilatihkan sebagai amalan bagi anak-anak usia dini antaranya ialah; cara menggosok gigi, latihan mencuci tangan yang benar, cara beristinja, latihan berwudhu', mengucapkan salam ketika masuk rumah, serta beberapa do'a yang harus diamalkan sebagai mengawali berbagai aktivitas sehari-hari, seperti do'a hendak dan sesudah makan, do'a hendak dan bangun tidur, do'a masuk kamar mandi, dan do'a lain yang mudah diamalkan oleh anak-anak usia dini.
Orang tua wajib membiasakan atau melatih anak-anak mereka pergi ke masjid, juga melaksanakan şalat di rumah maupun di sekolah. Hal ini dapat dibaca pada hadis berikut ini:
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ وَأَبُو كَامِلٍ الْجَحْدَرِيُّ وَاللَّفْظُ لِقُتَيْبَةَ قَالَا حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنْ أَبِي يَعْفُورٍ عَنْ مُصْعَبِ بْنِ سَعْدٍ قَالَ صَلَّيْتُ إِلَى جَنْبِ أَبِي قَالَ وَجَعَلْتُ يَدَيَّ بَيْنَ رُكْبَتَيَّ فَقَالَ لِي أَبِي اضْرِبْ بِكَفَّيْكَ عَلَى رُكْبَتَيْكَ قَالَ ثُمَّ فَعَلْتُ ذَلِكَ مَرَّةً أُخْرَى فَضَرَبَ يَدَيَّ وَقَالَ إِنَّا نُهِينَا عَنْ هَذَا وَأُمِرْنَا أَنْ نَضْرِبَ بِالْأَكُفِّ عَلَى الرُّكَبِ
Artinya: Hadis Saad bin Abi Waqqas r.a: Diriwayatkan daripada Mus'ab bin Saad r.a katanya: Aku pernah sembahyang di sisi ayahku. Aku rapatkan tangan antara kedua lututku. Lalu ayahku berkata kepadaku: Letakkan kedua telapak tanganmu pada lututmu. Kemudian aku melakukan hal itu sekali lagi. Lalu ayah memukul tanganku sambil mengatakan: Sesungguhnya kita dilarang dari melakukan ini yaitu meletakkan tangan di antara dua lutut dan kita diperintahkan supaya meletakkan tangan di atas lutut. (HR. Muslim)[57]
Nilai pendidikan yang terdapat dalam hadis di atas adalah tentang praktik melatih anak dalam melaksanakan şalat. Praktik pendidikan şalat seperti inilah yang seharusnya diterapkan oleh para orang tua dalam memberi pendidikan sholat kepada anak-anaknya, sehingga anak tidak hanya memiliki pengetahuan teoritis tentang şalat, tetapi juga memiliki pengetahuan dan pemahaman yang sifatnya praktis tentang şalat, dan dengan demikian maka anak akan mampu melaksanakan şalat dengan benar sesuai dengan yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.
Dalam hadis lain ditemukan juga bagaimana Rasulullah memberi pendidikanşalat kepada anak-anak, seperti sabda beliau yang diriwayatkan dari Anas:
حَدَّثَنَا أَبُو حَاتِمٍ مُسْلِمُ بْنُ حَاتِمٍ الْبَصْرِيُّ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْأَنْصَارِيُّ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَلِيِّ بْنِ زَيْدٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيِّبِ قَالَ قَالَ أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا بُنَيَّ إِيَّاكَ وَالِالْتِفَاتَ فِي الصَّلَاةِ فَإِنَّ الِالْتِفَاتَ فِي الصَّلَاةِ هَلَكَةٌ فَإِنْ كَانَ لَا بُدَّ فَفِي التَّطَوُّعِ لَا فِي الْفَرِيضَةِ
Artinya: Berkata Anas bin Malik telah berkata Rasulullah SAW; “Hai anakku, janganlah engkau menoleh ke sana ke mari dalam şalat, karena akan merusak şalat, jika engkau terpaksa melakukan hal itu, maka boleh dilakukan hanya dalam şalat sunnah, dan bukan dalam şalat fardhu”.(HR. at-Tirmiżi)[58]
Hadis ini dikeluarkan oleh Rasulullah dalam rangka memberi peringatan kepada anak-anak agar tidak menoleh ke kanan dan ke kiri ketika sedang melaksanakan şalat, dan ini sesungguhnya merupakan bukti perhatian Rasul dalam mengajarkan kepada anak-anak tentang tatacara şalat.[59] Para sahabat juga menempuh cara yang sama dalam memberi pendidikan şalat kepada anak-anaknya dengan cara memberi contoh kepada anak-anaknya tentang berbagai tata cara şalat sesuai dengan yang diajarkan Rasul SAW. Cara ini juga pantas jika dipraktikkan oleh para orang tua muslim dalam memberi pendidikan şalat kepada anak-anaknya, terutama tentang ketertiban dalam şalat (larangan menoleh ke kanan atau ke kiri pada waktu şalat).
Orang tua juga berkewajiban melatih mereka melaksanakan puasa dan infaq, bersedekah serta berbuat baik kepada tetangga dan orang-orang fakir, juga menolong orang-orang yang lemah.Disamping itu juga harus dilatih menghormati orang yang lebih tua dan telah berumur, dilatih/dibiasakan melakukan berbagai kegiatan dengan niat kerena keridhaan Allah semata, mencintai karena Allah dan membenci karena Allah.Mengorbankan harta serta diri mereka di jalan Allah, melaksanakan kewajiban agama, menegakkan moral Islam, khususnya mengenakan jilbab bagi anak perempuan.[60]
3.      Mendidik melalui permainan, nyanyian, dan cerita
Sesuai dengan pertumbuhannya, anak usia dini memang lagi gemar-gemarnya melakukan berbagai permainan yang menarik bagi dirinya. Berkaitan dengan ini, maka pendidikan melalui permainan merupakan satu metode yang menarik diterapkan dalam pendidikan anak usia dini. Tentu saja permainan yang positif dan dapat mengembangkan intelektual dan kreativitas anak-anak. Bagi anak-anak usia balita, bermain dengan ibu tentu lebih banyak dampak positifnya karena lebih memperlancar komunikasi antara keduanya, adalah teman terbaik bagi mereka.[61]  Hal ini dapat dibaca pada hadis Rasul yang menjelaskan tentang cara memberi pendidikan puasa kepada anak-anak berikut ini:
و حَدَّثَنِي أَبُو بَكْرِ بْنُ نَافِعٍ الْعَبْدِيُّ حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ الْمُفَضَّلِ بْنِ لَاحِقٍ حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ ذَكْوَانَ عَنْ الرُّبَيِّعِ بِنْتِ مُعَوِّذِ بْنِ عَفْرَاءَ قَالَتْ أَرْسَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَدَاةَ عَاشُورَاءَ إِلَى قُرَى الْأَنْصَارِ الَّتِي حَوْلَ الْمَدِينَةِ مَنْ كَانَ أَصْبَحَ صَائِمًا فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ وَمَنْ كَانَ أَصْبَحَ مُفْطِرًا فَلْيُتِمَّ بَقِيَّةَ يَوْمِهِ فَكُنَّا بَعْدَ ذَلِكَ نَصُومُهُ وَنُصَوِّمُ صِبْيَانَنَا الصِّغَارَ مِنْهُمْ إِنْ شَاءَ اللَّهُ وَنَذْهَبُ إِلَى الْمَسْجِدِ فَنَجْعَلُ لَهُمْ اللُّعْبَةَ مِنْ الْعِهْنِ فَإِذَا بَكَى أَحَدُهُمْ عَلَى الطَّعَامِ أَعْطَيْنَاهَا إِيَّاهُ عِنْدَ الْإِفْطَارِ
Diriwayatkan daripada Ar-Rubaiyyi' binti Muawwiz bin Afra' r.a katanya: Pada hari Asyura, Rasulullah s.a.w telah mengirimkan surat ke perkampungan-perkampungan Ansar di sekitar Madinah yang berbunyi: Siapa yang berpuasa pada pagi ini hendaklah menyempurnakan puasanya dan siapa yang telah berbuka yaitu makan pada pagi ini hendaklah dia juga menyempurnakannya yaitu berpuasa pada pagi harinya. Selepas itu kami pun berpuasa serta menyuruh anak-anak kami yang masih kanak-kanak supaya ikut berpuasa, jika diizinkan Allah. Ketika kami berangkat menuju ke masjid, kami buatkan suatu permainan untuk anak-anak kami yang diperbuat dari bulu biri-biri. Jika ada di antara mereka yang menangis meminta makanan, kami akan berikan mainan tersebut sehingga tiba waktu berbuka. (HR.Muslim)[62]
Dengan membaca hadis di atas, dapat diketahui bahwa pendidikan puasa kepada anak dapat dilakukan dengan cara melatih mereka berpuasa dan jika mereka menangis meminta makanan dapat dialihkan keinginan mereka dengan cara memberi mainan kepada mereka, sehingga anak-anak lupa akan rasa laparnya dan asik dengan permainannya, selain itu anak juga merasa terhibur oleh permainan dan tidak merasakan panjangnya hari yang mereka lalui dengan puasa. Ibnu Hajar seperti dikutip Suwaid, menjelaskan bahwa hadis ini menjadi dalil mengenai disyariatkannya melatih anak-anak untuk berpuasa, sebab usia yang disebutkan dalam hadis tersebut belum sampai pada masa mukallaf, akan tetapi hal itu dilakukan sebagai bentuk latihan.[63]Namun perlu diingat pula bahwa yang paling perlu orang tua usahakan pertama kali sebelum mengenalkan dan melatih bepuasa adalah mengkondisikan anak dengan lingkungan yang Islami. Kenalkan suasana puasa di lingkungan keluarga, karena suasana itu bagi anak merupakan bekal dalam mempersiapkan dirinya, sehingga anak terbiasa dengan suasana berpuasa. Anak tidak melihat ibu, bapak, dan anggota keluarganya makan di siang hari, tetapi makan ketika terbenam matahari. Perlu juga diingat adalah jangan sekali-sekali memaksa mereka melakukan puasa secara terus menerus sejak dari terbit fajar hingga terbenam matahari, namun latih mereka untuk melakukan puasa secara bertahap, mulai dari hitungan jam sampai akhirnya mereka dapat terus berpuasa dari terbit fajar hingga berbuka pada magribnya. Setelah anak mampu berpuasa selama satu hari penuh, kenalkan mereka dengan hal-hal yang membatalkan puasa.[64]
Muhammad Suwaid menjelaskan bahwa hadis yang menceritakan bahwa Nabi merestui Aisyah yang sedang bermain dengan boneka, menunjukkan kepada kita bahwa anak kecil memang butuh mainan. Demikian juga hadis tentang burung nughar kecilnya Abu Umair yang dibuat mainan olehnya dan hal itu juga disaksikan oleh Nabi menjadi bukti lain akan adanya kebutuhan mainan bagi anak agar ia bisa riang gembira. Dalam hal ini kedua orang tuanyalah yang mesti memberikan mainan untuk anaknya yang sesuai dengan usia dan kemampuannya, dan kemudian menyerahkannya secara langsung, hal itu dimaksudkan agar akal dan panca inderanya beraktivitas dan bisa tumbuh sedikit demi sedikit.
Agar mainan yang diberikan oleh orang tua kepada anak-anak mereka benar-benar bisa bermanfaat, maka kedua orang tua perlu mempertimbangkan; apakah mainan itu termasuk mainan yang akan membangkitkan aktivitas jasmani dan kesehatan yang berguna bagi anak. Apakah mainan tersebut memberikan kesempatan bagi anak untuk menyusunnya, dan apakah mainan tesebut bisa mendorong anak untuk meniru perilaku orang-orang dewasa dan cara berpikir mereka. Jika jawaban atas semua pertanyaan tersebut adalah “ya”, maka mainan tersebut berarti sesuai untuknya dan memberikan manfaat edukatif.[65] Selain memberi permainan kepada anak, bermain dengan anak dan bertingkah seperti mereka dalam bergaul dengan mereka akan menumbuhkan semangat di dalam jiwanya dan juga akan membantunya menampilkan serta mengembangkan potensi-potensi yang dimilikinya.[66] Dalam al-Ishabah dikatakan bahwa Rasulullah saw pernah bermain-main dengan Hasan dan Husin ra. Rasulullah SAW. Merangkak di atas kedua tangan dan lututnya, dan kedua cucunya tersebut bergelantungan dari kedua sisinya, dan merangkak bersama keduanya.[67]
Bernyanyi juga satu cara yang baik diterapkan dalam pembelajaran pada anak usia dini. Bernyanyi di sini bukan hanya mengajari anak menyanyikan berbagai lagu, tetapi dapat dilakukan untuk mengajarkan anak membaca huruf hijaiyah dengan cara membacanya secara berirama sehingga anak merasa senang dan rilek dalam mengikuti pembelajaran yang diberikan oleh guru-gurunya. Selain itu, belajar sambil bernyanyi juga akan memberi keceriaan dan kebahagiaan kepada anak dalam belajar. Keceriaan dan kebahagiaan memainkan peran penting dalam jiwa anak secara menakjubkan, serta memberikan pengaruh kuat. Anak-anak usia dini tentu saja ingin selalu riang gembira, selanjutnya keceriaan dan kegembiraan anak itu akan melahirkan rasa optimisme dan percaya diri serta akan selalu siap untuk menerima perintah, peringatan atau petunjuk dari orang tua atau orang dewasa lainnya. Adalah Rasulullah senantiasa menanamkan jiwa periang dan kegembiraan di dalam jiwa anak dan hal itu beliau lakukan dengan bebagai macam cara. Di antaranya adalah dengan menyambut mereka dengan sambutan yang hangat ketika bertemu dengan mereka, mengajak mereka bercanda, menggendong mereka dan meletakkan mereka di pangkuan beliau, mendahulukan mereka dengan memberi makanan yang baik, dan dengan cara makan bersama-sama dengan mereka.[68]
Juga tidak kalah pentingnya adalah pembelajaran dengan cara memberikan atau menyajikan kisah-kisah Islami yang bersumber dari Al-Quran dan Hadis Rasul. Dalam pendidikan Islam, kisah mempunyai fungsi edukatif yang tidak dapat diganti dengan bentuk penyampaian lain. Hal ini karena kisah Al-Quran dan nabawi memiliki beberapa keistimewaan yang membuatnya mempunyai dampak psikologis dan edukatif  yang sempurna, rapi, dan jangkauan yang luas. Di samping itu kisah eduktif dapat melahirkan kehangatan perasaan dan vitalitas serta aktvitas di dalam jiwa, yang selanjutnya memotivasi anak didik untuk mengubah perilakunya dan memperbarui tekadnya sesuai dengan tuntunan, pengarahan dan ide-ide yang terkandung dalam kisah tersebut.[69]
Kisah Al-Qur’an bukanlah karya seni yang tanpa tujuan, melainkan merupakan satu di antara sekian banyak metode Al-Qur’an untuk menuntun dan mewujudkan tujuan keagamaan dan ketuhanan serta satu cara untuk menyampaikan ajaran Islam terutama bagi anak-anak usia dini. Tentu saja kemasan kisah Al-Quran yang dapat diterapkan dalam memberikan pendidikan kepada anak usia dini, merupakan kisah yang dikemas secara indah dan menarik bagi anak-anak usia dini. Misal kisah-kisah yang dapat diberikan kepada anak usia dini antara lain adalah kisah para Nabi dan Rasul-rasul Allah, kisah anak durhaka, kisah-kisah anak soleh dan kisah-kisah orang pemberani dalam kebenaran, serta kisah-kisah lain mengandung nilai pendidikan dan mendukung bagi pertumbuhan dan perkembangan yang dialami anak usia dini.
yxä.urÈà)¯Ry7øn=tãô`ÏBÏä!$t6/Rr&È@ߍ9$#$tBàMÎm7sVçR¾ÏmÎ/x8yŠ#xsèù4x8uä!%y`urÎûÍnÉ»yd,ysø9$#×psàÏãöqtBur3tø.ÏŒurtûüÏYÏB÷sßJù=Ï9ÇÊËÉÈ
Artinya "Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman". (QS. Huud: 120)
Dijelaskan oleh Ibnu Kasir bahwa dalam ayat ini Allah menyebutkan bahwa semua kisah para rasul terdahulu bersama umatnya masing-masing sebelum Muhammad, Kami ceritakan kepadamu perihal mereka. Semua itu diceritakan untuk meneguhkan hatimu, hai Muhammad, dan agar engkau mempunyai suri teladan dari kalangan saudara-saudaramu para rasul yang terdahulu.[70]
..... ÄÈÝÁø%$$sù}È|Ás)ø9$#öNßg¯=yès9tbr㍩3xÿtFtƒÇÊÐÏÈ
"... Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir".(Al-A'râf: 176)
Ayat 176 ini diturunkan menceritakan kisah Bal’aam, untuk mengingatkan manusia bahwa meskipun seorang itu sudah mencapai ilmu yang sangat tinggi sebagaimana yang dicapai oleh para Nabi tetapi lalu ia maksiat dan condong kepada dunia, maka akhirnya bernasib sebagaimana Bal’aam yang disebut oleh Allah:Famasaluhu kamasalail kalbi in tahmil alaihi yalhas au tatrukhu yalhas. Orang itu contohnya bagaikan anjing yang selalu menjilat-jilat dan tidak berguna baginya segala peringatan, ancaman dan nasihat, tidak berguna baginya iman dan pengetahuannya.Karena itulah ayat ditutup dengan kalimat “Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir" Ikutilah kisah ini supaya mereka berpikir dan memperhatikan, dan dapat mawas diri dan berhati-hati jangan sampai terjadi seperti itu.[71]
Kisah bisa memainkan peran penting dalam menarik perhatian, kesadaran pikiran dan akal anak. Nabi biasa membawakan kisah di hadapan sahabat, yang muda maupun yang tua, mereka mendengarkan dengan penuh perhatian terhadap apa yang dikisahkan beliau, berupa berbagai peristiwa yang pernah terjadi di masa lalu, agar bisa diambil pelajarannya oleh orang-orang sekarang dan yang akan datang hingga hari kiamat. Yang penting dicatat adalah bahwa kisah-kisah yang disampaikan oleh Nabi bersandar pada fakta riil yang pernah terjadi di masa lalu, jauh dari khurafat dan mitos.Kisah-kisah tersebut bisa membangkitkan keyakinan sejarah pada diri anak, di samping juga menambahkan spirit pada anak untuk bangkit serta membangkitkan rasa keislaman yang bergelora dan mendalam.Kisah-kisah para ulama, ‘amilin dan orang-orang mulia yang shalih merupakan sebaik-baik sarana yang akan menanamkan berbagai keutamaan dalam jiwa anak serta mendorongnya untuk siap mengemban berbagai kesulitan dalam rangka meraih tujuan yang mulia dan luhur. Di samping itu juga akan membangkitkan untuk mengambil teladan orang-orang yang penuh pengorbanan sehingga ia akan terus naik menuju derajat yang tinggi dan terhormat.[72] 
4.      Mendidik dengan Targhib dan Tarhib
Targhib adalah janji yang disertai dengan bujukan dan membuat senangterhadap sesuatumaslahat,kenikmatan, atau kesenangan akhirat.Sedangkan tarhib adalah ancaman dengan siksaan sebagai akibat melakukan dosa atau kesalahan yang dilarang oleh Allah, atau akibat lengah dalam menjalankan kewajiban yang diperintahkan Allah.[73] Ini merupakan metode pendidikan Islam yang didasarkan atas fitrah yang diberikan Allah kepada manusia, seperti keinginan terhadap kekuatan, kenikmatan, kesenangan, dan kehidupan abadi yang baik serta ketakutan akan kepedihan, kesengsaraan dan kesudahan yang buruk.   Ditinjau dari segi paedagogis, hal ini mengandung anjuran, hendaknya pendidik dan atau orang tua menanamkan keimanan dan aqidah yang benar di dalam jiwa anak-anak, agar pendidik dapat menjanjikan(targhib) surga kepada mereka dan mengancam (tarhib) mereka dengan azab Allah, sehingga hal ini diharapkan akan mengundang anak didik untuk merealisasikan dalam bentuk amal dan perbuatan yang dianjurkan oleh ajaran Islam.  Dalam memberikan pendidikan melalui targhib dan tarhib, pendidik hendaknya lebih mengutamakan pemberian gambaran yang indah tentang kenikmatan di surga dan berbagai kenikmatan lain yang diperoleh sebagai balasan bagi amal sholeh yang dikerjakan, sekaligus juga diberikan sedikit gambaran tentang dahsyatnya azab Allah yang diberikan sebagai ganjaran pelanggaran yang dilakukan.[74] Pendidikan dengan menerapkan metode ini  merupakan upaya untuk menggugah, mendidik dan mengembangkan perasaan Rabbaniyah pada anak sejak usia dini, perasaan-perasaan yang diharapkan dapat dikembangkan melalui metode ini antara lain; khauf kepada Allah, perasaan khusyu', perasaan cinta kepada Allah, dan perasaan raja' (berharap) kepada Allah.
Targhib dan tarhib merupakan bagian dari metode kejiwaan yang sangat menentukan dalam meluruskan anak, ia merupakan cara yang jelas dan gamblang dalam pendidikan ala Rasul, beliau sering menggunakannya dalam menyelesaikan masalah anak di segala kesempatan, terutama dalam masalah berbakti kepada orang tua. Beliau mendorong anak agar berbakti kepada kedua orang tuanya serta menakut-nakutinya dari berbuat durhaka kepada keduanya. Hal itu tidak lain bertujuan agar anak itu menyambut hal ini dan mendapatkan pengaruh sehingga ia bisa memperbaiki diri dan perilakunya.[75]
5.      Pujian dan Sanjungan
Tidak diragukan lagi, pujian terhadap anak mempunyai pengaruh yang sangat dominan terhadap dirinya, sehingga hal itu akan menggerakkan perasaan dan inderanya. Dengan demikian, seorang anak akan bergegas meluruskan perilaku dan perbuatannya. Jiwanya akan menjadi riang dan juga senang dengan pujian ini untuk kemudian semakin aktif. Rasulullah sebagai manusia yang mengerti tentang kejiwaan manusia telah mengingatkan akan pujian yang memberikan dampak positif terhadap jiwa anak, jiwanya akan tergerak untuk menyambut dan melaksanakan tugas yang diberikan kepadanya.[76]
Anak kecil yang masih berada dalam umur tiga tahun pertama bukannya tidak mempunyai perasaan kehormatan serta harga diri, ia menyadari bahwasanya dirinya adalah anak kecil, akan tetapi dalam lubuk hatinya ia tidak menerima jika dianggap remeh dalam bentuk dan sikap yang bagaimanapun. Selama ia masih tumbuh berkembang maka perasaan dihargai dan dihormati ikut tumbuh kembang dalam dirinya. Perasaan harga diri dan dihormati merupakan pembawaan manusia secara fitrah, baik sebagai anak kecil maupun sebagai manusia dewasa, sebab sesungguhnya manusia merupakan makhluk yang dihormati lagi dimuliakan.Mengenai bentuk dan ragam pemberian pujian atau penghargaan cukup banyak, yang terpenting adalah anak sejak dini dipandang sebagai manusia sekaligus diperlakukan secara manusiawi.[77]
Secara lebih lanjut, pujian dan sanjungan dapat diberikan dalam bentuk hadiah.Namun orang tua hendaklah berhati-hati dalam memilih hadiah, agar tidak menimbulkan ketagihan.Hindarilah memberi hadiah uang, karena selain benda ini sangat menggiurkan, orang tua pun harus bekerja dua kali untuk membimbing anak agar mampu membelanjakan uangnya dengan baik.Pilihlah hadiah yang bersifat edukatif, sehingga tak jadi persoalan jika anak-anak kemudian ketagihan. Buku cerita, alat-alat sekolah serta perlengkapan kegemaran anak akan cukup menyenangkan mereka. Pilih barang yang saat itu sedang mereka butuhkan, sehingga orang tua tidak perlu membelikannya lagi, misalnya jika sepatunya sudah mulai nampak berlubang, mengapa tidak menjadikannya saja sebagai hadiah, sebab kalaupun tidak sebagai hadia toh akhirnya orang tua harus membelikannya juga.Orang tua harus sejak awal dan terus-menerus menanamkan pengertian bahwa hadiah yang diberikan kepada anak bukan semata untuk menghargai prestasi akhir mereka, namun lebih dititikberatkan pada usaha anak untuk mengubah dirinya.[78]
6.      Menanamkan Kebiasaan yang Baik
Dalam usaha memberikan pendidikan dan membantu perkembangan anak usia dini, selain pengembangan kecerdasan dan keterampilan, perlu juga sejak dini ditanamkan kebiasaan-kebiasaan yang positif. Pendidikan dengan mengajarkan dan pembiasaan adalah pilar terkuat untuk pendidikan anak usia dini, dan metode paling efektif dalam membentuk iman anak dan meluruskan akhlaknya, sebab metode ini berlandasakan pada pengikutsertaan. Tidak diragukan lagi, mendidik dengan cara pembiasaan anak sejak dini adalah paling menjamin untuk mendatangkan hasil positif, sedangkan mendidik dan melatih setelah dewasa sangat sukar untuk mencapai kesempurnaan.[79]
Ada beberapa hal yang dapat dianggap positif untuk dibiasakan terhadap anak usia dini, di antaranya adalah:
a.     Anak harus dibiasakan menjaga kebersihan, sebab Islam sangat mementingkan kebersihan, sebagaimana dapat dibaca pada firman Allah berikut ini:
ª!$#ur=Ïtäšúï̍Îdg©ÜßJø9$#ÇÊÉÑÈ
... Dan Allah menyukai orang-orang yang bersih”. (QS. At-Taubah: 108)
Ayat di atas menjelaskan tentang kecintaan Allah terhadap orang yang bersih, yaitu orang menyucikan dirinya dari segala macam najis dan kotoran sekaligus membersihan jiwanya dari segala macam dosa.[80]Ayat ini sejalan dengan sabda Rasul:
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا أَبُو عَامِرٍ الْعَقَدِيُّ حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ إِلْيَاسَ عَنْ صَالِحِ بْنِ أَبِي حَسَّانَ قَال سَمِعْتُ سَعِيدَ بْنَ الْمُسَيَّبِ يَقُولُ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ يُحِبُّ الطَّيِّبَ نَظِيفٌ يُحِبُّ النَّظَافَةَ.
... Sesungguhnya Allah itu baik dan menyukai kebaikan, bersih dan menyukai kebersihan”.(HR. At-Tirmiżi)[81]
Dalam rangka membiasakan hidup bersih dan hidup sehat, pada anak usia dini, hendaklah anak dibiasakan untuk; berdoa sebelum tidur dan ketika bangun, mandi secara teratur, menggosok gigi setiap bangun dan menjelang tidur, mencuci tangan sebelum dan sesudah makan, serta membuang sampah pada tempatnya.
b.      Anak dilatih dan dibiasakan hidup teratur, misalnya dengan membiasakan anak makan secara teratur dan tidak berlebihan, sebagaimana difirmankan Allah SWT.:
*ûÓÍ_t6»tƒtPyŠ#uä(#räè{ö/ä3tGt^ƒÎyZÏãÈe@ä.7Éfó¡tB(#qè=à2ur(#qç/uŽõ°$#urŸwur(#þqèùÎŽô£è@4¼çm¯RÎ)Ÿw=ÏtätûüÏùÎŽô£ßJø9$#ÇÌÊÈ
Artinya: “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan”.(Al-A’râf ayat 31)
Makna yang terdapat pada ayat ini adalah makanlah sesukamu dan berpakaianlah sesukamu selagi engkau hindari dua pekerti, yaitu berlebih-lebihan dan sombong. Allah menghalalkan makan dan minum selagi dilakukan dengan tidak berlebih-lebihan dan tidak untuk kesombongan.[82]
Dalam hadis Rasul kita temukan tentang aturan makan dan minum, yaitu seperti yang tersebut dalam hadis berikut ini:
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَمُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ وَزُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ وَابْنُ أَبِي عُمَرَ وَاللَّفْظُ لِابْنِ نُمَيْرٍ قَالُوا حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ أَبِي بَكْرِ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ عَنْ جَدِّهِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَأْكُلْ بِيَمِينِهِ وَإِذَا شَرِبَ فَلْيَشْرَبْ بِيَمِينِهِ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَأْكُلُ بِشِمَالِهِ وَيَشْرَبُ بِشِمَالِهِ
Artinya: Dari Jaddah ibn Umar Rasulullah berkata: “Jika makan salah seorang diantara kamu, maka makanlah dengan tangan kanan, dan jika minum, maka minumlah dengan tangan kanan, karena sesungguhnya syaitan makan dan minum dengan tangan kiri”(HR. At-Tirmizi)[83]
c.       Anak sejak dini hendaknya dibiasakan hidup sederhana dan hemat. Untuk itu sebaiknya anak tidak dibiasakan jajan, sebab jajan di samping merupakan kebiasaan yang tidak baik, juga makananan yang ia beli belum terjamin kebersihannya hingga bisa membahayakan kesehatannya.[84]
Itulah beberapa metode pendidikan yang menurut hemat penulis layak untuk diterapkan pada pelaksanaan pendidikan anak usia dini. Dengan metode-metode tersebut secara teoritis akan memberikan hasil positif terhadap pembinaan dan pendidikan anak usia dini, baik itu yang dilaksanakan orang tua di rumah, maupun oleh para guru di sekolah/lembaga pendidikan anak usia dini.
E.     Penutup
Kesimpulan
Menurut Gardner, kecerdasan seseorang meliputi unsur-unsur kecerdasan matematika logika, kecerdasan bahasa, kecerdasan musikal, kecerdasan visual spasial, kecerdasan kinestetik, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, dan kecerdasan naturalis.
Dengan pembelajaran berbasis kecerdasan majemuk, siswa yang dengan beragam dominasi kecerdasan dapat terfasilitasi pada saat belajar sehingga hasil belajar siswa  dari segi kognitif ( prestasi belajar) dan afektif (minat) meningkat.
Maka guru dalam proses pembelajaran juga  harus memandang siswa sebagai makhluk yang memiliki banyak unsur dari dirinya. Dengan demikian  maka semua potensi yang dimiliki oleh siswa dapat berkembang dengan optimal.
Pendidikan merupakan salah satu bimbingan yang harus kita tegakan bagi generasi penerus masa depan, Sebagai amanat Allah yang dititipkan kepada kedua orang tua anak pada dasarnya harus memperoleh perawatan, perlindungan serta perhatian yang cukup dari kedua orang tua, karena kepribadiannya ketika dewasa atau keshaleh dan keshalehahannya akan sangat bergantung kepada pendidikan masa kecilnya terutama yang diperoleh dari kedua orang tua dan keluarganya.
Unsur-unsur pendidikan anak itu harus diajarkan yag paling utama itu agama yaitu tentang ketauhidan, mengajarkan pendidikan akhlak tentang prilaku dan sikap yang baik, pendidikan jasmani yang harus dijaga selain jasmani rohaninya pun harus dijaga karena Kesehatan adalah mahkota yang tidak  mengetahui kecuali yang sakit. Kesehatan merupakan anugerah terbesar Allah yang diberikan manusia, akan tetapi mereka sering melupakannya. Dan yang terakir itu pendidikan Akal , karena akal merupakan anugerah Allah yang tidak diberikan kepada selain makhluk-Nya bernama manusia. Ia merupakan srana untuk mendapatka ilmu pengetahuan.











DAFTAR PUSTAKA
Ibnu Kasir Ad-Dimasyqi, Al Imam Abul Fida Ismail. 2003. Tafsir Al Qur’an al-‘Ażīm. terj. Bahrum Abu Bakar,Bandung: Sinar Baru Algesindo.
Al-Bukhari, Abu Abdullah ibn Muhammad Isma’il. Shahih Bukhri Juz I. Riyadh: Idaratul Bahtsi Ilmiah,tt.
At-Tirmiżi, Imam al-Hafidz Abi ‘Abbas Muhammad ibn ‘Isa ibn Saurah. Sunan at-Tirmiżi al-Jami’us Şahih, juz 4. Semarang: Toha Putra, tt.
Ali Quthb, Muhammad. 1988. Auladuna fi Dlau-it Tarbiyyatil Islamiyyah, terj. Bahrum abu Bakar Ihsan. Bandung: Diponegoro.
Al Abrasy, M. Athiyah. 1969. at-Tarbiyah al-Islāmiyah wa Falasatuhā. TTp: ’Isa al-Bābi al-Jalabī wa syirkāhu.
 Abdul Halim, M. Nipan. 2001. Anak Saleh Dambaan Keluarga. Jakarta: Mitra Pustaka.
Depdiknas. 2002. Acuan Menu Pembelajaran pada Pendidikan Usia Dini(Pembelajaran Generik). Jakarta: Depdiknas.
Abd Al Mun’im Ibrahim, Abu A’isy. 2007. Tarbiyah Al-Banati fi Al- Islam, terj.Herwibowo, Pendidikan Islam bagi Remaja Putri.Jakarta: Najla Press.
M.Thalib. 1992. 40 Tanggung Jawab Orang Tua Terhadap Anak.Yogyakarta: Pustaka Al Kautsar.
Suwaid, Muhammad. 2003. Manhaj at-Tarbiyyah an-Nabawiyyah lit-Tifl, terj.Salafuddin Abu Sayyid. Mendidik Anak Bersama Nabi. Solo: Pustaka Arafah.
Aghla, Ummi. 2004. Mengakrabkan Anak pada Ibadah. Jakarta: Almahira.
Nashih Ulwan, Abdullah. 1981. Tarbiyatu ‘l-Aulad fi-‘l-Islam, terj. Saifullah Kamalie, Pedoman Pendidikan Anak dalam Islam. Semarang: Asy Syfa’.
Al-Quzwaini, Abi ‘Abdillah Muhammad ibn Yazid. Sunan Ibnu Mājah, juz 1. Bairut: Dār al-Fikr, tt.
Al-Sijistani, Abu Daud Sulaiman ibn al-Asy’ats.1401 H.  Sunan Abu Daud, Bairut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah.
Al-Baidhawi, Tafsir Baidhawi, (http://www.Altafsir.com) Juz 5.
Ar-Rifa’i, M. Nasib. 1999. Ringkasan Tafsir Ibnu Kasir, jilid 3. Jakarta: Gema Insani.
Nashih Ulwan, Abdullah. 1995. Tarbiyat al- Aulad Fi al- Islam, terj. Jamaluddin Miri, Pendidikan Anak dalam Islam. Jakarta: Pustaka Amani.
An-Nahlawi, Abdurrahman. 1989. Prinsip-Prinsip dan Metode Pendidikan Islam dalam Keluarga di Sekolah dan di Masyarakat.Semarang: Diponegoro.
Zuhaili, Muhammad. 2002.  Al Islam Wa Asy Syabab, terj. Arum Titisari,Pentingnya Pendidikan Islam Sejak Dini. Jakarta: AH. Ba’adillah Press.
Istadi, Irawati. 2006.  Mendidik Dengan Cinta. Bekasi: Pustaka Inti.
An-Naisaburi, Abu al-Husain Muslim ibn al-Hajjaj al-Qusyairi. Şahih Muslim Juz 1. Bandung: Al Ma’arif, tt.
Bahreisy, Salim. 1986.  Terjemah Singkat Tafsir Ibnu Katsier, jilid III. Surabaya: Bina Ilmu.
Panitia Muzakarah Ulama. 1987.  Memelihara Kelangsungan Hidup Anak Menurut Ajaran Islam. Jakarta: Kerjasama Departemen Agama, MUI dan UNICEF.
Hurlock, Elizabeth. 1996. Perkembangan Anak. Jakarta: Erlangga.
http://nuritaputranti.wordpress.com/2007/11/27/kecerdasan-majemuk-multiple-intelligences/ senin,28mei2012,10.46wib
Mansur. 2011. Pendidikan Anak Usia Dini Dalam Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Suyanto, Slamet. 2008. Dasar-Dasar Pendidikan Anak Anak Usia Dini. Yogyakarta: Hikayat Publishing.
Abrurrahman, Mulyono. 2003. Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan belajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Fadlillah, Muhammad. 2012. Desain Pembelajaran PAUD. Yogyakarta: Ar-Ruzz.
B. Hurloc, Elizabeth. 1978. Perkembangan Anak. Jakarta: Erlangga.
Santrock, John W. 2007. Perkembangan Anak. Jakarta: Erlangga
Djaali. 2007. Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Woolfolk, Anita. 2009. Educational Psychology Active Learning Edition , edisi bahasa Indonesia. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Robert E , Slavin. 2011. Psikologi Pendidikan Teori dan praktek. Jakarta: PT. Indeks.
Kartadinata, Sunaryo . 2007. Rambu-rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Koseling.Jakarta: Rineka Cipta.
Macam-macamIntelegensi. 0308,2010.http://sekolah-dasar. blogspot. Com / 2010 / 03 / 08 / macam-macam - intelegensi (accessed 01 20, 2012).
Teori Multi Intelegensi. 07 08, 2008. http://kangmassoma. blogspot. Com / 2008 / 07 / teori-multi-intelegensi (accessed 01 20, 2012).
Sunardi, S.Pd. Kecerdasan Majemuk. 04 21, 2009. http://nardisungailin. blogspot. com/2009/04/kecerdasan-majemuk.html (accessed 01 20, 2012).










[1]Elizabeth Hurlock, Perkembangan Anak, (Jakarta: Erlangga, 1996), h.12
[2]http://nuritaputranti.wordpress.com/2007/11/27/kecerdasan-majemuk-multiple-intelligences/ senin,28mei2012,10.46wib
[3] Mansur, Pendidikan Anak Usia Dini Dalam Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2011), h.17
[4]  Imas Kurniasih, Pendidikan Anak Usia Dini,( Edukasi, 2011), h. 13
[5] Mansur, Pendidikan Anak Usia Dini, h. 22
[6] Mansur, Pendidikan Anak Usia Dini, h. 24
[7] Slamet Suyanto, Dasar-Dasar Pendidikan Anak Anak Usia Dini (Yogyakarta: Hikayat Publishing) h.192.
[8] Slamet Suyanto, Dasar-Dasar Pendidikan Anak Anak Usia Dini, h. 33
[9] Mulyono Abrurrahman, Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan belajar, (Jakarta: Rineka Cipta,2003), h.170.
[10] Mansur, Pendidikan Anak Usia Dini, h. 34.
[11] Slamet  Suyanto, Dasar-Dasar Pendidikan Anak Anak Usia Dini (Yogyakarta: Hikayat Publishing), h.194.
[12] Mansur, Pendidikan Anak Usia Dini, h. 35.
[13] Mansur, Pendidikan Anak Usia Dini, h. 36.
[14] Slamet Suyanto, Dasar-Dasar Pendidikan Anak Anak, h. 197.
[15] Muhammad Fadlillah, Desain Pembelajaran PAUD, (Yogyakarta, Ar-Ruzz, 2012), h. 47.
[16] Mansur, Pendidikan Anak Usia Dini, h. 46.
[17] Mansur, Pendidikan Anak Usia Dini, h. 45.
[18] Mansur, Pendidikan Anak Usia Dini,  h. 52-55
[19] Slamet Suyanto, Dasar-Dasar Pendidikan Anak Anak, h.195.
[20] Mansur, Pendidikan Anak Usia Dini, h. 56
[21] Elizabeth B. Hurloc, Perkembangan Anak, (Jakarta, Erlangga: 1978), h. 213.
[22] Mansur, Pendidikan Anak Usia Dini, h. 58.
[23] John w Santrock, Perkembangan Anak, (Jakarta, Erlangga: 2007), h. 9
[24] Mansur, Pendidikan Anak Usia Dini, h. 58.
[25] Slamet Suyanto, Dasar-Dasar Pendidikan Anak Anak, h. 195.
[26] Slamet Suyanto, Dasar-Dasar Pendidikan Anak Anak, h. 196.
[27] Mansur, Pendidikan Anak Usia Dini,h. 60.
[28] Mansur, Pendidikan Anak Usia Dini,h. 60.
[29] Slamet Suyanto, Dasar-Dasar Pendidikan Anak Anak, h. 197.
[30] Prof. Dr. H. Djaali Psikologi Pendidikan,  (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2007) h. 4.
[31]Anita Woolfolk, Educational Psychology Active Learning Edition , edisi bahasa Indonesia. ( Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2009), h.168.
[32]Santrock, Educational Psychology, third edition. (Boston : Mc. Graw Hill, 2008), h. 115.
[33]Djaali, Psikologi Pendidikan, h. 5.
[34]Amri. A, Pedagogik Transformatif Aceh. (Aceh: FKIP Syah Kuala, 2008), h. 23.
[35]Amri. A, Pedagogik Transformatif Aceh. (Aceh: FKIP Syah Kuala, 2008), h. 23.
[36]Slavin Robert E. Psikologi Pendidikan Teori dan praktek. (Jakarta, PT. Indeks, 2011) h.159.
[37]Sunaryo Kartadinata, Rambu-rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Koseling. (Jakarta: Rineka Cipta , 2007), h. 6.

[38]Macam-macamIntelegensi. 0308,2010.http://sekolah-dasar. blogspot. Com / 2010 / 03 / 08 / macam-macam - intelegensi (accessed 01 20, 2012).
[39]Djaali, Psikologi Pendidikan, h. 5.
[40]Djaali, Psikologi Pendidikan, h. 68.
[41]Santrock, Educational Psychology, third edition, h. 134.
[42]Santrock, Educational Psychology, third edition, h. 72-74.
[43]Teori Multi Intelegensi. 07 08, 2008. http://kangmassoma. blogspot. Com / 2008 / 07 / teori-multi-intelegensi (accessed 01 20, 2012).
[44]Sunardi, S.Pd. Kecerdasan Majemuk. 04 21, 2009. http://nardisungailin. blogspot. com/2009/04/kecerdasan-majemuk.html (accessed 01 20, 2012).
[45]Sunardi, S.Pd. Kecerdasan Majemuk. 04 21, 2009. http://nardisungailin. blogspot. com/2009/04/kecerdasan-majemuk.html (accessed 01 20, 2012).
[46]Al-Imam Abul Fida Ismail Ibnu Kasir Ad-Dimasyqi, Tafsir Al Qur’an al-‘Ażīm, terjemahan Bahrum Abu Bakar, Tafsir Ibnu Kaśīr juz 14, (Bandung: Sinar Baru Algesindo,2003), h. 216.
[47]Abu Abdullah ibn Muhammad Isma’il al-Bukhari, Shahih Bukhri Juz I, (Riyadh: Idaratul Bahtsi Ilmiah,tt), h. 25.

[48]Imam al-Hafidz Abi ‘Abbas Muhammad ibn ‘Isa ibn Saurah  at-Tirmiżi, Sunan at-Tirmiżi al-Jami’us Şahih, juz 4, (Semarang: Toha Putra,tt,), h. 216.
[49] Imam al-Hafidz Abi ‘Abbas Muhammad ibn ‘Isa ibn Saurah  at-Tirmiżi, Sunan at-Tirmiżi al-Jami’us Şahih, juz 3, (Semarang: Toha Putra,tt,), h  227.
[50] Ibnu Kasir, Tafsir Al Qur’an al- Ażīm, h. 416.
[51]Muhammad Ali Quthb, Auladuna fi Dlau-it Tarbiyyatil Islamiyyah, terj. Bahrum Abu Bakar Ihsan, (Bandung: Diponegoro,1988), h. 59.
[52]Al-Baidhawi, Tafsir Baidhawi, (http://www.Altafsir.com) Juz 5 h. 9, baca An-Naisaburi, Tafsir An-Naisaburi, juz 1, h. 81.
[53]M. Nasib Ar-Rifa’i, Ringkasan Tafsir Ibnu Kasir, jilid 3 (Jakarta: Gema Insani, 1999), h. 841.
[54]Abdullah Nashih Ulwan, Tarbiyat al- Aulad Fi al- Islam, terj. Jamaluddin Miri, Pendidikan Anak dalam Islam, (Jakarta: Pustaka Amani, 1995), h.37
[55]Muhammad Suwaid, Manhaj at-Tarbiyyah an-Nabawiyyah lit-Tifl, terj. Salafuddin Abu Sayyid, Mendidik Anak Bersama Nabi, (Solo: Pustaka Arafah,2003), h. 458.
[56]Abdurrahman An-Nahlawi, Prinsip-Prinsip dan Metode Pendidikan Islam dalam Keluarga di Sekolah dan di Masyarakat, (Semarang: Diponegoro,1989), h. 366.
[57]Abu al-Husain Muslim ibn al-Hajjaj al-Qusyairi an-Naisaburi, Şahih Muslim Juz 1, (Bandung: Al Ma’arif,tt),  h. 217.
[58]Imam al-Hafidz Abi ‘Abbas Muhammad ibn ‘Isa ibn Saurah  at-Tirmiżi,Sunan at-Tirmiżi al-Jami’us Şahih, juz 1, (Semarang: Toha Putra,tt,) h. 260.
[59]Muhammad Suwaid, Mendidik Anak Bersama Nabi, terjemahan Salafuddin Abu Sayyid, h. 178.
[60]Muhammad Zuhaili, Al Islam Wa Asy Syabab, terjemahan Arum Titisari,Pentingnya Pendidikan Islam Sejak Dini, (Jakarta: AH. Ba’adillah Press, 2002), h. 70.
[61] Irawati Istadi, Mendidik Dengan Cinta, (Bekasi: Pustaka Inti, 2006), h. 130.
[62]Abu al-Husain Muslim ibn al-Hajjaj al-Qusyairi an-Naisaburi, Şahih Muslim Juz 1, (Bandung: Al Ma’arif,tt),  h  460.
[63]Muhammad Suwaid, Mendidik Anak Bersama Nabi, terjemahan Salafuddin Abu Sayyid, h. 194.
[64]Ummi Aghla, Mengakrabkan Anak pada Ibadah, (Jakarta: Almahira, 2004), h. 98.
[65]Muhammad Suwaid, Mendidik Anak Bersama Nabi, terjemahan Salafuddin Abu Sayyid, h. 479-480.
[66]Muhammad Suwaid, Mendidik Anak Bersama Nabi, terjemahan Salafuddin Abu Sayyid, h. 521.
[67]Abdullah Nashih Ulwan,Tarbiyatu ‘l-Aulad fi-‘l-Islam, terjemahan Saifullah Kamalie, Pedoman Pendidikan Anak dalam Islam, (Semarang: Asy Syfa’,1981). h. 33.
[68]Muhammad Suwaid, Mendidik Anak Bersama Nabi, terjemahan Salafuddin Abu Sayyid, h. 514.
[69]Abdurrahman An-Nahlawi, Prinsip-Prinsip dan Metode Pendidikan Islam dalam Keluarga di Sekolah dan di Masyarakat,h. 332.
[70]Al-Imam Abul Fida Ismail Ibnu Kasir Ad-Dimasyqi, Tafsir Al Qur’an al-‘Ażīm, terj. Bahrum Abu Bakar, Tafsir Ibnu Kaśīr juz 12, (Bandung: Sinar Baru Algesindo,2003), h. 184.
[71]Salim Bahreisy dan Said Bahreisy, Terjemah Singkat Tafsir Ibnu Katsier, jilid III, (Surabaya: Bina Ilmu, 1986), h. 509.
[72]Muhammad Suwaid, Mendidik Anak Bersama Nabi, terjemahan Salafuddin Abu Sayyid, h. 486.
[73]Abdurrahman An-Nahlawi, Prinsip-Prinsip dan Metode Pendidikan Islam dalam Keluarga di Sekolah dan di Masyarakat,h. 412.
[74]Abdurrahman An-Nahlawi, Prinsip-Prinsip dan Metode Pendidikan Islam dalam Keluarga di Sekolah dan di Masyarakat,h. 414.
[75]Muhammad Suwaid, Mendidik Anak Bersama Nabi, terjemahan Salafuddin Abu Sayyid, h. 525.
[76]Muhammad Suwaid, Mendidik Anak Bersama Nabi, terjemahan Salafuddin Abu Sayyid, h. 520
[77]Ali Qutb, Auladuna fi Dlau-it Tarbiyyatil Islamiyyah, h. 72.
[78]Irawati Istadi, Istimewakan Setiap Anak, (Bekasi: Pustaka Inti, 2005), h. 26.
[79]AbdullahNashihUlwan, Tarbiyat al-Aulad Fial-Islam,terj.Jamaluddin Miri, Pendidikan Anak dalam Islam, h. 64.
[80]Al-Imam abul Fida Ismail Ibnu Kasir Ad-Dimasyqi, Tafsir Al Qur’an al-‘Ażīm, terjemahan Bahrum Abu Bakar, Tafsir Ibnu Kaśīr juz 11, (Bandung: Sinar Baru Algesindo,2003), h. 48.
[81]Imam al-Hafidz Abi ‘Abbas Muhammad ibn ‘Isa ibn Saurah  at-Tirmiżi,Sunan at-Tirmiżi al-Jami’us Şahih, juz 4, (Semarang: Toha Putra,tt,) h. 198.
[82]Al-Imam Abul Fida Ismail Ibnu Kasir Ad-Dimasyqi, Tafsir Al Qur’an al-‘Ażīm, terj. Bahrum Abu Bakar, Tafsir Ibnu Kaśīr juz 8, (Bandung: Sinar Baru Algesindo,2003), h. 289.
[83]Imam al-Hafidz Abi ‘Abbas Muhammad ibn ‘Isa ibn Saurah  at-Tirmiżi, Sunan at-Tirmiżi al-Jami’us Şahih, juz 3, (Semarang: Toha Putra,tt,) h. 166.
[84]Panitia Muzakarah Ulama, Memelihara Kelangsungan Hidup Anak Menurut Ajaran Islam, (Jakarta: Kerjasama Departemen Agama, MUI dan UNICEF, 1987/1988), h. 58-59.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

terimakasih atas kunjungannya jangan lupa komen

iklan otomatis